"Aku hanya ingin Putri Katherine Raventhal menjadi istriku." -Salvatore Ardan.
"Kau pikir aku hadiah lotre?" -Katherine Raventhal.
Menjadi hadiah perang untuk Jenderal Agung yang dingin dan berhati batu adalah hal terakhir yang diinginkan Putri Katherine. Salvatore Ardan mungkin dipuja sebagai pahlawan perang, tapi di mata Kate, pria itu adalah monster arogan!
Demi mendapatkan kebebasannya kembali, Kate menyiapkan berbagai cara gila untuk mempermalukan dan menyingkirkan suaminya dari rumah. Namun, sekeras apa pun usaha Kate( mulai dari jebakan ulat bulu, sabotase dokumen militer, hingga perang dingin di kamar tidur) Salvatore selalu punya cara overpower untuk mengatasinya.
Bagaimana cara menundukkan seorang istri galak yang memusuhi seluruh keberadaanmu? Salvatore punya caranya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jingrd24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Mode Hening
Setelah kejadian malam itu, Kate jadi banyak diam. Tidak ada lagi Kate yang berisik, Kate yang mencoba menjahili Salvatore dengan kodok di sudut ruangan, atau gerutuan gengsi khas dirinya yang biasanya memenuhi kamar utama. Yang ada hanya Kate dalam mode hening.
Bagi dia, kejadian malam itu—ketika kekhawatirannya ditepis begitu saja di hadapan para pelayan oleh suaminya yang lebih memilih diobati orang lain—sudah menjadi alarm paling keras. Sebuah peringatan bahwa dia tidak seharusnya menurunkan martabat hanya untuk mencari perhatian Salvatore lagi. Jika niat baik dan gengsi yang sudah ia korbankan berujung ditepis tanpa perasaan, maka Kate memilih untuk mengunci rapat-rapat dirinya. Tidak akan ada lagi usaha. Sama sekali.
Duduk di kursi ukir balkon kamar utamanya, angin dingin menerpa gaun sutra Kate yang jatuh berkibar halus. Matanya menatap kosong ke arah pepohonan rindang di taman mansion.
Pikiran Kate justru bernostalgia melayang mundur ke beberapa waktu lalu—jauh sebelum insiden tepisan tangan dan perban malam itu.
Kejadian malam itu sebenarnya hanyalah puncak dari tumpukan retakan kecil yang sengaja Kate abaikan. Jauh sebelum itu, Salvatore sudah berulang kali menghantam hatinya tanpa pria itu sadari.
Kate teringat jelas sore itu. Saat mereka duduk berseberangan di meja makan. Salvatore sibuk memeriksa tumpukan berkas laporan militer, sementara Sonia baru saja keluar dari ruang kerja setelah berjam-jam berdiskusi panjang mengenai pemetaan wilayah dan strategi pertahanan. Suasana di antara Salvatore dan Sonia begitu mengalir, penuh dengan istilah-istilah militer yang dipahami keduanya tanpa jeda.
Begitu Sonia pergi, Kate yang menahan rasa tersinggung karena merasa diabaikan, akhirnya mengumpulkan keberanian. Dengan jemari meremas taplak meja di bawah sana, Kate melontarkan pertanyaan yang selama ini menyumbat dadanya. Ia mencoba terdengar angkuh, meski matanya menatap Salvatore penuh tuntutan.
"Aku penasaran satu hal, Jenderal," suara Kate saat itu terdengar dingin, menahan gejolak di dadanya. "Jika Lady Sonia begitu paham dengan pemikiranmu, begitu mengerti bahasa militermu, dan terlihat jauh lebih 'nyambung' diajak bicara... kenapa kau memilih menikahiku?"
Salvatore saat itu menghentikan gerakan penanya sejenak. Pria itu mendongak, menatap Kate dengan sepasang mata tajamnya yang selalu bersih dari emosi. Wajahnya polos tanpa rasa bersalah, matanya jujur tanpa ada niat menyindir sama sekali.
Namun justru kejujuran tanpa filter itulah yang paling mematikan.
Salvatore merapikan berkasnya, lalu menjawab dengan intonasi bariton yang datar dan penuh kepastian logis:
"Karena ini perintah Raja dan bagian dari kesepakatan politik dengan ayahmu, Kate."
Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan. Salvatore melanjutkan kalimatnya tanpa menyadari bahwa setiap kata yang keluar dari bibirnya adalah belati yang menghujam dada istrinya.
"Sonia adalah rekan kerja yang terlatih. Sementara kau adalah tanggungan hidupku—tanggung jawab resmi yang dipercayakan Kerajaan dan keluargamu kepadaku. Aku menjalankan kewajibanku padamu sebagaimana mestinya."
Kau adalah tanggung jawab.
Bukan tempat pulang. Bukan wanita yang ia inginkan. Bukan pasangan yang dipilih oleh hatinya. Hanya sebuah nama di atas lembar dokumen negara yang harus ia jamin keselamatannya sampai mati.
Saat itu, Kate terdiam. Lidahnya mendadak kelu, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia hanya mampu menegakkan punggung, mempertahankan sisa-sisa harga dirinya dengan tatapan dingin, menolak memperlihatkan betapa hancurnya perasaan seorang Putri Raventhal saat dilabeli sekadar 'tanggung jawab politik'.
Sensasi dingin dari memori itu masih terasa menggerogoti dadanya hingga hari ini.
"Anda jadi semakin diam sejak kejadian beberapa malam yang lalu," kata Rhea mendadak, melangkah mendekati sang nyonya yang duduk kaku di balkon kamarnya.
Suara Rhea membuyarkan kilasan memori menyakitkan itu.
Kate menghela napas panjang, tatapannya tetap tertuju ke pepohonan taman yang bertepatan persis di samping balkon kamarnya, tidak langsung menoleh kepada Rhea.
"Aku hanya dalam suasana hati yang tidak ingin banyak bicara," balasnya mencoba tenang, suaranya datar tanpa riak emosi.
Sebagai dayang yang sudah dari kecil bersama dengan sang nyonya, Rhea paham betul ada yang tidak beres dengan sang nyonya—tidak, dia sangat mengerti. Perubahan drastis ini bukan sekadar merajuk biasa.
"Begitu, ya."
Rhea melirik sedikit, mencoba mencairkan suasana kaku di antara mereka. "Berarti mulai hari ini sudah tidak ada pelaksanaan daftar hitam yang sudah Anda susun ya, Nyonya?" lanjutnya mencoba memancing.
Kate menghela napas pelan, memejamkan matanya rapat-rapat. "Aku sedang tidak mau berbicara tentang jenderal batu itu, Rhea," balasnya tenang.
Rhea terdiam, menyadari kedalaman luka di balik ketenangan nyonyanya. "Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak bermaksud."
Ada jeda keheningan yang cukup panjang di antara mereka berdua. Angin sore berembus menyapu helai rambut Kate. Kate menghela napas panjang, menatap lurus ke arah taman dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran antara kelelahan mental, harga diri yang terluka, dan kejengkolan yang terendam dalam.
Sampai akhirnya, ia kembali mengeluarkan suaranya.
"Tapi memang menyebalkan," gumamnya pelan.
Rhea menoleh, terkejut mendengar gumaman halus itu. "Ya, Nyonya?" tanyanya, memastikan pendengarannya.
Kate memperbaiki posisi duduknya, menatap ke arah Rhea dengan tatapan lelah yang amat sangat. "Tapi dia memang menyebalkan," katanya ulang.
"Menyebalkan karena apa?" Kali ini Rhea berani bertanya. Ia melihat Kate memperlihatkan gestur membuka diri dan mau membagi sedikit beban di kepalanya.
"Karena tidak peka."
Rhea tidak langsung memotong kalimat Kate. Ia membiarkan sang nyonya bangun dari kursinya, berjalan pelan ke pagar pembatas balkon dan bersandar pelan di sana.
"Dia pikir aku tidak punya perasaan, ya? Atau dia hanya bodoh?"
Rhea tidak langsung membalas, karena sejujurnya, dia juga tidak memiliki apapun yang bisa diucapkan untuk membuat perasaan sang nyonya lebih baik.
“Atau sebenarnya, kejadian kepulangannya setelah memenangkan perang 100 tahun itu hanya drama belaka?” Kate berbalik menghadap ke arah Rhea.
“Mungkin sebenarnya dia hanya menganggapku sebagai piala yang bisa dia taklukkan. Setelah itu? Tidak ada yang spesial.”
Hembusan angin menerpa kulit Kate. Mulai hari itu, Kate mulai meragukan perasaan Salvatore. Berawal dari ketidakpekaan sampai ke kesimpulan yang membuat Kate merasa begitu kecil dan dipermainkan.
Minta es batu seember ga tuhh! Kate lagian sok-soakn mau acuh tak acuh, dikasih roti sobek 8 petak langsung bengek kan wkwkw! Sal tolong sering-sering latihan gpake bju demi ketenangan jiwa pembaca 🤭