Sebulan menjelang pernikahan, Dera harus menelan kenyataan pahit saat Vivian, kakak kandungnya sendiri, mengaku hamil anak Galih, calon suaminya.
Lebih menyakitkan lagi, kedua orang tua mereka justru merestui pernikahan Galih dan Vivian, sementara Dera harus merelakan semua persiapan pernikahan yang dibayar dari hasil kerja kerasnya.
Hancur dan dikhianati keluarganya sendiri, Dera memilih pergi ke Jakarta untuk memulai hidup yang baru.
Tak disangka, pertemuannya dengan seorang miliarder tampan mengubah takdirnya. Pria itu bukan hanya menawarkan cinta, tetapi juga sebuah pernikahan yang akan membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal.
Namun, mampukah Dera menemukan kebahagiaan, atau justru terjebak dalam permainan cinta sang miliarder?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Suasana di ruang keluarga yang semula tenang, berubah menjadi ketegangan. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan berita pagi yang tidak terlalu diperhatikan siapa pun. Galih duduk di sofa sambil memegang remote, Eni sedang melipat pakaian di meja kecil, sementara Vivian duduk di lantai dengan ponsel di tangannya. Wajahnya sudah sejak tadi memperlihatkan ekspresi tidak suka.
Tiba-tiba Vivian mengangkat wajah, matanya menyipit. Ia berdiri dan menghampiri ibunya dengan langkah cepat.
“Mama, lihat ini,” ujarnya, nada suaranya sengaja dibuat khawatir. Ia menyodorkan ponsel yang menampilkan foto Dera bersama Mario.
“Mama lihat saja. Laki-lakinya beda lagi, Ma,” ucap Vivian sambil menunjuk layar. “Kemarin satu, sekarang sudah ganti. Aku yakin Dera di Jakarta tidak kerja biasa. Dia jadi simpanan pria kaya.”
Kalimat itu keluar dengan begitu mudah, seolah sudah direncanakan. Vivian menatap ibunya, menunggu reaksi yang ia harapkan.
Raut wajah Eni langsung mengeras. Ia mengambil ponsel itu, memperbesar foto, lalu menghela napas panjang penuh kekesalan. “Dia memang menjijikan,” cemoohnya tanpa ragu. “Pantas saja Galih lebih memilih kamu daripada dia. Dari dulu memang kelakuannya sudah tidak beres. Sekarang semakin parah.”
Kata-kata itu mengalir deras, tanpa sekali pun Eni mempertanyakan kebenaran tuduhan putri sulungnya. Di matanya, Dera selalu menjadi sumber masalah. Kepergiannya ke Jakarta tidak mengubah pandangannya, justru memperkuat keyakinan bahwa anak bungsunya memang tidak pantas dibela.
Galih yang sejak tadi diam di sofa akhirnya menggerakkan tubuhnya. Ada rasa tidak nyaman yang kuat di dada saat mendengar Dera dihina begitu kasar oleh istri dan mertuanya. Ia bukan orang yang sempurna, dan ia tahu kesalahannya di masa lalu sangat besar. Tapi mendengar Dera dilabeli sebagai simpanan tanpa bukti membuatnya gelisah.
“Jangan berprasangka dulu, Ma,” ucap Galih pelan. “Siapa tahu itu teman Dera. Kita tidak tahu situasinya di Jakarta.”
Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat Vivian langsung menoleh dengan tajam. Matanya yang semula pura-pura khawatir kini berkaca-kaca, siap diliputi emosi.
“Sayang, kamu bela Dera?” cecarnya, suara bergetar. “Kamu masih mencintainya? Masih memikirkan dia?”
Galih menghela napas sabar. Ia sudah terlalu hafal dengan pola ini. Vivian mudah tersulut, dan setiap kali namanya disebut bersamaan dengan Dera, drama pasti datang. Ia menatap istrinya dengan lembut, mencoba meredakan.
“Aku tidak membelanya, sayang,” jelasnya pelan. “Aku hanya tidak mau kalian salah paham. Tuduhan seperti itu berat. Kita tidak punya bukti.”
Vivian tidak langsung menerima. Ia duduk di lantai lagi, memeluk lutut, pura-pura terluka. “Kamu selalu seperti ini. Kalau soal Dera, kamu selalu mencari pembenaran. Padahal aku yang jadi istrimu sekarang.”
Eni yang berdiri di samping langsung menepuk bahu putrinya. “Sudah, Vivian. Jangan dipikirkan. Galih hanya terlalu baik. Mama percaya sama kamu. Dera memang sudah melenceng.”
Galih terdiam. Ia ingin berbicara lebih jauh, ingin mengatakan bahwa mungkin Dera sedang mencoba membangun hidup baru, bahwa tidak semua kedekatan berarti hubungan gelap. Tapi di rumah ini, membela Dera selalu berujung pada tuduhan bahwa ia masih mencintainya. Jadi ia memilih diam.
Vivian menatap ponselnya lagi, menyimpan foto itu dengan rapi. Di dalam hatinya, rasa puas bercampur dengan kecemburuan yang semakin dalam. Ia berhasil menanamkan benih buruk di pikiran ibunya. Langkah berikutnya adalah memastikan Dera tetap terlihat sebagai pihak yang salah di mata keluarganya, dan jika perlu, di mata dunia luar.
Sementara itu, Galih menyandarkan tubuhnya di sofa, menatap layar televisi yang tidak lagi ia perhatikan. Ada rasa bersalah yang lama sempat ia kubur kini kembali muncul. Ia tahu Dera pernah sangat terluka karena dirinya. Dan di ruang keluarga yang sama tempat dulu Dera sering duduk diam menahan air matanya, ia kembali mendengar mantan kekasihnya dihancurkan dengan kata-kata, kali ini tanpa bisa berbuat banyak.
Drama ynag di buat Vivian terus berlanjut, sementara di Jakarta, Dera sama sekali tidak tahu bahwa namanya kembali dijadikan bahan fitnah oleh orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi ini terasa lebih ringan dari biasanya. Dera baru saja selesai mandi, rambut masih basah disampirkan di bahu, sementara Rere duduk bersila di atas lantai sambil sarapan. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan acara komedi yang sesekali membuat mereka tertawa kecil.
Rere tiba-tiba menoleh, menyandarkan dagu di tangan. “Sepertinya Mario menyukaimu, Der,” ujarnya santai tapi penuh arti. “Dia rela antar-jemput kamu setiap hari, padahal yang aku tahu pemilik perusahaan itu sangat sibuk. Tapi dia bisa meluangkan waktunya untuk kamu.” ucapnya tiba-tiba.
Dera yang sedang mengeringkan rambut dengan handuk kecil langsung berhenti sejenak. Ia menghela napas pelan, lalu duduk di tepi kasur. “Aku tidak tahu, Re. Aku masih berteman saja sama dia,” jawabnya hati-hati. “Aku tidak mau terburu-buru menilai perasaan orang. Lagian… aku sendiri belum siap.”
Rere tersenyum miring, mata berbinar nakal. “Pepet terus aja, Der. Lumayan kita bisa makan gratis terus,” godanya, lalu tertawa lepas hingga hampir tersedak keripik.
Dera ikut tertawa, kali ini lebih lega. Ia melempar handuk ke wajah Rere main-main. “Kamu benar, Re. Kalau dapat gratisan terus, lama-lama kita bisa beli rumah sendiri. Tidak kosa”
Tawa mereka memenuhi kamar kecil itu. Untuk beberapa saat, semua beban terasa menjauh.
Dera buru-buru memakai pakaian kerjanya, setelah itu ikut duduk di samping Rere. Sarapan bersama.
Rere mengusap air mata karena terlalu banyak tertawa, lalu menatap Dera lebih serius. “Tapi ya, Der, aku lihat kamu agak beda belakangan ini. Kamu lebih sering tersenyum. Walaupun masih kaku kalau sama Mario, tapi setidaknya kamu tidak langsung kabur.” analisanya.
Dera menunduk, memainkan sendok yang dia pegang. “Aku juga bingung. Setiap kali sama dia, aku selalu waspada. Tapi di saat yang sama, aku tidak merasa nyaman. Aneh, ya?”
“Tidak aneh,” jawab Rere lembut. “Itu namanya pelan-pelan sembuh. Kamu pantas mendapatkan laki-laki seperti Mario, Der. Dia mau effort, padahal sekelas dia gampang banget bisa mendapatkan perempuan yang lebih dari kamu"
Dera terdiam sejenak, lalu tersenyum kecil. “Kamu benar, Re. Aku juga bingung dengan dia"
Rere memeluknya sekilas dari samping. “Tidak usah bingung. Kalau sudah jodoh, kita tidak bisa menolaknya, Der." ucap Rere.
Dera mengangguk, masih tersenyum. Dia tidak tahu harus merespon apa. Karena dia sendiri tidak tahu tujuan Mario mendekatinya.
sayangi dan cintai dirimu sndiri dera....
krna istrimu jg org tuanya sifatnya pda buruk & g waras smua....
dan satu"nya org yg waras dan normal di keluarga istrimu.... cuma dera....
bikin dera pintar dikit apa thor..bikin gemes aja sama pola pikir deraa