NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DIAGNOSIS

Pagi datang tanpa diundang.

Di ICU, pagi tidak ditandai ayam berkokok atau matahari menyilaukan. Pagi ditandai pergantian shift, troli makanan yang lewat, dan suara dokter jaga pagi yang membahas pasien satu per satu di depan pintu.

Alya terbangun jam 7.15 karena perawat membangunkan untuk cek tensi. Demamnya yang jam 3 pagi tadi sempat 39,1 sekarang 37,9. Turun, tapi belum normal. Selang oksigen masih di hidung, tapi alirannya sudah dikecilkan dari 5 liter jadi 3 liter.

Di sampingnya, Arga tidak tidur di kursi. Ia duduk tegak, dengan laptop terbuka di pangkuan, tapi layarnya mati. Ia tidak kerja. Ia hanya menatap pintu kaca ICU. Menunggu.

Sejak jam 5 subuh tadi, setelah Alya tertidur habis demam, Arga tidak bisa tidur lagi. Pesan dari Keisya jam 3.30 tadi masih di kepalanya. Tapi yang lebih mengganggu adalah kalimat dokter jaga semalam: "Hasil biopsi sumsum tulang besok pagi baru keluar, baru kita tahu penyebab pastinya."

Besok pagi itu sekarang.

Pukul 08.40, pintu kaca ICU terbuka. Bukan perawat biasa. Tiga orang masuk: dokter ICU jaga malam yang mau operan, dokter hematologi yang kemarin ambil sumsum tulang Alya, dan satu perawat senior membawa map coklat tebal.

Alya langsung tegang. Arga langsung berdiri, laptop jatuh ke lantai tapi tidak ia pedulikan.

"Dok," sapa Arga.

Dokter hematologi, dokter perempuan sekitar 45 tahun dengan kacamata tipis, mengangguk. "Pak Arga, Bu Alya. Bisa kita bicara sebentar?"

Alya mencoba duduk lebih tegak. Arga membantu menopang punggungnya dengan bantal.

"Gimana hasil lab saya, Dok?" tanya Alya langsung. Suaranya serak, tapi jelas.

Dokter itu membuka map. Di dalamnya ada beberapa lembar hasil lab, ada foto mikroskop yang Alya tidak mengerti, ada grafik.

"Bu Alya, Pak Arga, hasil biopsi sumsum tulang yang kita ambil dua hari lalu sudah keluar pagi ini," katanya pelan, tidak buru-buru. "Saya akan jelaskan pelan-pelan."

Ia menunjukkan satu lembar.

"Sumsum tulang itu pabrik darah kita. Di sana sel darah merah, sel darah putih, trombosit dibuat. Pada orang normal, pabriknya penuh, ramai, aktif."

Ia balik halaman, menunjukkan foto.

"Pada Bu Alya, pabriknya kosong."

Arga mengerutkan kening. "Kosong maksudnya?"

"Secara medis, namanya hipoplasia berat. Hampir 80% ruang sumsum tulang Bu Alya diganti lemak. Tidak ada bibit sel darah yang tumbuh. Itu kenapa trombosit Ibu dari 45 ribu turun jadi 18 ribu, Hb dari 9 jadi 7,2, leukosit juga rendah semua. Karena pabriknya tidak produksi."

Alya menatap foto itu. Foto yang seharusnya penuh titik-titik ungu, tapi kosong, hanya kuning-kuning lemak.

"Jadi... saya anemia?" tanya Alya.

Dokter mengangguk, lalu menggeleng. "Bukan anemia biasa karena kurang makan atau kurang zat besi. Ini namanya Anemia Aplastik. Aplastik artinya tidak tumbuh. Sumsum tulangnya gagal total."

Ruangan ICU nomor 4 yang berisik mendadak sunyi.

Alya mengulang kata itu di mulutnya. "Anemia... aplastik."

"Apakah ini kanker, Dok?" tanya Arga, pertanyaan yang sama seperti yang ia tanyakan dua hari lalu di koridor.

"Bukan kanker darah seperti leukemia," jawab dokter hati-hati. "Tapi tingkat bahayanya sama seriusnya. Karena kalau pabriknya kosong, Ibu tidak punya pertahanan. Trombosit rendah bisa pendarahan otak, Hb rendah jantung bisa gagal, leukosit rendah infeksi sedikit bisa jadi sepsis. Seperti yang terjadi dua malam lalu, drop jam 2 pagi dan demam jam 3 pagi itu karena infeksi."

Alya menunduk. Tiba-tiba semua masuk akal. Kenapa selama setahun terakhir ia gampang lebam, gampang capek, gusi sering berdarah kalau sikat gigi, kenapa flu tidak sembuh-sembuh. Bukan karena ia manja. Karena pabriknya kosong.

"Apakah saya masih bisa sembuh, Dok?" tanya Alya, suara paling kecil pagi itu.

Dokter menarik napas. "Bisa. Ada jalannya. Tapi saya harus jujur, jalannya panjang."

Ia menjelaskan tiga jalur.

"Pertama, suportif: transfusi terus sampai pabriknya mau kerja lagi. Tapi ini bukan penyembuh, hanya menambal."

"Kedua, terapi imunosupresif. Pada banyak kasus anemia aplastik, sistem imun Ibu sendiri yang menyerang pabriknya. Jadi kita harus menekan imun itu dengan obat ATG dan siklosporin. Keberhasilannya sekitar 60-70%, tapi butuh 3 sampai 6 bulan untuk melihat respon, dan selama itu transfusi tetap jalan."

"Ketiga, transplantasi sumsum tulang. Ini satu-satunya yang bisa menyembuhkan total. Kita ganti pabriknya dengan pabrik orang lain yang cocok. Donor terbaik adalah saudara kandung."

Alya langsung menatap Arga. "Saya anak tunggal, Dok."

Dokter mengangguk. "Maka kita cari donor tidak terkait di bank data, atau kita coba imunosupresif dulu. Itu yang akan kita rapatkan siang ini dengan tim."

Arga mencatat semua di HP-nya, tangannya gemetar. ATG, siklosporin, transplantasi. Kata-kata yang kemarin tidak ada di kamusnya.

"Biayanya?" tanya Arga pelan.

"Untuk ATG saja, satu siklus bisa ratusan juta, Pak. Transplantasi bisa miliaran. Tapi kita urus pelan-pelan, ada BPJS, ada bantuan rumah sakit."

Alya tiba-tiba tertawa kecil. Tawa yang tidak ada humornya.

"Jadi selama ini aku bukan lelah karena kurang tidur ya, Dok," katanya. "Aku lelah karena darahku tidak dibuat lagi."

Dokter menatap Alya dengan iba. "Bu Alya sudah menahan ini lama ya?"

Alya tidak menjawab. Air matanya jatuh. Bukan karena diagnosisnya, tapi karena akhirnya ada nama untuk semua lelah yang selama ini ia anggap salahnya sendiri.

Arga yang berdiri di samping ranjang, selama ini selalu berpikir Alya sakit karena kecapekan, karena stres, karena terlalu sensitif, sekarang melihat foto sumsum tulang yang kosong itu. Pabrik yang kosong.

"Maaf," kata Arga tiba-tiba.

Alya menoleh.

"Untuk apa?" tanyanya.

"Karena selama ini aku pikir kamu cuma capek biasa," kata Arga, suaranya pecah. "Aku suruh kamu istirahat, minum vitamin. Ternyata pabrik kamu kosong."

Alya menggeleng. "Mas nggak tahu."

"Tapi aku seharusnya tahu. Aku suamimu."

Dokter memberi waktu. Ia menutup map. "Bu Alya, hari ini kita akan transfusi trombosit lagi karena angkanya 16 ribu pagi ini, turun lagi. Setelah itu kita mulai siklosporin. Ibu tetap di ICU hari ini, besok kalau stabil kita pindah ke perawatan biasa."

Setelah dokter keluar, ruangan kembali hanya mereka berdua.

Alya menatap langit-langit. "Anemia aplastik," ulangnya. "Nama penyakitku akhirnya ada."

Arga duduk, menggenggam tangan Alya. Tangan yang dingin.

"Al, kamu dengar tadi kan? Bisa sembuh. Ada obatnya. Ada transplantasi."

"Butuh donor," kata Alya pelan. "Aku anak tunggal."

"Kita cari. Aku daftarkan diriku dulu. Aku cek kecocokan. Kalau tidak cocok, kita cari di bank data. Uang... uang biar aku yang urus."

Alya menatap Arga. "Mas mau donor buat aku?"

"Kalau cocok, kenapa tidak?"

"Mas takut jarum."

Arga tersenyum tipis, pertama kali pagi itu. "Dulu takut. Sekarang kalau disuruh donor sumsum tulang buat kamu, aku berani."

Alya tidak menjawab, tapi genggamannya sedikit mengerat.

Pukul 10 pagi, perawat datang membawa kantong trombosit kuning pekat.

"Bu Alya, transfusi trombosit ya, biar tidak pendarahan," katanya.

Alya mengangguk. Ia sudah hafal rasanya.

Saat cairan kuning itu mengalir pelan ke tubuhnya, Arga keluar ke koridor. Ia mengeluarkan ponsel.

Ia menelepon Bu Ratna.

"Bu, hasil lab Alya sudah keluar," katanya.

Di seberang, Bu Ratna langsung panik. "Apa? Apa katanya?"

"Anemia aplastik, Bu. Sumsum tulangnya kosong."

Hening lama di telepon. Lalu isak.

"Ya Allah... anak saya..." Bu Ratna menangis. "Itu bisa sembuh, Ga?"

"Bisa, Bu. Ada obatnya. Tapi panjang. Ibu ke sini lagi ya? Alya tadi nanya taman bunga kuning di rumah. Dia mau pulang."

"Ibu sama bapak langsung ke sana sekarang."

Setelah tutup telepon, Arga menatap satu kontak lagi: Keisya.

Chat jam 3.30 pagi tadi belum dibalas. Ia mengetik:

Arga: Hasil lab Alya keluar. Anemia aplastik. Bukan anemia biasa. Pabrik darahnya kosong. Aku harus di sini dulu. Maaf.

Kali ini Keisya membalas cepat.

Keisya: Aku ngerti. Jaga dia dulu. Aku tunggu kamu setelah semua ini selesai.

Arga memasukkan HP ke saku dan kembali masuk ke ICU.

Alya menatapnya. "Mas telepon ibu?"

"Iya. Ibu kesini."

"Mas telepon Keisya juga?"

Arga terdiam, lalu jujur. "Iya. Aku kasih tau hasil lab kamu."

Alya mengangguk pelan. "Bagus. Jadi Mas nggak bohong lagi."

Di luar jendela ICU yang berembun, kabut pagi mulai hilang. Di dalam, cairan trombosit terus menetes, setetes demi setetes, mengisi tubuh yang pabriknya kosong.

Dan untuk pertama kalinya dalam 20 bab, akhirnya mereka tahu nama musuh yang mereka lawan.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!