NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Kontrakan itu hanya satu kamar dan satu kamar mandi sempit. Dinding kuning kusam, kipas angin berdecit setiap kali berputar, dan di sudut ruangan ada kasur tipis yang masih terbungkus plastik.

Elang menutup pintu, memutar kunci dua kali, lalu menggantung jasnya di paku di balik pintu. Bau cat lembap dan kayu tua langsung memenuhi hidungnya.

Ia melepas sepatu. Ia menyobek plastik di kasur, lalu menjatuhkan punggungnya ke sana. Pegasnya berderit, tetapi cukup menahan.

Ia melirik langit-langit. Noda air membentuk peta pulau yang tidak ia kenal.

'Tadi pagi aku masih tidur di kamar seluas ini, tiga kali lipat.' Pikiran itu lewat begitu saja. Ia mengangkat ponsel dari saku, menyalakan layar, dan membiarkan cahayanya jatuh di wajah.

Tidak ada pesan dari Ayah. Tidak ada panggilan dari Ibu. Daftar notifikasi bersih, kecuali satu dari grup alumni yang tidak ia buka sejak lama.

Jempolnya sempat melayang di atas nama Ayah dalam daftar kontak. Ia menggulir melewatinya, lalu menutup semuanya.

"Sekarang," katanya pada ruangan kosong, "aku butuh seseorang."

Bukan orang yang bisa ia perintah. Bukan orang yang bisa ia taklukkan dengan sentuhan. Ia butuh keluarga yang punya nama sebesar Nugroho, atau lebih besar, yang tidak akan membukakan pintu hanya karena ia datang mengetuk.

Jempolnya mengetik sebuah kata kunci. Daftar artikel bisnis bermunculan. Ia menggulir cepat, membaca judul demi judul. Sebagian besar tentang pergantian direksi dan laporan keuangan, sebagian lain tentang proyek-proyek yang bahkan tidak pernah ia dengar.

Jempolnya berhenti.

Wijaya Group Dikabarkan Jalin Kerja Sama dengan Nugroho Corp untuk Proyek Kawasan Terpadu.

Elang membaca baris itu, lalu membacanya sekali lagi.

"Keluarga Wijaya."

Nama itu ia kenal. Semua orang yang pernah masuk ke ruang rapat bisnis di negeri ini mengenalnya. Aset mereka ada di mana-mana: pelabuhan, tambang, deretan hotel, sampai kebun yang tidak pernah terlihat di peta. Kekayaan Nugroho tampak seperti uang jajan di samping mereka.

Dan Ray, kakaknya, dengan sembilan puluh persen warisan yang baru ia terima beberapa jam lalu, sudah duduk satu meja dengan mereka.

'Jadi itu proyeknya.'

Elang bangkit setengah duduk, punggungnya bersandar ke dinding yang dingin. Senyumnya muncul pelan, lalu melebar.

"Sembilan puluh persen, hanya untuk membeli kursi di meja Wijaya." Ia mendengus. "Ayah memang selalu hemat."

Ia membuka artikel itu, menelusuri paragraf demi paragraf. Kutipan dari juru bicara, foto jabat tangan, nama-nama direktur. Tidak ada yang berguna. Ia kembali ke pencarian, mengganti kata kunci dengan nama keluarga itu dan satu kata lain, lalu satu lagi, dan satu lagi.

Satu jam berlalu. Kipas angin masih berdecit. Mi instan di warung depan sudah tutup, dan perutnya mulai terasa kosong, tetapi ia belum berhenti.

Di sebuah laman gosip kalangan atas, terselip di antara berita pernikahan dan acara amal, ia menemukan satu paragraf pendek yang tampak tidak ingin ditemukan.

Putri bungsu keluarga Wijaya dikabarkan telah berbulan-bulan dirawat di rumah sakit swasta. Pihak keluarga menolak memberi keterangan.

Elang berhenti menggulir.

Ia mencari lagi, kali ini dengan kata yang lebih spesifik. Satu artikel lain muncul, lalu forum perawat yang nama penggunanya disamarkan, lalu sebuah kolom komentar yang sudah dihapus tetapi masih tersimpan di cache.

Semuanya mengarah ke satu hal. Penyakit langka. Tidak ada obat yang berhasil. Putri bungsu itu kini koma, dan para dokter terbaik di dua benua telah pulang dengan kepala tertunduk.

Elang menurunkan ponselnya ke dada.

Dalam kepalanya, sebuah kubus perak kecil berdenyut di tengah lorong putih.

[Perangkat Medis Nanoteknologi: melakukan prosedur medis di luar jangkauan teknologi modern.]

Ia tidak lagi punya hak untuk meminta benda dari Ruang Sistem. Gulungan bela diri itu sudah memakai satu-satunya haknya malam ini. Tetapi sistem itu punya misi, dan misi memberi hak.

Ia menekan sarung tangan di punggung tangannya, sekali saja, dan panel biru menyala kecil di atas dadanya.

[Kuota permintaan: 4/5.]

Cukup. Untuk sementara, cukup. Besok pagi hitungannya kembali penuh.

Elang menatap layar ponselnya sekali lagi. Foto sebuah rumah sakit mewah dengan halaman luas dan penjagaan berlapis. Dari sana, jalan menuju keluarga Wijaya terlihat tipis, tetapi nyata.

Ia mematikan layar. Kamar kembali gelap, hanya diterangi pendar biru dari punggung tangannya.

"Ini kesempatanku," katanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!