Vivian Wei keluar dari penjara demi menanggung kesalahan kakak kembarnya. Dulu keras kepala dan bar-bar, kini ia berubah menjadi gadis tangguh yang tidak takut melawan siapa pun.
Pertemuannya dengan Delvin Yang, seorang CEO sekaligus direktur universitasnya, mengubah hidup Vivian. Awalnya Delvin berniat membatalkan pertunangan keponakannya dengan Vivi Wei.
Namun, setelah mengenal Vivian, Delvin justru mengubah keputusannya. Bukan Vivi, melainkan Vivian yang ingin ia jadikan istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan Di Penjara
Penjara Wanita.
Di dalam penjara tersebut, terlihat seorang gadis muda sedang dikepung oleh beberapa tahanan wanita.
“Gadis sialan, ada yang membayar kami untuk memberimu pelajaran. Kemarin kau telah melukai teman kami. Hari ini kami akan membalas perbuatanmu!” gertak salah satu tahanan.
“Siapa yang membayar kalian? Apakah keluargaku? Berapa yang mereka bayar sehingga kalian rela menambah kesalahan?” tanya gadis itu. Gadis tersebut adalah Vivian Wei.
“Kau tidak perlu tahu. Yang harus kami lakukan adalah memastikan kau tidak bisa keluar dari sini,” jawab salah satu tahanan dengan tatapan penuh ancaman.
“Minggu depan aku akan bebas dan kembali ke rumahku, sedangkan kalian hanya bisa menetap di sini. Karena kalian sudah dibayar untuk menggangguku, maka aku akan bermain dengan kalian.”
Vivian melangkah maju. Tanpa memberi kesempatan kepada lawannya untuk menyerang lebih dulu, ia melayangkan pukulan keras ke wajah salah satu tahanan.
Bruk!
Pukulan itu menghantam wajah wanita tersebut hingga tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh.
Vivian tidak berhenti.
Ia berbalik dan langsung melayangkan tendangan keras ke arah perut tahanan lainnya.
Buk!
Wanita itu terhuyung beberapa langkah sambil memegangi perutnya.
Vivian berdiri tegak di tengah mereka. Tatapannya tetap tenang, seolah beberapa orang yang mengepungnya sama sekali bukan ancaman.
“Habisi dia!”
Salah satu tahanan berlari dari depan sambil mengayunkan tinjunya.
Vivian menghindar dengan cepat. Pukulan itu hanya melewati sisi wajahnya.
Dalam satu gerakan, Vivian menangkap pergelangan tangan wanita tersebut, kemudian memutarnya ke belakang.
“Akh!”
Wanita itu meringis kesakitan.
Vivian mendorong tubuhnya hingga menabrak meja di belakang.
Brak!
Belum sempat Vivian berbalik, tahanan lainnya sudah menerjang dari belakang.
Vivian merasakan gerakan itu dan segera merunduk.
Whoosh!
Tinju wanita itu melayang di atas kepalanya.
Vivian kemudian berbalik dan menghantamkan sikunya tepat ke perut lawannya.
Buk!
Wanita itu langsung membungkuk sambil memegangi perutnya.
Vivian menarik kerah bajunya lalu mendorongnya hingga terjatuh ke lantai.
“Berikutnya siapa?” tanya Vivian dingin.
Melihat dua rekannya sudah tersungkur, dua tahanan lainnya saling berpandangan.
“Jangan takut! Serang dia bersama-sama!”
Keduanya langsung berlari ke arah Vivian.
Vivian justru berdiri diam.
Ketika salah satu dari mereka hampir sampai, Vivian melangkah ke samping dan menarik lengannya.
Tubuh wanita itu kehilangan keseimbangan.
Vivian menggunakan momentum tersebut untuk membantingnya ke lantai.
Bruk!
“Aaah!"
Tahanan terakhir mencoba memukul Vivian dari samping.
Vivian menahan tinju itu dengan telapak tangannya.
Tatapan mereka bertemu.
“Kau pikir aku mudah dikalahkan hanya karena aku lebih muda?”
Vivian kemudian mendorong tangannya dan melayangkan tendangan ke kaki lawannya.
Wanita itu kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk.
Vivian berdiri di hadapannya.
“Kalau ingin mendapatkan uang dari orang yang membayarmu, setidaknya cari tahu dulu siapa yang kalian hadapi.”
Satu per satu para tahanan hanya bisa pasrah. Mereka tidak lagi berdaya untuk melawan, bahkan beberapa di antaranya terlihat ketakutan.
Wajah mereka membengkak. Ada yang bibirnya pecah, bahkan salah satu dari mereka kehilangan beberapa giginya akibat pertarungan tadi.
Sementara itu, Vivian yang sama sekali tidak mau mengalah masih berdiri tegap di sana. Tatapannya tajam, tanpa sedikit pun rasa takut.
Vivian mengepalkan tangannya.
“Vivi Wei...” gumamnya dengan suara dingin.
“Sungguh, kakak kembarku yang baik.”
Vivian tersenyum sinis.
“Kau yang menjebakku masuk ke penjara. Sekarang kau bahkan masih mengirim orang untuk menghabisi nyawaku?”
Tatapan Vivian semakin tajam.
“Sayangnya, kau salah memilih lawan.”
Ia mengangkat dagunya.
“Begitu aku keluar dari sini, aku akan membuat hidup kalian semua tidak akan tenang."