NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!

Mari Bercerai, Aku Sudah Mati Rasa, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:16.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Zahira Aulia Utami menikah dengan Galang Putra Hadian. Mereke sudah menikah selama delapan tahun dan di karuniai seorang putri cantik bernama Cantika Alya Putri Hadian, berusia enam tahun. Namun putri mereka memiliki hal yang berbeda dengan putri orang lain pada umumnya. Dia memiliki sesuatu yang spesial.

Rumah tangga mereka sebeanrnya baik-baik saja. Hanya memang satu tahun terakhir Aulia dan Galang sering bertengkar. Dan inti dari masalahnya adalah Cantika, Galang merasa malu memiliki anak yang dia pikir ga-gu. Dan itu semua karena Aulia. Dia menyalahkan Aulia sehingga membuatnya malu saat membawa mereka dalam pertemuan keluarga atau saat acara di kantor.

Semenjak itu, hubungan mereka terasa hambar, Galang seing pulang telat ke rumah.

pertengkaran terus berlanjut, apalagi keluarga Galang juga ikut campur hingga akhirnya Aulia dan Cantika melihat Galang bersama dengan seorang wanita bergandengan mesra. Hati Aulia rasanya semakin membeku. Tak ada lagi alasan untuk bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aulia 6

"Aam... enya!" seru Cantika terbata, bermaksud mengatakan "Nyam, enak!" seraya menyuap sesendok kecil nasi ke dalam mulutnya.

​"Enak ya? Kunyah yang baik, Nak," sahut Aulia, matanya berkaca-kaca.

​Melihat binar bahagia di mata Cantika saat makan, dada Aulia terasa sesak oleh campuran rasa bersyukur dan perih. Anak secerdas dan sepenurut ini tega disisihkan oleh keluarga ayahnya hanya karena sebuah kekurangan yang sebenarnya bisa disembuhkan. Aulia bersumpah dalam hati, dia tidak akan membiarkan air mata Cantika tumpah lagi karena penolakan orang lain termasuk oleh Galang.

​"I..bu... i--...ni..."

​Cantika memecah lamunan Aulia. Tangan kecilnya menyodorkan sepotong tempe orek menggunakan sendoknya ke arah piring Aulia. Dia ingin berbagi makanannya dengan sang ibu.

​Aulia tersenyum, lalu menerima suapan dari putrinya.

"Terima kasih, anak pintar. Cantika harus makan yang banyak ya, biar nanti pas latihan di tempat terapi tenaganya kuat. Kan besok mau tampil di panggung."

​Mendengar kata "panggung", mata Cantika langsung berbinar cerah. Dia mengangguk mantap dengan semangat yang meluap-luap. Dia membuat gerakan tangan seolah-olah sedang menari dan menunjukkan jari jempolnya ke udara. Dalam hati dan benaknya dia sangat berharap jika sang Papa akan datang melihat penampilannya kali ini di panggung setelah beberapa kali absen melihat penampilannya.

​Di tempat umum seperti ini, beberapa orang di meja sebelah sempat menoleh dan berbisik pelit melihat cara bicara Cantika yang tidak biasa. Namun kali ini, Aulia tidak menunduk. Dia membalas tatapan orang-orang itu dengan pandangan tegak dan senyum tipis yang penuh percaya diri. Dia tidak akan lagi menyembunyikan Cantika, dan dia tidak akan pernah malu lagi.

​"Anak Ibu hebat. Cantika pasti bisa," bisik Aulia, menggenggam jemari kecil putrinya di atas meja, menguatkan hati mereka berdua untuk menghadapi hari esok, dengan atau tanpa Galang di sisi mereka.

Di tengah riuhnya suasana warung, tiba-tiba terdengar lengkingan suara anak kecil yang familier dari arah trotoar.

​"Cantikaaa!"

​Cantika yang sedang mengunyah kerupuk langsung menghentikan gerakannya. Kepalanya menoleh cepat ke arah sumber suara. Sepasang matanya yang bulat seketika berbinar cerah, dan seluruh wajahnya langsung berseri-seri, memancarkan kebahagiaan yang murni.

​Seorang anak laki-laki sebaya Cantika berlari kecil menghampiri meja mereka dengan topi di keplanya, diikuti oleh seorang pria dewasa bertubuh tegap di belakangnya. Itu Farrel, teman satu kelas Cantika di tempat terapi sekaligus di sekolah khususnya, bersama sang ayah, Pak Ghani.

​"Aaa ... Leeeelll," seru Cantika penuh semangat.

Dia langsung meletakkan sendoknya dan melambaikan tangan tinggi-tinggi. Meskipun suaranya masih terbata, nada kegembiraan di dalamnya tidak bisa disembunyikan.

​"Cantika kebetulan kita ketemu di sini, aku juga mau beli Nasi uduk sebelum ke tempat Terapi?" Ujar Farrel riang sambil langsung berdiri di samping kursi Cantika, memamerkan senyum ompongnya.

​"Eh, Mbak Aulia. Kebetulan sekali ketemu di sini," sapa Pak Ghani ramah, mengangguk sopan kepada Aulia. Pria itu tampak menggendong tas ransel spiderman milik Farrel di satu pundaknya.

​"Iya, Pak Ghani. Ini sengaja mampir sarapan dulu sebelum ke tempat terapi dan latihan di sekolah," sahut Aulia sambil tersenyum hangat, merasa lega melihat kehadiran orang-orang yang tulus menerima putrinya.

"Farrel mau sarapan juga?"

​"Sudah di rumah tadi, Mbak. Tapi pas lewat sini, Farrel lihat Cantika, langsung minta turun dari mobil. Katanya mau menyapa temannya...," ujar Pak Ghani terkekeh.

Sementara itu, Farrel sudah sibuk mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya. Sebuah mainan robot kecil berwarna merah.

"Cantika, lihat! Robot baru! Nanti di tempat terapi kita main sama-sama ya?"

​Cantika menerima robot itu dengan mata berbinar-binar.

"Waah... aawung!" serunya, bermaksud mengatakan "bagus". Dia membolak-balik robot itu dengan riang, lalu mengembalikannya kepada Farrel dengan sopan.

​Melihat kedekatan kedua anak itu, Pak Ghani menatap Aulia dengan pandangan penuh simpati. Sebagai sesama orang tua tunggal yang berjuang membesarkan anak dengan kebutuhan khusus, setelah istrinya meninggal dua tahun lalu. Ghani tahu betul riak-riak melelahkan yang harus dihadapi. Dia juga tidak buta untuk menyadari bahwa pagi ini, Aulia hanya pergi berdua saja dengan Cantika. Tanpa suami yang seharusnya mendampingi.

​"Mbak Aulia ke tempat terapi naik apa setelah ini? Kalau belum ada jemputan, bareng kami saja di mobil. Kebetulan searah dan Farrel pasti senang sekali ada temannya," tawar Ghani dengan sopan, tanpa nada mendesak.

​Aulia sempat ragu. Di satu sisi, dia tidak ingin merepotkan. Namun di sisi lain, memesan ojek daring lagi di jam sibuk seperti ini pasti akan memakan waktu, belum lagi terik matahari yang mulai terasa menyengat.

​"Apa tidak merepotkan, Pak Ghani?"

​"Sama sekali tidak, Mbak. Justru Farrel yang repot kalau dilarang dekat-dekat Cantika sekarang," canda Ghani, membuat Farrel yang merasa namanya disebut langsung menoleh dan menjulurkan lidahnya jenaka. Cantika tertawa renyah melihat tingkah temannya.

​"Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Pak." Aulia tersenyum lega. Setidaknya, satu bebannya pagi ini terasa sedikit terangkat.

​Sementara itu, di belahan kota yang lain, deru mesin mobil Galang berhenti di depan sebuah lobi rumah sakit swasta. Pikirannya masih tertinggal di meja makan rumahnya, pada sepiring nasi goreng hambar dan secarik kertas dari Aulia. Namun, panggilan telepon yang mendesak tadi memaksanya untuk menepis ego dan rasa bersalahnya sementara waktu.

​Galang melangkah terburu-buru menyusuri koridor rumah sakit yang berbau antiseptik tajam. Di depan ruang administrasi, seorang wanita paruh baya dengan pakaian modis namun wajah yang tampak panik langsung berdiri menyambutnya. Itu ibunya, Bu Ratna.

​"Galang! Akhirnya kamu datang juga," ujar Bu Ratna dengan suara yang sengaja ditahan agar tidak menggema.

"Sepupumu, tadi malam anaknya... si Kevin, tiba-tiba demam tinggi dan kejang. Mereka panik, dan kartu asuransinya ternyata ada masalah administrasi. Ibu bingung harus minta tolong ke siapa lagi buat urus deposit rumah sakitnya, tabungan Ibu sedang kosong bulan ini."

​Galang menghentikan langkahnya. Dadanya terasa seperti dihantam godam besar.

​Uang belanja sudah habis... Bulan ini dia memang belum memberikan uang bulanan dan jatah sekolah untuk Cantika.

​Kata-kata dan fakta itu berputar hebat di dalam otaknya. Galang menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ini adalah keluarga besarnya. Keluarga yang beberapa hari lalu di acara makan malam keluarga begitu membanggakan Kevin yang pintar berhitung di sekolah umum, sementara mereka secara halus meminta Aulia untuk tidak membawa Cantika ke acara-acara keluarga karena 'takut merepotkan', bahasa halus dari merasa malu. Karena itulah, Aulia lebih banyak tak menghadiri acara keluarga Galang lebih dari satu tahun ini, jika di bandingkan harus meninggalkan anaknya sendirian.

​Kini, demi anak yang mereka banggakan itu, ibunya meminta uang kepada Galang. Uang yang seharusnya menjadi hak istri dan anak kandungnya sendiri. Uang yang karena tidak diberikan, membuat istrinya harus mengikis sisa-sisa bahan dapur hingga habis.

​"Galang? Kok malah melamun? Ayo cepat, kasihan keponakanmu di dalam," desak Bu Ratna sambil menarik lengan kemeja Galang.

​Galang melepaskan cengkeraman tangan ibunya dengan perlahan namun tegas. Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang retak di dalam diri Galang. Rasa hormatnya yang buta kepada keluarga besarnya selama ini tiba-tiba terasa seperti racun yang membunuh kebahagiaan rumah tangganya sendiri.

​"Ibu," suara Galang terdengar berat dan dingin, membuat Bu Ratna tertegun.

"Kemana Mas Bayu dan istrinya? Kenapa malah ibu yang menunggu Kevin di rumah sakit? Bukannya Mas Bayu jabatannya lebih tinggi? Kenapa untuk biaya rumah sakit saja harus aku?" Tanya Galang membuat wajah ibunya pucat.

"Dia... Mereka sedang mencari pinjaman..."

"Bu, Galang tak bisa membantu semua administrasinya, Galang hanya bisa membayar untuk dp dulu, bair Mas Bayu yang urus sisanya. Karena aku juga belum memberikan uang bulanan untuk Auliadan biaya sekolah juga terapi Cantika..."

"Anak ca-cat itu? Kamu lebih memilih untuk membayar terapi anak ca-cat yang sampai kapanpun dia tak akan pernah bisa bicara dengan benar, Galang. Dia hanya membuat malu dan menjadi aib kamu dan keluarga besar kita! Lebih baik uangnya kamu berikan kepda para keponakan kamu yang pintar termasuk Kevin!" Potong Bu Ratne membuat Galang terdiam.

1
Sari Supriyanti
up...up...uuuuupppppp.....semangat ....semngaaaaattttt...💪💪💪😍😍😍😍
ryuka
baguusss aulia... kamu kereenn.. kereeenn bangwt malaaaahh.. cantika ga butuh keluarga bapak nya sama zekali toxic banget 🔥🔥🔥🔥
Ambu Rinddiany Thea
galon mana galooon 🤣
Mundri Astuti
libas sekalian Aulia ...jangan kasih muka tu si Galang banci....tampol sekalian keluarga benalunya
Ambu Rinddiany Thea
kmh lamn posisi s aulia aya d anak2 cewe manehna ratna .. mikir ath sagenah na we .. lila lila d sleding gera tah
Heni Setiyaningsih
gimana Galang?? panik kaaannn,,,, panik dong ,masa gak panik🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yam_zhie: jangan keras-keras kak kasihan 🙈
total 1 replies
nely_48
keberuntungan berpihak pd mu aulia,,, sok kumpul semua para benalu n pelakor vs istri sah yg terzholimi , jd tontonan tetangga n ada yg mem viralkan, tamat s galang family s pelakor
Yam_zhie: haha bener teh 🙈
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjut makin seruuuiu 💪
Yam_zhie: maksih kak 🤗
total 1 replies
Ariany Sudjana
hahaha seru ini 🤣🤣😂😂 mampus kamu Galang, gimana Bu Ratna, pelacur murahan kesayangan Galang sudah muncul tuh 🤣🤣😂😂
Yam_zhie: pening Bu Ratna 🙈
total 1 replies
ryuka
terlambat kamu galang.. aulia zudah ga akan mundur.. makan itu semua kelakuan bodoh mu itu 🔥🔥🔥🔥🔥👍👍👍👍
Mundri Astuti
ohoooo tenang Galang, pelan" otw tuh yg kamu takutin di otak kamu, ga ngotak si jadi org...klo dah dtg tu karma ga kaleng" ntar
Yam_zhie: betul. apalagi yang dia dzalimi juga anaknya sendiri 😭😭
total 1 replies
Muft Smoker
jgn2 pak ghani niih yg punya perusahaan tempat si galang kerja ,🤭🤭🤭🤭🤭
nely_48
d kerutug kan sm keluarga toxic
Ilham
aku penasaran pertemuan pertama Aulia sama yang punya perusahan
Ilham
lanjut
Ambu Rinddiany Thea
ya Allah genahna d kumahakeun nya eta indung na s galang plus anak2na .. 🤔🤔
gemar baca
syuka sama ceritanya,keren Mengen banget
arniya
makin seru and gereget.....
Thewie
Pakah pak Ghani ci i o yg menyamar🤭
Muft Smoker: kyakny dy bos ny galang ,,, amsyoong deeh si galang 😂😂😂😂
total 2 replies
ryuka
jangan2 yang punya itu Pak ghani, perusahaan tempat kerja nya si galang ubur2.. duhhh jadi penasaran thoorrr 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!