NovelToon NovelToon
Nusantara Pysco

Nusantara Pysco

Status: tamat
Genre:Trauma masa lalu / Sci-Fi / Time Travel / Tamat
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Mr. Rei

Reiki Shield Eistein hanyalah anak SMA biasa yang pindah ke desa terpencil bersama pamannya. Hidupnya membosankan—sekolah, teman, rutinitas—sampai badai datang dan listrik di seluruh desa padam dalam sekejap. Bukan karena petir. Tapi karena Reiki. Tanpa sadar, ia menyerap energi listrik seluruh desa, dan matanya bersinar biru untuk pertama kalinya.

Di tengah kekacauan itu, ia bertemu Hime Hafitis—gadis misterius dengan perangkat canggih yang tiba-tiba muncul di desa dan menyewanya sebagai pemandu lokal. Hime membayar mahal, tapi tidak pernah menjelaskan apa yang sebenarnya ia cari. Semakin lama mereka bersama, semakin jelas bahwa pertemuan mereka bukanlah kebetulan. Dan semakin kuat kekuatan Reiki bangkit, semakin banyak perhatian yang tertarik—termasuk organisasi psikis yang dipimpin oleh Hubble Telesta, seorang pemimpin yang masih dihantui trauma masa lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Rei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 - Pemandu Bayaran

# Bab 1 — Pemandu Bayaran

**POV: Reiki**

---

Hari itu panas. Bukan panas biasa—panas yang membuat aspal di depan sekolah terlihat seperti cermin cair, dan kipas angin di kelas hanya berfungsi sebagai pengaduk udara panas. Aku duduk di bangku paling belakang, dagu bertumpu di tangan, mata setengah terpejam. Pak Guru sedang menjelaskan sesuatu tentang rumus fisika di papan tulis. Atau mungkin matematika. Aku sudah tidak peduli sejak menit kelima.

Desa ini kecil. Terlalu kecil. Hanya ada satu SMA, satu pasar, satu balai desa, dan satu warung kopi yang buka sampai tengah malam. Kalau kau berjalan dari ujung desa ke ujung lainnya, kau hanya butuh waktu dua puluh menit. Aku sudah tinggal di sini selama beberapa bulan sejak paman memutuskan kami harus pindah dari kota. Alasannya? "Biar lebih tenang," katanya. Tapi aku tahu itu alasan. Paman selalu punya alasan yang terdengar masuk akal, tapi sebenarnya ia hanya mudah percaya pada rumor.

Lonceng istirahat berbunyi. Suara kursi digeser, tawa, dan langkah kaki memenuhi ruangan. Aku tetap duduk.

"Hei, Rei! Ikut ke kantin?" Ival muncul di sampingku, wajahnya sudah bersimbah keringat padahal kami belum melakukan apa-apa. Ival adalah tipe orang yang selalu bersemangat untuk hal-hal yang tidak penting. Ia bisa membuat lari keliling lapangan terasa seperti petualangan epik.

"Enggak, males."

"Kamu tuh males terus. Ayo lah, katanya hari ini ada gorengan baru."

Aku menggeleng. Ival mendengus, lalu pergi bergabung dengan teman-temannya. Dari jendela, aku bisa melihat lapangan sekolah yang kosong. Rumputnya kering di beberapa bagian. Pagar besi di sekelilingnya sudah berkarat. Di luar pagar, sawah terbentang hijau sampai ke kaki bukit. Pemandangan yang sama setiap hari.

Aku menghela napas. Hidup di desa ini seperti memutar ulang lagu yang sama setiap hari. Bangun, sekolah, pulang, makan, tidur. Tidak ada yang pernah berubah. Tidak ada yang pernah terjadi.

Sampai hari itu.

---

Aku tidak sengaja melihatnya dari jendela kelas. Seorang gadis berjalan melintasi halaman sekolah. Ia kecil—mungkin tingginya hanya sebahu anak SMA pada umumnya—tapi penampilannya membuat siapa pun akan menoleh dua kali. Rambut hitam panjang tergerai. Kacamata tipis di mata kanannya, bukan kiri, dengan bingkai perak yang memantulkan cahaya. Pakaiannya aneh: semacam mantel panjang berwarna krem dengan sabuk logam di pinggang, seperti sesuatu yang keluar dari film fiksi ilmiah.

Ia berhenti di tengah halaman, mengeluarkan perangkat kecil dari sakunya, dan menekan beberapa tombol. Matanya—aku bisa melihatnya dari jarak ini—menyipit, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain.

"Eh, siapa tuh?" suara Niki dari sampingku membuatku tersadar. Niki—yang dijuluki Raja Nolep—jarang sekali memperhatikan apa pun selain ponselnya. Tapi sekarang ia menatap ke luar jendela dengan mata terbelalak.

"Gak tahu," jawabku. "Baru."

"Baru? Di desa ini? Yang baru cuma sapi milik Pak RT kemarin."

Aku tidak menjawab. Mataku masih tertuju pada gadis itu. Ia memasukkan perangkatnya ke saku, lalu menatap lurus ke arah gedung sekolah. Sejenak, aku bersumpah ia menatap tepat ke arahku. Tapi itu tidak mungkin. Jaraknya terlalu jauh.

Bel masuk berbunyi. Aku kembali ke kursiku, tapi pikiranku masih tertinggal di halaman.

---

Pulang sekolah, aku berjalan sendirian seperti biasa. Rumah pamanku hanya sekitar lima ratus meter dari sekolah, jadi aku tidak perlu naik angkutan umum. Jalan setapak di samping sawah adalah jalur favoritku. Sepi, teduh, dan tidak ada yang mengganggu.

Tapi hari ini, jalur itu tidak sepi.

Gadis itu berdiri di pinggir sawah, masih dengan mantel kremnya yang tidak cocok dengan cuaca panas. Ia sedang berbicara dengan seorang ibu-ibu yang sedang menjemur padi. Atau lebih tepatnya, ibu-ibu itu yang berbicara—gadis itu hanya mengangguk-angguk sambil mencatat sesuatu di buku kecil.

Aku memperlambat langkah, penasaran. Siapa orang ini? Dari mana asalnya? Dan kenapa ia terlihat seperti tersesat di waktu yang salah?

Gadis itu menutup bukunya, menunduk sopan pada ibu-ibu itu, lalu berbalik. Matanya bertemu dengan mataku.

"Kamu!"

Aku berhenti. "Saya?"

Ia berjalan mendekat dengan langkah cepat. Dari dekat, aku bisa melihat detail yang tidak terlihat dari jendela tadi: ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya, seperti seseorang yang kurang tidur selama berminggu-minggu. Tapi matanya—biru terang, tajam, seperti sedang memindai seluruh tubuhku dalam hitungan detik.

"Kamu murid SMA sini?" tanyanya. Suaranya datar, tanpa basa-basi.

"Iya."

"Bagus. Aku butuh pemandu lokal. Kamu mau?"

Aku mengerjapkan mata. "Maaf, apa?"

"Aku butuh seseorang yang kenal daerah ini. Jalan-jalan, tempat-tempat tertentu, sejarah desa. Aku bayar." Ia mengeluarkan dompet kecil dari sakunya dan menunjukkan beberapa lembar uang. Jumlah yang cukup besar untuk ukuran anak SMA desa.

Aku menatap uang itu, lalu menatap wajahnya. Ia tidak bercanda.

"Untuk apa?" tanyaku curiga.

"Penelitian."

"Penelitian apa?"

"Penelitian." Ia menekankan kata itu, seolah itu sudah cukup sebagai jawaban.

Aku diam sejenak. Pikiranku bekerja cepat. Orang asing misterius datang ke desa terpencil, menawari aku uang untuk menjadi pemandu, dan tidak mau menjelaskan tujuannya. Ini terdengar seperti awal dari cerita horor.

Tapi aku butuh uang. Paman memberiku uang jajan pas-pasan, dan ada game yang ingin kubeli.

"Berapa?" tanyaku akhirnya.

"Kita bicarakan nanti. Yang penting kamu mau."

Aku mengangguk pelan. "Oke. Tapi aku harus tahu nama kamu dulu."

Gadis itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak cukup hangat untuk disebut ramah, tapi tidak cukup dingin untuk disebut jahat. "Hime. Hime Hafitis. Kamu?"

"Reiki. Reiki Shield Eistein."

Untuk sesaat, sesuatu melintas di matanya. Seperti kilatan pengakuan yang cepat padam. Ia menatapku sedikit lebih lama dari yang diperlukan, lalu mengalihkan pandangan.

"Reiki," ulangnya, seperti sedang mencicipi kata itu. "Nama yang menarik."

"Keluargaku suka hal-hal yang berbau Einstein," jawabku setengah bercanda.

Hime tidak tertawa. Ia malah mengeluarkan perangkat kecil yang tadi ia gunakan di halaman sekolah, menekan beberapa tombol, lalu menyimpannya kembali. "Baik. Besok pagi. Aku tunggu di depan balai desa. Jangan terlambat."

Ia berbalik dan pergi sebelum sempat kujawab. Aku berdiri di pinggir sawah, menatap punggungnya yang menjauh, dengan perasaan aneh yang tidak bisa kujelaskan.

Ada sesuatu tentang gadis itu. Sesuatu yang familiar. Tapi aku tidak tahu apa.

---

Malam harinya, aku duduk di kamar, menatap langit-langit. Rumah pamanku kecil—hanya dua kamar, satu ruang tamu, dan dapur. Paman sedang di luar, mungkin di warung kopi seperti biasa. Sepi.

Aku memikirkan Hime. Penampilannya yang aneh. Caranya berbicara yang langsung dan tanpa basa-basi. Perangkat misterius yang ia bawa. Dan cara ia menatapku—seperti aku adalah sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya, tapi tidak bisa ia ingat.

Aku menggelengkan kepala. *Sudahlah\, mungkin aku terlalu banyak berpikir. Ini cuma pekerjaan sampingan. Dapat uang\, selesai.*

Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, ada firasat bahwa ini bukan sekadar pekerjaan sampingan. Bahwa pertemuanku dengan Hime Hafitis adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah segalanya.

Aku tidak tahu seberapa benar firasat itu.

---

Pagi berikutnya, aku tiba di balai desa pukul tujuh. Hime sudah ada di sana, duduk di bangku taman sambil memegang secangkir kopi. Ia masih memakai mantel krem yang sama. Apa ia tidak punya baju lain?

"Tepat waktu," katanya tanpa menatapku. "Bagus."

"Aku selalu tepat waktu," jawabku. "Jadi, kita mau ke mana?"

Hime berdiri, mengambil ransel kecil di sampingnya, dan mulai berjalan. "Tunjukkan aku desa ini. Semua jalan, semua sudut, semua tempat yang menurutmu penting."

"Semua?"

"Semua."

Kami berjalan beriringan. Aku menunjuk ke berbagai tempat—sekolah, pasar, balai desa, masjid, lapangan, sawah-sawah di pinggiran. Hime mendengarkan dengan saksama, sesekali mencatat sesuatu di buku kecilnya. Kadang ia mengeluarkan perangkatnya dan menekan beberapa tombol, seperti sedang merekam sesuatu yang tidak bisa ditangkap mata biasa.

"Di sana apa?" tanyanya, menunjuk ke sebuah bukit di kejauhan.

"Itu Bukit Karang. Konon katanya dulu ada pertempuran di sana. Tapi sudah lama sekali. Sekarang cuma semak belukar."

"Pertempuran?"

"Aku tidak tahu detailnya. Hanya cerita dari kakek-kakek di desa."

Hime mengangguk, mencatat sesuatu. "Kita ke sana nanti."

"Ke bukit? Sekarang?"

"Nanti. Sekarang lanjut."

Aku mengangkat bahu. *Terserah lah. Yang penting dibayar.*

Kami terus berjalan. Hime jarang bicara, kecuali untuk bertanya arah atau menunjuk sesuatu. Tapi aku bisa merasakan matanya yang terus bergerak, seperti sedang memetakan setiap detail desa ini ke dalam pikirannya. Atau ke dalam perangkatnya.

Saat kami melewati sawah di pinggir desa, Hime tiba-tiba berhenti. Ia mengeluarkan perangkatnya, menekan tombol, dan diam beberapa saat. Wajahnya berubah serius.

"Ada apa?" tanyaku.

"Tidak ada." Ia memasukkan perangkatnya kembali. "Lanjut."

Tapi aku melihat tangannya gemetar sedikit saat menyimpan perangkat itu. Dan untuk pertama kalinya sejak bertemu, aku melihat ekspresi di wajahnya yang tidak bisa ia sembunyikan: kebingungan.

---

Sore harinya, kami duduk di sebuah warung kopi dekat pasar. Hime memesan teh, aku memesan es jeruk. Kami duduk berhadapan dalam diam.

"Jadi," aku memulai, "penelitianmu tentang apa sebenarnya?"

Hime menatapku lama. "Tentang energi."

"Energi?"

"Energi yang tidak bisa dijelaskan oleh sains biasa. Sesuatu yang hanya muncul di tempat-tempat tertentu. Di waktu-waktu tertentu."

Aku mengerutkan dahi. "Seperti apa?"

"Seperti..." Hime berhenti, seolah mencari kata yang tepat. "Seperti gelombang yang tidak seharusnya ada. Seperti jejak kaki di pasir yang seharusnya tidak pernah diinjak."

"Kedengarannya seperti cerita hantu."

Hime tersenyum tipis. "Mungkin. Tapi hantu tidak perlu dicari selama bertahun-tahun."

Aku ingin bertanya lebih lanjut, tapi sesuatu dalam nada bicaranya membuatku berhenti. Ada kesedihan di sana. Kesedihan yang dalam dan tua, seperti luka yang tidak pernah sembuh.

Kami diam lagi. Es jerukku mulai mencair.

"Kau tahu," kata Hime tiba-tiba, "ada seseorang yang pernah kukenal. Ia juga punya nama yang mirip denganmu."

"Mirip?"

"Bukan nama. Tapi... getarannya." Ia menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau mengingatkanku padanya."

Aku tidak tahu harus menjawab apa. "Semoga itu bukan hal yang buruk."

Hime tertawa kecil. Tawa yang pahit. "Tidak. Bukan hal yang buruk. Hanya... rumit."

Ia meneguk tehnya, lalu berdiri. "Cukup untuk hari ini. Besok kita lanjut ke bukit."

"Aku dibayar kapan?"

Hime mengeluarkan amplop dari sakunya dan meletakkannya di meja. "Untuk hari ini. Besok bonus kalau kau tidak banyak bertanya."

Aku mengambil amplop itu. Isinya lebih dari cukup untuk seminggu. Aku mendesis pelan. "Oke. Besok aku datang."

Hime berbalik dan pergi. Aku duduk di warung, menatap amplop di tanganku, lalu menatap punggungnya yang menjauh.

*Siapa sebenarnya gadis ini?*

Dan kenapa, saat ia mengatakan bahwa aku mengingatkannya pada seseorang, ada bagian dari diriku yang merasa seperti ia sedang berbicara tentang diriku sendiri?

---

Sepanjang perjalanan pulang, aku terus memikirkan percakapan tadi. Matahari mulai tenggelam di ujung sawah, mewarnai langit dengan jingga dan ungu. Aku berjalan perlahan, menikmati suasana yang biasanya tidak pernah aku hiraukan.

Sesampainya di rumah, paman sudah ada di ruang tamu. Ia sedang membaca koran sambil minum kopi—pemandangan yang sama setiap sore.

"Pulang?" tanyanya tanpa menatapku.

"Iya."

"Ada yang aneh? Wajahmu kusut."

Aku duduk di kursi seberangnya. "Paman, kenapa kita benar-benar pindah ke sini?"

Paman menurunkan korbannya. Matanya—yang biasanya sayu—tiba-tiba tajam. "Kenapa tanya begitu?"

"Tidak. Hanya penasaran."

Paman diam beberapa saat. Lalu ia berkata, "Karena di kota, orang-orang mulai bertanya tentang dirimu, Rei."

"Tentang apa?"

"Tentapa kenapa kau berbeda."

Aku tersentak. "Berbeda?"

Paman tidak menjawab. Ia kembali membaca korbannya, memberi isyarat bahwa percakapan selesai. Aku tahu kebiasaannya—ia tidak akan bicara lagi kalau sudah seperti ini.

Aku naik ke kamar dengan perasaan tidak tenang. *Berbeda. Apa maksudnya?*

Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap telapak tanganku. Tanganku biasa saja. Tidak ada yang aneh. Tapi kenapa kata-kata paman terasa seperti peringatan?

Dan kenapa pertemuanku dengan Hime hari ini terasa seperti bagian dari sesuatu yang sudah lama menungguku?

Aku menghela napas panjang. Mungkin besok, saat aku kembali bertemu Hime, aku akan mendapatkan jawaban.

Atau mungkin aku hanya akan mendapat lebih banyak pertanyaan.

---

Aku berbaring di tempat tidur, tapi mata ini enggan terpejam. Langit-langit kamar yang retak-retak itu sudah terlalu sering aku pandangi. Tapi malam ini, rasanya berbeda. Ada semacam firasat yang menggelitik di ujung kesadaranku—bahwa mulai besok, hidupku tidak akan lagi seperti yang dulu.

Aku meraih ponselku, membuka galeri, dan melihat foto-foto lama. Foto bersama teman-teman di kota. Foto paman yang jarang tersenyum. Foto diriku sendiri yang tidak pernah berubah.

Lalu aku berhenti di satu foto yang tidak kuingat kapan mengambilnya. Sebuah foto buram—hanya siluet seseorang di bawah cahaya biru. Aku mengerutkan dahi. *Ini foto apa?* Aku tidak punya ingatan mengambilnya. Tanggal di metadata menunjukkan tiga tahun lalu\, tapi aku yakin tidak pernah melihat foto ini sebelumnya.

Aku ingin menghapusnya, tapi sesuatu menahanku. Sesuatu di dalam foto itu—siluet di bawah cahaya biru—terasa familiar. Sangat familiar.

*Sudahlah. Mungkin ini efek kurang tidur.*

Aku mematikan ponsel dan memejamkan mata. Tapi tidur tidak kunjung datang. Pikiranku terus berputar pada Hime, pada kata-kata pamanku, pada foto misterius itu, dan pada perasaan aneh bahwa semuanya terhubung dengan cara yang belum bisa kupahami.

Di luar, angin malam berdesir pelan. Dan dari kejauhan, samar-samar, aku mendengar suara seperti deru mesin—tapi terlalu halus untuk menjadi pesawat biasa.

Atau mungkin itu hanya imajinasiku.

Mungkin.

---

Malam itu aku tidak bisa tidur. Aku duduk di tepi jendela kamar, menatap langit malam yang penuh bintang. Desa ini memang gelap—tidak ada polusi cahaya—jadi bintang-bintang terlihat jelas. Tapi pikiranku tidak ada di bintang.

Pikiranku ada pada Hime. Pada perangkat misteriusnya. Pada kata-katanya tentang energi dan jejak kaki di pasir. Dan pada caranya menatapku—seperti aku adalah teka-teki yang sedang ia pecahkan.

Aku menghela napas. *Mungkin aku terlalu banyak berpikir. Mungkin ini cuma pekerjaan sampingan. Dapat uang\, selesai.*

Tapi jauh di dalam lubuk hatiku, aku tahu itu tidak sesederhana itu.

Ada sesuatu tentang Hime Hafitis. Sesuatu yang familiar. Sesuatu yang membuatku merasa bahwa pertemuan ini bukanlah kebetulan.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa bahwa desa kecil yang membosankan ini mungkin menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang pernah kubayangkan.

---

**— Bersambung —**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!