NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

geng motor devan terlibat keributan

"Devan! Devan, bangun!"

​Aura panik setengah mati. Ia sekuat tenaga menahan tubuh tinggi Devan yang mendadak terkulai di bahunya.

Napas Devan terasa sangat panas menerpa lehernya. Beruntung, Bimo dan Rian yang baru selesai kelas kebetulan melintas di dekat area laboratorium dan langsung berlari membantu menopang tubuh Devan.

​"Bim! Rian! Tolongin, Devan pingsan!" seru Aura dengan suara gemetar.

​Mereka bertiga membawa Devan ke unit kesehatan kampus. Setelah diberikan obat penurun panas dan ditangani petugas medis, Devan akhirnya siuman.

Muka cowok itu masih agak pucat, tapi dia bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa dan menolak keras saat disuruh pulang beristirahat.

​Sore harinya, Devan bersikeras membawa motornya keluar dari lingkungan kampus, membuat Aura tidak tenang dan diam-diam membuntutinya menggunakan taksi online. Aura khawatir kondisi kesehatan Devan makin memburuk jika ditinggal sendirian.

​Taksi yang ditumpangi Aura berhenti di sebuah kawasan bengkel tua dan lapangan terbuka di pinggiran kota—tempat berkumpulnya anak-anak motor.

Aura turun dari taksi dan berjalan pelan dari balik deretan bangunan bekas, mengawasi Devan dari kejauhan.

​Di sana, Devan terlihat sedang duduk di atas motornya bersama Bimo, Rian, dan belasan anggota geng motor mereka. Devan memegang botol air mineral, wajahnya masih lelah, tapi sikapnya tetap tenang.

​Namun, ketenangan itu tak bertahan lama. Suara raungan belasan mesin motor yang memekakkan telinga mendadak masuk ke dalam area lapangan tua tersebut.

Asap knalpot membumbung tinggi. Geng motor saingan—kelompok anak-anak muda urakan dari luar kampus yang dipimpin oleh seorang cowok bertato di leher bernama Bagas—datang dan langsung mengurung geng Devan.

​Aura bersembunyi di balik tumpukan kayu bekas, menahan napas. Jantungnya berdebar kencang melihat suasana yang mendadak sangat tegang.

​"Ada angin apa lu datang ke lapak gue, Gas?" tanya Devan santai. Suaranya serak, tapi bernada dingin. Ia bahkan tidak turun dari motornya.

​Bagas tertawa mengejek, melangkah maju sambil mengayun-ayunkan sebuah rantai besi di tangan kerempengnya.

"Gue cuma mau menagih janji, Dev. Anak buah lu kemarin bikin masalah di jalanan gue. Lu harus bayar ganti rugi, atau tempat ini gue acak-acak!"

​Bimo melangkah maju dengan emosi membumbung. "Jangan ngarang cerita lu, Gas! Anak buah lu yang duluan nyenggol motor kita!"

​"Diam lu!" bentak Bagas kasar, lalu tanpa peringatan mendadak mendorong dada Bimo hingga Bimo jatuh tersungkur di tanah basah.

​Melihat temannya didorong, kemarahan di mata Devan seketika menyala. Rasa lemas dan pusing akibat demam tinggi seolah menguap begitu saja, berganti dengan kilatan emosi yang sangat pekat.

​Devan turun dari motornya. Langkah kakinya lambat, tapi atmosfer di sekitarnya mendadak terasa begitu mencekam. Bimo dan Rian sampai refleks mundur memberi jalan.

​"Lu boleh cari masalah sama gue, Gas," kata Devan dengan suara rendah yang menusuk hingga ke tulang. "Tapi jangan pernah sentuh teman-teman gue."

​"Banyak gaya lu, bangsat!" teriak Bagas.

​Bagas mengayunkan rantai besinya ke arah kepala Devan.

​Di balik tumpukan kayu, Aura memekik menahan napas. "Devan!"

​Tapi Devan tidak bergeming sedikit pun. Dengan refleks yang sangat cepat, Devan mengelak ke samping, menangkap rantai besi itu dengan tangan kosong—mengabaikan gesekan besi keras di kulitnya—lalu menariknya dengan kekuatan luar biasa hingga Bagas terseret ke depan.

​Bugh!

​Satu pukulan mentah dan telak dari kepalan tangan Devan mendarat keras di rahang Bagas. Suara hantamannya terdengar amat mengerikan di lapangan yang sepi itu. Bagas tersungkur jatuh, hidungnya langsung mengucurkan darah.

​Anak buah Bagas yang melihat pemimpinnya dihantam tidak tinggal diam. Enam orang sekaligus maju mengeroyok Devan dengan kayu dan balok. Perkelahian massal pun pecah di tengah lapangan.

​Aura membeku di tempat persembunyiannya. Matanya membelalak sempurna, tak sangka melihat pemandangan di depannya.

Ini bukan Devan yang ia kenal sebagai cowok yang diam-diam memotret keindahan atau cowok lembut yang menyelimutkan jaket kulit di tubuhnya saat hujan.

​Ini adalah Devan yang brutal.

​Devan bergerak bagaikan monster yang lepas dari kendali. Ia menghindari sabetan kayu, mengunci leher lawan, lalu membantingnya ke tanah tanpa keraguan sedikit pun. Tatapan matanya kelam, dingin, dan penuh aura kehancuran. Setiap tendangan dan pukulannya begitu keras, tidak memberi ampun pada siapa pun yang mendekat.

​Seorang anak buah Bagas mencoba menyerang Devan dari belakang menggunakan pecahan botol kaca.

​"Devan, di belakang kamu!" jerit Aura refleks tanpa sadar.

​Suara teriakan Aura yang melengking menembus riuhnya perkelahian itu. Devan terhenyak kaget saat mendengar suara yang sangat familiar.

Ia menoleh cepat ke arah persembunyian di balik tumpukan kayu, lalu berbalik tepat waktu untuk menepis pukulan pecahan botol itu.

​Devan mencengkeram kerah baju lawan tersebut, menyikut mukanya hingga tumbang, lalu menendangnya menjauh.

​Hanya dalam hitungan menit, seluruh anak buah Bagas tergeletak merintih kesakitan di tanah. Bagas yang sudah babak belur merayap mundur dengan wajah ketakutan luar biasa.

​"Cabut! Cabut sekarang!" teriak Bagas panik pada anak buahnya, lalu mereka berlarian kabur meninggalkan motor dan peralatan mereka.

​Lapangan tua itu mendadak hening. Hanya ada deru napas memburu dari Devan.

​Tangan Devan berdarah karena terkena gesekan rantai dan pecahan botol tadi. Rambutnya yang basah oleh keringat menempel di dahi, dan kaos hitamnya sedikit robek. Ia berdiri tegak di tengah lapangan, tampak seperti penguasa jalanan yang berbahaya dan mengerikan.

​Devan memutar tubuhnya perlahan, memandangi arah tempat teriakan tadi berasal.

​Dari balik tumpukan kayu bekas, Aura keluar dengan langkah gemetar. Wajah gadis itu pucat pasi. Matanya menatap Devan dengan tatapan penuh rasa takut, tidak percaya, dan guncangan hebat. Tubuh Aura menggigil hebat melihat noda darah yang menetes dari tangan Devan ke tanah.

​Melihat raut ketakutan yang begitu jelas di wajah Aura, Devan mendadak sadar. Kemarahan liar di matanya langsung padam seketika, berganti dengan rasa penyesalan yang teramat dalam. Benteng rahasianya runtuh total.

Aura baru saja menyaksikan sisi paling gelap dan paling brutal dari hidup seorang Devan—sisi yang selama ini berusaha Devan sembunyikan rapat-rapat agar tidak menakuti gadis itu.

​"Au... Aura?" bisik Devan serak. Tangannya yang berdarah terulur sedikit, mencoba melangkah mendekat. "Kamu... kenapa bisa ada di sini?"

​Aura tidak menjawab. Gadis itu justru melangkah mundur satu tindak dengan mata berkaca-kaca, menatap Devan seolah-olah Devan adalah sosok monster yang sangat asing baginya.

​Di saat Devan hendak melangkah maju untuk menjelaskan semuanya, tiba-tiba suara sirine mobil polisi terdengar melengking nyaring dari arah jalan raya, makin lama makin mendekat menyergap lapangan tua tersebut.

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!