Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 PERUBAHAN YANG SIGNIFIKAN
Hari yang dinanti-nanti pun dimulai, terhitung tinggal tiga bulan lagi mereka akan berada di asrama. Tiga bulan yang singkat, namun terasa begitu berharga. Mereka bekerja keras, belajar dengan sangat giat bukan sekadar untuk nilai di atas kertas, tapi agar bisa membanggakan keluarga, dan yang terpenting, agar bisa bangga pada diri sendiri.
Jam pelajaran pertama berbunyi, bu Intan masuk ke dalam kelas dengan langkah tegap. Dia dikenal sebagai guru yang tegas dan tidak kenal ampun, sering disebut siswa sebagai "GURU KILLER". Di tangannya tergenggam penggaris kayu yang panjang, ekspresi wajahnya begitu jutek, seakan tidak ada ruang untuk bercanda di ruang kelasnya. Suasana seketika hening, Keira yang biasanya tak pernah kehabisan cerita pun langsung tertunduk, Vanya sibuk memutar-mutar pulpennya dengan gugup, sedangkan Dimas pura-pura batuk untuk menyembunyikan kegugupannya.
Bu Intan berjalan ke depan papan tulis, lalu mulai menuliskan soal integral yang cukup rumit. Angka dan simbol berderet rapi di papan tulis putih itu.
"Siapa yang bisa mengerjakan soal ini ? Kalau tidak ada yang bisa, satu kelas saya suruh remedial hari ini juga !" Ucap Bu Intan dengan nada tegas yang membuat siapa pun menahan napas.
Keheningan menyelimuti ruangan, tak ada yang berani mengangkat tangan. Namun tiba-tiba, dari pojok belakang dekat jendela, Rian berdiri perlahan. Suaranya terdengar pelan namun jelas:
"Saya akan mencobanya, bu." Ucap Rian
Semua mata tertuju padanya, anak yang selama ini dikenal pendiam, yang tumbuh dengan kekurangan peran orang tua melangkah tenang ke depan kelas.
"Kamu, Rian?" Tanya Bu Intan, terkejut melihat inisiatifnya.
Tanpa banyak bicara, Rian mengambil spidol dan mulai menulis langkah demi langkah penyelesaiannya dengan sangat teliti dan rapi. Semakin dia menulis, semakin lebar mata teman-temannya. Hasil akhirnya benar, dan caranya menjelaskan logikanya pun sempurna.
"Iya, kamu benar sekali, Rian" Ucap Bu Intan, senyum bangga tersungging di bibirnya.
"Saya tidak menyangka kamu akan maju hari ini, bagus sekali. Silakan kembali ke tempatmu." Puji Bu Intan
Rian mengangguk singkat, lalu berjalan kembali ke kursinya dengan hati yang hangat. Bu Intan segera menghapus papan tulis, lalu menuliskan soal kedua yang jauh lebih sulit dari yang pertama.
"Kalau yang ini, ada yang mau mencoba ?" Tanyanya menatap satu per satu wajah siswa.
"Saya, Bu," Jawab Zain sambil berdiri.
"Silakan, Zain."
Zain maju dengan percaya diri, ia menyelesaikannya dengan cepat dan tepat.
"Bagus sekali, Zain. Kamu boleh kembali" Puji Bu Intan, senyumnya semakin lebar.
Guru itu semakin takjub melihat perubahan anak-anak yang dulu ia kira akan sulit diajar, mereka tidak hanya berubah perilakunya tetapi pikiran mereka pun terbuka, semangat mereka tumbuh setiap hari.
"Sekarang, ada yang tahu apa arti dari integral itu sendiri ?" Tanya Bu Intan, ingin menguji pemahaman mereka secara mendalam.
Keira menyenggol lengan Laras pelan-pelan, berbisik cukup keras hingga terdengar beberapa orang di dekatnya,
"Apaan integral ? Itu bukan nama makanan varian baru ya ?"
"Suttttt ! Jangan keras-keras, nanti kita kena marah. Aku juga gak tahu jawabannya!" Cicit Laras sambil menahan tawa.
"Gak ada yang tahu?" Tanya Bu Intan sekali lagi.
Aldo berdiri dari kursinya.
"Saya, Bu." Jawab Aldo
"Silakan, Aldo." Ujar Bu Intan
"Integral adalah kebalikan dari turunan, Bu. Secara umum, rumus yang baru saja Ibu tuliskan. Jawabannya adalah setengah x pangkat empat ditambah dua setengah kali x kuadrat ditambah C," Jawab Aldo dengan tenang dan percaya diri.
"Sangat tepat. Sekarang, siapa yang tahu hasil dari integral tiga kali x kuadrat dikurangi empat terhadap dx ?" Tanya Bu Intan lagi, matanya berbinar gembira.
"Saya, bu" Eko ikut berdiri.
"Itu sama dengan x pangkat tiga dikurangi empat x ditambah C." Lanjut Eko
"Bagus sekali, Eko. Ibu sangat bangga pada kalian hari ini," Ucap Bu Intan tulus.
Pelajaran berjalan begitu cepat hari itu, tidak terasa bel istirahat sudah terdengar. Mereka keluar dari ruang kelas dengan perasaan bangga, apa yang mereka pelajari selama ini, usaha keras dan dukungan satu sama lain, ternyata benar-benar membuahkan hasil. Tiga bulan ke depan masih terbentang di hadapan mereka, dan mereka bertekad akan keluar dari asrama ini membawa prestasi yang bisa mereka banggakan. Bukan untuk pujian orang lain, tapi agar suatu hari nanti, saat mereka berpapasan dengan mereka yang dulu pernah meremehkan dan menggunjing masa lalu mereka, mereka bisa menegakkan kepala dengan tenang bukan karena ingin membalas, tapi karena mereka telah membuktikan bahwa mereka jauh lebih hebat dari apa yang orang lain kira.
Orang lain masih banyak weeeh, masa iya sama mantan lagi seeehhh???
🗿🗿🗿
Zain udh terlanjut sakit krnamu, Keira...
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...