Tubuh Elisa bergetar hebat di ambang pintu kamar hotel. Di depannya, seorang pria berdiri tegap menatapnya dingin. Asing. Berbahaya dan malam ini, pria itulah yang memegang nyawa ibunya.
Satu malam. Jika Elisa berhasil memuaskan pria itu, ibunya tetap hidup. Jika ia gagal, selang dan alat-alat medis ibunya akan dicabut.
Elisa tidak punya pilihan. Gadis lugu yang bahkan belum pernah pacaran itu harus menukar kesuciannya demi napas ibunya.
"Mandilah. Aku benci menyentuh perempuan kotor!"
Suara itu dingin, menghina, menusuk sampai tulang.
Demi selamatkan ibunya, Elisa terpaksa melakukan ini, hanya satu malam. Tak disangka pria itu menagihnya seumur hidup. Karena pria itu tidak hanya menginginkan tubuhnya. Dia menginginkan seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ceroboh
BAB 26 - ISTRI POLOS TUAN GARRA
Elisa balik lagi ke kamarnya dengan langkah gontai. Kotak hadiah beludru itu ia bawa lagi, ia punguti satu per satu dari lantai marmer yang dingin. Bukan karena dia suka hadiah itu, bukan karena dia matre.
Tapi jiwa miskinnya terusik. Barang itu pasti mahal sekali, berkilau seperti itu. Tidak mungkin dia biarkan berserakan di lantai dan terinjak-injak. Hatinya tidak tega melihat barang mahal dibuang sia-sia. Ia ambil kembali, biar disimpan saja di kamar, dimasukkan ke dalam laci paling bawah. Asal tidak dibuang oleh pria sombong itu.
Setelah membanting kotak itu, Anggara tidak muncul lagi di depan Elisa.
Sementara itu, mungkin banyak tekanan akhir-akhir ini, dari kejadian dikejar anjing Doberman penjaga rumah sampai jatuh tersungkur dekat kolam, hingga sikap kasar dan arogan Anggara padanya setiap hari, Elisa merasa perutnya tidak nyaman. Mulas, kram halus.
Setelah pertengkarannya dengan Anggara di depan kamar waktu itu, Elisa hanya di kamar terus. Mengurung diri. Melamun, tidak berselera untuk melakukan apapun. Makan pun hanya disuap dua tiga sendok. Wajahnya pucat.
Rumah sebesar istana ini terasa seperti penjara emas baginya. Sepi, hening, semua pelayan takut bicara dengannya. Mungkin sudah dilarang oleh tuan Garra yang sombong itu!
Sampai ia ingat Susan, bagaimana kabar kawannya satu-satunya itu. Elisa langsung menelepon Susan dengan harapan terakhir. Dia juga ingin memastikan kabar Susan waktu itu setelah pulang dari sana.
"Hallo, Susan."
Telepon sudah tersambung, tapi tidak ada suara Susan. Hanya ada helaan napas berat.
"Hallo .... San? Susan???"
Di seberang telepon, Susan akhirnya bicara dengan suara yang sangat pelan, seperti orang berbisik ketakutan.
"Lis ... sepertinya, kita tidak perlu berhubungan lagi ya untuk sementara ini."
Elisa langsung terdiam, jantungnya berdegup kencang. Dari suaranya, jelas itu bukan Susan yang ceria seperti biasanya. Kelihatan tertekan dan karena terpaksa.
"San, kamu dan mas Dimas baik-baik saja kan? Apa mereka menyakiti kalian? Apa ada yang datang ke rumahmu?" tanya Elisa panik.
"Maaf, Lis .... Kami benar-benar tidak bisa bantuin kamu lagi. Orang Pak Garra semalam datang ke rumah bawa beberapa orang berbadan besar. Mereka bilang jangan ikut campur urusannya. Maaf, Lis. Bukan kami gak mau nolong. Sepertinya dia bukan orang sembarangan. Kami takut, Lis."
Elisa langsung paham. Ini permainan Anggara, pasti. Mulai mengusik orang-orang yang dekat dengannya. Pasti sudah dapat laporan dari kepala keamanan tempo hari.
Darah Elisa mendidih sekaligus dingin. Jadi selama ini dia diawasi? Sudah pasti. Dia terlalu polos sampai tidak menyadari hal itu.
Elisa menghela napas berat. Kemudian fokus bicara di telepon lagi dengan suara yang ia paksa tegar.
"San, aku yang minta maaf ya. Seharusnya aku tidak melibatkan kalian. Maaf sudah buat kalian kena masalah karena aku."
"Lisa ... jaga diri baik-baik ya di sana. Kamu lagi hamil, jangan banyak pikiran. Eh, sudah dulu ya, Lis. Untuk kedepannya, jangan telepon dulu. Aku takut mereka macam-macam sama Mas Dimas dan kedua orang tua kami. Karena kemarin kami habis ribut dan mendapatkan ancaman keras kalau masih hubungin kamu."
Tut...
Telepon mati sepihak. Bantuan terakhir, satu-satunya teman yang ia punya, sudah tidak ada. Tuan Garra sudah menunjukkan kuasanya. Ia benar-benar mengisolasi Elisa dari dunia luar.
Elisa melempar ponselnya ke kasur. Ia menatap langit-langit kamar. Kosong.
Hari-hari Elisa penuh dengan kejenuhan, bosan, sepi, hening, merasa sendiri dan tidak berguna. Terkurung dalam penjara emas yang mengungkung kebebasannya. Ia seperti burung dalam sangkar berlian.
Meskipun begitu, ia sendiri bisa bernapas sedikit lega. Karena Anggara sedang tidak ada di rumah itu. Sedang dalam perjalanan bisnis ke luar kota selama 3 hari. Pria itu pergi sehari setelah keributan di depan kamar waktu itu. Tanpa pamit, tanpa pesan apapun.
Mungkin bagi ART lain, kepergian Tuan Garra membuat rumah lebih tenang. Tapi bagi Elisa, sepi itu juga menyiksa. Padahal dia ingin kabur, mumpung Anggara tidak ada. Namun, tiga Doberman itu masih membuat Elisa trauma.
🍄🍄🍄
Hari keempat, sore itu hujan rintik-rintik. Udara terasa dingin tapi segar. Terdengar suara mobil sport Anggara masuk ke garasi. Bibi Art buru-buru ke depan. Langsung menyambut dan membawakan tas serta jas.
Anggara pulang dan langsung masuk ruang kerjanya di lantai satu. Tanpa menyapa Elisa, tanpa menanyakan kabarnya, tanpa melihat ke atas. Pria itu selain arogan juga memiliki gengsi setinggi langit. Padahal selama di luar kota, dia selalu memeriksa CCTV rumahnya lewat ponselnya. Setiap jam. Memantau kondisi Elisa diam-diam.
Dia lihat Elisa yang hanya makan roti, dia lihat Elisa yang menangis di balkon, dia lihat Elisa yang mengelus perutnya sambil bicara sendiri. Semua dia lihat.
Begitu di rumah, ia terkesan cuek terhadap Elisa, memasang wajah datar seolah Elisa tidak ada.
Saat makan malam pun, dia membiarkan Elisa makan sendiri di meja makan besar. Ia sendiri makan di ruang kerjanya, sengaja. Seperti sengaja menghukum gadis tersebut, biar jera dan lebih patuh dan tidak kabur lagi.
Elisa yang dijauhi, malah terlihat lebih tenang dan damai. Setidaknya tidak ada ucapan pedas yang perlu dia dengar hari ini. Anggap saja dia sedang menginap di hotel bintang lima yang pemiliknya galak, tinggal makan dan tidur gratis.
Capek meratapi nasib terus, Elisa pelan-pelan berdamai dengan kondisinya sekarang ini. Dia sadar, dia sedang hamil. Ada jiwa lain yang harus dia pedulikan, yang lebih penting dari egonya. Ia tidak boleh stress.
Di kamar, setelah makan malam sendirian, Elisa duduk di pinggir ranjang. Ia buka laci dan menatap kotak perhiasan yang kemarin ia pungut itu. Masih berantakan.
"Kita harus bisa melewati semua ini ya," ucapnya lirih sambil mengusap perutnya yang masih rata. Matanya mengembun , perih, tapi kali ini ia tersenyum. "Aku akan bertahan ... demi kamu."
Di ruang kerjanya yang gelap, hanya diterangi lampu meja, Anggara sedang cek CCTV-nya. Layar laptopnya menampilkan kamar Elisa.
Dia melihat Elisa yang mengusap lembut perutnya sambil tersenyum kecil itu. Senyum pertama Elisa setelah berhari-hari menangis.
Anggara menatap lama ke layar, tanpa ekspresi. Tangannya yang tadi mengepal, perlahan mengendur. Hanya diam dan memperhatikan dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Akhirnya dia tidak menangis lagi," gumam Anggara pelan, hampir tidak terdengar.
Pukul 7 pagi
Hari itu diawali dengan hujan yang sangat lebat, Elisa betah di kamarnya. Menatap hujan dari dalam balkon kamar yang luas.
Semakin lama, hujannya mulai reda. Elisa pun keluar. Ia membuka jendela balkon dan menyibak tirai nya sampai ke tepian. Menghirup udara segar, aroma bau tanah basah yang membuatnya sedikit damai dan tenang.
Kakinya perlahan melangkah maju, sampai pagar pembatas, matanya menyapu sekeliling. Tumbuh-tumbuhan terlihat segar setelah tersiram air hujan.
Untuk sesaat, Elisa merasa sangat tenang dan nyaman. Suasananya terasa damai. Namun, Elisa sedikit kurang hati-hati. Hujan tadi begitu deras. Lantai marmer di balkon sebagian basah.
Saat dia mau balik ke kamar setelah puas menghirup udara segar, kakinya justru tidak sengaja terpeleset dan bersambung.
si bibi ni lucu🤭🤭🤭
ntar gara ngamuk lagi🤣🤣🤣