NovelToon NovelToon
Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Gulungan Tabib Langit Dan Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Di Benua Awan Timur, kekuatan adalah segalanya. Para kultivator jenius membelah gunung dengan lambaian tangan dan menghancurkan kota hanya dengan hembusan napas. Namun, epik ini tidak dimulai dari puncak kejayaan, melainkan dari sudut dunia fana yang terlupakan. Li Yun hanyalah seorang tabib muda biasa di kota perbatasan. Ia tidak memiliki akar spiritual surgawi, garis keturunan dewa, ataupun takdir pahlawan yang terpilih.
Ketika seorang kultivator sakti tewas di depan kliniknya yang sederhana, kehidupan tenang Li Yun hancur. Ia mewarisi sebuah teknik rahasia kuno yang tidak memberinya kekuatan penghancur instan, melainkan menuntut pemahaman mendalam tentang hukum alam, alkimia, dan aliran energi yang sangat lambat. Di dunia yang dipenuhi kejeniusan arogan dan sekte-sekte kuno yang kejam, Li Yun menyadari bahwa bertahan hidup membutuhkan lebih dari sekadar kekuatan murni. Ia harus menggunakan kecerdasannya, menyembunyikan bakat aslinya di balik identitas seorang tabib sekuler.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Embun Perak di Dantian

​Malam itu, suhu di dalam tenda medis Li Yun anjlok drastis. Genangan air kotor di sudut ruangan mulai membeku, membentuk kristal es berbentuk jarum.

​Li Yun telah mengaktifkan segel penahan aura hingga batas maksimal. Di depannya, di atas piringan batu bata, tergeletak serabut Ginseng Giok Bulan yang ia pungut dari Hutan Tulang Berduri. Meskipun hanya berupa serabut sisa pencernaan, hawa Yin-Dingin yang dipancarkannya cukup untuk membekukan meridian manusia fana hingga hancur berkeping-keping.

​Tungku tanah liat andalannya tidak akan berguna kali ini. Api arang biasa akan mati seketika jika bersentuhan dengan esensi bulan murni.

​Li Yun menatap serabut itu dengan mata setajam pisau bedah. Dalam ilmu pengobatan fana, racun dingin ekstrem hanya bisa dinetralkan dengan racun panas ekstrem. Ia tidak memiliki herbal spiritual elemen api, jadi ia harus menciptakan penggantinya dari "sampah".

​Ia mengambil Jantung Ular Api Rawa—organ busuk dari binatang buas tingkat satu yang ia beli dari pemburu dengan dua koin tembaga—dan menghancurkannya bersama segenggam Akar Jahe Api murni. Ia mencampurkannya dengan darahnya sendiri yang telah dialiri Qi, menciptakan sebuah pasta kental berwarna merah gelap yang bergolak seperti magma kecil.

​Dengan hati-hati, menggunakan jarum peraknya sebagai sumpit, Li Yun meletakkan serabut Ginseng Giok Bulan ke dalam pasta merah tersebut.

​Sssshh!

​Asap putih tebal mengepul, namun tidak bisa menembus segel darah di dinding tenda. Konflik antara Yin-Dingin tingkat menengah dan Yang-Panas yang kotor menciptakan fluktuasi energi yang sangat liar. Piringan batu bata di bawahnya retak menjadi dua.

​Li Yun tidak membuang waktu. Ia merentangkan sepuluh jarinya. Helai-helai Qi dari Dantiannya meluncur keluar, bukan untuk membakar, melainkan untuk membungkus dan "menjahit" kedua energi yang saling bertabrakan itu.

​Keringat dingin bercampur darah menetes dari hidung Li Yun. Mengendalikan energi seganas ini dengan basis kultivasi Lapis Keempat adalah tindakan bunuh diri. Namun, ketenangan mentalnya yang ditempa selama ribuan jam membedah racun fana menahan kewarasannya agar tidak runtuh.

​Satu jam kemudian, pergolakan itu mereda.

​Di atas piringan batu yang telah hancur, bukan sebuah pil bulat yang terbentuk, melainkan gumpalan gel berwarna perak kemerahan seukuran kelereng. Benda itu tidak memancarkan hawa dingin maupun panas, melainkan sebuah denyut kehidupan yang sangat kental.

​Tanpa ragu, Li Yun menelannya.

​Begitu gel itu memasuki lambungnya, Sutra Pernapasan Kayu Mati berputar secara otomatis, jauh lebih cepat dari sebelumnya. Gel perak itu meledak menjadi air bah energi.

​Jika Li Yun menggunakan teknik kultivasi sekte ortodoks, energi liar ini akan merobek meridiannya karena ia belum mempersiapkan fondasi tubuhnya. Namun, Kayu Mati tidak mencoba mengarahkan air bah itu; teknik ini bertindak seperti spons raksasa berbentuk akar pohon purba, menyerap setiap tetes energi yang membanjiri tubuhnya dalam diam.

​Di dalam Dantiannya, pusaran Qi yang sebesar butiran beras mulai memadat, berputar kencang, lalu mengeras. Butiran itu membesar menjadi seukuran mutiara, bersinar dengan cahaya perak yang jernih dan tenang.

​Rasa sakit yang merobek dada berubah menjadi kesejukan yang tak terlukiskan. Seluruh pori-pori Li Yun terbuka, mengeluarkan cairan hitam pekat berbau busuk—kotoran fana terakhir yang tersisa di sumsum tulangnya.

​Ia membuka matanya. Di dalam kegelapan tenda yang pekat, matanya berkilat memancarkan seberkas cahaya putih.

​Lapis Kelima Pengumpulan Qi.

​Ia mengepalkan tangannya. Kekuatan fisiknya berlipat tiga. Pendengarannya kini bisa menangkap suara cacing tanah yang menggali lumpur sepuluh meter di bawah tendanya. Yang paling penting, Qi-nya kini cukup padat untuk disalurkan ke luar tubuh membentuk lapisan pelindung, atau, dalam kasus Li Yun, pisau Qi tak terlihat yang setipis sayap jangkrik.

​Di usianya yang ke dua puluh dua, mencapai Lapis Kelima mungkin masih dianggap lambat oleh standar jenius. Namun fondasi Li Yun sekeras baja padat, tak tergoyahkan oleh ilusi kecepatan.

​Segera setelah menyadari terobosannya, Li Yun menekan paksa seluruh auranya. Mutiara Qi di Dantiannya meredup, menyembunyikan diri. Fluktuasi energinya kembali turun menyentuh Lapis Pertama, dengan denyut nadi yang lemah dan rapuh. Tabib Li yang berpenyakitan telah kembali, menyembunyikan seekor naga di balik cangkang kayu busuk.

​Tiga hari setelah malam terobosan itu, Sektor Ketiga mengalami perubahan atmosfer yang membuat bulu kuduk setiap budak berdiri.

​Biasanya, pengumpulan herbal di pagi hari adalah acara yang bising dan kacau. Diakon Fang akan duduk bersandar di kursi malasnya, minum anggur, dan membiarkan para penjaga yang menghukum budak yang tidak memenuhi kuota.

​Namun pagi ini, udara di pelataran paviliun terasa membekukan.

​Diakon Fang tidak duduk. Pria yang biasanya tampak mengantuk dan kelebihan berat badan itu berdiri tegak di undakan kayu. Jubah abu-abunya tampak lebih longgar karena lemak di tubuhnya menyusut drastis. Wajahnya yang dulu membulat kini tampak lebih tirus, bersudut tajam, dengan kulit yang memucat aneh.

​Namun yang paling menakutkan adalah auranya. Kemacetan yang telah menahannya di Lapis Kelima selama sepuluh tahun telah jebol. Gelombang energi Lapis Keenam Pengumpulan Qi memancar dari tubuhnya tanpa ditutup-tutupi, menekan napas para kultivator liar dan manusia fana di bawahnya.

​"Mulai hari ini," suara Diakon Fang menggema, tidak lagi serak karena alkohol, melainkan dingin dan tajam seperti es. "Kuota harian dinaikkan dua puluh persen. Siapa pun yang membawa herbal rusak atau mencoba menipu timbangan, tidak akan dicambuk. Mereka akan dijadikan umpan untuk anjing roh."

​Kerumunan menahan napas. Peningkatan dua puluh persen berarti mereka harus masuk lebih dalam ke wilayah mematikan di Hutan Tulang Berduri.

​Seorang kultivator liar bertubuh kekar di barisan depan, yang berada di Lapis Ketiga, memberanikan diri untuk protes. "D-Diakon Fang! Ini tidak masuk akal! Musim hujan sudah dekat, miasma di zona tengah semakin tebal. Kami akan mati jika dipaksa masuk—"

​Sebelum kultivator liar itu menyelesaikan kalimatnya, mata Diakon Fang menyipit.

​Tanpa mencabut pedang, ia hanya mengangkat tangan kanannya dan melambaikan lengan bajunya dengan kasar.

​Wush!

​Sebuah telapak tangan ilusi yang terbuat dari Qi murni berwarna biru pucat melesat ke depan, menghantam dada kultivator liar tersebut. Suara tulang rusuk yang remuk terdengar nyaring ke seluruh pelataran. Kultivator kekar itu terlempar belasan meter ke belakang, memuntahkan darah yang anehnya langsung membeku menjadi kristal es merah saat menyentuh udara, sebelum tubuhnya jatuh tak bernyawa di lumpur.

​Kesunyian total menyelimuti kamp. Para penjaga sekte sendiri tampak menelan ludah, tidak menyangka atasan mereka yang terkenal malas tiba-tiba menjadi algojo tanpa ampun.

​"Ada lagi yang merasa aturan sekte tidak masuk akal?" tanya Diakon Fang dengan senyum tipis yang membekukan.

​Tidak ada yang berani menatap matanya. Kerumunan bubar dengan tergesa-gesa, berlari ketakutan menuju hutan.

​Dari kejauhan, di ambang pintu tenda medisnya, Li Yun menyaksikan seluruh kejadian itu sambil menumbuk akar obat. Ekspresinya menunjukkan ketakutan yang pas dan wajar seperti budak lainnya, namun matanya mencatat setiap detail dengan presisi analitis.

​Qi-nya agresif, sangat dingin, dan bergejolak, batin Li Yun tenang. Dia memang berhasil menembus Lapis Keenam. Tapi tanpa kuali alkimia, mencerna batang utama Ginseng Giok Bulan secara paksa telah merusak meridian api di ginjalnya. Temperamennya berubah drastis karena racun dingin ginseng itu menguasai otaknya.

​Li Yun menunduk, memasukkan bubuk akar ke dalam kertas pembungkus.

​Diakon Fang terlihat sangat kuat sekarang, berdiri membusungkan dada di atas penderitaan ribuan budak. Namun di mata Tabib Li, Diakon Fang hanyalah pasien sakit parah yang sedang berjalan menuju kuburannya sendiri.

​Kerusakan internal akibat racun dingin itu akan memaksa Fang untuk memeras kamp ini lebih kejam lagi demi mencari herbal penawar berlemen Yang. Pemberontakan berdarah sudah di ambang pintu, dan Sektor Ketiga akan segera menjadi lautan mayat.

​Li Yun merapikan jubah kasarnya. Dengan Lapis Kelima di dalam Dantiannya, ia telah memiliki jangkar yang cukup berat. Biarkan badai menghantam kamp ini dan serigala saling menggigit.

1
Armoire
1 vote meluncur lah /Drool//Drool/
ARay
mantap Thor 😎
ARay
bagus ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!