NovelToon NovelToon
Mate Takdir Sang Werewolf

Mate Takdir Sang Werewolf

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:233
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 2]

Sekuel kedua dari cerita 'Pegasus From Diamond Planet'

"Aroma jiwamu sudah menyatu dengan kegelapanku. Aku akan menjemputmu saat rembulan memerah."
Sebuah mawar hitam misterius di atas meja akademi menghancurkan penyamaran gender White. Gadis berambut putih perak itu mengira ia hanyalah manusia biasa, sampai takdir menyeretnya ke dalam pusaran cinta posesif Ethan, calon Alpha serigala cahaya (Werewolf), dan kerajaan obsesif Aslan Dexter, sang raja iblis (Demon).
Di balik wajah sucinya, ada rahasia mengerikan: White terlahir dari sebuah kristal misterius yang jatuh dari langit, membawa esensi jiwa parasit masa lalu yang di cari oleh seluruh klan imortal.
Saat kutukan darah mulai bangkit dan aliansi antarras terancam pecah, White di hadapkan pada dua pilihan: menyerah pada kegelapan masa lalu, atau bertahan di bawah perlindungan pelukan sang Alpha?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Kegelisahan Ethan

'Apakah... apakah rasanya memang semendebarkan dan segila ini saat kita akan dipertemukan dengan Mate sejati kita?'

Ethan membatin sembari meremas pelan bagian kiri dadanya yang berdenyut hebat. Ia tidak bisa menahan seulas senyuman tipis penuh arti yang kini terukir indah di bibirnya yang menawan.

Sebagai seorang serigala dominan, insting jiwanya tidak akan pernah salah. Setiap pasangan jiwa yang ditakdirkan oleh Dewi Bulan selalu memiliki aroma magis unik yang hanya bisa mengenali secara mutlak oleh pasangannya.

'Pantas saja... sekarang aku tahu dan paham kenapa adik perempuanku tidak ada bosan-bosannya menceritakan tentang sosok Samuel dengan mata berbinar-binar,' pikir Ethan.

Lucas, yang menyadari salah satu tamunya tertinggal sendirian di luar teras, menolehkan kepalanya dengan heran. Ia melihat pemuda berambut biru itu hanya diam mematung sembari tersenyum sendiri, menatap kosong ke dalam lorong rumahnya dengan tatapan yang terkesan aneh.

"Maaf, Tuan. Kenapa Anda hanya diam bergeming di luar dan tidak ikut masuk bersama teman-teman Anda?" tanya Lucas dengan dahi berkerut dalam, mulai merasa curiga dengan tingkah laku Ethan.

Pertanyaan dari Lucas seketika membuat Ethan tersentak buyar dari lamunannya. Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi seluruh kapasitas dadanya dengan aroma sitrus dan mawar yang ia cintai itu. Setelah itu, ia mengembuskannya perlahan untuk menenangkan saraf-saraf werewolf-nya yang menegang hebat.

"Ah, itu... maafkan aku, Tuan Lucas. Saya hanya merasa sedikit takjub dan terkesima saat melihat interior rumah ini. Suasananya mendadak terasa sangat nyaman dan familier di hati saya," dalih Ethan berbohong demi menutupi gejolak batinnya yang membara.

"Anda tidak perlu berlebihan seperti itu, Tuan. Sama sekali tidak ada hal yang mewah dari rumah kayu kecil milik petani seperti ini," sahut Lucas rendah hati disertai kekeh tawa tipis.

"Sebaiknya Anda segera melangkah masuk ke dalam. Saya harus segera mengunci pintu ini kembali karena udara angin malam di luar semakin dingin menusuk."

Begitu Ethan melangkah masuk ke dalam ruang tamu yang beralaskan karpet tebal, ia langsung memutar tubuhnya. Ia menoleh ke arah Lucas dengan tatapan mata yang teramat serius, seolah ingin mengonfirmasi satu hal yang sangat krusial bagi insting serigalanya.

"Maaf, Tuan Lucas... Apakah ada seorang wanita yang tinggal di dalam rumah ini?" tanya Ethan tanpa basa-basi.

Lucas sempat menghentikan pergerakan tangannya sejenak saat hendak memutar anak kunci pintu. Pertanyaan yang dilontarkan pemuda berambut biru itu terdengar sedikit terlalu pribadi dan janggal bagi ukuran seorang tamu asing yang baru saja datang mengetuk pintu rumah. Namun, ia tetap memilih untuk menjawabnya demi kesopanan.

"Ada dua orang wanita yang tinggal di dalam rumah ini. Mereka adalah istri dan anak perempuanku. Memangnya ada alasan apa sampai Anda menanyakan hal tersebut, Tuan Ethan?" tanya Lucas balik.

"Tidak ada hal yang krusial, Tuan Lucas. Saya hanya mengira Anda tinggal sendirian di sini karena atmosfer rumah ini terasa sangat tenang dan damai," jawab Ethan dengan ritme cepat untuk menutupi rasa gugupnya.

Meskipun di dalam hati kecilnya ia sedang bersorak gembira karena dugaannya terbukti seratus persen benar. Pasangan jiwanya... ada di dalam rumah ini.

"Mereka berdua saat ini sudah terlelap tidur di dalam kamar masing-masing sejak beberapa waktu lalu," jelas Lucas sembari memimpin langkah kaki mereka menuju ke arah deretan sofa di ruang tamu.

"Apakah ada jenis minuman yang ingin kalian nikmati terlebih dahulu sebelum beristirahat? Saya bisa membuatkan teh hangat, kopi, atau mungkin segelas jus buah?"

Ketiga pria itu secara serentak memberikan gelengan kepala dengan gestur sopan menolak tawaran tersebut.

"Terima kasih banyak, tidak usah repot-repot menyiapkan hal itu, Tuan Lucas. Sepertinya kami bertiga akan memilih untuk langsung pergi beristirahat saja di kamar atas. Perjalanan hutan yang kami lalui tadi cukup menguras energi fisik, dan besok pagi-pagi sekali kedua teman saya ini harus segera melanjutkan perjalanan jauh menuju ke Kota Vespera," jawab Alan dengan ulasan senyuman sopan khas seorang ksatria.

Lucas memberikan anggukan kepala tanda mengerti. Sejujurnya, ia sendiri pun saat ini sudah merasakan hantaman rasa kantuk yang teramat berat setelah sempat diserang ketegangan di awal ketukan tadi.

"Baiklah kalau memang situasinya seperti itu. Mari berjalan ikut bersamaku, saya akan menunjukkan letak posisi kamar tamu kalian di lantai atas."

Lucas bangkit berdiri dari sofa, memberikan isyarat tangan agar ketiga tamunya berjalan mengekor di belakangnya menaiki undakan tangga kayu tua yang berderit pelan di setiap pijakan, menuju ke arah koridor lantai dua—di mana lembaran takdir baru yang magis sedang menunggu untuk ditemukan di balik pintu kamar yang tertutup.

****

"Kenapa dari tadi kamu terus berjalan mondar-mandir di depan pintu? Bisakah kamu berhenti dan cepat tidur saja?! Aku pusing melihat pergerakanmu. Dan bukannya besok pagi-pagi sekali kamu harus pergi bertolak ke Kota Vespera?"

Alan bersuara dengan nada yang sengaja ditekan serendah mungkin, berusaha keras agar suaranya tidak menembus dinding kayu kamar tamu tersebut.

Pria itu bangkit sedikit dari atas bantal kapuknya, menatap lurus ke arah Ethan dengan sepasang manik mata ungu yang tampak memerah akibat hantaman rasa kantuk yang teramat berat. Suara ketukan langkah kaki Ethan yang beradu konstan dengan permukaan lantai kayu tua rumah itu terasa persis layaknya detak pendulum kuno yang memekakkan telinga di tengah kesunyian malam yang pekat.

Sementara itu, tepat di sudut ruangan yang beralaskan hamparan karpet bulu tebal, Damian Dexter sudah terlebih dahulu menjelajah jauh ke dalam alam mimpinya. Pria berhoodie pink kelinci itu mendengkur halus dengan ritme yang teratur.

Ia tidur dengan posisi tubuh telentang yang terkesan sangat santai dan bebas beban, seolah-olah ia tidak peduli sedikit pun meskipun dunia supernatural di luar sana sedang runtuh berantakan. Kepalanya terbenam nyaman di atas bantal tambahan, dan ia tampak sangat nyenyak beralaskan karpet tebal tersebut tanpa terusik ketegangan di sekitarnya.

Ethan sontak menghentikan pergerakan langkah kakinya seketika dan menolehkan kepalanya tajam ke arah Alan. Ia berjalan mendekat ke sisi ranjang kayu besar yang ditempati oleh Alan, lalu mengempaskan bobot tubuh tegapnya untuk duduk di sana hingga ranjang berderit pelan. Ia mengusap permukaan wajahnya dengan kasar menggunakan telapak tangan, sementara jemarinya bergerak menyisir rambut birunya yang sedikit acak-acakan.

"Bagaimana mungkin aku bisa memejamkan mata dan tertidur dengan kondisi batin yang dilingkupi rasa gelisah sehebat ini, Alan?" bisik Ethan dengan nada suara parau yang penuh penekanan emosi terpendam.

Alan mengerutkan keningnya, mencoba memaksa otaknya yang lelah untuk mencerna pangkal kegelisahan sahabatnya. "Kenapa kamu bisa mendadak segelisah itu, hah? Memangnya apa hal krusial yang sedang kamu khawatirkan saat ini? Apa kamu merasa takut jika pelarianmu ini ketahuan dan berakhir dimarahi habis-habisan oleh Alpha Oliver?"

Ethan memberikan gelengan kepala pelan, kedua belah bahu tingginya merosot lesu ke bawah. Ia menghela napas panjang yang terdengar teramat berat membebani parunya.

"Bukan ketakutan pada Ayah yang membuatku gelisah seperti ini, Alan. Aku... aku bisa merasakan dengan teramat jelas keberadaan Mate sejatiku di dalam rumah ini. Itulah satu-satunya alasan kenapa aku sama sekali tidak bisa memejamkan sepasang mataku sejak tadi. Aku benar-benar merasa penasaran... sebenarnya siapa identitas gadis itu, dan kenapa garis takdir Dewi Bulan membawanya ada di dalam rumah kayu terpencil ini?"

Mendengar pengakuan sakral tersebut, Alan secara instan langsung menarik tubuhnya untuk terduduk tegak di atas ranjang. Seluruh sisa rasa kantuk yang menggelayuti kelopak matanya menguap tanpa bekas dalam sekejap.

"Apa kamu benar-benar merasa yakin seratus persen jika sosok Mate-mu itu berada di dalam bangunan rumah ini?" tanya Alan meyakinkan.

"Iya, aku sangat yakin sekali, tidak ada celah untuk keraguan," tegas Ethan sembari mengepalkan tangan kaunya kuat-kuat di atas permukaan lutut celana kulit pinjamannya. "Bahkan indra penciumanku sudah bisa menangkap keharuman aromanya sejak posisi tubuh kita masih berada jauh di luar teras, saat rumah kayu ini masih terlihat serupa siluet kecil di ufuk ujung jalan setapak ladang."

"Jangan bilang jika sosok yang menjadi Mate-mu itu adalah anak perempuan dari Tuan Lucas? Karena berdasarkan logika, tidak mungkin juga jika status pasangan jiwamu itu adalah sang istri," bisik Alan dengan nada suara yang diliputi oleh rasa sangsi yang besar.

Ethan kembali menggelengkan kepalanya pelan, sepasang manik mata merahnya menerawang menatap lurus ke arah pintu kamar yang terkunci rapat. "Aku sendiri jujur masih belum merasa yakin, Alan. Apa mungkin takdir sejati seorang calon Alpha sepertiku benar-benar jatuh pada anak perempuan Tuan Lucas yang statusnya hanyalah seorang manusia biasa? Karena jujur saja, selama aku melangkah di dalam rumah ini, aku sama sekali tidak merasakan adanya sisa atau aliran darah makhluk immortal sedikit pun mengalir dari tubuh pria paruh baya itu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!