Valeria adalah pemimpin klan mafia paling ditakuti di kota, wanita berdarah dingin yang tak pernah tunduk pada siapa pun. Di sisinya, selalu berdiri Kael, tangan kanannya yang bisu akan emosi, sebuah "bayangan" yang rela mati sebagai perisainya. Selama bertahun-tahun, Kael menyembunyikan dua rahasia besar: insting membunuh dan kemampuan bela dirinya yang sebenarnya jauh melampaui sang nyonya, serta cinta gila yang tak pernah berani ia suarakan. Namun, ketika sebuah pengkhianatan dari dalam menghancurkan kerajaan Valeria, mereka berdua terpaksa menjadi buronan. Di masa pelarian yang penuh darah dan keputusasaan inilah, Kael akhirnya melepaskan seluruh kekuatan buasnya demi melindungi sang ratu, perlahan mengikis batas antara kesetiaan mutlak seorang bawahan dan hasrat membara seorang pria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cukstaw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 - ANCAMAN DARI KLAN VIPER
Cahaya matahari pagi yang terik menembus dinding kaca raksasa di ruang kerja lantai 50. Silau cahayanya sukses bikin Valeria mengerang pelan dan memutar tubuhnya di atas kasur *king size* yang ada di dalam kamar rahasianya.
Wanita itu perlahan membuka mata, mengerjap menyesuaikan diri dengan cahaya. Udah jam setengah delapan pagi. Tidurnya semalam lumayan nyenyak, padahal baru aja ngeksekusi pengkhianat jam dua pagi. Bagi seorang ratu mafia, darah dan kematian itu cuma rutinitas yang nggak beda jauh sama minum kopi pagi.
Valeria bangkit, merenggangkan otot-ototnya yang masih agak kaku, lalu masuk ke kamar mandi. Setengah jam kemudian, dia udah keluar dengan penampilan yang 100% berbeda dari wanita kelelahan semalam. Rambut panjangnya diikat rapi ke atas bergaya *ponytail* yang tajam. Hari ini dia memilih setelan *blazer* dan celana kain *high-waist* berwarna putih gading, dipadukan dengan kemeja sutra merah menyala di dalamnya. Sepatu hak tinggi warna senada menyempurnakan penampilannya. Kelihatan sangat bersih, elegan, dan pastinya mematikan.
Baru aja Valeria melangkah keluar dari pintu rahasia menuju ruang kerjanya yang luas, pintu utama ruangan itu terbuka pelan.
"Pagi, Val," sapa sebuah suara bariton yang udah sangat familiar.
Kael melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh atletisnya. Rambutnya masih sedikit basah, disisir rapi ke belakang. Di tangan kanannya, ada nampan kecil berisi secangkir kopi hitam yang asapnya masih mengepul wangi. Kael melirik sekilas ke arah Valeria, dan untuk sepersekian detik, langkah pria itu sedikit melambat. Mata elangnya selalu butuh waktu sejenak buat mencerna betapa cantiknya bos yang dia layani ini.
"Pagi, Kael," balas Valeria sambil tersenyum tipis.
Wanita itu berjalan menuju meja kerjanya dan langsung duduk, meraih cangkir kopi yang diletakkan Kael tepat di depan laptopnya. Valeria menghirup aromanya dalam-dalam, lalu menyesapnya. Kopi hitam pekat, tanpa gula, panasnya pas. Sempurna.
"Kamu tidur berapa jam semalam?" tanya Valeria sambil menatap Kael dengan sebelah alis terangkat. "Matamu kelihatan agak merah."
"Cukup untuk membuat saya tetap fokus menembak kepala orang dari jarak seratus meter, Nyonya," jawab Kael tenang, kembali menggunakan panggilan formal karena sekarang udah masuk jam kerja.
Kael berdiri di tempat favoritnya, agak menyamping di dekat meja Valeria dengan tangan bersedekap di belakang punggung, memantau pintu masuk dan jendela sekaligus. Jujur aja, semalam dia baru tidur jam lima pagi. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan keamanan Valeria setelah kekosongan posisi di sektor selatan.
"Jangan sok jagoan. Kalau kamu tumbang, siapa yang bakal buatin aku kopi seenak ini?" ledek Valeria santai, menyandarkan punggungnya di kursi.
"Saya tidak akan pernah tumbang sebelum Anda menyuruh saya mati, Nyonya," balas Kael datar, sama sekali nggak kepancing sama candaan bosnya.
Valeria cuma bisa geleng-geleng kepala. Sikap kaku Kael kadang bikin dia gemas sendiri.
"Oke, lupakan soal tidur. Jadwal pertamaku hari ini jam sembilan, kan? Ketemu sama Pak Hendra, perwakilan dari pelabuhan?" tanya Valeria mulai mengubah mode santainya jadi mode bisnis.
"Benar. Beliau dijadwalkan datang jam sembilan tepat. Kita butuh tanda tangan beliau untuk memuluskan rute masuk kargo senjata dari Rusia minggu depan tanpa harus lewat pemeriksaan bea cukai. Setelah Marco mati, orang-orang pelabuhan pasti sedikit panik. Anda harus meyakinkan Pak Hendra bahwa klan kita tetap memegang kendali penuh," jelas Kael panjang lebar.
"Gampang. Kalau dia macam-macam, kita tinggal kasih 'bonus' tambahan ke rekening istrinya di Swiss, atau kita kirim ancaman kecil. Tergantung *mood*," ucap Valeria santai sambil memutar-mutar pena mahal di sela jarinya.
Belum sempat Kael merespons, suara ketukan keras dan bertubi-tubi terdengar dari pintu utama ruang kerja. Bukannya menunggu disuruh masuk, pintu itu langsung didorong terbuka dengan tergesa-gesa.
Valeria mengerutkan kening, sangat nggak suka privasinya diganggu dengan cara kasar. Sementara itu, tangan kanan Kael udah secara refleks masuk ke balik jasnya, menggenggam gagang pistol Glock-19 miliknya.
Bastian, kepala divisi keamanan yang bertubuh besar dan penuh tato, melangkah masuk dengan napas ngos-ngosan. Wajah sangar pria itu kelihatan pucat pasi, sesuatu yang jarang banget terjadi. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kayu berbentuk persegi seukuran kardus sepatu, diikat dengan pita sutra warna hijau lumut yang terlihat aneh.
"Maaf, Nyonya! Maafkan saya menerobos masuk," ucap Bastian terbata-bata, menunduk ketakutan menyadari tatapan tajam Valeria dan aura membunuh Kael yang udah siap mencabut nyawanya.
"Kamu lupa cara mengetuk pintu dengan sopan, Bastian? Atau kamu mau jarimu kupotong satu-satu buat pengingat?" ancam Valeria dingin, suaranya pelan tapi bikin bulu kuduk berdiri.
"Ampun, Nyonya! Tapi ini darurat. Sebuah paket... baru saja diantar ke lobi bawah," lapor Bastian sambil menelan ludah. Dia mengangkat kotak kayu itu sedikit. "Kurirnya memakai helm *full-face* dan langsung kabur sebelum anak-anak sempat menangkapnya. Dia bilang... ini hadiah spesial untuk sang ratu."
Valeria memicingkan matanya menatap kotak kayu itu. "Hadiah?"
"Jangan didekatkan ke meja, Bastian. Taruh di lantai, sekarang," perintah Kael tajam, suaranya naik satu oktaf. Pistol di tangannya udah ditarik keluar, moncongnya diarahkan ke lantai tapi siap ditembakkan kapan aja.
Bastian buru-buru meletakkan kotak itu di tengah ruangan, agak jauh dari meja Valeria, lalu mundur beberapa langkah.
"Mundur ke pintu, Bastian," perintah Kael lagi.
Setelah memastikan Bastian menjauh, Kael melangkah maju mendekati kotak kayu misterius itu. Pria jangkung itu berjongkok dengan hati-hati. Mata tajamnya meneliti setiap sudut kotak, mencari kabel, pemicu bahan peledak, atau tanda-tanda jebakan gas beracun. Dia mengeluarkan sebuah detektor logam portabel seukuran pena dari sakunya dan memindai sekeliling kotak. Tidak ada bunyi.
"Bukan bom," lapor Kael singkat tanpa menoleh ke Valeria.
"Buka," perintah Valeria dari balik mejanya. Wanita itu menopang dagu dengan satu tangan, matanya menatap lekat-lekat ke arah kotak itu. Entah kenapa, firasatnya memburuk.
Kael memakai sarung tangan kulit tipis warna hitam yang selalu ada di saku jasnya. Dengan gerakan presisi dan tenang, pria itu menarik pita hijau lumut tersebut. *Srek.* Pita terbuka. Kael lalu mencongkel tutup kayu itu perlahan.
Begitu celah kotak terbuka, bau amis darah yang sangat menyengat langsung menyeruak keluar, mengalahkan wangi parfum ruangan.
Kael membuka tutupnya sepenuhnya. Pria itu diam mematung selama tiga detik menatap isi kotak tersebut. Rahangnya langsung mengeras, otot-otot di lehernya menegang, dan cengkeraman tangannya pada tutup kotak sampai membuat kayu itu berderit pelan.
"Apa isinya, Kael?" tanya Valeria, nada suaranya berubah berat. Dia bisa merasakan kemarahan yang tiba-tiba memancar dari tubuh pengawalnya itu.
Kael berdiri pelan-pelan. Pria itu memutar badannya menatap Valeria, ekspresinya sangat gelap. "Sebaiknya Anda tidak melihatnya, Nyonya. Biar saya yang urus ini."
"Kael," panggil Valeria tegas, menggunakan nada absolut yang nggak bisa dibantah. "Aku tanya, apa isinya?"
Melihat Kael yang enggan menjawab, Valeria akhirnya berdiri dan melangkah keluar dari balik meja mewahnya. Kael mencoba menghalangi dengan merentangkan satu tangannya, tapi Valeria menepisnya pelan dan berjalan mendekati kotak itu.
Saat Valeria melihat ke dalam, napasnya sedikit tertahan.
Di dalam kotak kayu yang dialasi kain beludru putih itu, tergeletak sebuah potongan tangan manusia. Darah segar masih menetes-netes, menodai kain putih di bawahnya menjadi merah pekat. Potongan itu dipotong dari pergelangan dengan sangat kasar, seolah pelakunya menggunakan golok tumpul.
Namun, bukan potongan tangan itu yang membuat mata Valeria berkilat marah. Perhatiannya tertuju pada dua hal. Pertama, sebuah cincin stempel emas bertahtakan batu safir biru yang melingkar di jari manis potongan tangan tersebut. Valeria sangat kenal cincin itu. Itu adalah cincin kebanggaan milik Pak Hendra—perwakilan pelabuhan yang seharusnya rapat dengannya jam sembilan ini.
Dan yang kedua, terselip di antara jari-jari kaku berlumuran darah itu, ada sebuah kartu nama tebal berwarna hitam pekat. Di atas kartu itu tercetak logo yang sangat familiar di dunia bawah tanah: seekor ular Viper yang melingkari tengkorak manusia.
Valeria tidak menjerit, tidak juga gemetar. Wajah cantiknya justru berubah menjadi sedingin balok es. Matanya yang tajam menatap kosong ke arah kartu tersebut.
Kael dengan cepat membungkuk, menggunakan ujung pisau lipatnya untuk mengambil kartu hitam itu agar tidak menodai tangan bosnya. Dia membaca pesan singkat yang ditulis dengan tinta merah di balik kartu tersebut.
"Bacakan," perintah Valeria pelan. Suaranya bergetar, tapi bukan karena takut, melainkan karena amarah yang mulai mendidih di dadanya.
Kael menarik napas pendek, lalu membacakan tulisan mengerikan itu dengan suara datarnya.
"Selamat pagi, Yang Mulia Ratu. Kudengar anjing penjagamu di selatan baru saja mati. Sayang sekali. Karena takhta itu sekarang kosong, kami memutuskan untuk mengambil alih pelabuhan. Tangan ini adalah tanda perkenalan. Jangan coba-coba merebut kembali apa yang sudah digigit oleh sang ular, atau kepalamu yang akan berada di dalam kotak berikutnya. Salam hangat, Klan Viper."
Hening merayap di ruangan besar itu. Bastian yang berdiri di dekat pintu wajahnya makin pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya. Menantang Klan Viper secara terbuka sama saja dengan memulai perang berdarah di tengah kota.
Kael meremas kartu hitam itu hingga hancur di tangannya. Aura membunuh meledak dari tubuh pria itu. Urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas. Ancaman terhadap nyawa Valeria adalah hal yang paling tabu baginya, sebuah dosa yang hanya bisa dibayar dengan pemusnahan total.
"Klan Viper," desis Valeria. Senyum sinis perlahan terukir di bibirnya yang merah. Senyum yang membuat darah siapa pun yang melihatnya terasa membeku. "Mereka pikir karena Marco mati, klan kita pincang? Mereka pikir berani ngirim tangan busuk ini ke mejaku bisa bikin aku takut?"
"Nyonya, beri saya perintah," potong Kael cepat. Suara baritonnya terdengar serak dan berbahaya. Mata elang pria itu berkilat penuh nafsu membunuh. "Saya akan kumpulkan unit bayangan. Kami akan meratakan markas Viper di sektor selatan dalam waktu kurang dari dua belas jam."
Valeria menoleh menatap Kael. Melihat pengawal kesayangannya itu sudah siap menerkam mangsa, Valeria tertawa kecil. Tawa yang sama sekali tidak ada unsur kebahagiaan di dalamnya.
"Bastian!" panggil Valeria keras.
"Y-ya, Nyonya!" Bastian tersentak dan langsung berdiri tegak.
"Bawa kotak sampah ini dan bakar sampai jadi abu. Aku nggak mau bau amis ini ngerusak udara di ruanganku. Dan kirim pesan ke keluarga Pak Hendra, berikan mereka uang santunan tutup mulut yang pantas," perintah Valeria mutlak.
"Baik, Nyonya!" Bastian buru-buru maju, menutup kotak kayu itu dengan tangan gemetar, dan setengah berlari membawa kotak itu keluar dari ruangan.
Pintu tertutup kembali, menyisakan Valeria dan Kael berdua.
Valeria berjalan kembali ke mejanya. Dia nggak duduk, melainkan membuka sebuah laci tersembunyi di bawah meja. Dengan bunyi *klik* yang renyah, dia mengeluarkan dua buah sarung pistol berbahan kulit dan memasangkannya di balik *blazer* putihnya. Dia kemudian mengambil dua pucuk pistol Glock-19 *custom* berwarna perak mengkilap, mengecek pelurunya dengan cekatan, lalu menyarungkannya di pinggang kiri dan kanan.
Kael memperhatikannya dalam diam, napasnya mulai teratur meski matanya masih menyala marah.
"Kamu bilang mau meratakan markas mereka dalam dua belas jam?" tanya Valeria sambil mengancingkan satu kancing *blazer* putihnya, menyembunyikan senjata mematikan itu di balik keanggunannya.
"Benar, Val. Saya yang akan pimpin langsung," jawab Kael mantap.
Valeria melangkah mendekati Kael, berhenti tepat di depannya. Aroma *Baccarat* kembali mendominasi, bercampur dengan sedikit sisa bau mesiu dari malam sebelumnya.
"Nggak perlu pakai unit bayangan, dan nggak perlu nunggu dua belas jam," ucap Valeria pelan sambil menatap lurus ke dalam mata tajam pria itu. "Mereka udah ngasih undangan perang, dan rasanya nggak sopan kalau sang ratu nggak datang sendiri buat ngasih sambutan."
Kael menatap wajah cantik bosnya yang kini dipenuhi aura kematian yang mempesona. Seringai tipis yang sangat jarang muncul akhirnya terukir di bibir Kael. Darahnya berdesir panas. Inilah ratu yang dia puja. Ratu yang tidak pernah bersembunyi di balik benteng saat musuh mengetuk pintu.
"Siapkan senjatamu, Kael. Bawa peluru cadangan yang banyak," perintah Valeria dengan senyum iblisnya. "Kita turun ke lapangan sekarang. Mari kita potong kepala ular itu."
"Dengan senang hati, Ratuku," jawab Kael serak. Tangannya meraba gagang pistol di balik jasnya, siap mengubah jalanan kota hari ini menjadi sungai darah demi wanita di hadapannya.