Demi menyelamatkan nyawa adiknya yang kritis di ICU, Dania Kirana terpaksa menerima syarat gila dalam surat wasiat seorang konglomerat: menikah dengan Arvin Dirgantara, CEO dingin yang penuh prasangka.
Arvin menganggap Dania wanita matre yang memanfaatkan kakeknya demi harta dan 51% saham perusahaan. Sementara Dania bertaruh harga diri demi bertahan dalam pernikahan rahasia berdurasi satu tahun.
Di balik pernikahan penuh ancaman dan perjanjian kertas ini, bahaya besar mengintai dari Dion—sepupu Arvin yang haus kekuasaan. Mampukah Dania membuktikan dirinya di tengah kepungan musuh, ataukah pernikahan rahasia ini justru menjebak mereka dalam benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Hangat di Tengah Hujan
Sore hari di pusat kota Jakarta disambut oleh langit hitam yang menggantung pekat. Tak lama kemudian, hujan deras mengguyur dengan lebat, menampar dinding-dinding kaca Gedung Dirgantara Tower dan menciptakan suara gemuruh yang konsisten di luar ruangan.
Di dalam studio arsitektur lantai 28, beberapa anggota tim desain mulai merapikan meja kerja mereka untuk bersiap pulang.
Dania berdiri di dekat jendela kaca besar, menatap rintik air yang mengalir deras di luar. Ia mengenakan blus krem elegan dan rok kain sebatas lutut. Jam dinding menunjukkan pukul setengah enam sore, dan kemacetan lalu lintas Jakarta di bawah sana tampak makin memadat akibat genangan air.
Dania merogoh ponsel dari tas tangannya, berniat menghubungi pengemudi kantor untuk menyiapkan kendaraan. Namun, sebelum jemarinya sempat menekan tombol panggil, sebuah pesan singkat masuk di layarnya.
Arvin: "Turun ke lobi privat lantai dasar sekarang. Aku menunggumu."
Dania tersenyum tipis melihat pesan singkat tanpa basa-basi itu. Ia membalas pesan tersebut dengan cepat, merapikan tas tangannya, lalu berpamitan pada Maya dan anggota tim lainnya sebelum melangkah menuju elevator privat.
Suasana di area lobi privat lantai dasar tampak sangat tenang. Di depan pintu kaca ganda, sebuah sedan hitam mewah terparkir rapat di bawah kanopi.
Dania melangkah keluar dari elevator dan menghentikan langkahnya sejenak. Ia mengira Rian yang akan mengemudikan mobil tersebut, namun saat kaca jendela pengemudi terdorong turun, sosok Arvin berdiri keluar memegang sebuah payung hitam besar.
Arvin mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tanpa jas atau dasi formal. Pria tegap itu melangkah mendekati Dania, membuka payung hitamnya dan menaungi Dania dari cipratan air hujan yang terbawa angin.
"Arvin? Anda sendiri yang mengemudi?" tanya Dania terkejut seraya menatap suaminya.
"Rian sedang mengurus dokumen analisis anggaran di kantor," sahut Arvin datar, suaranya merendah di tengah riuh suara hujan. "Dan aku ingin menjemput istriku sendiri."
Dania merasakan kehangatan yang melelehkan hatinya mendengar alasan sederhana namun sarat akan cinta itu. Ia menyusupkan lengannya ke dalam lipatan siku Arvin, berjalan bersisian di bawah satu payung yang sama menuju mobil.
Arvin membukakan pintu penumpang depan untuk Dania, memastikan wanita itu masuk dengan aman tanpa terkena setetes air hujan pun, baru kemudian ia berputar mengitari mobil dan menduduki kursi pengemudi.
Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan beraroma kayu cendana yang menenangkan, hening yang hangat menyelimuti mereka. Deru mesin terdengar halus saat Arvin membelah kemacetan jalanan Jakarta yang basah.
Saat berhenti di lampu merah yang cukup panjang, Arvin menjangkau telapak tangan kiri Dania yang berada di pangkuannya. Pria itu menggenggam jemari Dania, menyatukan buku-buku jari mereka dan mengusap punggung tangan Dania dengan ibu jarinya.
Dania menoleh, menatap profil samping wajah Arvin yang tegas. "Terima kasih sudah menjemputku, Arvin."
Arvin melirik Dania dari sudut matanya, sudut bibirnya terangkat dalam senyuman sangat halus yang menawan. "Ini kewajibanku, Dania. Lagipula, mengemudi di tengah hujan terasa jauh lebih menyenangkan kalau kamu ada di sampingku."
Satu jam kemudian, mereka telah tiba kembali di penthouse lantai 45.
Suasana ruangan yang hangat dipadu dengan pemandangan rintik hujan di balik kaca raksasa menciptakan atmosfer yang teramat romantis. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian santai, Dania melangkah ke area dapur bersih untuk menyeduh dua cangkir cokelat hangat dengan taburan marshmallow.
Arvin duduk di sofa ruang tamu utama, memangku laptopnya untuk memeriksa beberapa surel masuk.
Dania melangkah mendekat, meletakkan dua cangkir cokelat hangat di atas meja kopi, lalu tanpa ragu mendudukkan tubuhnya tepat di samping Arvin. Dania menyandarkan kepalanya di bahu tegap Arvin, melingkarkan kakinya di atas sofa seraya memeluk lengan suaminya.
Arvin menghentikan jemarinya di atas papan ketik laptop. Pria tegap itu tersenyum tipis, merangkulkan lengan kirinya di bahu Dania, menarik tubuh istrinya makin rapat ke dalam dekapannya.
"Pekerjaan kantor belum selesai?" bisik Dania lembut, menghirup aroma maskulin Arvin yang menenangkan.
"Hanya beberapa persetujuan akhir dari dewan komisaris," sahut Arvin pelan. Pria itu menutup laptopnya dan meletakkannya di meja, memilih untuk memberikan perhatian sepenuhnya pada wanita di dalam dekapannya.
Arvin meraih cangkir cokelat hangat, menyesapnya sedikit, lalu menatap wajah Dania yang berada dekat di bawah pandangannya. Di bawah pendar lampu ruang tamu yang temaram, Dania tampak begitu cantik dan anggun dalam balutan sweater rajut abu-abu longgar.
Arvin meraba pelan anak rambut yang menghalangi wajah Dania, menyelipkannya ke belakang telinga istrinya.
"Hujan di luar sangat deras," gumam Arvin rendah, suaranya sarat akan kehangatan yang pekat.
"Ya," sahut Dania seraya mendongak menatap mata pekat Arvin. "Tapi di dalam sini sangat hangat."
Arvin menundukkan kepalanya sedikit, menempelkan hidungnya pada hidung Dania, membiarkan napas hangat mereka menyatu di udara malam yang sejuk.
"Dania..." panggil Arvin pelan, suaranya bergetar halus oleh emosi yang mendalam.
"Ya, Arvin?"
"Terima kasih karena tidak pernah menyerah pada sikap kakuku di awal pernikahan kita," ujar Arvin jujur dari kedalaman hatinya. "Dulu aku berpikir bahwa hidupku hanya tentang mempertahankan warisan Kakek dan mengalahkan musuh-musuh bisnisku. Tapi sekarang... aku sadar bahwa keberadaanmulah yang memberi arti pada semua yang kumiliki."
Air mata haru menggenang tipis di sudut mata bening Dania mendengarkan pengakuan yang teramat tulus itu. Dania mengangkat tangannya, mengusap rahang tegas Arvin dengan penuh kasih sayang.
"Kita berdua sama-sama belajar untuk saling membuka hati, Arvin," bisik Dania lembut. "Dan aku tidak pernah menyesali keputusan untuk bertahan di sisimu."
Arvin menatap bibir Dania yang terulas senyum manis, lalu menautkan bibirnya dengan bibir Dania dalam sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan sarat akan kerinduan yang mendalam. Ciuman di tengah riuh suara hujan yang mengguyur Jakarta malam itu menegaskan betapa utuhnya cinta yang kini bertumbuh subur di antara mereka.
Di atas ketinggian lantai 45, di balik hembusan angin malam dan dinginnya rintik hujan, dua jiwa yang dulunya asing itu kini saling mengunci dalam kehangatan cinta sejati yang tak tergoyahkan.