NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: JEJAK KAIN YANG TERNODA

Desember kian menua, membawa curah hujan yang semakin pekat di atas atap kota. Bagi orang-orang kaya di pusat kota, akhir tahun adalah waktu untuk menghitung keuntungan, merencanakan liburan, atau pamer keberhasilan di pesta-pesta keluarga. Namun bagiku, setiap lembar kalender yang robek adalah langkah mundur yang membuatku kian terdesak ke sudut ruangan.

Kata-kata Bagus dan Ambar di ruang tengah hari itu terus bergaung di dalam kepalaku bagai lonceng kematian. Ibu sengaja cari Mbak Yuni karena Mbak Yuni miskin dan penurut, jadi mudah diatur-atur. Kenyataan bahwa aku dipilih bukan karena martabat atau ketulusan, melainkan karena takaran kemiskinan yang dianggap bisa menjadikanku keset kaki yang ideal, membuat darah buruhku mendidih. Aku bukan lagi gadis tujuh belas tahun yang polos yang bisa ditakut-takuti dengan bayangan neraka kedurhakaan jika tidak menuruti mertua. Dua tahun bertahan hidup di Cakung, berhadapan dengan preman pasar, calo KTP palsu, hingga potongan gaji sepihak dari pemilik pabrik, telah menumbuhkan sel-sel pertahanan di dalam tubuhku yang menolak untuk mati begitu saja.

Pukul sepuluh pagi, rumah kembali sepi. Ibu Retno dan Mas Hendra pergi ke daerah pinggiran kota untuk menemui salah satu pemasok benang, sementara Bagus dan Ambar sudah berangkat sekolah sejak subuh. Di dalam rumah besar ini, tidak ada satu pun pembantu atau juru cuci yang disewa untuk meringankan beban. Sejak hari pertama aku menginjakkan kaki di sini, Ibu Retno sudah menegaskan bahwa seluruh urusan rumah—mulai dari menyapu lantai marmer dua lantai, mencuci tumpukan pakaian sekeluarga, menyetrika, hingga membersihkan kamar mandi—adalah tugas mutlakku seorang diri. Beliau sengaja tidak mempekerjakan orang lain, bukan karena tidak punya uang, melainkan agar rahasia di dalam rumah ini tetap terkunci rapat di tanganku yang mereka anggap bodoh dan tidak bisa bersuara.

Aku berjalan menuju ruang belakang, di mana tumpukan pakaian kotor milik lima kepala sudah menggunung di dekat mesin cuci dua tabung yang mati. Aku harus memilahnya satu per satu dengan tangan, memastikan kemeja batik mahal milik Ibu Retno tidak tercampur dengan seragam sekolah Bagus yang penuh noda keringat.

Aku berlutut di atas lantai semen yang dingin, mulai mengucek bagian kerah kemeja putih milik Mas Hendra dengan sikat cuci kayu. Rasa lelah yang teramat sangat menjalar dari pinggang hingga ke ujung-ujung jemariku yang mulai memutih dan keriput karena terlalu lama terendam air sabun.

Di tengah kesunyian rumah yang mencekam, aku mulai merangkai kepingan-kepingan teka-teki yang selama ini bertebaran. Berdiri seorang diri mengurus rumah ini justru memberiku banyak waktu untuk berpikir jernih. Aku teringat kembali pada nama yang sempat diucapkan Bagus kemarin: Mbak Sari yang punya toko emas di pasar besar.

Ingatan itu menuntun langkahku untuk lebih waspada. Kemarin sore, saat aku sedang membersihkan debu di kolong meja kerja ruang tengah yang jarang boleh disentuh orang lain, aku tidak sengaja menemukan beberapa lembar robekan kertas kwitansi lama yang terselip di balik lemari dokumen. Di atas kertas itu tertera nama Sari, lengkap dengan catatan pembatalan pesanan barang hantaran mewah yang tanggalnya baru berumur tiga bulan lalu.

Pembatalan yang begitu mendadak itu seolah mengonfirmasi desas-desus yang kudengar dari mulut adik-adik iparku. Mbak Sari, anak orang kaya yang berpendidikan tinggi itu, pasti telah melihat sesuatu yang tidak beres dari cara Ibu Retno mengelola keuangan grosir kainnya. Wanita pintar seperti Mbak Sari tidak akan mau tutup mata jika menemukan kejanggalan hukum dagang, dan itulah yang membuat Ibu Retno meradang. Beliau tidak butuh menantu yang pintar atau setara; beliau butuh tameng bodoh yang bisa dikendalikan.

Dan tameng itu adalah aku. Seorang anak gadis desa tamatan SMP yang berutang budi atas uang hantaran pelunas utang beras Bapak. Budhe Sumi, wanita yang merawatku dari umur tujuh tahun, ternyata telah tega mendorong keponakannya sendiri ke dalam sumur keputusasaan ini demi menyenangkan hati rekan bisnis kayanya. Budhe Sumi tahu persis bahwa aku tidak akan memiliki keberanian atau pengetahuan untuk memeriksa laci pembukuan toko, karena aku hanyalah buruh jahit miskin yang terbiasa patuh.

Duniaku rasanya berputar hebat saat semua kenyataan itu menghantam kesadaranku. Lumpur dingin keputusasaan yang semalam menyergapku kini berubah menjadi api kemarahan yang membakar seluruh dinding batinku. Pernikahan ini bukan jembatan emas untuk adik-adikku. Ini adalah transaksi dagang di mana harga diriku ditukar dengan beberapa keping uang hantaran, sementara jiwaku dijadikan sandera di dalam rumah megah yang pondasinya dibangun dari ketidakjujuran.

Malam harinya, badai Desember kembali mengamuk dengan intensitas yang lebih mengerikan daripada malam-malam sebelumnya. Suara guntur menggelegar membelah langit Semarang, diikuti oleh hantaman angin kencang yang membuat kaca-kaca jendela di lantai dua bergetar hebat.

Di dalam kamar tidur yang luas, Mas Hendra sudah tertidur di sisi ranjangnya. Dia selalu tidur lebih cepat akhir-akhir ini, seolah-olah tidur adalah satu-satunya cara baginya untuk melarikan diri dari tekanan harian ibunya di toko grosir.

Sementara aku, aku berdiri di depan meja rias jati yang besar. Kutatap cermin di hadapanku. Di bawah temaram lampu meja yang redup, wajahku tampak jauh lebih dewasa daripada usiaku yang sebenarnya. Gurat-gurat kelelahan akibat memeras keringat mengurus rumah besar ini seorang diri kini telah berganti menjadi ketajaman seorang wanita yang menyadari bahwa dirinya sedang dikepung oleh musuh dari segala arah.

Kupandangi cincin emas pernikahan di jari manisku. Retakan tipis yang melintang di permukaannya kini bukan lagi sebuah cacat pengerjaan logam; itu adalah lambang dari takdirku yang telah patah sejak awal. Pernikahanku dengan Hendra didirikan di atas kebohongan besar yang dirancang oleh Ibu Retno dan difasilitasi oleh pengkhianatan Budhe Sumi.

Aku melirik ke arah Mas Hendra yang mendengkur halus. Pria ini, suamiku, bukan orang jahat yang menyiksaku secara fisik. Tapi diamnya, kepasrahannya, dan ketidakberdayaannya untuk menjadi pemimpin bagi hidupnya sendiri menjadikannya sekutu paling berbahaya bagi ibunya. Dia membiarkan diriku dijadikan pelayan tanpa upah demi menjaga kelangsungan kenyamanan keluarganya.

"Aku tidak akan menjadi boneka bodohmu, Ibu Retno," bisikku lirih pada kegelapan malam, suaraku dingin, seringan embun namun setajam silet.

Kemarahan di dalam dadaku kini telah bermutasi menjadi sebuah tekad yang bulat. Jika mereka mengira seorang anak gadis tamatan SMP yang pernah menjadi buruh garmen dengan KTP palsu adalah sosok yang lemah dan mudah diintimidasi, maka mereka telah salah besar. Pekerjaan rumah yang berat yang kuhadapi seorang diri setiap hari justru melatih ketahananku dan memberiku kesempatan untuk bergerak bebas menelusuri setiap sudut rumah ini tanpa dicurigai.

Aku berjalan menuju lemari pakaian, merogoh bagian bawah untuk memastikan kardus mi instan berisi ijazah SMP dan buku catatan lamaku masih berada di tempatnya. Benda itu adalah pengingat bahwa namaku adalah Sri Wahyuni, anak sulung yang memiliki tanggung jawab besar, namun juga seorang manusia merdeka yang memiliki hak atas hidupnya sendiri.

Aku tidak akan melarikan diri ke kampung halaman. Jika aku pulang sekarang dengan status janda atau istri yang kabur, Ibu Retno dengan kekuasaan uangnya bisa dengan mudah menuntut Bapak, memenjarakan orang tuaku atas uang hantaran yang sudah habis dipakai membayar utang, atau menghancurkan masa depan sekolah Doni dan adik-adikku. Aku harus bermain dengan cara mereka. Aku harus menjadi selembar kain yang tampak penurut di permukaan, namun memiliki serat-serat baja yang tidak bisa robek oleh tarikan tangan mereka.

Kalender di dinding menunjukkan bahwa dua minggu lagi bulan Desember akan berakhir. Januari akan segera tiba bersama lembaran tahun yang baru. Tepat dalam 12 langkah yang tersisa sebelum malam pergantian tahun itu, aku bersumpah akan memanfaatkan posisiku sebagai pengurus rumah ini untuk mencari tahu di mana Ibu Retno menyembunyikan buku catatan pembukuan rahasia toko grosirnya. Aku akan mengumpulkan bukti-bukti itu, bukan untuk menghancurkan keluarga ini, melainkan untuk menjadikannya sebagai kartu as—sebuah senjata pemungkas yang akan kugunakan untuk membeli kebebasanku dan menjamin keselamatan keluargaku di kampung.

Aku melangkah kembali ke tempat tidur, menyelimuti tubuhku yang dingin dengan kain sprei katun yang halus. Di luar, suara guntur kembali menggelegar, namun kali ini jantungku tidak lagi berdegup ketakutan. Biarlah badai Desember menghantam rumah ini sepuasnya, karena di dalam kamar lantai dua yang sunyi ini, sebutir peluru perlawanan telah resmi diisi ke dalam selongsongnya, menanti saat yang tepat untuk dilesatkan tepat ketika Januari mengetuk pintu depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!