Monitor medis di sudut kamar VVIP sebuah rumah sakit modern di Manhattan berdetak dengan irama yang semakin lambat. Beep... beep... beep...
Di atas ranjang pesakitan, terbaring sesosok pria tua berusia delapan puluh tahun. Rambutnya telah memutih sepenuhnya, kulitnya mengeriput dimakan usia, namun sorot matanya di balik kacamata baca masih menyiratkan ketajaman yang luar biasa.
Namanya Arthur Sterling.
Di dunia bisnis internasional dan bursa Wall Street, namanya adalah legenda—seorang taipan yang mengendalikan gurita bisnis raksasa dari balik layar, pria yang namanya selalu menghiasi halaman utama majalah Forbes sebagai orang terkaya nomor satu di muka bumi.
Namun, di detik-detik terakhir hidupnya, harta triliunan dolar, gedung-gedung pencakar langit di distrik finansial utama dunia, dan kekuasaan mutlak atas pasar keuangan global terasa tidak ada artinya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mars Is Blue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Sabtu, 12 November 2016 — Queens, New York
Arthur Sterling terbangun pukul enam pagi dengan sebuah perasaan aneh.
Bukan karena mimpi buruk atau suara yang mengganggu tidurnya. Perasaan itu muncul karena ia tiba-tiba teringat pada sebuah perusahaan yang dalam kehidupan pertamanya kelak menjadi salah satu pemain penting di industri teknologi.
Perusahaan itu belum mencapai puncak kejayaannya pada tahun 2016. Bahkan, sebagian besar masyarakat belum memahami betapa besar pengaruh teknologi yang sedang dikembangkannya terhadap dunia.
Arthur mengingat bahwa beberapa tahun kemudian, perusahaan-perusahaan yang mampu menguasai pengolahan data dan menyediakan layanan komputasi berbasis internet akan menikmati pertumbuhan yang luar biasa. Bisnis yang dahulu membutuhkan pusat data mahal dan investasi infrastruktur besar perlahan dapat dijalankan dengan lebih fleksibel.
Perubahan tersebut akan melahirkan banyak peluang.
Namun, Arthur juga ingat bahwa tidak semua perusahaan yang terlibat dalam perubahan itu berhasil.
Sebagian tumbuh terlalu cepat, sebagian menghabiskan modal tanpa menghasilkan keuntungan yang memadai, dan sebagian lainnya tersingkir karena pesaing menawarkan layanan yang lebih baik.
Ingatan masa depan memberinya peta kasar.
Bukan jaminan kemenangan.
Arthur bangkit, membuat kopi, lalu duduk di depan laptop. Ia membuka dokumen yang berisi catatan mengenai tren industri yang diingatnya dari kehidupan pertama.
Di antara banyak sektor, teknologi masih menjadi bidang yang paling menarik perhatiannya.
Bukan hanya karena potensi pertumbuhannya, melainkan karena teknologi dapat mengubah cara perusahaan bekerja.
Ia mengetahui bahwa perusahaan-perusahaan besar kelak akan menghabiskan dana sangat besar untuk perangkat lunak, infrastruktur komputasi, keamanan data, dan otomatisasi. Ia juga mengetahui bahwa sejumlah perusahaan rintisan akan menciptakan produk yang mengubah industri tradisional.
Tetapi ia tidak bisa begitu saja menanamkan uang pada semua perusahaan yang kelak sukses.
Sebagian belum berdiri.
Sebagian lainnya belum memiliki model bisnis yang jelas.
Bahkan jika sebuah perusahaan akhirnya menjadi raksasa, itu tidak berarti membeli sahamnya pada harga berapa pun akan menghasilkan keuntungan.
Arthur menulis tiga kata di bagian atas dokumen.
Waktu. Harga. Risiko.
Ketiganya harus dipertimbangkan secara bersamaan.
Ia kemudian membuka laporan beberapa perusahaan teknologi yang sudah beroperasi pada 2016, mencari perusahaan yang memiliki pendapatan nyata, kebutuhan pelanggan yang jelas, dan peluang pertumbuhan yang dapat dipahami.
Namun, ia belum berniat membeli saham apa pun.
Ia baru saja melewati pengalaman Aurelia Therapeutics, yang mengajarkannya betapa mudahnya seseorang merasa benar ketika sebuah prediksi kebetulan menjadi kenyataan.
Keuntungan dari perdagangan itu memang memberinya ruang bernapas secara finansial. Akan tetapi, Arthur tidak ingin mengulangi kesalahan menempatkan terlalu banyak uang pada satu gagasan hanya karena ia merasa memiliki keunggulan.
Ia menutup laporan yang sedang dibacanya.
Untuk saat ini, uangnya lebih berguna sebagai cadangan dan modal terbatas bagi usaha kecil yang sedang dibangunnya bersama Daniel.
Masa depan memang menawarkan peluang besar.
Namun, peluang besar tidak akan banyak berarti jika ia kehabisan sumber daya sebelum sempat memanfaatkannya.
1. Sebuah Ide di Meja Sarapan
Pukul delapan lewat tiga puluh menit, Arthur tiba di sebuah kedai kecil tempat ia dan Daniel sepakat bertemu.
Daniel sudah duduk di dekat jendela. Di hadapannya terdapat secangkir kopi, roti panggang, dan laptop yang menampilkan rancangan halaman situs.
"Kau terlambat tiga menit," kata Daniel.
Arthur melihat jam tangannya.
"Dan kau sudah menghabiskan separuh sarapan."
"Itu namanya efisiensi."
Arthur duduk sambil tersenyum.
"Bagaimana perkembangan pekerjaan Thomas?"
"Sudah selesai diperbarui. Aku tinggal melakukan pemeriksaan terakhir. Kalau tidak ada masalah, kita bisa mengirimkan konfirmasi penyelesaian hari ini."
"Bagaimana dengan Robert?"
"Aku sedang membuat dua versi formulir. Satu untuk dicetak, satu lagi dalam bentuk spreadsheet. Kita bisa memberikan pilihan kepadanya."
Arthur mengangguk.
"Itu lebih baik daripada memaksanya memakai alat yang tidak nyaman."
Daniel menutup laptopnya dan memandang Arthur dengan rasa ingin tahu.
"Aku ingin membicarakan sesuatu."
"Apa?"
"Bagaimana kalau kita mulai menawarkan layanan pembuatan situs web sederhana?"
Arthur tidak langsung menjawab.
Daniel melanjutkan, "Kita sudah punya beberapa pelanggan yang membutuhkan pembaruan informasi bisnis. Kalau mereka ingin situs web, kita bisa mengerjakannya juga. Aku mampu membuat situs dasar, dan kau bisa mengurus struktur informasi serta komunikasinya."
"Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk membuat satu situs?"
"Tergantung kebutuhannya."
"Dan berapa lama untuk melakukan pemeliharaan setelah situs selesai?"
Daniel terdiam.
Arthur mengambil selembar tisu dan mulai menulis beberapa pertanyaan.
"Siapa yang akan memperbarui informasi ketika pemilik usaha mengganti jam operasional? Siapa yang bertanggung jawab jika ada kesalahan pada formulir kontak? Bagaimana kita menangani permintaan perubahan? Apakah kita akan menyediakan hosting, atau pelanggan mengurusnya sendiri?"
Daniel membaca daftar itu.
"Baiklah. Aku mengerti maksudmu."
Arthur meletakkan pena.
"Aku tidak menolak gagasannya. Aku hanya ingin kita memahami layanan yang akan kita jual."
Daniel bersandar.
"Aku sebenarnya sudah memikirkan hal itu. Kita bisa memulai dengan situs yang sangat sederhana, menggunakan platform yang sudah tersedia. Kita tidak harus membangun semuanya dari awal."
"Itu masuk akal."
Arthur mempertimbangkan gagasan tersebut.
Dalam kehidupan pertamanya, ia telah melihat perkembangan industri perangkat lunak dari sudut pandang investor dan pemilik perusahaan. Ia mengetahui bahwa layanan digital dapat berkembang dengan biaya tambahan yang relatif rendah setelah sistem dasarnya selesai dibangun.
Namun, keuntungan itu tidak muncul secara otomatis.
Produk tetap membutuhkan pemeliharaan. Pelanggan memerlukan dukungan. Sistem yang mudah digunakan harus dirancang dengan baik.
Bagi usaha mereka, membuat situs web mungkin merupakan langkah yang wajar, tetapi hanya jika mereka memulai dari kebutuhan yang dapat mereka tangani.
"Bagaimana kalau kita tidak langsung menjualnya kepada semua orang?" usul Arthur. "Kita tanyakan dulu kepada pelanggan yang memang memiliki kebutuhan tersebut. Kalau ada yang tertarik, kita buat satu proyek percontohan dengan ruang lingkup terbatas."
Daniel mengangguk.
"Jadi, kita tidak mengumumkan layanan baru sebelum tahu bagaimana mengerjakannya."
"Tepat."
Daniel tersenyum.
"Kadang aku lupa bahwa kita sedang membangun bisnis, bukan sekadar mencoba semua hal yang terdengar menarik."
Arthur tertawa.
"Kita boleh mencoba hal baru. Kita hanya tidak boleh menganggap semua ide harus langsung menjadi bisnis."
Mereka kemudian mencatat gagasan tersebut untuk dievaluasi kembali setelah proyek-proyek yang sedang berjalan lebih stabil.
Arthur merasa puas.
Mereka mulai belajar mengubah ide menjadi serangkaian pertanyaan yang dapat diuji, bukan langsung menjadikannya keputusan.
Itu merupakan kemajuan yang jauh lebih penting daripada sekadar menambah daftar layanan.
2. Thomas Miller Memberikan Jawaban
Menjelang pukul sepuluh pagi, Arthur menerima pesan dari Thomas Miller.
Pemilik Miller's Corner Café itu telah memeriksa pembaruan informasi bisnis yang mereka kerjakan.
Ia mengonfirmasi bahwa informasi tersebut sudah benar dan mengucapkan terima kasih atas bantuan mereka.
Namun, pesan Thomas tidak berhenti di situ.
Ia juga bertanya apakah Arthur dan Daniel dapat membantu membuat halaman sederhana yang menampilkan menu, lokasi, dan informasi mengenai acara musik kecil yang sesekali diadakan di kafenya.
Arthur membaca pesan itu, kemudian menunjukkan layar ponselnya kepada Daniel.
Daniel langsung tersenyum.
"Nah, kita baru saja mendapatkan calon proyek situs web pertama."
Arthur mengangkat satu jari.
"Calon proyek."
"Baik, calon proyek."
Mereka membalas Thomas dengan beberapa pertanyaan mengenai kebutuhannya.
Apakah halaman itu hanya perlu menampilkan informasi, atau pelanggan juga harus dapat memesan meja?
Apakah menu akan sering berubah?
Apakah Thomas ingin mengelola sendiri informasi acara?
Berapa anggaran yang disiapkan?
Mereka tidak ingin menawarkan sesuatu yang terlalu rumit untuk kebutuhan kafe kecil tersebut.
Beberapa waktu kemudian, Thomas menjawab bahwa ia hanya membutuhkan halaman informasi sederhana. Menu dapat diperbarui sesekali, dan jadwal acara akan dikirimkan kepadanya setiap bulan. Ia tidak membutuhkan sistem pemesanan meja.
Anggaran yang dimilikinya masih terbatas.
Arthur dan Daniel kemudian berdiskusi mengenai kemungkinan ruang lingkup pekerjaan.
Daniel memperkirakan bahwa mereka dapat membuat halaman dasar menggunakan perangkat yang sudah dikuasainya. Arthur akan membantu menyusun informasi, memeriksa teks, dan berkomunikasi dengan Thomas.
Namun, mereka belum memberikan harga.
Mereka sepakat untuk menyiapkan proposal singkat yang mencantumkan fitur, biaya, jadwal, tanggung jawab Thomas dalam menyediakan materi, dan batas perubahan yang termasuk dalam paket.
Jika biaya dan waktu yang dibutuhkan ternyata tidak sesuai dengan anggaran Thomas, mereka akan memperkecil ruang lingkup atau menolak proyek tersebut dengan sopan.
Arthur tidak ingin menjual layanan murah yang pada akhirnya menghabiskan seluruh waktu mereka.
Sebelum meninggalkan kedai, ia mengirimkan pesan singkat kepada Thomas untuk memberitahukan bahwa proposal akan disiapkan setelah mereka menyelesaikan perhitungan.
Kemudian ia menoleh kepada Daniel.
"Kita harus menyelesaikan pekerjaan yang sudah dijanjikan sebelum mulai mengerjakan proyek tambahan."
Daniel mengangguk.
"Aku tahu. Kalau tidak, kita akan memiliki banyak proyek yang setengah selesai."
Arthur tersenyum.
"Dan pelanggan yang kecewa."
Mereka kemudian membagi tugas untuk hari itu.
Daniel menyelesaikan pemeriksaan akhir pembaruan informasi Thomas, sedangkan Arthur mulai menyusun proposal awal untuk kemungkinan proyek baru.
Pekerjaan itu tampak kecil.
Namun, bagi Arthur, terdapat pelajaran penting di dalamnya.
Pelanggan yang puas mungkin akan kembali dengan kebutuhan lain. Tetapi kesempatan itu hanya akan menjadi sesuatu yang bernilai jika pekerjaan pertama benar-benar diselesaikan dengan baik.
Mereka tidak perlu mengejar setiap peluang baru.
Terkadang, peluang berikutnya datang dengan sendirinya ketika mereka berhasil memenuhi janji yang sudah dibuat.
3. Daniel Mulai Bertanya
Siang hari, Arthur dan Daniel duduk di sebuah taman kecil tidak jauh dari kampus.
Mereka baru saja menyelesaikan makan siang sederhana sebelum kembali mengerjakan tugas masing-masing.
Daniel tampak memikirkan sesuatu.
"Arthur, boleh aku bertanya?"
"Tentu."
"Kenapa kau begitu serius membangun bisnis ini?"
Arthur memandangnya.
Daniel melanjutkan, "Maksudku, kita berdua masih mahasiswa. Kita bisa mencari pekerjaan paruh waktu, lulus, lalu mencoba mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Tetapi kau selalu berbicara tentang sistem, pelanggan tetap, biaya operasional, dan kemungkinan mengembangkan layanan."
Ia berhenti sejenak.
"Seolah-olah kau tidak ingin usaha ini sekadar menjadi pekerjaan sampingan."
Arthur terdiam.
Pertanyaan itu tidak sepenuhnya mengejutkannya. Daniel sudah beberapa kali memperhatikan cara Arthur mengambil keputusan.
Namun, Arthur harus berhati-hati dalam memberikan jawaban.
Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dalam kehidupan sebelumnya ia telah menghabiskan enam puluh tahun membangun kerajaan bisnis, lalu meninggal dengan penyesalan karena mengabaikan banyak hal yang tidak dapat dibeli dengan uang.
Ia juga tidak bisa mengungkapkan bahwa ia ingin memanfaatkan ingatan masa depan untuk membangun perusahaan yang kelak menjadi salah satu yang terbesar di dunia.
Karena itu, ia memilih jawaban yang jujur tanpa membuka rahasianya.
"Aku tidak ingin seluruh hidupku bergantung pada keputusan orang lain mengenai apa yang boleh dan tidak boleh kulakukan," jawab Arthur.
Daniel mendengarkan.
"Aku ingin memiliki kebebasan untuk memilih pekerjaan, menentukan bagaimana waktuku digunakan, dan membantu orang-orang yang penting bagiku tanpa selalu khawatir apakah aku mampu melakukannya."
Arthur menatap pepohonan di hadapan mereka.
"Aku tahu bisnis tidak menjamin kebebasan. Pemilik perusahaan juga bisa terjebak dalam pekerjaan yang tidak ada habisnya. Tetapi kalau kita membangunnya dengan benar, mungkin suatu hari usaha ini dapat memberi kita lebih banyak pilihan."
Daniel terdiam beberapa saat.
"Itu jawaban yang cukup bagus."
Arthur tersenyum tipis.
"Kau mengharapkan jawaban yang lebih dramatis?"
"Aku mengharapkan kau mengatakan bahwa kita akan menjadi miliarder sebelum lulus."
Arthur tertawa.
"Kalau aku mengatakan itu, kau mungkin akan langsung memintaku membelikan mobil."
"Jangan meremehkanku. Aku akan meminta mobil yang bagus."
Suasana kembali ringan.
Namun, setelah tertawa, Daniel menjadi lebih serius.
"Aku juga ingin membangun sesuatu yang menjadi milikku. Aku tidak keberatan bekerja untuk perusahaan lain, tetapi aku ingin tahu apakah aku bisa menciptakan sesuatu yang benar-benar berguna."
Arthur mengangguk.
"Kalau begitu, kita punya alasan yang cukup untuk mencoba."
Daniel mengulurkan tangannya.
"Selama kita tidak membuat keputusan besar tanpa membicarakannya, aku akan terus berjalan bersamamu."
Arthur menjabat tangannya.
"Sepakat."
Bagi Arthur, percakapan itu jauh lebih berarti daripada yang mungkin dipahami Daniel.
Dalam kehidupan pertamanya, Daniel akhirnya menjadi pengusaha perangkat lunak yang sukses. Namun, Arthur juga mengingat bagaimana kehidupan sahabatnya itu berakhir dalam kecelakaan mobil ketika mereka telah berusia lanjut.
Arthur belum mengetahui apakah ada cara untuk mengubah kejadian tersebut.
Ia juga tidak tahu kapan dan bagaimana kecelakaan itu terjadi secara tepat, sehingga ia tidak bisa mengandalkan ingatannya untuk membuat janji tertentu.
Namun, ia bertekad untuk menjaga persahabatan mereka.
Bukan dengan mengendalikan kehidupan Daniel, melainkan dengan menjadi sahabat yang lebih baik.
Jika suatu hari ia memiliki cukup informasi untuk membantu Daniel menghindari bahaya, ia akan mempertimbangkannya dengan hati-hati.
Untuk saat ini, yang bisa ia lakukan adalah membangun hubungan yang sehat dan memastikan bahwa ambisi bisnis tidak mengubah persahabatan mereka menjadi hubungan antara atasan dan bawahan.
4. Sebuah Nama yang Belum Ada
Sore harinya, Arthur membuka dokumen kosong di laptop.
Di bagian atas halaman, ia menulis:
Nama Perusahaan: Belum Ditentukan.
Ia memandang tulisan itu selama beberapa detik, lalu tertawa sendiri.
Sebuah perusahaan yang ingin ia bangun dengan serius bahkan belum memiliki nama.
Selama ini, ia dan Daniel hanya menyebut usaha mereka sebagai layanan pemasaran lokal atau usaha kecil mereka.
Mereka belum pernah mendaftarkan nama resmi.
Mereka juga belum memiliki kantor, karyawan, atau struktur hukum yang rumit.
Untuk saat ini, keadaan itu masih dapat diterima. Mereka sedang menguji apakah model layanan mereka layak dikembangkan.
Namun, Arthur mulai berpikir bahwa mereka perlu menentukan identitas usaha sebelum memperluas layanan.
Nama perusahaan bukanlah faktor terpenting dalam keberhasilan bisnis, tetapi nama yang mudah diingat dapat membantu pelanggan mengenali mereka.
Ia mulai menuliskan beberapa kriteria.
Nama itu harus mudah diucapkan.
Tidak terlalu membatasi mereka pada layanan pemasaran digital.
Cukup profesional untuk digunakan jika kelak mereka mengembangkan layanan analisis bisnis atau perangkat lunak sederhana.
Dan yang paling penting, nama itu tidak boleh memberikan kesan bahwa perusahaan mereka jauh lebih besar daripada keadaan sebenarnya.
Arthur tidak ingin membuat calon pelanggan mengira mereka sedang berhadapan dengan perusahaan besar yang memiliki puluhan pegawai.
Ia ingin membangun reputasi berdasarkan kemampuan nyata.
Setelah menuliskan beberapa pilihan sementara, Arthur menyimpan dokumen tersebut.
Ia tidak akan menentukan nama perusahaan hanya berdasarkan selera pribadi.
Ia akan membicarakannya dengan Daniel terlebih dahulu.
Keputusan itu mungkin terlihat sepele, tetapi Arthur sengaja menjadikannya latihan.
Jika ia ingin membangun perusahaan bersama seseorang, bahkan hal-hal kecil harus memberi ruang bagi pendapat kedua belah pihak.
Ia tidak ingin menciptakan situasi ketika Daniel hanya menjadi orang yang menjalankan ide-idenya.
Mereka memulai usaha tersebut bersama.
Dan jika perusahaan itu suatu hari berkembang besar, mereka harus dapat mengatakan bahwa fondasinya dibangun bersama pula.
5. Bayangan Clara
Menjelang malam, Arthur meninggalkan kampus setelah menyelesaikan beberapa tugas.
Saat berjalan menuju halte, ia melihat Clara berdiri di depan sebuah toko buku.
Perempuan itu sedang berbicara melalui telepon. Wajahnya tampak serius, dan satu tangannya menggenggam tali tas dengan erat.
Arthur tidak berniat menguping pembicaraan tersebut.
Ia terus berjalan, tetapi sebelum melewatinya, ia mendengar Clara berkata dengan suara pelan.
"Aku sudah mengatakan bahwa aku membutuhkan waktu."
Ada jeda.
Kemudian Clara melanjutkan, "Aku mengerti apa yang kalian inginkan. Tetapi aku belum memberikan persetujuan."
Arthur memperlambat langkahnya, lalu memutuskan untuk tidak mendekat.
Ia tidak tahu siapa yang berada di ujung telepon. Ia juga tidak mengetahui apa yang sebenarnya diminta keluarga Clara.
Beberapa detik kemudian, Clara mengakhiri panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Ketika mengangkat kepala, ia melihat Arthur berdiri tidak jauh darinya.
"Arthur?"
Arthur menghampiri dengan langkah biasa.
"Hai. Aku baru selesai dari kampus."
Clara berusaha tersenyum.
"Aku juga baru saja akan pulang."
Arthur memperhatikan wajahnya, tetapi tidak menyinggung percakapan telepon tadi.
"Kau terlihat lelah."
"Sedikit."
"Kau ingin berjalan sebentar?"
Clara memandang jalan di hadapan mereka sebelum mengangguk.
Mereka berjalan berdampingan melewati deretan toko yang mulai menyalakan lampu.
Setelah beberapa menit, Clara berkata, "Kau pernah merasa bahwa orang-orang sudah menentukan masa depanmu sebelum kau sendiri memutuskan apa yang kau inginkan?"
Arthur menoleh kepadanya.
"Ya."
Clara tampak terkejut.
"Kau pernah mengalaminya?"
Arthur berpikir sejenak.
Ia tidak bisa menceritakan kehidupan pertamanya, tetapi ia dapat menjawab berdasarkan apa yang kini ia pahami tentang pilihan dan penyesalan.
"Aku pernah terlalu lama mengikuti jalan yang kupikir harus kutempuh. Saat itu, aku menganggap keputusan yang aman selalu merupakan keputusan terbaik."
Clara mendengarkan dengan saksama.
"Dan ternyata?"
"Ternyata, jalan yang aman juga memiliki risiko. Salah satunya adalah risiko menghabiskan waktu untuk sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan."
Clara menunduk.
"Aku takut kalau aku menolak, aku akan kehilangan sesuatu yang tidak bisa kudapatkan kembali."
Arthur tidak langsung menjawab.
Ia tahu bahwa ketakutan semacam itu tidak dapat dihilangkan hanya dengan beberapa kalimat.
"Kalau begitu, mungkin yang perlu kau lakukan sekarang bukan langsung memilih antara menerima atau menolak," katanya. "Mungkin kau perlu mencari tahu apa yang sebenarnya akan berubah dalam setiap pilihan."
Clara menatapnya.
"Bagaimana kalau aku tidak menyukai jawaban yang kutemukan?"
"Setidaknya, keputusan itu akan menjadi keputusan yang kau pahami. Kau mungkin tetap merasa takut, tetapi kau tidak harus menjalani sesuatu hanya karena tidak sempat mempertimbangkan pilihan lainnya."
Clara terdiam.
Mereka terus berjalan hingga mencapai persimpangan.
"Aku belum siap menceritakan semuanya," kata Clara akhirnya.
Arthur mengangguk.
"Kau tidak harus melakukannya."
Clara memandangnya dengan ekspresi yang sedikit lebih tenang.
"Terima kasih karena tidak memaksaku."
Arthur tersenyum.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa kau boleh berbicara ketika sudah siap. Dan kalau kau belum ingin membicarakannya, kita bisa membicarakan hal lain."
Clara tertawa kecil.
"Kau selalu berhasil membuat percakapan serius terasa sedikit lebih ringan."
"Aku menganggapnya sebagai bakat yang sangat berguna."
Clara menggeleng sambil tersenyum.
Mereka kemudian membahas tugas kuliah dan rencana Clara untuk mengembangkan tabel keuangan sederhana bagi usaha kecil.
Ketika mereka akhirnya berpisah di halte, Arthur tidak merasa telah menyelesaikan masalah Clara.
Ia bahkan belum mengetahui bentuk masalah itu secara utuh.
Namun, ia merasa bahwa ia telah melakukan hal yang benar dengan memberinya ruang.
Dalam kehidupan pertama, ia sering menganggap bahwa tindakan besar adalah bukti terbesar dari cinta.
Kini, ia mulai memahami bahwa kesabaran dan penghormatan terhadap pilihan seseorang juga merupakan bentuk perhatian.
Arthur memperhatikan bus yang membawa Clara menjauh sebelum berbalik menuju halte lainnya.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada hubungan mereka.
Ia hanya tahu bahwa ia tidak ingin membangun masa depan bersama Clara dengan cara merampas hak Clara untuk menentukan masa depannya sendiri.
6. Keputusan yang Tidak Boleh Terburu-buru
Malam itu, Arthur kembali ke apartemen dan membuka catatan keuangan.
Ia memeriksa uang yang tersedia, pengeluaran mingguan, dan dana yang harus disimpan untuk kebutuhan hidup.
Keuntungan Aurelia Therapeutics telah memberinya sedikit ruang bernapas, tetapi jumlahnya belum cukup untuk membiayai ekspansi besar.
Karena itu, ia memutuskan untuk tidak menggunakan dana tersebut untuk membeli peralatan mahal atau menyewa kantor.
Untuk saat ini, laptop yang mereka miliki masih memadai.
Mereka juga dapat bertemu pelanggan di kedai kopi atau tempat lain yang sesuai tanpa harus menanggung biaya sewa ruang kerja.
Arthur memperbarui rencana pengeluaran dan mencatat bahwa setiap pembelian baru harus memiliki alasan yang jelas.
Setelah selesai, ia kembali memikirkan tren teknologi yang tadi pagi menarik perhatiannya.
Ia tahu bahwa dalam beberapa tahun mendatang, sejumlah perusahaan teknologi akan mengalami pertumbuhan luar biasa.
Ia juga tahu bahwa kesempatan itu tidak akan menunggu sampai ia benar-benar siap.
Namun, ia tidak boleh membiarkan ingatan masa depan membuatnya mengabaikan kenyataan di hadapannya.
Saat ini, ia memiliki sebuah usaha kecil yang masih belajar memahami pelanggannya.
Ia memiliki seorang sahabat yang ingin membangun sesuatu bersamanya.
Ia memiliki seorang perempuan yang ia cintai, tetapi yang masih berjuang menentukan arah hidupnya sendiri.
Dan ia memiliki kesempatan kedua yang tidak boleh disia-siakan.
Arthur membuka dokumen rencana jangka panjang dan menuliskan sebuah catatan baru.
Gunakan pengetahuan masa depan untuk menentukan apa yang perlu dipelajari, bukan sebagai alasan untuk mengabaikan apa yang sedang terjadi.
Ia menyimpan dokumen itu, lalu mematikan laptop.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke usia dua puluh tahun, Arthur mulai merasa bahwa ia tidak harus memilih antara bergerak cepat dan bergerak dengan hati-hati.
Ia dapat melakukan keduanya, selama ia memahami kapan harus mengambil risiko dan kapan harus menunggu.
Di dunia bisnis, ia akan membangun fondasi yang kokoh sebelum memperbesar perusahaan.
Dalam investasi, ia akan menghindari keputusan yang hanya didasarkan pada keyakinan.
Dalam persahabatan, ia akan belajar untuk tidak menjadikan ambisi sebagai alasan mengabaikan orang-orang yang berjalan bersamanya.
Dan dalam cinta, ia akan memberi Clara kesempatan untuk memilihnya tanpa tekanan.
Arthur berdiri di dekat jendela, memandangi lampu-lampu New York yang berkilauan.
Di balik cahaya kota itu, berbagai peluang sedang menunggu.
Beberapa akan menjadi perusahaan besar.
Beberapa akan menghilang tanpa pernah diketahui banyak orang.
Sebagian akan memberinya keuntungan, sementara sebagian lainnya mungkin mengajarinya melalui kegagalan.
Arthur tidak perlu mengetahui setiap jawaban malam ini.
Ia hanya perlu memastikan bahwa ketika peluang itu datang, ia memiliki cukup kesabaran untuk memahaminya dan cukup keberanian untuk mengambil keputusan.
Sebab, kali ini, Arthur Sterling tidak ingin sekadar menjadi orang yang mengetahui masa depan. Ia ingin menjadi orang yang benar-benar siap menghadapinya.