Rafa Arya Prasetio adalah tipe lelaki kolot di zaman yang serba canggih ini. Dia itu hidupnya terlalu lurus, hanya dihabiskan untuk bekerja dan keluarga. Percaya gak, jika dia belum pernah pacaran di usia yang ke 28 tahun ini? Tapi dia sudah tidak perjaka. Enggak, dia bukan penganut *** before married. Tapi sipolos ini pernah meniduri seorang gadis saat tengah mabuk.
Dimasa depan, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang datang ke kantornya dan mengaku anaknya. Kemana mamanya? Tidak tahu, anak itu bungkam dan mau tinggal sama Papa katanya. Yah, yang jadi Papanya itu dia.
Terus, kemana sosok ibunya? Masa kabur? Apa benar Rafa ayahnya anak itu? Tapi bagaimana bisa?
Ayo temukan kisah mereka di sini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Billa Hamkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama Sekolah
**
Pagi itu, rumah Rafa terasa seperti medan perang. Bukan karena tumpukan kerjaan kantor atau urusan mantan gebetan yang bikin pusing, melainkan karena hari pertama Elvan—anaknya—harus masuk sekolah.
Demi hari penting ini, Rafa sampai rela mengambil cuti setelah berdebat dengan pikirannya sendiri selama 24 jam penuh. Dia tahu betul, membiarkan bocah itu berangkat sendiri sama saja dengan mengundang kekacauan yang bisa membuatnya "mati muda" karena frustrasi.
"Daddy! Bebek aku mana?!" teriakan melengking Elvan dari kamar mandi memecah konsentrasi Rafa yang sedang terburu-buru memasukkan roti bekal ke dalam kotak makan.
"Mana aku tahu! Kamu kan yang kemarin main sama bebek!" sahut Rafa sambil menghela napas kasar.
Dengan langkah cepat, ia bergegas menghampiri kamar mandi, membawa handuk di tangannya. Benar saja, kamar mandi sudah berubah jadi seperti arena kolam renang.
"Ayo, udahan mandinya!" bujuk Rafa di ambang pintu.
"Gak mau!" tolak Elvan keras kepala, langsung memutar tubuhnya di dalam bak mandi mini biru kesayangannya, membelakangi Rafa.
"Mau sekolah, gak?" tanya Rafa, mulai gemas.
Kemarin bocah itu yang paling heboh ingin sekolah, tapi sekarang justru mogok. Ditambah lagi, Elvan terus merengek meminta mainan bebeknya sambil sengaja mencipratkan air hingga mengenai baju Rafa.
"Sabar… Raf, orang sabar banyak istri nanti," gumam Rafa menyemangati dirinya sendiri, mencoba melunakkan suaranya untuk membujuk lagi.
Namun, Elvan tetap bersikeras menolak.
Di tengah keputusasaan Rafa, ponselnya tiba-tiba berdering nyaring. "Tunggu sebentar. Jangan kemana-mana, ok!" perintah Rafa sebelum berlari mengambil ponselnya tanpa sempat melihat siapa yang menelepon.
"Hallo, mohon maaf telepon lagi nanti karena yang punya telepon sedang sibuk, saya ma—"
"Tunggu!" potong suara seorang wanita di seberang sana dengan cepat. "Saya mama-nya Elvan."
Rafa mengernyit melihat nomor asing tersebut. "Kamu siapa? Kamu si—ah, kamu wanita tidak waras yang mama-nya Elvan?"
"Apa kamu bilang, tidak waras?!" sahut wanita itu, langsung tersulut emosi.
Debat sengit pun tak terhindarkan. Rafa yang sudah lelah sejak pagi langsung meluapkan kekesalannya pada wanita yang dianggapnya datang dan pergi sesuka hati layaknya jelangkung.
Tapi wanita itu segera memotong, "Saya mau berbicara dengan Elvan."
Seketika Rafa tersadar, "Ya ampun bocah itu, aku lupa!"
Ia langsung berlari kembali ke kamar mandi dengan ponsel masih di telinga, menemukan Elvan sudah berbaring telungkup dengan santainya di bak mandi mini.
"Biar aku yang berbicara," ujar wanita di balik telepon.
Rafa pun mendekatkan ponsel itu ke arah Elvan tanpa banyak bicara, saking malasnya berdebat lagi. Setelah dipaksa duduk oleh Rafa, Elvan yang wajahnya penuh sabun akhirnya mau mendengarkan suara di telepon.
Sambil memegangi ponsel dengan hati-hati agar tidak basah—meski Elvan sempat cemberut karena tidak boleh memegangnya sendiri—Rafa hanya bisa mengusap dada melihat lima botol sabun dan sampo yang sudah habis tak bersisa di lantai, dijadikan mainan oleh anaknya minggu ini.
"Mama, Papa jahat!" adu Elvan manja begitu mendengar suara ibunya.
"Its ok, nanti Mama marahin!" terdengar tawa wanita itu di telepon, membuat Rafa makin kesal karena merasa ditertawakan.
Namun, obrolan ibu dan anak itu perlahan mengubah situasi. Ketika Elvan merengek tidak mau sekolah karena ingin langsung masuk SD yang pakai baju merah, bukan baju kotak-kotak TK.
Mama-nya dengan cerdik membujuknya. "Kamu tahu gak, di SD itu gak ada perosotan? Kamu mau emang sayang, sekolah di sana? Nanti di SD kamu fokus menulis dan menghitung, mau?"
Mendengar itu, Elvan langsung berpikir keras. "Gak mau! Aku mau main, pokoknya!"
Ketika Rafa mencoba menimpali tentang uang sekolah, ia langsung didepak oleh keduanya.
"Diam kamu! Kalau gak tahu bujuk anak, diam aja, deh!" semprot wanita itu, yang langsung disetujui Elvan,
"Diam Pa, berisik!" Rafa hanya bisa menghela napas, pasrah menghadapi kekompakan ibu dan anak yang ajaib ini.
"Jadi mau SD, apa TK?" tanya Mamanya lagi.
"SD!" jawab Elvan cepat, yang kemudian ditimpali dengan alasan kocak, "Aku masih kecil, belum dewasa." (mungkin maksudnya TK, tapi Elvan yang polos malah menyebut SD).
Melihat bujukan itu berhasil, Rafa harus mengakui kehebatan wanita di telepon tersebut.
"Pinter. Kalau gitu nurut sama Papa buat sekolah. Ingat pesan Mama, jadi anak baik nanti Mama pulang bawakan hadiah yang kamu mau," lanjut wanita itu, bahkan dengan santai menyebut Rafa "Pala" lagi, yang sempat membuat dada Rafa berdesir aneh.
Setelah memastikan bahwa hadiahnya tidak akan dibagi dua dengan papa-nya, dan mendapat janji canggung dari Rafa bahwa ia juga akan memberi hadiah tambahan jika Elvan bersikap baik, bocah itu akhirnya luluh.
"Ok!" seru Elvan riang.
"Love you, Sayang!" ucap Mama di seberang sana.
"Love you too, Mama!" balas Elvan dengan semangat, siap untuk menyongsong hari pertamanya sekolah, meninggalkan Rafa yang akhirnya bisa bernapas lega di tengah sisa-sisa "perang" pagi itu.
Setelah telepon itu ditutup secara sepihak oleh Mama-nya Elvan tanpa ada pamit atau basa-basi, Rafa hanya bisa mengumpat dalam hati. Baginya, wanita itu benar-benar tak punya tata krama—persis seperti jelangkung yang datang dan pergi sesukanya.
Meski begitu, ia bersyukur karena drama pagi hari untuk berangkat sekolah itu akhirnya selesai juga, walau dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras habis. Elvan yang tadinya mogok, kini jadi penurut dan mau berangkat dengan lancar.
Namun, kepanikan itu harus dibayar mahal oleh Rafa. Waktu sudah terlalu siang untuknya kembali ke rumah atau sekadar mandi. Alhasil, ia terpaksa pergi mengantar Elvan ke sekolah tanpa mandi dan bahkan saking terburu-burunya, dia lupa mengganti baju! Bayangkan saja, ia pergi hanya dengan mengenakan kaos oblong putih pendek yang agak lusuh dan celana pendek selutut—sangat jauh dari kata rapi.
Meski sempat merasa malu, Rafa yang punya tingkat kepercayaan diri tinggi mencoba menghibur diri: “Bukannya orang tampan itu bebas? Yang penting wajahnya tetap ganteng, kan?” pikirnya menghibur diri.
Akhirnya, kegundahan itu sedikit mereda saat ia sudah bisa terduduk santai dan lega di area tunggu sekolah, melihat Elvan telah masuk ke dalam kelas untuk memulai belajarnya.
Namun, kedamaian Rafa tidak bertahan lama. Baru saja ia mendaratkan bokongnya di bangku sekolah, sayup-sayup ia mendengar godaan dari sekumpulan ibu-ibu wali murid yang sedang berkumpul tidak jauh dari sana.
“Hi, hot Papa!”
“Ganteng banget sih, Mas yang di sana!”
“Boleh kenalan sama Tante, gak?”
“Duh, gak kuat. Suami di rumah ini mah lewat!”
Rafa seketika merinding. Bagaimana mungkin dia yang belum mandi dan hanya berkaos oblong ini malah mendapat "pelecehan" verbal seketika? Ia pun mencoba menggeser posisi duduknya karena ibu-ibu tersebut tampak makin mendekat dan genit.
Saat dirasa bangkunya sudah mentok, ia pun buru-buru berdiri.
"Permisi Ibu-ibu, saya mau ngopi dulu!" pamitnya cepat-cepat demi menyelamatkan masa depannya dari kejaran ibu-ibu tersebut.
Sebelum menjauh, Rafa menyempatkan diri mengintip Elvan melalui kaca kelas. Untungnya, sang anak terlihat sangat anteng sedang menggambar di mejanya tanpa membuat masalah apa pun.
Setelah itu, barulah Rafa melangkah menuju warung kopi (warkop) sederhana yang berada tepat di depan gerbang sekolah. Sambil duduk di sana, ia sempat heran, untuk apa ada warkop di depan sekolah dasar? Tidak mungkin anak-anak kecil jajan kopi di sini, kan? Tapi ah, ia tidak peduli, yang penting ia bisa menjauh dari ibu-ibu tadi.
Tiba-tiba, saat sedang mengamati sekeliling, mata Rafa menangkap sosok yang sangat ia kenal baru saja turun dari sebuah mobil yang terparkir di depan sekolah, sambil menggandeng seorang anak laki-laki kecil.
"Alexa? Kenapa dia ada di sini?" gumam Rafa panik. "Bukannya sekolah Cio bukan di sini?"
Panik setengah mati, Rafa langsung berusaha membungkukkan tubuhnya di balik meja warkop agar tidak terlihat oleh Alexa.
Bisa gawat urusannya jika ia ketahuan berada di sana! Pikiran Rafa langsung berkecamuk: “Gak mungkin kan, Cio pindah sekolah di sini? Padahal sengaja gue sekolahin Elvan di sini, supaya tidak satu sekolah sama Cio. Kalau begini caranya, sama aja bohong!”
Dengan frustrasi, ia menjambak rambutnya yang sudah acak-acakan. Ia sama sekali belum siap menghadapi omelan Alexa, apalagi orang tuanya. Untuk memastikan kebenaran dugaannya, Rafa akhirnya memutuskan untuk menelepon Alexa.
Pada panggilan kedua, barulah teleponnya diangkat.
"Hallo Kak, ada apa?" terdengar suara Alexa yang tampak terburu-buru di seberang telepon.
"Kamu di mana?" tanya Rafa langsung, mencoba menahan suaranya agar tidak terdengar panik.
"Ini aku lagi daftarkan sekolah Cio, Kak," jawab Alexa santai.
Jawaban itu sukses membuat dunia Rafa serasa runtuh seketika. "Kenapa pindah sekolah? Kan sebentar lagi anak itu lulus?" cecarnya panik.
"Dia berantem, gak mau sekolah lagi di sana. Aku sama Alex pusing, makanya aku daftar sekolah baru tapi ini kita kesiangan. Bisa-bisanya, Alex menurunkan sifat bar-bar nya ke anak!" keluh Alexa panjang lebar.
"Kan, Bapaknya," balas Rafa, sudah pasrah dengan takdir.
"Ya udah Kak, ini lagi repot Cio mau masuk kelas!" Sebelum sempat Rafa membalas, panggilan tersebut langsung terputus begitu saja.
"Mati gue!" gumam Rafa pasrah.
Ia menyandarkan kepalanya ke meja kayu warkop yang dingin, memijit pelipisnya berkali-kali mencoba meredakan pusing yang mendera kepalanya.
Pagi yang melelahkan ini ternyata belum berakhir, dan kini, dengan statusnya sebagai "Bapak yang hanya berkaosan dan belum mandi", Rafa harus bersiap menghadapi kenyataan bahwa ia akan terus berurusan dengan drama keluarga ini di sekolah yang sama.
##