Lula, bocah 5 tahun yang hidup luntang-lantung di kerasnya jalanan Jakarta, mendadak jadi putri bungsu kesayangan keluarga konglomerat Ayodhya setelah kekuatan supernya menyelamatkan nyawa sang istri CEO. Kini, dengan kemampuannya berbicara dengan hewan dan melihat kabut nasib buruk, Lula bukan cuma jadi jimat penyelamat Grup Lentera, tapi juga pusat dunia bagi empat kakak laki-lakinya yang kelewat protektif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Wajahnya terlihat sangat menyeramkan dengan tatapan mata yang tajam seperti elang.
"Aku yang melemparnya, kenapa? Kau mau protes, Babi Gendut?" tantang Dewa dingin.
Ketiga anak SD itu langsung pucat pasi melihat siapa yang datang.
Semua anak di komplek ini tahu kalau Dewa Ayodhya adalah berandalan sekolah yang sering berkelahi.
"K-Kak Dewa," gagap anak kurus itu ketakutan.
Dewa berhenti tepat di depan anak gendut yang tadi ingin mendorong Lula.
"Berani sekali tangan kotormu mencoba menyentuh adikku," desis Dewa dengan nada mengancam.
"Kalau kau sampai menyentuhnya seujung jari saja, kupatahkan tanganmu sekarang juga."
Anak gendut itu gemetar hebat sampai hampir mengompol di celana.
"M-maaf Kak Dewa, kami cuma bercanda," elaknya dengan suara bergetar.
Dewa menendang roda sepeda lipat anak itu sampai sepedanya jatuh ke rumput.
"Pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran dan membuang kalian ke kolam taman."
"Dan ingat, kalau aku melihat kalian mengganggunya lagi, kalian berurusan denganku."
Ketiga anak itu langsung mengambil sepeda mereka dan berlari kabur terbirit-birit.
Bahkan anak gendut itu sampai tersandung batu dan jatuh tersungkur.
Lutut kirinya bergesekan dengan aspal jalanan hingga berdarah persis seperti ramalan Lula.
"Hiks, lututku berdarah," tangis anak gendut itu sambil tertatih-tatih menjauh.
Lula menatap kejadian itu dengan mulut sedikit terbuka.
Ramalannya terbukti lagi.
Dewa menghela nafas kasar dan berbalik menatap Lula.
Wajah garangnya seketika berubah menjadi sedikit lebih canggung.
"Kau ini bodoh ya? Kenapa cuma diam saja saat diganggu orang?" omel Dewa ketus.
"Panggil aku atau teriak minta tolong kek, jangan bertingkah seperti pengecut."
Lula menatap Dewa dengan mata bulatnya lalu tersenyum sangat lebar.
Dia tidak peduli dengan omelan itu karena dia tahu Dewa baru saja melindunginya.
"Terima kasih Kak Dewa sudah menolong Lula," ucap Lula riang.
Dewa membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan telinganya yang memerah.
"Aku tidak menolongmu, aku cuma tidak suka melihat ada anak cengeng di komplek ini," bantahnya gengsi.
"Kebetulan aku baru pulang dari sekolah dan lewat sini."
Lula tertawa pelan.
"Tapi seragam Kak Dewa basah karena keringat, Kakak pasti lari dari rumah ke sini ya?" tebak Lula polos.
Dewa tersentak kaget.
Dia memang sengaja berlari menyusul dari rumah karena khawatir Cakra tidak bisa menjaga Lula dengan benar.
Tapi dia tidak mau mengakuinya di depan anak berumur lima tahun ini.
"S-sok tahu kamu, ini keringat karena panas matahari," elak Dewa salah tingkah.
Tiba-tiba Cakra berlari menghampiri mereka dengan wajah panik.
Cakra baru saja mematikan panggilan teleponnya dan melihat Dewa berdiri di dekat ayunan.
"Dewa? Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Cakra bingung.
Dewa menatap kakaknya itu dengan tatapan membunuh yang sangat tajam.
Brak!
Dewa memukul lengan Cakra dengan cukup keras membuat kakaknya mengaduh kesakitan.
"Kakak macam apa kau ini? Meninggalkan anak umur lima tahun sendirian di ayunan," bentak Dewa marah.
Cakra mengusap lengannya sambil meringis.
"Aku cuma angkat telepon sebentar, lagian ini kan di dalam komplek."
"Tadi ada tiga bocah nakal yang hampir memukulnya tahu tidak!" marah Dewa lagi.
"Kalau aku terlambat datang semenit saja, dia pasti sudah menangis."
Mata Cakra membelalak kaget mendengar cerita itu.
Dia langsung berjongkok di depan Lula dan memeriksa seluruh tubuh adiknya.
"Lula tidak apa-apa? Ada yang luka? Siapa yang berani mengganggumu?" berondong Cakra panik dan merasa bersalah.
Lula menggelengkan kepalanya pelan sambil menepuk pundak Cakra.
"Lula tidak apa-apa Kak, tadi Kak Dewa jadi pahlawan dan melempar botol ke orang jahat itu."
Cakra bernafas lega lalu menatap Dewa dengan senyum menggoda.
"Wah, ternyata si berandal kita ini bisa jadi kakak yang sangat protektif ya," goda Cakra.
"Diam kau cerewet, mulai sekarang aku yang akan mengawal dia kalau main keluar."
Dewa menyilangkan tangannya di dada dengan angkuh.
"Kau terlalu teledor, tidak bisa diandalkan sama sekali."
Cakra tidak marah, dia malah merangkul pundak adiknya itu sambil tertawa.
"Baiklah Pak Bos, ayo kita pulang sekarang, hari sudah semakin sore."
Lula turun dari ayunan dan berjalan di tengah-tengah kedua kakaknya.
Cakra menggandeng tangan kanan Lula dengan riang sambil menceritakan lelucon lucu.
Sedangkan Dewa berjalan di sebelah kiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
Sesekali Dewa melirik ke arah Lula untuk memastikan anak itu tidak tersandung batu.
Lula merasa sangat aman dan disayangi.
Dia tidak peduli lagi dengan ucapan anak-anak nakal tadi.
Di tangan kanan dia punya kakak yang ceria dan penuh tawa.
Di tangan kiri dia punya pelindung galak yang tidak akan membiarkan siapapun melukainya.
Keluarga Ayodhya benar-benar rumah yang sempurna untuknya.
Namun di saat kebahagiaan itu sedang mekar di hati Lula, bahaya sesungguhnya baru saja mulai bergerak.
Di jalan pusat kota, mobil hitam milik Adrian sedang melaju dengan kecepatan sedang.
Sopir pribadi keluarga Ayodhya tidak menyadari ada sebuah truk besar yang sengaja mengikuti mereka dari belakang.
Sopir itu menginjak pedal rem saat mobil di depan mereka melambat.
Tapi entah kenapa, pedal rem itu terasa sangat ringan dan blong.
Kabel rem mobil mewah itu sudah dipotong dengan sangat rapi oleh seseorang sebelum Adrian berangkat dari kantor.
"Tuan Adrian, rem kita blong!" teriak sopir itu dengan nada panik yang luar biasa.
Adrian yang sedang membaca dokumen di kursi belakang langsung mendongak dengan wajah terkejut.
Di depannya, deretan mobil sedang berhenti karena lampu merah.
Dan di belakangnya, truk besar itu bukannya melambat malah menambah kecepatannya untuk menabrak mereka.