NovelToon NovelToon
System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

System Tycoon: Mulai Dari Mendapatkan 1 Juta Perhari

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Gen-1

Seorang pemuda yang memiliki rasa haus akan mimpi menjadi orang kaya, berangkat merantau penuh harapan tinggi.

Tapi, sesampainya dikota, tamparan keras menghantamnya.

Ternyata hidup dikota tidak semudah yang dia bayangkan.

Sampai pada akhirnya sistem datang seperti malaikat yang jatuh dari langit, memberi jalan baru baginya untuk melawan kerasnya hidup didunia orang dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gen-1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Pertemuan Pertama Dengan Pendiri Wirasakti Grup

[System Tycoon Lv2]

[Pendapatan 10 juta/hari]

Nama: Yuda Kusuma

Umur: 21 Tahun

Tinggi: 1.82M

Penampilan: 88>90↑

Fisik: 17>20↑ (rata-rata orang dewasa 10, puncak dunia 20)

Saldo: Rp25.087.269.000

Aset:

•Botanic Villa NavaPark Unit No. 1

•25% Saham Wirasakti Grup

[Inventory: Kartu Cashback 100x, Limit cashback 100 Miliar (Setelah diaktifkan, cashback berlaku selama 24 jam) — Voucher Diskon 99% (1x) — Kartu Izin Akses Pembelian Produk Spesial]

Ketika ia mengonfirmasi penambahan status, sensasi aneh tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.

Yuda sedikit mengernyit.

Tidak ada rasa sakit, tetapi otot-otot tubuhnya terasa seperti sedang mengalami perubahan.

Bahunya terasa lebih padat, lengannya semakin berisi, sementara tubuhnya terasa lebih ringan dan bertenaga.

Ia mengepalkan tangannya.

Kekuatannya kini terasa berbeda, otot-ototnya lebih kencang.

Bahkan gerakan kecil pun terasa lebih responsif.

Perubahan itu tidak berhenti di tubuhnya.

Wajahnya terasa sedikit panas.

Struktur wajahnya perlahan berubah, membuat garis rahang terlihat lebih tegas dan proporsi wajahnya menjadi semakin seimbang.

Perubahannya begitu halus hingga hampir tidak terasa jika tidak diperhatikan.

Beberapa detik kemudian, semuanya kembali normal.

Yuda terdiam.

Ia berjalan mendekati cermin besar di dalam kamar.

Sosok yang terlihat di sana masih dirinya.

Namun, ada sesuatu yang berbeda.

Wajahnya terlihat lebih menarik dibanding sebelumnya.

Bukan perubahan yang membuatnya tampak seperti orang lain, melainkan seperti versi dirinya yang selama ini belum pernah ia lihat.

Yuda menyentuh rahangnya sambil mengamati pantulan di cermin.

Ia kemudian mengangkat lengannya dan memperhatikan bentuk ototnya.

Tidak berlebihan, tetapi jelas lebih terbentuk.

Pada saat dia sedang mengamati perubahan tubuhnya, suara telepon berdering.

Ia melirik layar hpnya, "Bos?"

Lalu ia mengangkatnya, "Halo bos, ada apa?"

"... Kau bertanya ada apa? Ini hari senin, kenapa kamu ga berangkat kerja." Terdengar suara pria dari balik telepon.

Yuda kemudian teringat, kalau dia masih harus bekerja.

Namun hari ini sibuk, jadi ia meminta izin libur 1 hari dengan alasan ada urusan penting.

Bos nya ketika mendengar itu tidak melanjutkannya lebih jauh dan mengizinkannya.

Karena kinerja Yuda memang yang terbaik, jadi Bos itu memberi perlakuan sedikit spesial.

Seusai meminta izin libur, ia menutup teleponnya.

Memikirkan pekerjaan sebagai kurir, ia menggelengkan kepalanya sedikit, "Sepertinya aku harus pindah jasa menjadi kurir instan, lebih banyak waktu luang juga jadinya."

Bukannya ingin keluar, ia memilih pindah jasa, sebab menjadi kurir menurutnya menarik bisa berkeliling kota.

Bisa saja ia bertemu sengan kejadian lucu atau unik, atau juga bertemu wanita kesepian.

Memikirkan wanita kesepian, tanpa sadar ia mengangkat sudut mulutnya lebar-lebar.

...----------------...

Sementara itu di sisi lain.

Di ruang rapat perusahaan Wirasakti Grup.

Beberapa orang duduk di kursi rapat masing-masing.

Wajah mereka terlihat serius dan ada sedikit kekhawatiran.

Duduk di kursi pemimpin, seorang wanita berusia sekitar 20an mengenakan setelan blazer hitam yang dipadukan dengan kemeja putih sederhana.

Rambut hitamnya ditata rapi, sementara beberapa helai rambut jatuh lembut di sisi wajahnya.

Penampilannya terlihat elegan dan profesional, tanpa aksesori yang berlebihan.

Tatapannya tenang saat menyapu seluruh ruangan, tetapi suasana serius yang terpancar darinya membuat beberapa orang di meja rapat duduk lebih tegak.

""Pemegang saham kedua yang baru akan datang hari ini, Jam 12 siang nanti."

Suara wanita itu memecahkan keheningan ruang rapat.

Beberapa orang saling pandang.

"Jadi dia benar-benar akan datang?"

"Begitulah informasi yang kami terima."

"Siapa sebenarnya orang itu?" tanya salah seorang pria. "Usianya baru dua puluh satu tahun, tapi tiba-tiba memiliki dua puluh lima persen saham perusahaan."

"Justru itu yang membuat saya heran," sahut pria lain. "Dengan kepemilikan sebesar itu, seharusnya kita sudah pernah mendengar namanya."

Wanita di ujung meja membuka sebuah berkas di hadapannya.

"Namanya Yuda Kusuma. Tidak banyak informasi yang bisa kita dapatkan mengenai dirinya."

"Dan dia membeli saham itu dari pemegang saham lama, kalian tahu sendiri siapa itu..."

"Benar."

Ruangan kembali hening.

Semua orang yang berada di sana memahami siapa yang dimaksud.

Pemegang saham kedua lama adalah sahabat pendiri perusahaan Wirasakti Grup, atau bisa dikatakan dia itu salah satu pendiri perusahaan.

Salah seorang eksekutif akhirnya bersandar di kursinya.

"Kalau begitu, hari ini kita bisa menanyakannya langsung."

Wanita itu mengangguk.

"Ya, itu juga yang aku pikirkan, dia akan tiba pukul dua belas. Pastikan semuanya sudah siap sebelum dia datang." Usai mengatakan itu, tatapannya kembali menyapu semua orang.

"Kita akan menyambut kedatangannya dan melihat seperti apa dia. semoga saja bukan orang keras kepala." lanjutnya dengan nada serius.

Semua orang di ruang rapat mengangguk serempak.

Beberapa menit kemudian, rapat darurat pembahasan pemegang saham baru selesai.

Semua orang di ruangan rapat pergi satu-persatu, tak lama kemudian hanya tersisa wanita di kursi pemimpin.

Wajah cantiknya menunjukkan kekhawatiran akan sikap pemegang saham baru, ia menghela nafas pelan.

Saat sedang melamun, pintu ruang rapat terbuka perlahan.

Sosok pria tua masuk ke dalam ruangan. Usianya telah melewati tujuh puluh tahun, tetapi langkahnya masih tegap.

Ia mengenakan setelan jas berwarna biru tua dengan kemeja putih dan dasi gelap.

Rambutnya yang telah dipenuhi uban ditata rapi, sementara wajahnya menunjukkan ketegasan seorang pria yang telah puluhan tahun berada di dunia bisnis.

Tatapannya langsung tertuju kepada wanita yang masih duduk di kursi pemimpin.

"Kakek?" Wanita itu segera menyadari kedatangannya lalu berdiri dari kursinya.

Pria tua itu mengangguk pelan sebelum berjalan mendekat.

"Lisa, aku dengar pemegang saham baru itu akan datang hari ini."

Wanita yang dipanggil Lisa mengangguk serius, "Ya kakek, katanya dia akan datang jam 12 siang."

"Lalu, ada apa kakek datang ke perusahaan?"

Lisa tersenyum manis menghampiri pria tua itu lalu memegang lengannya dengan ekspresi penasaran.

Di depan kakeknya, sikap dinginnya mencair seketika, berubah menjadi manja.

Pria tua itu menggelengkan kepalanya sedikit melihat tingkah cucunya, "Ada apa? Apa cucuku melarangku datang ke Perusahaan yang ku didirikan?"

Raut wajah Lisa berubah bingung, "Hah? Bagaimana mungkin kek, aku kan cuman penasaran..."

"Sikapmu ini... Tidak terlihat seperti CEO.."

Lisa mengerucutkan bibirnya. "Memangnya aku harus bersikap serius terus di depan Kakek?"

Sang kakek terkekeh. "Tidak perlu. Kalau di depanku, kau tetap cucuku."

Lisa tersenyum kecil, lalu kembali bertanya. "Jadi sebenarnya Kakek datang karena pemegang saham baru itu?"

"Benar." Kakeknya berjalan menuju salah satu kursi dan duduk dengan tenang.

"Aku sudah mendengar kabarnya sejak beberapa waktu lalu. Awalnya aku memang berencana membeli saham itu."

Lisa mengangguk.

Ia mengetahui rencana tersebut.

Jika 25% saham itu kembali ke tangan keluarganya, kepemilikan mereka di Wirasakti Grup akan semakin kuat.

"Kalau begitu, Kakek kecewa karena saham itu malah dijual kepada orang lain?"

"Kecewa?"

Pria tua itu menggeleng sambil tersenyum tipis.

"Tidak. Sahabatku sudah memegang saham itu selama puluhan tahun. Kalau dia memutuskan menjualnya kepada orang lain, pasti ada alasannya."

Lisa terdiam.

"Yang membuatku penasaran hanya satu."

"Apa?"

"Kenapa Yuda Kusuma?"

Tatapan sang kakek berubah serius. "Dia memilih menjualnya kepada seorang pemuda berusia dua puluh satu tahun yang bahkan tidak pernah kita dengar sebelumnya."

Lisa mengangguk pelan. "Itu juga yang ingin kuketahui."

"Karena itu aku datang." Kakeknya melirik jam tangannya.

"Daripada terus menebak-nebak, lebih baik kita tanyakan langsung kepadanya saat dia datang nanti."

...----------------...

Beberapa waktu pun berlalu.

Sementara itu, di Botanic Villa NavaPark, Yuda sudah selesai bersiap.

Setelan jas Armani berwarna biru muda yang baru dibelinya kini melekat rapi di tubuhnya.

Setelah perubahan status sebelumnya, pakaian tersebut terasa semakin cocok dengannya.

Penampilannya terlihat jauh lebih berkelas dibanding biasanya.

Yuda melirik jam tangannya menunjukkan pukul 11:25.

Lalu mengambil kunci motornya.

Bukan kunci mobil mewah.

Melainkan kunci Honda Beat miliknya.

Selama bertahun-tahun ia terbiasa bepergian menggunakan motor.

Rasanya lebih praktis dan sudah menjadi kebiasaan baginya.

Lagipula, mobil-mobil yang baru dibelinya masih dalam proses pengantaran.

Kalau sudah sampai nanti, tentu berbeda cerita.

Beberapa saat kemudian, suara mesin motor terdengar dari area depan vila.

Seorang petugas keamanan yang sedang berjaga sempat menoleh.

Tatapannya langsung tertuju kepada Yuda yang keluar dari area vila dengan mengenakan setelan jas Armani dan mengendarai Honda Beat.

Petugas itu terdiam beberapa detik.

Pemandangan tersebut benar-benar terasa kontras.

Pemilik vila mewah dengan setelan Armani, tetapi pergi menggunakan Honda Beat.

Yuda sendiri tidak terlalu memikirkannya.

Ia melambaikan tangan menyapa sopan kepada petugas sebelum memacu motornya meninggalkan kompleks.

Sisi lain..

Pukul 12 kurang beberapa menit.

Di depan gedung utama Wirasakti Grup, beberapa orang telah berdiri menunggu.

Lisa dan kakeknya berada di bagian depan, ditemani beberapa petinggi perusahaan.

Mereka sengaja menunggu kedatangan pemegang saham baru secara langsung.

Semua orang memperkirakan Yuda akan datang menggunakan mobil.

Lagipula, seseorang yang baru saja memiliki dua puluh lima persen saham perusahaan senilai 38 Triliun tentu tidak mungkin datang sembarangan.

Namun beberapa menit kemudian, suara mesin motor terdengar dari kejauhan.

Sebuah Honda Beat perlahan mendekati pintu utama gedung.

Beberapa orang yang berdiri di sana spontan menoleh.

Motor tersebut berhenti tidak jauh dari mereka.

Seorang pria turun dari atasnya.

Ia mengenakan setelan jas Armani yang terlihat sangat rapi, kemudian melepas helm dan merapikan rambutnya.

Beberapa orang langsung terdiam.

"......"

Tatapan mereka berpindah dari setelan jas mahal yang dikenakan pria itu, kemudian turun ke Honda Beat di sampingnya.

Kontrasnya terlalu jelas.

"Siapa itu?"

"Entahlah."

Lisa hanya melirik sekilas sebelum kembali melihat ke arah jalan.

Mungkin hanya seseorang yang kebetulan datang ke gedung mereka.

Namun pria itu justru berjalan ke arah mereka.

Semakin dekat, wajahnya mulai terlihat jelas.

Lisa perlahan mengerutkan kening.

Entah kenapa, wajah pria tersebut terasa sedikit familiar.

Muda.

Tampan dan Tampak berwibawa.

Dan... sepertinya ia pernah melihatnya sebelumnya.

Pria itu berhenti beberapa langkah di hadapan mereka.

"Selamat siang."

Lisa terdiam sesaat.

Tatapannya berpindah dari wajah pria itu ke jas yang dikenakannya, lalu kembali ke wajahnya.

"Anda..."

Pria itu tersenyum kecil. "Saya Yuda Kusuma."

Mata Lisa sedikit melebar.

Begitu pula beberapa orang di belakangnya.

Pemuda yang selama ini mereka bicarakan ternyata datang dengan Honda Beat.

Kakeknya yang sejak tadi hanya mengamat tersenyum tipis.

Pemuda itu terlihat jauh lebih muda dari yang dibayangkannya, dan cara kedatangannya membuatnya sedikit diluar dugaannya.

Namun tidak ada keraguan ataupun rasa canggung ketika berhadapan dengan orang seperti mereka. 'Menarik'

"Maaf membuat kalian menunggu." Yuda membungkuk sedikit.

Lisa segera kembali memasang ekspresi profesional.

"Tidak lama," jawab Lisa.

Di sampingnya, sang kakek masih memperhatikan Yuda dalam diam.

Setelan Armani, sikap tenang, dan sebuah Honda Beat.

Kombinasi yang cukup menarik.

Akhirnya pria tua itu tersenyum tipis. "Jadi, kau Yuda Kusuma?"

Yuda mengalihkan pandangannya kepadanya. "Benar."

"Perkenalkan, nama saya Hendra Wirasakti, pendiri perusahaan Wiraswasta Grup." Pria tua itu tersenyum mengulurkan tangannya dengan sopan.

Ia menekankan kata pendiri untuk mencoba memberi sedikit tekanan ke Yuda.

Bab Berakhir.

1
Gege Mas
uwaaasyeekk
Gege Mas
luncurkan 10k katanya thor...gassa...
Gege Mas
yaaah masih kelas bsd...pikir otor beli rumahnya mc di pik 2 yang ada private jetty buat naruh kapal pesiar mini..baruu howrang kayah rayah..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!