NovelToon NovelToon
Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:570
Nilai: 5
Nama Author: kawaichanopi

📖 Judul: Toko Roti Cinta Sepoi-sepoi

Deskripsi Cerita:

Di sudut jalan tua yang masih menyimpan jejak sejarah, berdiri kokoh sebuah bangunan kayu bergaya klasik Tiongkok. Di sanalah letak Toko Roti Lian Hua, tempat di mana udara selalu beraroma hangat manis—campuran gula, tepung, dan aroma kayu manis yang khas.

Di balik meja kayu yang sudah usang namun bersih, bekerja seorang gadis bernama Mei Lin. Di usianya yang ke-20, ia sudah menjadi pemilik tunggal toko ini, satu-satunya warisan berharga peninggalan orang tuanya yang telah tiada dalam sebuah kecelakaan misterius. Mei Lin gadis yang ceria, berhati lembut, sangat menyayangi anak kecil dan kucing liar. Namun, takdir memberinya satu ujian berat: ia terlahir bisu. Ia tak bisa bersuara, tak bisa berteriak, dan tak bisa membela diri dengan kata-kata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Saat Segala Hilang

Pagi ketiga, cahaya matahari tidak lagi masuk hangat ke kamar mereka. Justru, pintu-pintu besar terbuka kasar, dan sekelompok pengawal bersenjata masuk dengan wajah keras dan dingin. Tanpa bicara banyak, mereka merampas selimut halus, pakaian indah, dan segala benda yang sempat diberikan istana kepada Mei Lin, Jun Jie, dan kawan-kawan.

"Keluar! Sekarang!" bentak pemimpin pengawal itu. "Perintah Paduka Raja: kalian tidak lagi diterima di sini. Semua hak dan kemudahan dicabut seketika."

Mereka terkejut dan bingung. "Ada apa? Apa kesalahan kami?" tanya Jun Jie tenang, meski hatinya berdebar kencang.

Penasihat Keinginan muncul di ambang pintu, berdiri tegak dengan senyum yang paling jahat dan puas. Di belakangnya, Raja Jin Wei berdiri diam, wajahnya tertutup, seolah menahan rasa marah dan bingung yang mendalam.

"Kesalahan kalian?" sahut Penasihat itu tajam. "Kalian berani meragukan ajaran hidup kami. Kalian berani bilang kami salah, kami kosong, kami tidak pernah bahagia. Kalian menanam keraguan di hati rakyat kami, bahkan di hati Raja sendiri. Kalian berbahaya. Dan orang berbahaya tidak pantas menikmati kenyamanan di sini."

Ia melangkah mendekat, menatap satu per satu dengan pandangan yang menyakitkan.

"Kalian bilang: kami bahagia meski punya sedikit, kami tenang meski sederhana, kami cukup meski tidak banyak. Baiklah... sekarang kami buktikan apakah kata-kata kalian itu benar atau sekadar omong kosong indah. Kami ambil kembali semua yang kami berikan. Kalian boleh bawa pakaian yang kalian pakai saat datang saja. Tidak ada makanan, tidak ada tempat berteduh, tidak ada bantuan sedikit pun. Keluar ke gerbang kota, dan jangan pernah kembali."

"Kalian bangga dengan kebahagiaan sederhana itu? Kalian bangga dengan rasa cukup itu? Mari kita lihat... apakah kebahagiaan itu masih ada saat kalian lapar, kedinginan, lelah, dan tidak punya apa-apa sama sekali. Kalian bilang kami kasihan karena tidak tahu rasa puas... nah, sekarang kami yang kasihan pada kalian. Lihat saja nanti, saat perut kalian kosong dan tubuh kalian sakit, kalian akan berteriak memohon kemewahan kami kembali!"

Tanpa ampun, mereka didorong, diusir, dan dibiarkan berdiri sendiri di luar gerbang besar Istana Awan Putih. Di belakang mereka, gerbang emas itu tertutup berat dan mengunci rapat, meninggalkan mereka di jalanan kota yang sibuk, berdebu, dan penuh orang-orang yang menatap mereka dengan tatapan mengejek, jijik, atau tidak peduli sama sekali.

Mereka berdiri diam, terpaku. Pagi tadi mereka masih tidur di kasur selembut awan, makan makanan paling lezat, dan dikelilingi pelayan. Sekarang... sepatu mereka berdebu, perut mulai terasa kosong, dan udara terasa panas dan menyengat.

"Kenapa... kenapa secepat ini?" gumam Nenek Sari dengan suara gemetar, matanya berkaca-kaca. "Tadi kami cuma bicara jujur... apakah kejujuran harus dibayar dengan ini?"

Kakek Wangsa menghela napas panjang, menepuk bahu Nenek Sari pelan. "Ingat kata Penasihat itu, Ibu. Dia tidak marah karena kami salah. Dia marah karena kami benar. Kata-kata kami mengancam kekuasaannya. Kalau orang mulai percaya: bahagia itu tidak butuh banyak, maka seluruh kekayaan dan kuasa mereka jadi tidak berharga lagi. Itu yang mereka takutkan."

Bara mengepal tangannya marah. "Kejam sekali! Cara apa ini? Menghukum orang karena punya pandangan hidup berbeda? Kita harus berjuang kembali masuk, kita harus bicara pada Raja—"

Jun Jie menggeleng pelan, menahan bahu pemuda itu. "Jangan, Bara. Justru ini ujian sesungguhnya yang mereka inginkan. Mereka sengaja bikin kita jatuh, sengaja bikin kita susah, supaya kita sendiri yang menyesal, sendiri yang bilang: 'Ah, ternyata mereka benar, hidup mewah itu lebih baik, hidup sederhana itu cuma penderitaan'."

Mei Lin berdiri di tengah-tengah mereka, wajahnya pucat tapi matanya jernih. Ia melihat sekeliling: jalanan yang ramai, pedagang yang berteriak menawarkan barang mahal, orang-orang kaya yang lewat dengan kereta indah sambil menatap mereka rendah, orang-orang miskin yang duduk di pinggir jalan tampak lelah dan putus asa.

Ia mengeluarkan buku catatannya, menulis cepat, lalu menunjukkannya ke teman-temannya.

"Ingat ya... apa yang mereka lakukan ini bukan untuk menghukum. Ini untuk membuktikan kalau ajaran kami salah. Kalau sekarang kita marah, mengeluh, menangis, atau menyesal... berarti mereka menang. Berarti kita mengakui: tanpa kemewahan, kami tidak bisa bahagia. Kalau itu terjadi, maka perjuangan kita sia-sia."

Jun Jie mengangguk setuju. "Benar. Mereka menunggu kita menderita, menunggu kita menyerah, menunggu kita berteriak: 'Maafkan kami, kami mau jadi seperti kalian!'. Kalau kita tidak mau itu terjadi... kita harus tetap bahagia, tetap tenang, tetap merasa cukup, meski sekarang kita susah."

Tapi betapa sulitnya itu! Betapa beratnya menjaga hati saat kenyataan begitu pahit.

Matahari makin tinggi, makin panas. Perut mereka makin terasa lapar dan perih. Mereka berjalan menyusuri pinggir jalan, tidak tahu mau ke mana, tidak punya uang, tidak punya makanan. Orang-orang lewat tidak ada yang peduli. Ada yang melempar sisa makanan dengan sengaja seolah memberi makan hewan, ada yang menertawakan pakaian sederhana mereka yang sekarang sudah kotor dan berdebu.

Siang itu, mereka terpaksa duduk beralaskan tanah di bawah pohon besar di pinggir kota. Panas, debu, dan rasa lapar mulai menggerogoti semangat mereka.

Bara menunduk dalam, wajahnya muram. "Jujur... rasanya berat sekali. Rasanya ingin sekali lari kembali ke gerbang itu, berlutut, dan minta maaf saja. Di sana enak, aman, kenyang... di sini kita seperti sampah."

Kakek Wangsa juga diam saja. Ia mengusap dadanya yang terasa sesak. "Aku... aku mulai ragu. Apakah benar kebahagiaan itu ada di dalam hati? Atau itu cuma kata-kata indah saat kita masih kenyang dan aman? Sekarang kita lapar, panas, lelah... di mana bahagianya?"

Nenek Sari mengusap air matanya pelan. "Dulu aku berpikir: cukup sedikit saja aku sudah bahagia. Tapi sekarang... rasanya sedikit pun saja tidak ada. Kami tidak punya apa-apa. Apakah rasa cukup itu hanya bisa ada kalau kita masih punya sesuatu?"

Keraguan itu kembali datang, kali ini jauh lebih kuat, jauh lebih nyata, jauh lebih menyakitkan. Penasihat itu benar—sangat mudah bilang bahagia saat masih tidur empuk dan makan enak. Tapi saat jatuh ke bawah, saat rasanya sakit dan perih... kata-kata indah itu terasa tipis dan rapuh sekali.

Jun Jie menatap Mei Lin. Gadis itu duduk diam, memeluk lututnya, menatap ke kejauhan. Wajahnya lelah, matanya berkaca-kaca menahan rasa sakit dan kelaparan. Ia pun sama beratnya, ia pun sama merasakan semua penderitaan ini.

Tapi kemudian, Mei Lin bergerak. Ia melihat ada anak kecil yang lewat, membawa sepotong roti kering yang sudah agak keras. Anak itu terlihat miskin, baju lusuh, kakinya telanjang. Tapi anak itu tersenyum lebar, tertawa riang sambil memakan rotinya sedikit demi sedikit, seolah itu makanan paling lezat dan paling mewah di dunia.

Mei Lin mengamati anak itu lama sekali. Matanya perlahan berubah, dari lelah jadi lembut, dari sedih jadi teringat sesuatu yang sangat dalam.

Ia menulis di bukunya, tulisannya agak goyah tapi masih tegas, lalu menyerahkannya pada Jun Jie untuk dibacakan. Suara Jun Jie awalnya pelan dan berat, tapi makin lama makin keras dan makin berisi.

"Teman-teman... lihat anak itu. Dia cuma punya roti kering. Dia miskin, dia tidak punya apa-apa. Tapi dia tertawa, dia bahagia, dia merasa nikmat. Kenapa? Karena dia tidak membandingkan dirinya dengan orang kaya, tidak membandingkan rotinya dengan makanan istana. Dia cuma menikmati apa yang ada di tangannya, dan bersyukur itu sudah cukup."

"Kita sekarang susah, kita lapar, kita tidak punya apa-apa. Tapi lihat diri kita: kita masih punya teman di samping kita, kita masih punya napas, kita masih punya sepotong semangat yang belum hilang. Kenapa kita merasa menderita? Karena kita membandingkan keadaan kita sekarang dengan kemewahan kemarin. Kita berpikir: 'Dulu aku tidur empuk, sekarang aku di tanah. Dulu aku makan enak, sekarang aku lapar'. Itu sebabnya kita sakit hati. Bukan karena rasa laparnya, tapi karena perbandingannya."

Mei Lin menunjuk dadanya sendiri, lalu menulis lagi:

"Penasihat itu berpikir: kalau kami tidak punya apa-apa, kami pasti hancur. Dia salah besar. Kebahagiaan kami tidak ada di makanan, tidak ada di kasur empuk, tidak ada di pakaian indah. Kebahagiaan kami ada di sini... di hati yang tahu cara bersyukur, di hati yang tahu cara mencintai apa yang sedang ada, bukan menangisi apa yang sudah hilang atau yang belum didapat."

Ia berjalan ke tengah mereka, memegang tangan satu per satu teman-temannya, matanya memancarkan kekuatan yang ajaib.

"Dulu kami bahagia saat punya sedikit. Sekarang kami punya lebih sedikit lagi... bahkan hampir tidak ada. Kalau dulu kami bilang 'sedikit saja sudah cukup', berarti sekarang 'sedikit sekali' pun juga harus cukup. Kalau tidak, berarti kami bohong selama ini. Berarti rasa cukup kami itu palsu, cuma ada saat masih ada sisa."

Jun Jie mengangkat kepalanya, wajahnya kembali tegap dan bersinar. Rasa lelah dan ragu tadi perlahan-lahan luntur.

"Benar! Itu kuncinya. Penasihat itu ingin kita bilang: 'Dulu aku bahagia karena aku masih punya sesuatu, kalau tidak punya aku pasti menderita'. Dia ingin membuktikan kebahagiaan kami itu palsu, tergantung keadaan. Nah, sekarang saatnya kita buktikan sebaliknya: kebahagiaan kami tidak tergantung apa yang kami punya, tapi tergantung apa yang ada di hati kami."

Kakek Wangsa mengusap wajahnya kasar, lalu tersenyum perlahan. Senyum yang lelah tapi tulus. "Kau benar, Nak. Aku tadi bodoh sekali. Aku sibuk membandingkan sekarang dengan kemarin. Aku lupa bersyukur bahwa aku masih punya kalian, masih bisa melihat matahari, masih bisa merasakan angin... hal-hal yang gratis, tapi tak ternilai harganya."

Nenek Sari mengangguk, air matanya berhenti mengalir, diganti senyum damai. "Maafkan aku. Aku hampir saja kalah. Tapi kau benar... rasa cukup itu bukan: 'aku sudah punya banyak, jadi aku berhenti'. Rasa cukup itu: 'apa pun yang aku punya, sedikit atau banyak, aku terima dengan bahagia dan bersyukur'."

Matahari makin terik, perut masih lapar, tubuh masih lelah dan berdebu. Tapi ada sesuatu yang berubah di wajah mereka. Mereka tidak lagi tampak seperti orang yang menderita. Mereka tampak seperti orang yang damai.

Mereka duduk melingkar di bawah pohon itu, saling bercerita hal-hal sederhana: kenangan masa kecil, rasa enak nasi goreng buatan ibu, kebahagiaan melihat bunga mekar, rasa senang saat bisa menolong orang lain. Mereka tertawa kecil, saling menguatkan, seolah mereka sedang duduk di ruang tamu yang paling mewah dan nyaman.

Dari kejauhan, di balik jendela tinggi di menara istana, Penasihat Keinginan dan Raja Jin Wei mengamati mereka dengan kaget dan bingung.

"Mustahil!" seru Penasihat itu tak percaya. "Mereka lapar! Mereka kotor! Mereka tidak punya apa-apa! Kenapa mereka tidak menangis? Kenapa mereka tidak marah? Kenapa mereka malah tertawa? Apa yang ada di kepala mereka?!"

Raja Jin Wei diam saja, matanya terpaku pada kelima orang itu. Ia melihat betapa sederhana, betapa miskin keadaan mereka, tapi betapa bersinar dan damai wajah mereka. Ia teringat wajah orang-orang kaya di kerajaannya: punya segalanya, tapi wajahnya selalu cemas, selalu serakah, selalu kurang.

"Lihatlah..." bisik Raja Jin Wei pelan, suaranya bergetar. "Mereka benar. Kami punya segalanya, tapi kami yang sebenarnya miskin. Mereka tidak punya apa-apa, tapi mereka yang sebenarnya kaya raya."

Penasihat itu menoleh tajam, marah dan takut bercampur jadi satu. Ia sadar, rencananya gagal total. Justru dengan menjatuhkan mereka, ia malah membuat ajaran mereka makin kuat, makin nyata, makin sulit disangkal.

"Belum selesai!" geram Penasihat itu. "Ini baru hari pertama! Lihat saja besok, lusa, seminggu lagi! Saat rasa lapar makin menyiksa, saat sakit datang, saat mereka makin menderita... lihat saja nanti! Kebahagiaan buatan itu pasti akan pecah! Dan kalau tidak pecah juga... aku punya cara terakhir, cara paling kejam, cara yang pasti akan menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya."

Di bawah sana, Mei Lin mengangkat wajah ke arah menara itu, seolah bisa melihat mereka yang mengintai. Ia tersenyum lembut, lalu menulis pesan terakhir di bukunya, mengangkatnya tinggi-tinggi seolah ingin diketahui semua orang:

"Kekayaan yang sesungguhnya bukan berapa banyak yang kau simpan, tapi berapa banyak yang bisa kau lepaskan tanpa merasa kehilangan."

Matahari mulai terbenam, menyinari wajah mereka yang berdebu tapi bersinar indah. Ujian paling pahit sudah dilewati. Tapi mereka tahu... badai yang paling besar dan paling berbahaya baru saja mulai bersiap datang.

 

1
listia_putu
❤️
Kawaichan Opi: ,terima kasih
total 1 replies
HiaTus
💪 sukses karyanya kak
Kawaichan Opi: terima kasih kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!