Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.
Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Saat azan subuh sayup-sayup berkumandang, Nadia perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia lihat di hadapannya adalah Kenzo yang tertidur lelap sambil memeluk pinggangnya dengan erat.
Namun, ketika pandangannya bergeser sedikit, napas Nadia seketika tertahan. Tangan Arvin, tangan yang semalam mendarat keras di pipinya, terkulai di atas tubuh Kenzo, merengkuh anak itu dari belakang hingga jemarinya tak sengaja ikut menyentuh pinggang Nadia.
Wajah mereka begitu dekat. Nadia bisa merasakan hembusan napas hangat Arvin yang teratur menepuk kulit pipinya. Mengetahui posisi itu, dada Nadia mendadak sesak, ingatan akan rasa sakit semalam kembali menyeruak membakar hatinya.
Nadia menelan ludah. Dengan sangat hati-hati, ia memegang jemari kecil Kenzo dan mencoba melonggarkan pelukan anak itu agar ia bisa bergeser menjauh tanpa membangunkan siapa pun.
Namun, baru saja Nadia menarik badannya sedikit, Kenzo mengerjap pelan. Mata bulat yang masih sembab itu terbuka, menatap Nadia dengan raut panik.
Nadia mengusap kepala Kenzo lembut. "Bunda tidak ke mana-mana, Sayang. Bunda mau shalat dulu, sudah azan Subuh."
Kenzo memiringkan kepalanya bingung. "Shalat itu apa, Bunda?"
Nadia mendadak tertegun. Apa sebenarnya yang Arvin ajarkan pada anak-anaknya selama ini? Masa shalat saja Kenzo sampai tidak tahu? batin Nadia prihatin.
"Shalat itu cara kita berdoa dan berkomunikasi sama Allah, Nak," jelas Nadia sabar dengan suara pelan.
Suara percakapan itu membuat Arvin terusik. Pria itu perlahan membuka mata, mengerjap sebentar, lalu bergumam dengan suara berat khas bangun tidur.
"Tidur lagi, Kenzo... Ini masih terlalu pagi."
"Nggak mau," tolak Kenzo menggeleng cepat. Ia menarik selimutnya dan langsung mendudukkan diri.
"Kenzo mau ikut Bunda shalat!"
Nadia tersenyum tipis melihat antusiasme anak bungsunya. "Boleh, Sayang. Ayo shalat sama Bunda."
Nadia lalu melirik Arvin yang masih merebahkan diri. "Mas mau ikut shalat?"
Arvin mengibaskan tangannya pelan, lalu berbalik membelakangi mereka. "Kalian saja. Saya masih mengantuk."
Selesai shalat Subuh di kamar Kenzo, Nadia tersenyum tipis melihat anak itu yang dari tadi hanya berdiri di belakangnya, memperhatikan dan menirukan setiap gerakannya dengan polos.
Tak berapa lama, Nadia membantu Kenzo mandi dan memakaikan seragam sekolahnya. Melihat memar di dahi dan siku Kenzo, Nadia merasa iba.
"Kenzo mau libur sekolah dulu hari ini? Biar istirahat di rumah sampai lebamnya agak mendingan," tawar Nadia lembut.
Kenzo langsung menggeleng cepat. "Nggak mau, Bunda. Nanti Ibu Guru marah kalau Kenzo bolos. Papa juga nggak suka kalau Kenzo nggak sekolah."
Nadia menghela napas, tak ingin memaksa. "Ya sudah, kalau begitu sekolah saja, ya. Tapi jangan main yang capek-capek dulu."
"Iya, Bunda!"
"Tunggu di kamar sebentar, ya. Bunda mau ke kamar mandi sebentar buat ganti baju," pamit Nadia.
Nadia melangkah kembali ke kamar utama. Saat masuk, ranjang sudah kosong. Suara gemericik air terdengar dari kamar mandi utama, menandakan Arvin sedang di dalam. Nadia segera mengambil baju ganti dari lemari, lalu masuk ke dalam ruang ganti untuk berganti pakaian.
Namun, baru sebentar Nadia di dalam, pintu ruang ganti mendadak digedor dari luar dengan kasar.
"Nadia, cepat keluar! Jangan lama-lama, saya bisa terlambat ke kantor!" seru Arvin dari luar dengan nada tidak sabar.
Nadia mengepalkan tangan, dadanya mendidih menahan kekesalan. Dasar pria egois! batinnya sengit.
Nadia langsung merapikan bajunya, membuka pintu dengan kasar, lalu melengos pergi melewati Arvin tanpa memandangnya sedikit pun. Sambil berjalan keluar kamar menuju kamar Kenzo, Nadia mencibir pelan.
"Cih, terlambat tinggal terlambat, sok sibuk banget!"
Nadia membuka pintu kamar Kenzo dan terkejut mendapati Damian sudah berada di dalam. Remaja itu tampak gagah dengan seragam SMA yang membalut tubuhnya, tengah membungkuk di samping ranjang Kenzo.
"Sedang apa, Bang?" tanya Nadia lembut seraya melangkah masuk.
Damian sedikit terkejut, refleks menegakkan badannya. Di tangannya menggenggam sebuah salep kecil. "Eh, Bunda... Ini, aku lagi olesin salep buat luka dan lebamnya Kenzo. Semalam aku sempat beli di apotek."
Nadia tersenyum tulus, merasa tersentuh dengan kepedulian anak sulung Arvin itu. "Terima kasih banyak ya, Bang. Sudah mau perhatian sama Kenzo."
Damian mengangguk pelan. Ia menunduk sejenak, lalu menatap Nadia dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Bunda... aku mau minta maaf soal kejadian semalam. Soal perlakuan Papa ke Bunda... dan juga soal Jovan."
Nadia terdiam, mendengarkan kalimat anak tiri terbesarnya itu.
"Sifat Jovan memang sangat keras." lanjut Damian dengan nada serba salah. "Apalagi kalau sudah menyangkut Kenzo, dia gampang banget emosi. Semoga Bunda bisa mengerti dan memaafkan dia."
Sarapan pagi itu akhirnya selesai, meski diwarnai suasana canggung yang kaku dan penuh tekanan. Damian sudah lebih dulu pamit dan berangkat ke sekolah menggunakan sepeda motornya.
Sesuai perintah Arvin semalam, Jovan harus berangkat sekolah bersama Kenzo di dalam satu mobil di bawah pengawasan Pak Adam. Artinya, Nadia juga akan berada di mobil itu.
Namun, drama baru kembali pecah di depan teras rumah. Jovan berdiri bersedekap dengan wajah cemberut, menolak keras saat pintu mobil dibukakan.
"Aku nggak mau naik mobil kalau ada perempuan itu!" tuduh Jovan tajam sambil menunjuk Nadia.
Arvin yang berada di samping mobil seketika naik pitam. "Jovan! Jangan mulai lagi. Cepat masuk ke mobil!"
"Nggak mau, Pa! Sampai kapan pun aku nggak mau satu mobil sama dia!" seru Jovan kekeh membangkang.
"Bisa dewasa sedikit tidak, Jovan?!" bentak Arvin dengan suara meninggi. "Kamu yang salah, tapi kamu yang paling banyak bertingkah!"
Jovan melotot tak terima. "Mending aku jalan kaki ke sekolah daripada harus se mobil sama dia!"
Arvin tersenyum sinis, emosinya sudah di ambang batas. "Ya sudah, silakan jalan kaki! Papa mau lihat sampai mana kamu sanggup!"
Melihat percekcokan ayah dan anak yang makin meluas, Nadia menghela napas panjang. Ia tidak ingin pagi hari Kenzo makin rusak karena perdebatan ini.
"Sudah, Mas, tidak usah diributkan," potong Nadia dingin. Ia menatap Arvin sekilas sebelum beralih ke Pak Adam. "Pak Adam berangkat saja bawa Jovan dan Kenzo. Saya naik ojek online saja ke toko."
Tanpa menunggu tanggapan Arvin, Nadia mengalah. Jovan yang mendengar itu akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil dengan muka bersungut-sungut, disusul Kenzo yang dituntun masuk.
Sebelum mobil melaju, Kenzo membuka kaca jendela. "Bunda, Kenzo berangkat ya... Papa, Kenzo sekolah dulu."
"Iya Sayang, hati-hati ya," sahut Nadia tersenyum lembut pada Kenzo, berusaha menyembunyikan rasa sakit hatinya.
Mobil Pak Adam pun perlahan bergerak meninggalkan pekarangan rumah. Setelah deru mobil menghilang di balik pagar, suasana halaman depan mendadak hening.
Arvin mengusap wajahnya yang lelah, lalu menoleh ke arah Nadia yang sedang mengulik ponselnya untuk memesan ojek.
"Saya antar kamu ke toko," tawar Arvin dengan suara yang berusaha diturunkan, menatap istrinya datar.
Nadia melirik Arvin sekilas dari ujung mata, bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang tipis.
"Tidak usah," tolak Nadia dingin. "Bukannya Anda tadi bilang sudah mau terlambat?"
Arvin terdiam sejenak, menelan ludah mendengar sindiran tajam istrinya. Pria itu menghela napas berat, melangkah mendekat ke arah Nadia dengan sorot mata penuh penyesalan.
"Nadia... saya minta maaf," ucap Arvin dengan suara lirih. "Soal semalam... saya benar-benar khilaf. Saya tidak seharusnya lepas kontrol dan kasar sama kamu."
Nadia menghentikan jemarinya di atas layar ponsel. Ia perlahan mendongak, menatap Arvin dengan pandangan dingin dan penuh luka.
"Khilaf?" Nadia terkekeh sinis. "Dengan gampangnya Mas bilang khilaf setelah menampar saya dan mengatai saya tidak becus?"
Arvin meringis, merasa tertohok. "Saya tahu saya salah, Nadia. Waktu itu emosi saya sedang tinggi karena masalah anak-anak..."
"Saya ini belum pernah hamil, Mas! Belum pernah melahirkan!" potong Nadia dengan suara bergetar, menahan emosi yang meluap di dadanya.
"Tapi tiba-tiba saya dituntut harus langsung jadi ibu dari tiga anak remaja dan balita. Apa Mas pikir itu mudah?!"
Nadia menatap Arvin lurus-lurus, matanya berkaca-kaca namun tetap berdiri tegap.
"Maaf kalau cara saya mendidik anak-anakmu salah di matamu," lanjut Nadia.
"Saya tidak butuh tumpangan kamu, dan saya tidak butuh belas kasihan kamu. Urus saja kantor dan anak-anak kesayanganmu," ucap Nadia.
"Permisi."
Tepat saat itu, sebuah sepeda motor dengan jaket hijau khas ojek online berhenti di depan pagar rumah. Tanpa menoleh lagi ke arah Arvin yang berdiri mematung di teras, Nadia melangkah lebar meninggalkan pekarangan rumah, menaiki motor tersebut, dan berlalu pergi begitu saja.