NovelToon NovelToon
Saving My Ex-Husband

Saving My Ex-Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mafia / Penyelamat
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hyacinthus Rainwood

IG: @hyacinthschia

Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.

Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Hari yang Benar-Benar Sial

Setelah pagi yang begitu kacau, Liam berharap sisa harinya di kantor akan berjalan lebih lancar. Namun harapan itu kembali kandas ketika waktu makan siang tiba dan ia menyadari bahwa ia terlalu sibuk dengan rapat-rapat penting sepanjang pagi hingga tidak sempat memikirkan menu makan siangnya sendiri, sebuah tugas yang selama bertahun-tahun selalu diurus dengan sempurna oleh Brooklyn yang selalu memastikan ia tidak pernah melewatkan waktu makan meski di tengah jadwal tersibuk sekalipun.

"Claire," panggil Liam kepada sekretaris pribadinya yang segera masuk ke ruang kerjanya begitu mendengar namanya dipanggil. "Bisakah kau membelikan aku makan siang? Aku tidak sempat memesan apa pun hari ini."

"Tentu, Tuan Whitmore. Ada permintaan khusus?" tanya Claire, mempersiapkan diri untuk mencatat pesanan.

Liam terdiam sejenak, menyadari bahwa ia jarang sekali harus memikirkan sendiri apa yang ingin ia makan, karena Brooklyn selalu tahu persis menu yang cocok untuk suasana hatinya. "Sesuatu yang sederhana saja. Mungkin sandwich."

"Baik, Tuan. Saya akan membelikan beberapa pilihan dari kedai sandwich di seberang gedung."

Sekitar setengah jam kemudian, Claire kembali dengan sebuah kantong kertas berisi dua jenis sandwich—satu sandwich berisi sayuran segar dan daging panggang, serta satu sandwich lagi dengan rasa manis yang terlihat menggugah selera, ditaburi dengan campuran biskuit hancur di bagian atasnya.

Liam, yang sedang terburu-buru menyelesaikan beberapa dokumen penting sebelum rapat berikutnya, langsung mengambil sandwich manis tersebut tanpa memeriksa terlebih dahulu komposisi bahan-bahannya, sebuah kebiasaan ceroboh yang selama ini tidak pernah menjadi masalah karena Brooklyn selalu memastikan tidak ada satu pun makanan yang mengandung kacang—alergi serius yang telah dimiliki Liam sejak kecil—yang pernah tersaji di meja makan mereka.

Baru setelah menggigit sandwich tersebut beberapa kali, Liam mulai merasakan sensasi gatal yang aneh di sekitar bibir dan tenggorokannya. Ia mengerutkan dahi, mencoba mengabaikan sensasi tersebut sambil melanjutkan pekerjaannya. Namun beberapa menit kemudian, sensasi gatal itu berubah menjadi rasa panas dan pembengkakan ringan yang mulai terasa di bibirnya.

"Sial," gumamnya panik, segera meraih ponsel untuk memeriksa kandungan sandwich tersebut melalui kemasan yang masih tersisa. Matanya membelalak ketika menemukan tulisan kecil di bagian bawah kemasan—sandwich manis itu ternyata mengandung selai kacang sebagai salah satu bahan campurannya, tersembunyi di antara lapisan krim dan biskuit yang tidak terlihat jelas dari luar.

Dengan tangan yang mulai gemetar, Liam segera membuka laci mejanya, mencari kotak obat-obatan pribadi yang selalu ia simpan di kantor untuk situasi darurat semacam ini. Ia mengambil tablet antihistamin yang biasa ia konsumsi ketika gejala alerginya kambuh dalam skala ringan, segera menelannya dengan segelas air yang tersedia di mejanya.

Claire, yang kebetulan masuk kembali ke ruangan untuk memberikan beberapa dokumen tambahan, segera menyadari kondisi Liam yang tampak tidak baik. "Tuan Whitmore, apakah Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat sedikit bengkak."

"Aku alergi kacang," jawab Liam dengan suara sedikit serak akibat pembengkakan ringan di tenggorokannya. "Sandwich manis itu ternyata mengandung selai kacang. Aku sudah minum obat antihistamin, seharusnya reaksinya tidak akan semakin parah."

Claire tampak panik, segera menawarkan untuk memanggil bantuan medis, namun Liam menggelengkan kepala, meyakinkan bahwa gejalanya masih dalam skala yang bisa ia tangani sendiri dengan obat yang telah ia konsumsi. Meski demikian, ia terpaksa membatalkan rapat penting yang seharusnya berlangsung siang itu, menghabiskan waktu istirahat tambahan di ruang kerjanya sambil menunggu gejala alerginya mereda sepenuhnya.

Sepanjang sore itu, Liam merasa tubuhnya lemas dan kepalanya sedikit pusing akibat reaksi alergi yang baru saja ia alami, sebuah pengalaman yang mengingatkannya betapa pentingnya kehati-hatian dalam memilih makanan—kehati-hatian yang selama bertahun-tahun selalu dijaga dengan begitu teliti oleh Brooklyn tanpa pernah ia sadari atau hargai sepenuhnya.

...***...

Ketika akhirnya Liam tiba kembali di penthouse malam itu, tubuhnya masih terasa lelah akibat reaksi alergi yang baru saja ia alami, berharap bisa segera beristirahat dengan tenang setelah hari yang begitu melelahkan dan penuh kesialan. Namun begitu ia membuka pintu kamar tidurnya, pemandangan yang menyambutnya membuatnya semakin frustrasi.

Kamar tidur mereka yang biasanya tertata rapi kini dipenuhi puluhan paper bag berwarna-warni dari berbagai butik ternama, tersebar di seluruh penjuru ruangan bersama tumpukan pakaian baru yang belum sempat digantung dengan rapi di lemari. Kotak-kotak sepatu berjajar di sudut ruangan, beberapa gaun mahal tergeletak begitu saja di atas ranjang, menciptakan pemandangan kekacauan yang begitu kontras dengan kerapian yang selalu dijaga Brooklyn selama bertahun-tahun sebelumnya.

"Helena?" panggil Liam, mencoba mencari sosok wanita yang seharusnya berada di tengah kekacauan tersebut.

Helena muncul dari kamar mandi beberapa saat kemudian, mengenakan gaun baru yang tampak belum dilepas label harganya, berputar dengan anggun di hadapan cermin besar kamar tersebut. "Liam! Kau sudah pulang. Bagaimana menurutmu gaun ini? Aku membeli beberapa koleksi baru hari ini dari butik-butik di Fifth Avenue."

Liam menatap kekacauan di sekelilingnya dengan ekspresi lelah, terlalu capai untuk membahas tentang belanja Helena yang tampaknya begitu berlebihan. Namun sebelum ia sempat berkomentar, Helena justru mendekat dan mengamati penampilannya dengan tatapan yang mulai berubah mengkritik.

"Astaga, Liam, kenapa wajahmu terlihat sedikit bengkak seperti itu?" tanya Helena, alisnya terangkat dengan ekspresi tidak menyenangkan. "Dan penampilanmu terlihat begitu berantakan hari ini. Dasimu miring, dan kemejamu terlihat tidak cocok dengan jasmu. Kau seharusnya lebih memperhatikan penampilanmu, Liam. Kau kan seorang eksekutif Whitmore Group, seharusnya selalu terlihat sempurna di depan publik."

Kata-kata kritik itu terasa begitu menyakitkan bagi Liam yang baru saja melalui hari yang begitu melelahkan dan penuh masalah, sebuah kontras yang begitu jelas dengan bagaimana Brooklyn dulu selalu memastikan penampilannya sempurna tanpa pernah ia perlu khawatirkan sedikit pun.

"Alergiku kambuh tadi siang," jawab Liam singkat, terlalu lelah untuk menjelaskan lebih detail tentang insiden sandwich beracun kacang yang telah menghancurkan sebagian besar harinya. "Aku perlu mandi dan istirahat sebentar."

"Baiklah," ucap Helena, meski nada suaranya masih terdengar sedikit kecewa karena Liam tidak memberikan pujian yang ia harapkan atas gaun barunya. "Tapi setelah itu, kau harus melihat semua barang yang kubeli hari ini. Aku yakin kau akan menyukainya."

Liam hanya mengangguk lemah, melangkah menuju kamar mandi tanpa berkomentar lebih jauh, meninggalkan Helena yang kembali sibuk memilah-milah pakaian barunya dengan penuh semangat, sama sekali tidak menyadari atau peduli dengan kondisi fisik dan emosional Liam yang begitu terpuruk setelah hari yang begitu sial.

Di bawah guyuran air hangat shower, Liam berdiri diam untuk waktu yang cukup lama, membiarkan air membasahi tubuhnya yang masih terasa lemas akibat reaksi alergi tadi siang. Pikirannya kembali melayang pada berbagai kejadian sepanjang hari itu—kekacauan pagi tanpa Brooklyn, insiden alergi yang hampir membahayakan dirinya, dan kini kekacauan kamar penuh belanjaan Helena yang sama sekali tidak menunjukkan kepedulian terhadap kondisinya.

Liam bertanya-tanya, apakah kehidupan yang selama ini ia perjuangkan bersama Helena benar-benar merupakan kebahagiaan yang ia bayangkan, ataukah ia hanya terjebak dalam ilusi cinta lama yang telah lama kehilangan esensinya? Sementara ketulusan dan kepedulian yang sesungguhnya telah lama ia sia-siakan bersama wanita yang kini telah pergi dari kehidupannya untuk selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!