Dua hari menjelang pernikahan megahnya, Cinderella Huntington harus menelan kenyataan pahit: sang tunangan mengkhianatinya bersama adik kandungnya sendiri.
Dijatuhi tuduhan tak adil dan selalu dituntut mengalah oleh keluarganya, Cinderella memilih pergi melintasi dinginnya malam untuk meluapkan amarah dan rasa sakitnya hingga mengakhiri hidup.
Namun takdir berkehendak lain. Ia terbangun dalam raga Marcella Ember Vitiello—gadis 18 tahun yang tewas mengakhiri hidup akibat pengabaian orang tuanya.
Di tengah keputusasaan, takdir mempertemukannya kembali dengan Draxler Lutolf Ashford—pemuda 19 tahun berparas tampan yang ia kira hanyalah mahasiswa biasa.
Cinderella bertekad membalas setiap ketidakadilan.
Bisakah ia benar-benar menghapus jejak Draxler dari hidupnya ketika takdir pria muda itu ternyata jauh lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#26
Sinar matahari sore yang mulai meredup membiaskan cahaya keemasan di pelataran parkir sekolah. Namun bagi Draxler, seluruh dunia di sekitarnya mendadak kehilangan warna dan suara.
Udara di dalam paru-parunya mendadak terasa begitu beracun dan membakar.
Pandangan mata tajam Draxler terkunci mati pada dua sosok di seberang sana.
Di depan pintu limousine hitam yang terbuka, Ember berdiri anggun seraya menggandeng jemari mungil bocah perempuan berusia enam tahun itu.
Bocah perempuan yang memiliki alis tegas, bentuk mata cokelat gelap, dan ukiran bibir yang persis sama dengan garis darah keluarga Ashford—persis sama dengan Angelo yang kini berdiri kaku di samping kakinya.
Satu malam tujuh tahun lalu...
Bercak darah di atas seprai putih hotel...
Dan anak perempuan berusia enam tahun ini...
Potongan-potongan teka-teki kelam yang selama tujuh tahun ini menyiksa jiwanya seketika menyatu menjadi sebuah kenyataan dahsyat yang menghantam dada Draxler bagaikan ledakan bom atom.
Anak itu... bukanlah hasil dari hubungan Ember dengan pria lain. Anak perempuan itu adalah putrinya. Anak darah dagingnya sendiri yang disembunyikan oleh Ember!
Darah di dalam tubuh Draxler mendidih hebat. Rasa terkejut, emosi yang berkecamuk, amarah yang membara, dan rasa kepemilikan yang mendalam meledak secara bersamaan di dalam jiwanya.
Seluruh rasa dingin dan pertahanan rasional yang ia bangun selama tujuh tahun hancur berantakan dalam hitungan detik.
"Angelo," suara Draxler terdengar luar biasa berat, parau, dan bergetar hebat. Ia menepuk bahu keponakannya tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Ember.
"Masuk ke dalam mobil sekarang. Kunci pintunya dari dalam dan jangan keluar sampai Uncle kembali."
Angelo menengadah, terkejut melihat raut wajah paman kesayangannya yang mendadak memerah padam dengan urat-urat leher yang menegang keras. "Tapi Uncle—"
"Masuk, Angelo! Sekarang!" bentak Draxler dengan intonasi rendah yang sangat mengintimidasi.
Bocah enam tahun itu terperanjat, lalu dengan cepat menurut dan berlari masuk ke dalam mobil sports hitam milik Draxler, membanting pintunya rapat-rapat.
Draxler melangkah.
Setiap pijakan sepatunya di atas lantai beton pelataran sekolah terasa begitu berat, penuh dengan gelombang ancaman yang sanggup membekukan siapa pun yang melintas.
Sementara itu, di samping limousine, Ember baru saja hendak membimbing Cinder masuk ke dalam kabin mobil.
"Mommy, pria besar yang berdiri di dekat mobil hitam itu terus melihat ke arah kita," bisik Cinder polos seraya menunjuk ke arah belakang Ember.
Ember mengernyitkan alisnya tipis.
Secara refleks, ia memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang dimaksud oleh putrinya.
Dan tepat saat ia berbalik... sosok Draxler Lutolf Ashford sudah berdiri tegak hanya berjarak satu meter di hadapannya.
Deg.
Jantung Ember serasa berhenti berdetak saat itu juga. Wajah cantiknya yang selalu tenang dan terkontrol mendadak pucat pasi. Manik matanya melebar dalam kepanikan yang teramat sangat—sebuah kepanikan yang belum pernah disaksikan oleh siapa pun sepanjang sejarah kepemimpinannya di Huntington Group.
Draxler tidak menatap Ember terlebih dahulu. Manik mata memerah milik pria 26 tahun itu perlahan turun, menatap lurus ke arah wajah mungil Cinder yang berdiri di samping kaki Ember.
Begitu Draxler menatap mata bocah itu dari jarak dekat, dadanya berdenyut hebat. Ada dorongan batin dan naluri keayahan yang tak tertandingi bergejolak di dalam sanubarinya.
Tatapan mata, cara bernapas, hingga cara bocah itu menyipitkan mata saat kebingungan... semuanya adalah cerminan murni dari dirinya sendiri.
"Siapa nama anak ini, Ember?" tanya Draxler. Suaranya serak, rendah, dan bergetar hebat menahan badai emosi di dadanya.
Ember seketika melangkah ke depan, menyembunyikan tubuh Cinder sepenuhnya di balik gaun blazernya. Ia menatap Draxler dengan tatapan defensif dan dingin, mencoba menutupi getaran hebat di jemarinya.
"Bukan urusanmu, Mr. Ashford," jawab Ember tegas. "Singkirkan tubuhmu dan biarkan aku lewat."
Draxler terkekeh sinis—sebuah tawa liar yang mengerikan. Ia maju satu langkah lagi, mengikis seluruh jarak hingga aroma maskulinnya yang pekat dan mengintimidasi sepenuhnya mengurung keberadaan Ember.
"Bukan urusanku?" desis Draxler dengan rahang terkatup rapat. "Kau bilang anak yang memiliki bentuk mata dan garis wajah yang persis sama denganku ini... bukan urusanku?!"
Ember mengepalkan tangannya di samping tubuh. "Dia anakku! Hanya milikku yang tidak ada hubungannya denganmu atau keluargamu!"
"Kau pikir aku bodoh, Marcella?!" gertak Draxler dengan intonasi menekan yang amat tajam, membuat dua pengawal pribadi Ember di dekat mobil bergerak hendak maju.
Namun Draxler melemparkan tatapan membunuh ke arah dua pengawal itu. "Jangan berani-berani menyentuhku jika kalian masih ingin bekerja di kota ini!"
Draxler kembali menatap Ember. Tatapannya liar, penuh dengan rasa terkhianati dan kehausan akan kepemilikan yang teramat dalam.
"Tujuh tahun lalu..." bisik Draxler rapat di depan wajah Ember, suaranya mengandung racun dan kepedihan yang menyayat, "...kau menjebakku. Kau mengambil keperjakaanku, kau merekam penyatuan panas kita, kau memeras keluargaku sepuluh juta dolar, lalu kau kabur dan bertingkah seolah aku ini sampah yang tidak berguna!"
Wajah Ember makin pucat, namun ia tetap menegakkan dagunya. "Aku tidak punya waktu untuk membicarakan dongeng masa lalumu."
Draxler menyunggingkan senyum paling kejam dan paling berbahaya yang pernah ada di bibirnya. Ia memiringkan kepalanya, menatap lurus ke dalam manik mata bundar Ember dengan pandangan yang sarat akan dominasi mutlak dan kata-kata yang begitu lugas tanpa filter.
"Dongeng?" ulang Draxler dengan terkekeh parau. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Ember, melontarkan kalimat-kalimat yang membuat seluruh tubuh Ember membeku seketika.
"Kau pikir bekas ciumanku di tubuhmu malam itu adalah dongeng, Ember? Kau pikir eranganmu saat aku merobek kesucianmu di kamar hotel itu hanyalah dongeng?!"
Ember terkesiap hebat. Napasnya tertahan di tenggorokan. "Draxler, tutup mulutmu!"
"Kenapa? Kau takut anak di belakangmu mendengar kebenaran tentang bagaimana dia diciptakan?!" desis Draxler dengan nada menyengat yang sangat liar.
"Kau bilang di lobi hotel tadi siang bahwa kau tidak membutuhkan pria mana pun... tapi kenyataannya? Tubuhmu dan rahimmu sudah dikunci oleh penyatuanku tujuh tahun lalu!"
Cinder yang berada di belakang gaun Ember menarik-narik ujung kain ibunya dengan raut bingung dan cemas. "Mommy... pria jangkung ini siapa? Kenapa dia marah-marah pada Mommy?"
Ember meremas gaunnya erat-erat, air mata keputusasaan hampir saja menetes dari matanya, namun ia menahannya mati-matian di hadapan sang putri.
"Prilly! Bawa Cinder masuk ke dalam mobil sekarang!" perintah Ember dengan suara gemetar pada Prilly yang baru saja keluar dari limousine dengan wajah panik.
Prilly dengan cepat menyambar Cinder, membimbing bocah kecil itu masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara dan menutup pintunya rapat.
Kini, hanya tersisa Ember dan Draxler yang berdiri berhadapan di pelataran parkir yang mulai sepi.
Begitu Cinder aman di dalam mobil, Ember memutar tubuhnya dan menatap Draxler dengan amarah yang mendidih. "Kau gila, Draxler! Kau pria gila dan tidak berpendidikan!"
"Ya, aku memang gila!" bentak Draxler tanpa ragu, meraih kedua lengan atas Ember dan mencengkeramnya erat, menahan tubuh wanita itu agar tak bisa kabur.
"Aku gila karena selama tujuh tahun aku mengutuk diriku sendiri, aku membenci seluruh wanita di dunia ini, dan aku menahan diriku untuk tidak pernah menyentuh perempuan lain hanya karena ingatan tentang ciuman dan desahanmu di atas ranjangku!"
Ember berontak, mencoba melepaskan cengkeraman tangan kekar Draxler di tangannya. "Lepaskan aku! Kau tidak punya hak atas diriku atau anakku!"
"AKU PUNYA HAK MUTLAK ATAS ANAK ITU!" teriak Draxler, suaranya menggelegar memecah keheningan sore.
Napas Draxler memburu keras, matanya yang memerah berkaca-kaca menatap wanita yang selama tujuh tahun ini menjadi racun sekaligus penawar dalam hidupnya.
Cengkeramannya di lengan Ember perlahan melunak, namun berganti menjadi cengkeraman penuh rasa posesif yang tak tergoyahkan.
"Kau membual tentang tidak membutuhkan pria mana pun..." ucap Draxler dengan suara bariton rendah yang bergetar hebat, menekankan setiap katanya tanpa ragu ke wajah Ember, "...tapi dengarkan aku baik-baik, Marcella Ember Vitiello. Kau tidak akan pernah bisa memiliki anak itu... kau tidak akan pernah bisa melahirkan darah daging indah seperti itu... kalau tidak dengan AKU!"
Deg.
Kata-kata kasar dan tajam itu menghantam tepat di ulu hati Ember.
"Penyatuan kita semalam tujuh tahun lalu... benih yang kutanam di dalam rahimmu malam itu... itulah yang menciptakan bocah di dalam mobil itu!" lanjut Draxler dengan napas yang memburu di depan bibir Ember.
"Kau bisa membenciku, kau bisa memeras keluargaku, kau bisa membuang namaku... tapi kau tidak akan pernah bisa menghapus kenyataan bahwa akulah satu-satunya pria yang pernah menyentuhmu, menidurimu, dan memberikan anak itu padamu!"
Ember membeku dalam kungkungan tubuh Draxler. Hatinya yang terbungkus es rapat-rapat terasa diremas oleh rasa sakit, kebenaran, dan getaran hebat dari naluri raganya yang tetap merindukan pemuda ini.
"Kau pikir kau bisa menyembunyikan putriku dariku selamanya?" bisik Draxler dengan sorot mata yang penuh dengan dendam, cinta, dan kegilaan kepemilikan.
"Permainanmu sudah berakhir, Ember. Dulu kau kabur membawa uang sepuluh juta dolar milik keluargaku... tapi kali ini, aku tidak akan pernah membiarkanmu membawa lari darah dagingku lagi."
Ember menatap lurus ke dalam mata Draxler, mencoba menyusun kembali benteng pertahanannya yang telah hancur berantakan.
"Dia anakku, Draxler," desis Ember dengan intonasi rendah yang dingin. "Kau tidak punya bukti hukum, kau tidak punya hak asuh, dan aku akan menggunakan seluruh kekayaan Huntington Group untuk memastikan kau tidak akan pernah bisa menyentuhnya."
Draxler menyunggingkan senyum paling mengerikan yang pernah disaksikan Ember.
"Coba saja," tantang Draxler santai seraya melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Ember, lalu merapikan kerah jas mewahnya sendiri.
"Gunakan seluruh uang hasil perasanmu itu. Tapi ingat satu hal, Ember... tes DNA bisa keluar dalam waktu dua puluh empat jam. Dan begitu tes itu membuktikan bahwa ia putri kandung dari Draxler Lutolf Ashford... aku akan menyeretmu dan anak kita kembali ke dalam hidupku, tak peduli berapa banyak darah yang harus tumpah."
Draxler memundurkan langkahnya dua tapak, menatap Ember dari ujung rambut hingga ujung sepatu dengan tatapan penuh klaim kepemilikan.
"Sampai jumpa besok pagi di pengadilan atau di rumahmu, Calon Istriku," ucap Draxler dingin dengan nada teramat dominan.
Tanpa menunggu balasan kata-kata lagi dari Ember, Draxler memutar tubuhnya dan melangkah tegap menuju mobil sports hitamnya, meninggalkan Ember yang berdiri terpaku sendirian di tengah pelataran parkir dengan dada yang bergemuruh hebat oleh ancaman perang baru yang teramat mematikan.