Dea, alias Althea Twina Darmawan, tumbuh sebagai anak angkat yang kehilangan kasih sayang setelah ibu angkatnya melahirkan anak kandung. Terbiasa disalahkan, ia memilih mengabdikan hidupnya sebagai dokter.
Namun, hidupnya berubah ketika Linjaryani, calon istri Elden Zarreti, seorang tuan tanah kaya raya yang dingin dan berkuasa, meninggal secara misterius. Dea dijadikan kambing hitam, sementara Elden, dibutakan dendam, menghukumnya tanpa mencari kebenaran.
Pernikahan paksa dan perlakuan kejam Elden meninggalkan luka mendalam dalam diri Dea. Ketika bukti baru mengungkap pengkhianatan di balik kematian Linjaryani, Elden menyadari kesalahannya.
Mampukah ia menebus kehancuran yang diciptakannya, atau kebencian Dea telah menutup pintu maaf selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3. Pengganti Linjaryani
Usai akad nikah yang berlalu dengan begitu singkat, tak ada senyuman yang terulas di bibir dua mempelai. Begitu juga dengan para saksi yang menyaksikan. Tak terdengar sedikit pun tawa dan canda menggoda para pengantin.
Bahkan, pesta yang awalnya direncanakan Elden bersama Linjaryani, telah dibatalkan.
Yang terdengar hanya bunyi sepatu beradu dengan lantai aula, disusul derit kursi yang bergeser ketika beberapa tamu memilih meninggalkan ruangan. Bunga-bunga di sepanjang lorong pelaminan masih tersusun rapi, tetapi tak ada satu pun yang datang untuk mengucapkan 'selamat' kepada kedua mempelai.
Bahkan, Dea tak diberi kesempatan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.
“Tuan, tolong... jangan begini....”
Jari-jari Elden mencengkeram lengan Dea, menyeretnya menjauhi pelaminan. Perempuan itu berusaha mengimbangi langkahnya dengan kaki yang mulai gemetar.
Kebaya krem yang dikenakannya terasa begitu berat dan menyesakkan. Sementara ujung selendang pengantin, tersangkut di antara langkah-langkahnya yang kacau.
“Pelan-pelan, Tuan. Sakiiit ....” ringisnya.
Elden sama sekali tak menoleh padanya. “Diam!”
Satu kata itu membuat Dea membungkam mulutnya sendiri.
Matanya beralih ke arah keluarganya. Di antara beberapa kerabat yang masih berdiri, ia menemukan sosok perempuan yang selama ini dipanggilnya dengan 'Ibu.'
Perempuan itu berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di dada. Wajahnya tegang, bibirnya mengatup rapat. Ketika pandangan mereka bertemu, Dea sempat berharap akan melihat sedikit saja kecemasan di mata itu.
Namun, yang datang justru tatapan tajam.
“Bu...” Suara Dea lirih memanggil perempuan paruh baya itu.
Ibunya mendekat. Dea hampir mengira perempuan itu akan membelanya. Namun, harapannya berbanding terbalik dengan kenyataan.
“Kamu puas sekarang?” Kata-kata itu meluncur tajam dari bibir sang ibu.
Dea tersentak.
“Sudah membuat keluarga ini malu, sekarang masih mau mempermalukan kami di depan semua orang?” Ibunya melirik ke arah para tamu yang mulai berbisik. “Kamu pikir orang-orang tidak akan membicarakan kejadian ini lagi?”
“Aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan, Bu.”
“Lalu kenapa tunangannya meninggal pada saat kamu bertugas?”
Pertanyaan itu menghantam perasaan Dea lebih keras daripada bentakan Elden.
“Aku tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Aku sudah mencoba menjelaskan, tapi tidak ada yang mau mendengarkan....”
“Sudah!” Ibunya mencengkeram pergelangan tangan Dea yang masih bebas.
“Dari dulu, kamu memang selalu saja membuat masalah. Sekarang, setelah kami bersusah payah membesarkanmu, kamu malah membawa aib sebesar ini.”
Dea menatap perempuan itu lekat-lekat.
Membesarkannya?
Tiba-tiba, ingatannya berlari menuju sebuah malam bertahun-tahun silam. Malam ketika ia berdiri di ambang ruang tengah dengan surat penerimaan beasiswa kedokteran di tangan.
Saat itu, ia masih mengenakan seragam sekolah. Sepatunya sudah mengelupas di bagian depan, sementara tasnya dijahit berulang kali agar bisa digunakan hingga lulus sekolah.
“Ibu, aku diterima.”
Ia masih ingat betapa bergetarnya suaranya ketika menyerahkan surat tersebut.
“Aku dapat beasiswa. Biaya kuliahku ditanggung pemerintah. Aku hanya perlu mengurus beberapa dokumen dan biaya keberangkatan saja.”
Ibu angkatnya bahkan tidak langsung membaca surat itu. Perempuan tersebut justru meletakkan piring yang sedang dipegangnya hingga mengeluarkan bunyi nyaring.
“Lalu siapa yang akan membantu pekerjaan rumah ini?”
Dea sempat tersenyum kecil, mengira ibunya sedang bercanda.
“Aku bisa tetap membantu kalau sedang libur, Bu. Aku juga akan mencari pekerjaan sambilan.”
“Pekerjaan sambilan?” Ibunya tertawa hambar. “Memangnya kamu bisa hidup dengan uang begitu? Kamu pikir kuliah itu hanya soal biaya masuk saja?”
Dari ruang sebelah, ayah angkatnya menyahut tanpa mengangkat wajah dari buku catatan utang.
“Sudahlah. Tidak usah kuliah. Kita sudah punya urusan yang lebih penting.”
Dea melangkah mendekati meja. “Urusan apa, Yah?”
Ayahnya menutup buku tersebut. “Utang keluarga. Kamu sudah cukup besar untuk membantu menyelesaikannya.”
“Bagaimana caranya?”
Tak ada yang langsung menjawab. Kedua orang tuanya itu saling bertatapan beberapa saat.
Sampai akhirnya, ibunya menyebut nama Jumo, seorang rentenir yang beberapa kali datang ke rumah mereka.
“Mereka bersedia menghapus sebagian utang kalau kamu mau menikahinya. Setidaknya kamu bisa berguna.”
Dea merasa lantai di bawah kakinya menghilang. “Ibu mau menjualku kepada mereka?”
“Jaga bicaramu!”
“Aku bukan barang yang dijual untuk membayar utang—”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Dea.
Untuk beberapa detik, Dea hanya berdiri dengan kepala tertunduk. Pipinya terasa panas, tetapi sebagai seorang anak, tentu ia tak membalas. Ia hanya menggenggam surat beasiswa itu lebih erat sampai sudut kertasnya kusut.
Pada malam sepi, ia menangis sendirian di kamar sempitnya.
Namun, keesokan paginya, ia kembali berdiri di hadapan kedua orang tua angkatnya.
“Aku akan kuliah,” katanya dengan suara bergetar, tetapi tegas.
“Aku tak akan meminta uang sepeser pun dari kalian. Aku akan bekerja, mencari dana tambahan, melakukan apa saja supaya bisa bertahan.”
Ibunya mendengus. “Jangan menyesal kalau nanti hidupmu susah.”
Dea mengangguk pelan. Ia memang sudah terbiasa hidup susah. Berkali-kali ia menahan lapar, tidur dengan buku-buku di samping kepala, dan mengambil pekerjaan sambilan di sela-sela jadwal kuliah.
Ia belajar sampai matanya perih karena baginya, pendidikan adalah satu-satunya pintu yang bisa membawanya keluar dari kehidupan yang selama ini mengekangnya.
Ia tidak pernah meminta uang kepada keluarga angkatnya. Tidak sekali pun.
Namun, ketika akhirnya berhasil menempuh pendidikan kedokteran, tak ada ucapan bangga yang ia terima. Yang ada justru keluhan bahwa dirinya yang terlalu sibuk, terlalu jarang pulang, dan terlalu tinggi bermimpi untuk seorang anak yang dahulu ditemukan hanyut di sungai.
Kini, setelah semua perjuangannya, ia kembali berdiri di hadapan perempuan yang sama.
Dengan gaun pengantin yang tak pernah ia impikan. Dengan tuduhan yang tak pernah ia mengerti. Di sana, ada seorang pria yang memandangnya seolah ia adalah manusia paling hina di dunia.
“Bu...” Suara Dea memecahkan keheningan di antara mereka. “Aku cuma ingin Ibu percaya padaku, sekali saja.”
Ibunya menarik napas tajam. “Percaya? Setelah semua bukti yang ada?”
*bersambung*
Ingat Dea sedang mengandung anakmu
Aneh klo tidak dipantau & dilindungi bodyguard bayangan keluarga, ceroboh !!
Dan Josep berusaha melindungi Stella.
Yang pasti...kali ini Dea tidak akan tinggal diam.
Jangan2 ada main dia dengan Stella