Bagi Aisyah, pernikahan dengan Ayden seharusnya menjadi pelabuhan terakhir setelah badai panjang dalam hidupnya. Pria itu tampak seperti sosok pelindung yang sempurna—mapan, penuh perhatian, dan mencintainya tanpa syarat. Namun, di balik tatapan hangat dan sentuhan lembut Ayden, tersimpan sebuah rahasia gelap yang perlahan-lahan meremukkan kewarasan Aisyah.
Semua runtuh pada malam ketika Aisyah menemukan kebenaran yang mengerikan: pernikahannya bukan dibangun atas dasar cinta, melainkan sebuah rencana balas dendam yang dingin. Ayden sengaja mendekatinya untuk menghancurkan keluarganya, menggunakan Aisyah sebagai bidak catur dalam permainan kebencian masa lalu.
Terperangkap dalam cinta yang penuh kepalsuan dan dikhianati oleh orang yang paling ia percaya, jiwa Aisyah perlahan mati rasa. Ia tidak lagi mengenal air mata ataupun amarah; yang tersisa hanya kehampaan yang mencekam. Di sisi lain, Ayden yang tadinya berniat menuntaskan dendam justru mendapati dirinya tersiksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saga B.T., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Penjara
Hari-hari setelah pengakuan kelam di ruang kerja itu mengubah atmosfer penthouse mewah di lantai teratas gedung pencakar langit itu secara drastis. Tempat yang dulunya dihiasi ilusi kehangatan dan keharmonisan kini resmi bertransformasi menjadi sebuah sel penjara berlapis emas yang dingin dan mencekik.
Di lorong utama depan pintu elevator pribadi, dua orang pria berbadan tegap berpakaian serba hitam berdiri berjaga. Suara derap langkah sepatu bot mereka menggema konstan di atas lantai marmer.
"Ingat instruksiku baik-baik, Pak Broto," ujar Ayden dengan suara rendah penuh penekanan di area foyer pagi itu. Pria itu sedang merapikan jam tangan mewahnya, menatap lurus pada kepala pengawalnya. "Nyonya Aisyah boleh bergerak bebas ke mana saja di dalam area penthouse ini—restoran interior, ruang baca, hingga balkon. Tapi tidak ada satu orang pun yang boleh membiarkannya melangkah keluar dari pintu elevator tanpa izin tertulis langsung dariku. Paham?"
"Baik, Mas Ayden. Kami akan menjaga setiap pintu keluar dua puluh empat jam penuh," sahut Pak Broto seraya menundukkan kepalanya patuh.
Bi Sumi yang berdiri tak jauh di dekat meja bar dapur hanya bisa meremas celemeknya dengan jemari gemetar. Air mata cemas menggenang di sudut matanya. "T-tapi Mas Ayden... Nyonya Aisyah kan butuh udara segar. Kasihan Nyonya, Mas..."
"Bibi tidak usah ikut campur urusan rumah tanggaku!" potong Ayden dingin, melayangkan tatapan tajam yang seketika membungkam wanita tua itu. "Tugas Bibi hanya memastikan dia makan dan meminum vitaminnya setiap hari. Jangan biarkan dia memegang benda-benda tajam atau berada terlalu dekat dengan tepi kaca balkon tanpa pengawasan!"
Ayden memutar tubuhnya, melangkah menuju meja makan tempat Aisyah sudah duduk tegak di kursinya.
Piring berisi roti panggang dan secangkir teh hangat mengepul di hadapan Aisyah. Namun, wanita itu sama sekali tidak menyentuhnya. Tatapan matanya lurus terarah ke luar jendela kaca raksasa, menatap hamparan gedung-gedung beton ibu kota yang terselimut kabut pagi.
"Aisyah," panggil Ayden seraya menarik kursi di seberangnya dan duduk. Suaranya mencoba meniru nada lembut yang biasa ia gunakan, namun ada kecanggohan yang tak bisa disembunyikan. "Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak pernah bermaksud mengurungmu di dalam kamar. Kau adalah istriku, dan tempatmu adalah di sisiku, di rumah ini."
Aisyah tidak bergeming. Kelopak matanya bahkan tidak berkedip. Ia seperti tidak mendengar keberadaan pria yang duduk dua meter di hadapannya.
"Aturan pengamanan ini kubuat demi kebaikanmu sendiri," lanjut Ayden lisan, tangannya terulur di atas meja mencoba mendekati jemari Aisyah. "Di luar sana, media masih mengincar berita tentang kebangkrutan Dinantara Utama. Kau tidak akan aman jika berkeliaran sendirian di luar tanpa pengawalan ketat dariku."
Aisyah tetap bergeming bagaikan patung porselen yang dipajang di etalase toko. Tidak ada sahutan, tidak ada desah napas histeris, tidak pula ada tatapan benci berapi-api seperti yang Ayden bayangkan.
Sikap Aisyah dalam beberapa hari terakhir benar-benar menyerupai sesosok boneka mekanik. Pagi hari, ia akan bangun tepat waktu, melangkah kaku menuju meja makan, mengunyah beberapa suap makanan tanpa mengecap rasanya, lalu pindah duduk di sofa ruang tengah untuk menatap kosong ke arah luar jendela hingga malam menjemput.
"Aisyah! Kau mendengarkanku atau tidak?!" tegas Ayden, ketenangannya mulai terkelupas oleh keheningan yang menekan.
Aisyah hanya mengalihkan pandangannya sangat lambat, menatap lurus ke tengah dahi Ayden—bukan ke mata pria itu—seolah Ayden hanyalah sebuah objek tak bernyawa yang menghalangi pemandangannya.
"Makan rotimu," perintah Ayden, menurunkan intonasinya seraya menunjuk piring di hadapan istrinya. "Jangan menyiksa dirimu sendiri dengan melaparkan raga."
Aisyah meraih garpu dengan gerakan yang teramat pelan dan teratur, menyuapkan sepotong kecil roti ke dalam mulutnya, mengunyahnya sepuluh kali secara konstan, lalu menelannya. Gerakan itu begitu mekanis dan hampa, seperti sebuah program komputer yang baru saja dijalankan.
Melihat pemandangan itu, tenggorokan Ayden mendadak terasa kering. Binar kehidupan yang dulu memancar hangat di wajah cantik istrinya kini benar-benar telah padam total.
Siang harinya, Ayden tidak berangkat ke kantor. Pria itu berdiri di sudut ruang kerjanya, mengamati Aisyah melalui celah pintu yang terbuka sedikit. Aisyah sedang duduk di kursi beranda dalam penthouse, memangku sebuah buku bacaan yang lamunannya tidak pernah berpindah dari halaman pertama selama dua jam berturut-turut.
Rasa gelisah yang aneh dan asing mulai merayapi relung dada Ayden. Gelisah yang kian membesar hingga berubah menjadi sebuah siksaan batin yang tak kasat mata.
Ini adalah kemenanganmu, Ayden, bisik satu sisi batinnya. Kau telah melumat habis putri dari pria yang membunuh orang tuamu. Kau telah membuatnya hancur berkeping-keping.
Namun, saat Ayden menatap sosok pucat Aisyah yang membisu, tidak ada kepuasan yang ia rasakan. Yang ada hanyalah sensasi kehampaan yang mengerikan. Ia merasa seperti seorang pemenang perang yang mendapati seluruh kota taklukannya telah berubah menjadi padang abu yang mati.
Ayden berjalan keluar dari ruang kerjanya dan menghampiri Bi Sumi yang sedang mengelap meja di dapur.
"Bi Sumi," panggil Ayden, suaranya terdengar frustrasi.
"I-iya, Mas Ayden?" sahut Bi Sumi terkejut, menghentikan kegiatannya.
"Apakah dia ada bicara padamu hari ini?" tanya Ayden mencecar. "Apakah dia menangis saat aku sedang tidak ada di rumah? Apakah dia menanyakan sesuatu tentang ayahnya?"
Bi Sumi menggelengkan kepala pelan dengan raut wajah sedih. "Tidak ada sama sekali, Mas... Nyonya Aisyah tidak mengucapkan satu kata pun sejak kemarin lusa. Kalau Bibi tanyakan mau makan apa, Nyonya cuma mengangguk atau menggeleng. Nyonya... Nyonya seperti raga yang sudah ditinggalkan jiwanya, Mas..."
"Cukup! Jangan bicara sembarangan!" gertak Ayden, mengepalkan tangannya rapat-rapat. "Dia hanya sedang shock! Dia akan kembali normal dalam beberapa hari!"
Ayden memutar tubuhnya dan melangkah lebar menuju ruang tengah. Pria itu berdiri tepat di hadapan Aisyah, memotong jalur pandangan istrinya ke arah jendela.
"Aisyah, kita perlu bicara," ucap Ayden dengan nada menuntut.
Aisyah tidak mendongak. Matanya tetap terkunci pada kancing bawah kemeja Ayden.
"Aisyah! Tatap mataku!" bentak Ayden, emosinya tak lagi tertahan. Pria itu membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan wajah Aisyah. "Mana amarahmu yang kemarin?! Mana makianmu?! Bicara padaku! Teriak di depanku! Pukul dadaku kalau itu bisa memuaskan hatimu! Jangan cuma diam membisu seperti ini!"
Aisyah perlahan mengangkat pandangannya. Manik matanya yang hampa beradu dengan mata Ayden yang berkilat tegang. Tidak ada sedikit pun riak emosi di sana. Mati rasa telah membentengi jiwa Aisyah dari segala bentuk provokasi.
"Kenapa kau diam, Aisyah?!" suara Ayden bergetar oleh keputusasaan yang aneh. "Kau ingin membuatku gila dengan sikapmu ini, huh?!"
Aisyah tidak bersuara. Bibirnya terkatup rapat bagaikan telah dipatri oleh keabnormalan trauma yang menyiksanya.
Melihat respons yang tetap kosong itu, ketegangan di bahu Ayden meluruh perlahan. Amarahnya menguap, berganti menjadi sebuah rasa bersalah yang teramat asing dan menakutkan bagi seorang algojo seperti dirinya.
Ayden berlutut di atas lantai marmer di hadapan kursi Aisyah. Untuk pertama kalinya, angkuhnya seorang Ayden Al-Ghazali runtuh di hadapan korbannya sendiri.
"Aisyah..." bisik Ayden, nadanya memelan, terdengar sangat lembut dan penuh penyesalan yang terselubung. "Mungkin... mungkin cara penyampaianku malam itu terlalu kasar. Mungkin aku terlalu dikuasai oleh amarah masa lalu hingga mengabaikan perasaanmu..."
Pria itu mengulurkan kedua tangannya, mencoba menggenggam jemari Aisyah yang terkulai dingin di atas pangkuan.
"Dendamku memang pada papamu, Surya Rahardja," lanjut Ayden dengan napas memburu, matanya menatap Aisyah penuh permohonan. "Tapi pernikahan kita... semua momen manis yang kita lewati selama beberapa bulan ini... tidak sepenuhnya bohong, Aisyah. Aku peduli padamu. Aku ingin menjagamu di rumah ini. Maafkan aku jika cara bicaraku malam itu menyakitimu..."
Jemari Ayden menyentuh kulit punggung tangan Aisyah yang terasa sedingin es.
Namun, reaksi Aisyah sungguh di luar dugaan.
Aisyah tidak menarik tangannya dengan histeris. Ia tidak menepis tangan Ayden dengan kemarahan seperti malam itu. Aisyah hanya membiarkan tangannya disentuh oleh Ayden, namun ia menarik seluruh kesadaran jiwanya jauh dari raganya. Ia menatap lurus menembus wajah Ayden, seolah-olah pria berlutut yang sedang memohon maaf di hadapannya itu adalah bayangan transparan yang tak berwujud.
Aisyah diam membisu. Sosoknya di atas kursi itu benar-benar mengkristal menjadi sebingkai patung porselen dingin yang tak lagi dapat disentuh oleh kata-kata, perasaan, maupun penyesalan dari sang pembunuh kehidupannya.
Ayden tertegun kaku. Tangannya yang memegang jemari Aisyah mulai bergetar hebat. Rasa dingin dari kulit istrinya seolah merayap naik menembus nadinya, menjangkau dadanya, dan menghantam jantungnya dengan ketakutan yang paling mengerikan: ia telah berhasil membalaskan dendamnya, namun ia telah kehilangan jiwa Aisyah untuk selama-lamanya.