Satu lagi cerita tentang salah satu Garis Keturunan Keluarga Nugraha hadir kembali, Sean, laki-laki yang mengalami kecacatan pada kekuatan Supranatural nya bisa di sempurna kan kembali tanpa terduga, dengan sosok Wanita biasa yang mempunyai tekad kuat di tengah kepungan keterpurukan perekonomian keluarga, bagaimana kelanjutan ceritanya?, yuk kita ikuti_
Salam Autor Sinho, semangat, sehat dan jangan lupa Bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16.Diagnosis untuk Pria yang Sangat Sehat
Aroma disinfektan bercampur karbol yang tajam di lorong UGD sekunder siang itu mendadak kalah telak oleh hembusan aroma premium sandalwood yang sangat familiar di indra penciuman Lentera.
Tera, yang baru saja selesai memasang bidai dan perban elastis pada seorang pasien remaja yang mengalami dislokasi pergelangan kaki akibat bermain futsal, langsung menoleh dengan dahi berkerut dalam.
Di ambang pintu bilik pemeriksaan nomor tiga yang tertutup tirai kain hijau, berdiri seorang pria jangkung dengan postur tubuh yang luar biasa tegap.
Pria itu mengenakan kemeja kasual rajut berwarna hitam pekat yang lengannya digulung rapi hingga siku, menonjolkan urat-urat tangan yang tegas.
Sean Eagle Nugraha berdiri di sana dengan ekspresi wajah yang sedatar papan tulis marmer, memegang sebuah map rekam medis eksekutif VVIP berwarna abu-abu perak di tangan kanannya.
"Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini lagi?" Tera meletakkan gunting perban stainless steel ke dalam bak instrumen besi dengan bunyi klang yang agak keras, sengaja menunjukkan kejengkelannya.
Dia menatap pria berusia tiga puluh lima tahun itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menyelidik.
"Setahu saya, Tuan Sean yang terhormat, jadwal kontrol luka luar pasca-trauma Anda itu ada di klinik spesialis bedah saraf lantai lima yang super mewah itu. Ini divisi pelayanan medis rawat jalan umum dan UGD sekunder tingkat bawah. Tempat orang-orang dengan keluhan batuk, pilek, demam berdarah, atau luka lecet jatuh dari motor. Bukan tempat untuk pemilik seluruh kompleks gedung ini."
Sean melangkah masuk ke dalam bilik tanpa meminta izin terlebih dahulu, lalu menutup tirai pembatas hijau dengan gerakan tangan yang sangat tenang, anggun, dan lambat.
Dia menarik kursi putar kecil pelapis busa yang diletakkan di depan meja pemeriksaan Tera—kursi plastik biasa yang biasanya terasa sangat kekecilan untuk ukuran tubuhnya yang jangkung dan atletis—lalu mendudukkan dirinya di sana dengan santai.
"Saya butuh check-up medis darurat," jawab Sean pendek, suara baritonnya yang rendah langsung memenuhi ruang bilik, memancarkan aura wibawa yang tidak menerima bantahan.
Tera melipat kedua tangannya di depan dada jas dokternya yang putih bersih, bersandar pada sandaran kursinya sambil menatap Sean dengan pandangan skeptis yang sangat kentara.
"Check-up medis apa lagi, Tuan Sean? Mari kita hitung riwayat kunjungan konyolmu minggu ini. Dua hari yang lalu kamu datang ke mejaku mengeluh pusing tujuh keliling, dan setelah saya periksa menggunakan tensimeter digital, tekanan darahmu menunjukkan angka 120 per 80, sangat ideal dan stabil seperti seorang atlet olimpiade yang siap bertanding. Kemarin sore kamu datang lagi secara tiba-tiba, katanya dadamu terasa sangat sesak seolah dihantam batu, tapi waktu saya dengarkan dengan saksama memakai stetoskop ini, detak jantungmu seirama dengan jam dinding, sangat bersih, tidak ada suara murmur, tidak ada suara gallop. Sekarang, di hari Kamis siang yang sibuk ini, apa lagi keluhan mistis mu?"
Sean menatap wajah Tera secara mendalam. Di bawah pencahayaan lampu neon bilik UGD, wajah polos gadis itu tampak kesal dengan kedua pipi yang sedikit menggembung menahan gemas.
Namun di mata Sean, ekspresi itu justru terlihat sangat manis dan alami, jauh berbeda dari senyuman palsu penuh kepatuhan yang biasa dia temui di dunia korporat nya.
"Hari ini pelipis sebelah kanan saya terasa sedikit berdenyut-denyut," ucap Sean datar, menunjuk garis tipis di dekat rambutnya. "Saya khawatir ini adalah efek sisa benturan hebat dari insiden kecelakaan mobil di jembatan lingkar luar minggu lalu."
"Pelipis berdenyut?" Tera mendengus pelan, namun jiwa medisnya tetap membuatnya bergerak maju.
Dia mencondongkan tubuhnya di atas meja, mendekatkan wajahnya ke arah pelipis kanan Sean untuk memeriksa bekas luka luar pria itu secara langsung.
Bekas luka yang seminggu lalu robek dalam dan bersimbah darah akibat serpihan kaca mobil yang meledak, kini secara ajaib hanya menyisakan sebuah garis merah tipis yang sangat halus dan nyaris tidak kelihatan dengan mata telanjang.
Tera tahu betul ini adalah efek dari aliran hangat misterius dari telapak tangannya sendiri yang menyempurnakan proses regenerasi jaringan sel tubuh Sean malam itu.
"Tuan Sean yang terhormat," Tera menjauhkan kembali wajahnya setelah memastikan kondisi fisik kulit pria itu.
"Luka robek ini bahkan sudah mengalami epitelisasi dan sembuh total! Kalau saya memasang mikroskop atau teleskop bintang sekalipun di pelipis mu, saya tidak akan pernah menemukan alasan medis yang logis kenapa pelipis ini bisa berdenyut karena luka luar.
Kesimpulan awal saya, kamu itu hanya kurang tidur karena terlalu banyak memikirkan grafik profit atau rencana akuisisi perusahaan!"
"Seorang dokter yang profesional tidak boleh menjatuhkan diagnosis akhir kepada pasien hanya berdasarkan asumsi pribadi tanpa melakukan pemeriksaan fisik yang valid dan menyeluruh, Dokter Tera," ucap Sean dengan nada suara yang sangat tenang, dengan lancar mengutip salah satu pasal dari buku kode etik kedokteran umum yang sengaja dia baca sekilas melalui portal digital tadi malam sebelum tidur.
Dia kemudian mengulurkan tangan kanannya yang kokoh dan berurat tegas ke atas meja kayu. "Periksa nadi radialis saya secara manual. Mungkin ada anomali tersembunyi pada sistem sirkulasi darah atau jantung saya."
Tera memutar kedua bola matanya ke atas, merasa benar-benar gemas dengan tingkat kekerasan hati pria paruh baya di hadapannya ini.
"Oh, luar biasa sekali. Jadi sekarang seorang sarjana bisnis internasional mau mengajari aku cara memeriksa pasien dan menerapkan ilmu patofisiologi kedokteran?"
Meskipun mulutnya terus menggerutu pelan tanpa henti, Tera tetap memposisikan dirinya dengan benar.
Dia meraih pergelangan tangan kanan Sean yang hangat, lalu menempelkan jari telunjuk, jari tengah, dan jari manisnya di atas permukaan arteri radialis pria itu.
Begitu permukaan kulit mereka yang berbeda kasta sosial itu bersentuhan secara langsung, detik itu juga, sebuah sensasi hangat yang sangat familiar kembali mendesir pelan dari bagian terdalam dada Tera.
Aliran hangat itu memancar dengan cepat, mengalir melewati lengan atasnya, turun ke jemarinya, dan merambat masuk begitu saja ke dalam sistem meridian pembuluh darah tubuh Sean.
Sean memejamkan kedua sepasang mata gelapnya selama beberapa detik, menarik napas dalam-dalam menikmati sensasi menenangkan yang luar biasa nyaman itu.
Aliran hangat dari tangan Tera bagaikan siraman air es murni yang langsung menjinakkan dan menstabilkan sisa-sisa energi internal supranaturalnya yang sempat bergejolak akibat kelelahan bekerja dari pagi.
Selama seminggu ini, Sean sengaja mencari-cari alasan medis yang paling konyol dan tidak masuk akal untuk mendatangi meja pemeriksaan umum Tera di lantai bawah hanya demi bisa merasakan sentuhan fisik ini.
Energi supranaturalnya yang selama lima tahun terakhir mengalami cacat parah dan sering kali membakar organ dalamnya sendiri dari dalam, kini terasa semakin kokoh, seimbang, dan sempurna setiap kali dia berhasil memancing Tera untuk memegang pergelangan tangannya.
"Bagaimana, Dokter Tera?" tanya Sean sambil membuka matanya kembali, menatap lurus ke dalam manik mata bulat milik Tera yang sedang menghitung detik pada jam tangan analog murahnya dengan dahi yang berkerut serius.
Tera melepaskan genggaman tangannya dengan cepat secara mendadak, seolah-olah dia baru saja tersengat aliran listrik kecil.
Wajahnya sedikit memerah. Dia selalu merasa aneh dengan sensasi hangat yang muncul dari dirinya sendiri setiap kali memegang tangan pria ini, namun otak medisnya selalu mencoba merasionalisasi hal itu sebagai efek dari perbedaan suhu tubuh atau respons psikosomatis belaka.
"Nadi 72 kali per menit," ucap Tera sambil merapikan letak stetoskopnya dengan canggung.
"Kuat, teratur, pengisiannya sangat penuh, dan intinya kamu itu sangat normal. Kesimpulan diagnosis akhir medis dari saya, Anda menderita penyakit psikologis kronis jenis 'terlalu banyak uang dan tidak punya pekerjaan nyata lain di kantor atas selain turun ke bawah untuk mengganggu waktu pelayanan dokter umum yang sedang sibuk melayani masyarakat'."
Sean tidak menunjukkan tanda-tanda kemarahan sedikit pun mendengar sindiran tajam tanpa filter dari Tera.
Dia justru menarik kembali map rekam medis abu-abu peraknya dengan gerakan tangan yang sangat lambat dan berkelas.
"Saya membayar premi asuransi kelas eksekutif tertinggi di rumah sakit internasional ini, Dokter Tera. Jadi, secara hukum, saya memiliki hak penuh untuk mendapatkan pelayanan terbaik dari dokter mana pun di sini, termasuk mendapatkan gangguan kecil berupa kehadiran saya di ruangan Anda."
"Pelayanan medis terbaik itu hanya diberikan kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan fisik karena sakit, Tuan Sean!" ketus Tera sambil mengambil pulpen hitamnya, sengaja mengetuk-ngetukkannya di atas kertas resep kosong. "Bagaimana kalau saya resep kan vitamin penambah nafsu makan dosis tinggi saja untukmu? Biar anda sibuk mengunyah makanan di restoran atas dan tidak punya waktu luang untuk bolak-balik turun ke UGD bawah?"
"Tidak perlu," Sean berdiri dari kursi putarnya, membuat ruang bilik pemeriksaan nomor tiga yang kecil itu mendadak terasa sangat sempit dan terintimidasi karena postur tubuhnya yang jangkung hampir mencapai seratus sembilan puluh sentimeter.
Dia menatap wajah Tera dari ketinggian berdirinya dengan kilatan geli yang tersembunyi rapat di balik matanya yang gelap.
"Melihat wajah ketus dan mendengar ocehan berani Anda siang ini sepertinya sudah jauh lebih dari cukup untuk menjadi terapi pemulihan sistem saraf pusat saya. Terima kasih atas diagnosisnya, Dokter Tera."
Sebelum Tera sempat meraih kotak tisu plastik di atas mejanya untuk dilemparkan ke arah pria menyebalkan itu, Sean sudah terlebih dahulu berbalik badan dengan sangat cepat.
Dia menyibak tirai hijau, lalu melangkah keluar dari divisi rawat jalan umum dengan langkah kaki yang sangat tegap, berwibawa, dan elegan, meninggalkan Tera yang hanya bisa menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.
"Dasar patung es berjalan yang aneh! Kaku, angkuh, menyebalkan, dan tidak jelas!" gerutu Tera pada ruang bilik yang kini kosong, meskipun di dalam lubuk hati kecilnya, ada sebuah debaran jantung yang mendadak berdegup sedikit lebih cepat dari ritme normalnya.
Yuk komennya gaes, jangan lupa LIKE dan HADIAH nya.