Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.
Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Api Belerang dan Rahasia Dantian
Uap belerang mendidih membumbung dari dasar Jurang Belerang, menciptakan kabut tipis berwarna hijau kemerahan yang membakar udara malam. Ma Huang melangkah kaku di atas bentangan jembatan batu granit seluas tiga jengkal yang menghubungkan dua dinding tebing terjal.
Di tengah jembatan batu yang licin oleh gumpalan sulfur, berdiri seorang pria tua bertubuh jangkung. Jubah kulit binatang yang dikenakannya terkoyak kusam di beberapa bagian, menyingkapkan sepasang lengan yang berwarna kehitaman kaku bagaikan besi tempa dari pergelangan hingga ke siku. Tiga jasad prajurit Sekte Pedang Suci tergeletak kaku di belakang tumitnya, leher mereka gosong menghitam tanpa ada tetesan darah yang mengalir.
Pertapa Gu Mo memutar badannya perlahan. Sepasang matanya yang cekung menatap lurus ke arah Ma Huang yang melangkah maju dengan Pedang Tulang Hitam terhunus kaku di tangan kiri.
"Bau amis racun dari tebing tengkorak..." suara Gu Mo bergema parau, mengalahkan deru uap belerang dari dasar jurang. "Kau membawa hawa kematian yang sama dengan iblis racun lima puluh tahun lalu, Bocah."
Ma Huang menghentikan langkahnya sepuluh jengkal dari Gu Mo. Sepasang matanya yang berkilat merah meneliti sarung tangan besi meteorit yang membungkus lengan tua itu. "Minggir, Tua Bangkai. Aku tidak punya urusan denganmu."
Gu Mo terkekeh dingin, suara tawa parau yang penuh dengan kepahitan. Ia melangkah maju satu pukulan, membuat batu granit di bawah telapak kakinya merekah retak. "Ma Ren mengorbankan nyawanya agar garis darah Keluarga Ma tidak punah. Tapi kau... kau justru menjejalkan racun busuk ke dalam Dantianmu demi dendam murahan."
"Kau tidak tahu apa pun tentang malam pembantaian itu," potong Ma Huang dengan suara datar tanpa emosi.
"Aku tahu lebih banyak dari yang kau duga!" bentak Gu Mo kencang. Udara di sekeliling jemari besinya mendadak membara merah, memancarkan gelombang panas yang memuai mendesak kabut belerang di sekitarnya. "Makam leluhur ini adalah tempat peristirahatan terakhir pusaka suci. Aku tidak akan membiarkan iblis racun yang hilang akal menginjakkan kaki di atas tanah ini!"
Tanpa menunggu jawaban Ma Huang, Gu Mo merangsek maju membelah uap panas. Gerakan tubuh tuanya luar biasa cepat, memotong jarak di atas jembatan sempit hanya dalam satu kali hentakan tumit.
Tinjuan tangan kanannya meluncur lurus mengincar dada Ma Huang. Sarung tangan besi meteorit yang membara menyemburkan gelombang hawa panas Telapak Besi Lahar, membakar udara di sekitarnya hingga berdesis nyaring.
Ma Huang mengangkat Pedang Tulang Hitam secara melintang untuk menangkis.
Tinggg! Duaggg!
Benturan keras antara besi meteorit membara dan baja beracun menimbulkan letupan bunga api kebiruan yang membumbung tinggi. Gelombang kejut tenaga dalam menjalar kencang melalui bilah pedang hitam, menghantam bahu kanan Ma Huang yang terluka hingga cairan darah kehitaman kembali menyembur basah dari celah lukanya.
Ma Huang terdorong mundur tiga langkah di atas jembatan batu yang licin. Pijakan kakinya meninggalkan dua alur garis dalam di atas permukaan granit yang terkikis.
Gu Mo tidak memberikan jeda setengah hembusan napas pun. Lengan kirinya meluncur melingkar dari samping, mengincar rusuk Ma Huang dengan sabetan cakar besi yang menyala merah.
Ma Huang merendahkan badannya dua jengkal, membiarkan sabetan cakar Gu Mo melintas tipis di atas rambutnya. Ia menyalakan lingkaran energi Inti Bencana di Dantiannya, menyalurkan gelombang racun Ular Hijau pekat lurus ke telapak tangan kirinya yang bebas.
Pukulan telapak tangan terbuka Ma Huang mendarat tepat di rusuk kanan Gu Mo.
Brak!
Hawa dingin membusukkan dari racun hitam beradu langsung dengan hawa panas belerang di tubuh Gu Mo. Baju kulit binatang yang dikenakan pertapa tua itu robek terbakar, meninggalkan bekas telapak tangan kehitaman di kulit dadanya. Namun, Gu Mo sama sekali tidak terhenyak mundur.
Otot-otot di dada Gu Mo menegang bagaikan batu karang. Ia mengutuk pelan, menyambar pergelangan tangan kiri Ma Huang dengan cengkeraman sarung tangan besinya yang membara.
"Racun murahan ini tidak akan mampu menembus Qi belerangku!" raung Gu Mo.
Ia memutar pergelangan tangan Ma Huang kencang, lalu menghantamkan tinju kanannya lurus ke tengah dada Ma Huang tempat Dantiannya berada.
Bummm!
Hantaman Telapak Besi Lahar mendarat telak di ulu hati Ma Huang. Gelombang hawa panas yang sangat dahsyat menerobos masuk menembus jaringan kulit dan tulang dadanya, menyengat lurus ke pusat Dantian yang berselimut kristal racun kehitaman.
Ma Huang memuntahkan gumpalan darah kental ke udara. Tubuhnya terlempar lima langkah ke belakang, menghantam pilar batu jembatan hingga ukiran naga di permukaannya ambles dua jengkal.
Rasa sakit yang membakar menjalar ke seluruh sirkulasi meridiannya. Namun, alih-alih meledak hancur seperti yang diperkirakan, kristal racun kehitaman yang membeku di Dantian Ma Huang justru mencair perlahan akibat resapan hawa panas belerang dari pukulan Gu Mo.
Cairan racun pekat itu meresap sempurna ke dalam celah-celah retakan Dantiannya, menyatu erat dengan jaringan organ dalam tanpa memicu gelombang pembalikan energi. Retakan Dantian Ma Huang yang selama ini dikunci oleh jarum perak perlahan menutup kaku, membentuk struktur Dantian baru yang jauh lebih kokoh dan memancarkan kilau hitam keemasan.
Napas Ma Huang yang tadinya tersedat parau mendadak kembali stabil dan berat. Udara dingin beracun di sekeliling tubuhnya berputar makin kencang, menyerap uap belerang dari dasar jurang untuk mengisi kembali cadangan tenaga dalamnya yang terkuras.
Gu Mo berdiri kaku lima langkah di hadapannya. Sepasang matanya yang tua membelalak lebar, menatap telapak tangan besinya sendiri yang gemetar tipis.
"Struktur Dantian milikmu..." bisik Gu Mo dengan suara yang mendadak berubah serak. "Kristal racun di dadamu tidak menolak hawa panas lahar... Kristal itu justru membutuhkan elemen api belerang untuk menyatu sempurna dengan jaringan Dantian!"
Ma Huang bangkit berdiri perlahan dari remahan pilar batu. Ia menyapu darah di bibirnya dengan punggung tangan, menatap Gu Mo dengan sepasang mata merah yang kini memancarkan kejernihan kaku.
"Ayahmu..." lanjut Gu Mo seraya menurunkan kedua tangannya yang membara. "Ma Ren tidak pernah menciptakan Jalur Darah Pemakan Bencana untuk mengubah keturunannya menjadi iblis. Beliau merancang teknik ini agar bisa disempurnakan oleh hawa panas lahar di Makam Leluhur!"
Lu Gang dan Master Han yang menyaksikan pertarungan dari tepi jembatan menarik napas lega. Lu Gang melangkah maju dua langkah, merapatkan kedua tangannya di udara ke arah Gu Mo.
"Senior Gu Mo!" teriak Lu Gang nyaring. "Tuan Muda Ma Huang bertarung bukan karena dikuasai iblis racun! Beliau mempertaruhkan nyawanya untuk merebut kembali pusaka Keluarga Ma dari tangan Sekte Pedang Suci!"
Gu Mo menatap Lu Gang dan Master Han secara bergantian, lalu pandangannya kembali tertuju pada Ma Huang yang berdiri tegak memegang Pedang Tulang Hitam. Pria tua itu menghembuskan napas panjang yang membumbungkan uap panas dari mulutnya.
"Jadi kau benar-benar putra tunggal Ma Ren..." desah Gu Mo seraya menarik mundur langkah kakinya dari tengah jembatan. "Aku sudah menunggu di jurang ini selama lima belas tahun, menjaga pintu makam dari anjing-anjing Sekte Pedang Suci."
Ia merogoh bagian dalam jubah kulitnya, mengeluarkan sebuah tabung perunggu pendek yang dipenuhi ukiran rumit. "Ma Ren mempercayakanku untuk menguji siapa pun yang membawa racun tebing tengkorak ke tempat ini. Jika kau dikuasai dendam hingga menjadi iblis, pukulan telapak besiku tadi akan meledakkan Dantianmu menjadi bubur."
Ma Huang melangkah mendekati Gu Mo. "Tetapi Dantianku justru pulih."
"Karena kehendakmu untuk melindungi pengawalmu masih jauh lebih besar daripada kegelapan racun di darahmu," balas Gu Mo mantap.
Gu Mo berbalik badan, memimpin jalan melintasi sisa jembatan batu menuju pintu raksasa berukir kepala naga ganda. Pintu batu granit setinggi lima tombak itu berdiri megah, tertutup rapat di bawah naungan tebing terjal Jurang Belerang.
Master Han melangkah maju seraya membuka kain sutra yang membungkus kepingan perunggu hijau dari kotak kayu naga. "Senior Gu Mo, kita memerlukan kepingan kunci kedua untuk membuka engsel batu ini."
Gu Mo tersenyum dingin. Ia mengangkat sarung tangan besinya yang kehitaman, lalu menancapkan kelima jarinya lurus ke dalam celah ukiran naga di sisi kanan pintu batu.
Krak! Cring!
Mekanisme rantai kuno di dalam dinding tebing berdecit kencang. Dinding batu raksasa itu bergetar hebat, merontokkan kerak-kerak belerang dari permukaannya seraya terangkat naik sejengkal demi sejengkal.
"Kepingan kunci kanan tidak pernah berada di Sekte Pedang Suci," terang Gu Mo seraya menarik tangannya kembali. "Itu hanya cerita buatan Zhao Feng untuk memancing musuh-musuhnya saling membunuh."
Namun, sebelum pintu batu makam terangkat sepenuhnya, suara dentuman meriam besi yang sangat dahsyat bergema dari arah Celah Gigi Tengkorak di belakang mereka.
Getaran tanah yang luar biasa keras merambat melalui lantai batu jembatan, merontokkan bongkahan batu granit dari atap tebing ke dalam sungai lahar dingin.
Dari balik kepulan asap belerang di ujung muara, gelombang cahaya keemasan yang sangat terang membelah malam. Zhao Feng bersama seluruh Tetua Agung Sekte Pedang Suci dan lima ratus prajurit zirah berat telah berhasil menembus barikade Rawa Bakau, berdiri menatap lurus ke arah pintu makam yang terbuka.
Ma Huang menggenggam erat Pedang Tulang Hitam di tangannya, memutar badannya menantang barisan pasukan musuh yang mulai memadati jembatan batu.