NovelToon NovelToon
Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Pernikahan Rahasia Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Melania-1623

Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."

Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.

Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.

Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Syarat di Atas Kertas

Aroma kopi espresso mahal bersaing dengan wewangian floral lembut di dalam ruang privat Restoran The View. Dari lantai tiga puluh enam gedung pencakar langit ini, pemandangan lampu-lampu kota Jakarta malam hari tampak seperti hamparan berlian yang berkilau. Namun, bagi Aura Dania, keindahan itu sama sekali tak mampu mengusir rasa dingin yang menjalar dari ujung kakinya hingga ke dada.

Di hadapannya, duduk seorang pria dengan stelan jas hitam buatan penjahit Italia. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung sempurna, dan sepasang mata cokelat gelapnya memancarkan aura dingin yang intimidatif. Evan Adijaya, CEO muda Adijaya Group—pria yang wajahnya hampir setiap minggu menghiasi sampul majalah bisnis terkemuka.

Pria itu meletakkan cangkir keramiknya tanpa suara. Matanya menatap Aura dari atas ke bawah. Menilai gaun kain biasa yang dikenakan Aura, tatanan rambutnya yang sederhana, hingga jemari wanitanya yang gemetar di atas pangkuan.

"Aura Dania. Dua puluh dua tahun. Lulusan sarjana akuntansi, saat ini bekerja sebagai staf administrasi biasa di perusahaan retail skala menengah," suara Evan terdengar berat, datar, dan tanpa intonasi ramah sedikit pun. "Apakah data ini benar?"

"Glekk..." Aura menelan ludah yang terasa sesak di tenggorokannya. Ia membasahi bibirnya yang kering sebelum menjawab, "Benar, Tuan Evan."

Evan menarik napas tipis, lalu meraih seberkas dokumen tebal bersampul kulit hitam yang tergeletak di samping meja. Dengan gerakan santai namun mendominasi, ia menggeser dokumen itu ke arah Aura.

"Ibumu sudah menerima uang muka sebesar lima ratus juta rupiah siang tadi," kata Evan, menopang dagunya dengan satu tangan. "Uang itu sudah ditransfer langsung ke rekening pihak rumah sakit untuk membiayai deposit awal operasi sumsum tulang belakang adikmu."

Dada Aura berdesir hebat. Bayangan wajah adiknya, Laras, yang terbaring pucat dengan selang pernapasan di ruang ICU melintas jelas. Tanpa uang itu, dokter sudah menegaskan bahwa Laras tidak akan sanggup bertahan melampaui akhir bulan ini. Uang lima ratus juta itu adalah nafas kehidupan bagi adiknya.

"Dan dokumen di depanmu ini," lanjut Evan, mengetuk jemarinya yang kokoh di atas kertas mika bening, "adalah sisa pembayarannya. Dua miliar rupiah cair secara utuh, detik setelah tanda tanganmu tercetak di lembar terakhir."

Aura menatap judul berhuruf cetak tebal di halaman pertama dokumen tersebut: PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK.

Pernikahan. Sesuatu yang dulu pernah Aura bayangkan akan terjadi dengan penuh bunga, tawa, dan pria yang mencintainya dengan tulus. Namun, kenyataan hidup yang kejam memaksanya merobek semua impian naif itu. Kini, ia sedang memperdagangkan status perawan dan masa depannya di atas meja makan mewah demi sebuah nominal angka.

"Apa... apa saja kewajibanku dalam kontrak ini, Tuan?" suara Aura bergetar, meski ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk terdengar tegar.

Evan bersandar di kursi kulitnya, melipat kedua lengan di dada. "Sederhana. Aku tidak suka kerumitan, jadi dengarkan baik-baik."

Pria itu mulai menjabarkan poin demi poin dengan nada dingin seolah sedang membacakan draf akuisisi perusahaan:

"Pertama, pernikahan ini sepenuhnya rahasia dari publik. Tidak ada pesta, tidak ada resepsi mewah, dan tidak ada pemberitaan di media. Hanya ada akad nikah sederhana di hadapan penghulu dan keluarga intiku."

"Kedua, di hadapan Kakekku (Komisaris Utama Adijaya Group) kau harus mampu memainkan peran sebagai istri yang manis, setia, dan penuh kasih. Kakekku sedang sakit parah dan syarat tunggal agar seluruh saham utamanya jatuh ke tanganku adalah aku harus sudah menikah sebelum ulang tahunnya yang ke-80 minggu depan."

"Ketiga," Evan mencondongkan tubuhnya ke depan, membuat jarak antara wajah mereka menipis hingga Aura bisa mencium aroma kayu cendana dan citrus dari tubuh pria itu. "Jangan pernah berharap hubungan suami istri yang sebenarnya. Kita tinggal di satu rumah, tapi di kamar yang berbeda. Kau tidak boleh menyentuhku tanpa izin dariku, tidak boleh mencampuri urusan pribadiku, dan yang terpenting... jangan pernah mencintaiku."

Aura menahan napas. Tatapan Evan begitu tajam, seolah sanggup menembus sampai ke dasar pikirannya.

"Kontrak ini berlaku tepat selama dua tahun," sambung Evan seraya kembali bersandar. "Setelah posisi Komisaris Utama resmi sepenuhnya berada di tanganku dan situasi perusahaan stabil, kita akan bercerai secara diam-diam. Kau akan mendapatkan pesangon dua miliar tersebut beserta sebuah unit apartemen atas namamu."

Ruangan privat itu kembali hening. Hanya terdengar suara denting pendingin ruangan dan detak jantung Aura yang berpacu liar.

"Bagaimana jika... ada pihak media yang mengendus hal ini?" tanya Aura ragu. "Bagaimana jika keluarga atau teman-temanku tahu?"

Evan tersenyum tipis, sebuah kurva senyum sinis yang sama sekali tidak tersentuh rasa hangat. "Media di kota ini tunduk pada klan Adijaya. Tidak ada satu baris berita pun yang bisa terbit tanpa persetujuan tim humas perusahaan saya. Soal lingkungan sosialmu, kau cukup beralasan bahwa kau menikah dengan seorang pengusaha biasa. Jika ada bocoran yang bersumber darimu atau keluargamu..."

Evan menggantung kalimatnya. Ia memajukan jemarinya, mengambil pena eksklusif berlapis emas milik perusahaan, lalu memutarnya perlahan.

"...maka kontrak ini batal seketika, uang lima ratus juta yang sudah masuk ke rumah sakit wajib dikembalikan dalam waktu 1x24 jam, dan proses operasi adikmu akan dihentikan."

Ancaman itu diucapkan dengan begitu tenang, namun efeknya bagaikan hantaman godam di dada Aura. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak memiliki hati. Evan Adijaya bukan sedang mencari pendamping hidup, ia sedang membeli sebuah alat untuk memuluskan takhtanya.

"Paham?" tanya Evan singkat.

Aura mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. Ia menutup matanya sejenak, membuang sisa-sisa harga diri yang masih tersisa di dalam dirinya. Demi Laras. Hanya demi Laras ia sanggup bertahan di neraka ini.

Aura membuka matanya kembali, lalu menatap lurus ke dalam iris cokelat gelap milik Evan.

"Saya paham, Tuan Evan. Anda tidak perlu khawatir," suara Aura kini terdengar jauh lebih stabil, meski getir. "Saya tahu diri. Saya menjual dua tahun waktu saya, bukan hati saya. Saya tidak akan pernah jatuh cinta pada pria yang memandang pernikahan hanya sebagai transaksi bisnis."

Alis Evan terangkat sebelah. Ada kilatan ketertarikan samar di matanya mendengar jawaban tegas dari wanita yang semula ia kira penakut itu. Namun, ekspresi itu hilang serapi ia datang.

"Bagus kalau kau sadar posisi," ujar Evan dingin.

Ia menyodorkan pena emas itu ke tangan Aura. Saat jemari mereka tak sengaja bersentuhan, Aura merasakan sengatan dingin yang aneh dari kulit pria itu. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun mantap, Aura membuka lembar terakhir dokumen, menempelkan ibu jarinya pada pad tinta merah, lalu membubuhkan tanda tangan sah di atas meterai sepuluh ribu.

Sret. Sret.

Suara goresan pena itu menjadi penanda berakhirnya kehidupan bebas Aura Dania.

Evan langsung mengambil kembali dokumen tersebut begitu Aura selesai. Ia memeriksanya sebentar, mengangguk puas, lalu memasukkannya ke dalam tas kerja kulitnya. Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas hitamnya dengan gerakan elegan yang natural.

"Pernikahan kita dilaksanakan besok pagi jam delapan tepat di kediaman utama Adijaya," kata Evan sambil melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangannya. "Asisten pribadi saya, Bimo, akan menjemputmu di kosanmu jam enam pagi. Pindahkan semua barang-barang pentingmu. Kau tidak akan kembali ke kosan sempit itu lagi."

Tanpa menunggu tanggapan atau ucapan selamat tinggal dari Aura, Evan berbalik dan melangkah pergi. Langkah kakinya yang mantap dan bergema di lantai marmer perlahan menjauh, menyisakan kesunyian yang menekan di dalam ruangan besar itu.

Aura terduduk lemas di kursinya. Pandangannya kosong menatap cangkir kopi dingin milik Evan yang masih menyisakan sedikit cairan hitam di dasarnya. Pria itu bahkan tidak menawarkan minuman atau makanan apa pun padanya selama pertemuan tadi.

Aura meremas dadanya yang terasa sesak. Hari ini, di atas lantai tiga puluh enam yang mewah ini, ia telah menjual dirinya sendiri. Mulai besok, hidupnya bukan lagi milik Aura Dania yang bebas, melainkan milik seorang tawanan dari pria berhati dingin seperti kutub es bernama Evan Adijaya.

1
Orang
Kerenn...
Orang
/Drool/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!