Bram bekerja sebagai marketing di perusahaan retail di Jakarta. Hidupnya hanya kerja, gym, dan cari wanita lewat app atau club. Dia ahli di ranjang tapi takut komitmen. Cerita mengikuti perjalanan Bram yang terus berganti pasangan, menghadapi konflik dari mantan, keluarga, kantor, dan masalah kesehatan. Dia ingin tetap bebas, tapi tekanan semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iskak M, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Mampir Semarang
Gue pamit ke Rinda sore itu di kantor. Dia duduk di ruangannya dengan rambut pendek rapi, mata sipitnya menatap gue dengan campuran harap dan khawatir. “Mas berangkat ke Yogya besok? Lama ya?”
Gue peluk dia pelan dari belakang, cium lehernya lembut. “Iya, Rin. Dua minggu lagi. Lu jaga diri ya. Chat terus.”
Rinda balik badan, kami ciuman dalam tapi penuh perasaan. Tangan gue merayap ke dada kencangnya, remas pelan dengan sensual. Dia mendesah kecil, badannya menempel erat. “Gue tunggu lu balik,” bisiknya sebelum gue pergi.
Gue nggak bilang apa-apa ke Poppy. Biar surprise aja. Malamnya gue janjian sama Ulva. Dia langsung antusias pas gue chat. “Yuk bareng ke Yogya pake mobil gue. Gue lagi pengen jalan-jalan.”
Pagi harinya Ulva jemput gue di apartemen. Mobilnya SUV mewah hitam. Ulva turun sebentar, penampilannya langsung bikin gue melotot. Kulitnya eksotis kecokelatan yang sehat, rambut hitam panjang bergelombang, tubuhnya seksi dengan lekuk yang pas. Hari itu dia pake gaun malam tipis yang elegan, bahu terbuka, dada berisi yang menonjol indah, pinggang ramping, dan rok yang melambai di paha jenjangnya.
“Kita mampir Semarang dulu ya, biar santai,” katanya sambil nyengir nakal.
Perjalanan ke Semarang nyaman. Ulva nyetir sambil cerita soal kerjaannya yang lagi sibuk, tapi matanya sering lirik gue penuh arti. Sesampainya di Semarang sore hari, kami check-in hotel bintang lima dekat Simpang Lima. Kamarnya mewah, view kota yang bagus.
Malamnya gue ajak Ulva dinner di restoran hotel. Dia masih pake gaun malam itu, keliatan sangat menggoda di bawah lampu temaram. Kami pesen wine, banyak minum. Obrolan kami ringan tapi semakin panas. Ulva ketawa lepas, tangannya sering sentuh lengan gue, kakinya nyenggol pelan di bawah meja.
“Gue kangen lu,” bisiknya sambil mata kami bertemu.
Setelah makan, gue gandeng tangannya ke kamar. Kami sudah setengah mabuk, tapi gairahnya penuh. Begitu pintu tertutup, Ulva langsung peluk gue erat. Kami ciuman dalam, lidah saling menari. Tangan gue membuka gaunnya pelan, kain tipis itu jatuh ke lantai. Tubuh eksotis Ulva terpapar, kulitnya hangat dan halus. Ada tato di punggung mawar merah.
Kami jatuh ke kasur. Gue habisin Ulva dengan penuh nafsu yang tertahan. Dia balas dengan liar, kami saling mengalahkan. Ulva naik di atas, gerakannya sensual dan kuat, payudaranya bergoyang indah. Gue balik posisi, gerak dalam dan penuh ritme. Kami bergantian memimpin, desahan kami memenuhi kamar. Setengah mabuk bikin semuanya semakin intens. Ulva klimaks berkali-kali, badannya kejang manja. Gue juga nggak kalah, tapi akhirnya gue nyerah duluan, capek banget. Ulva ketawa puas, peluk gue sambil kami terengah-engah.
Pagi harinya gue dibangunkan ciuman Ulva yang lembut di dada. “Bangun, Sayang… masih pagi.”
Kami main lagi sampai siang. Tubuh kami saling menempel, sentuhan penuh keringat dan gairah. Ulva semakin liar, gue ikut terbawa. Kami habiskan waktu di kamar hampir seharian, cuma keluar sebentar buat makan siang di room service.
“Kita tambah satu hari di sini ya,” pinta Ulva sambil elus dada gue. Gue setuju. Hari kedua di Semarang kami jalan-jalan santai, makan di pinggir pantai, tapi malamnya kembali ke hotel untuk sesi yang sama panasnya.
Dini hari kami lanjut ke Yogya. Supaya nggak ketahuan Poppy, mobil Ulva gue parkir di kantor cabang Yogya dulu. Kami naik taksi ke rumah Poppy di Kaliurang.
Sesampainya di sana, Pipit langsung lari keluar rumah. “Oooommm!!!” Anak kecil itu peluk gue erat banget, nangis haru. “Pipit kangen Om! Jangan pergi lagi ya…”
Gue gendong dia, elus kepalanya. “Om balik, Pit. Kangen juga.”
Poppy keluar, mukanya senang campur kaget liat Ulva. “Ulva? Wah, kebetulan banget. Masuk yuk.”
Malam itu suasana hangat. Poppy masak spesial, kami makan bertiga plus Pipit dan ibunya. Setelah makan, Pipit tidur duluan. Poppy dan Ulva tidur di kamar induk, gue di kamar kost seperti biasa.
Tengah malam, pintu kamar gue terbuka pelan. Ulva masuk, cuma pake kaos longgar. “Gue nggak bisa tidur,” bisiknya sambil naik ke kasur.
Kami langsung saling peluk, ciuman panas. Ulva naik ke atas gue, gerakannya sensual dan lambat. Kami lagi asyik saat pintu terbuka lagi. Poppy masuk. Dia nggak marah, malah senyum tipis. “Gue juga kangen,” katanya pelan.
Nggak ada rasa canggung. Poppy bergabung, kami bertiga tanpa beban. Sentuhan mereka saling melengkapi, desahan lembut memenuhi kamar. Ulva dan Poppy bergantian, kadang bareng. Semuanya mengalir alami, penuh gairah tapi tetap hangat. Kami habiskan malam itu dengan saling menikmati satu sama lain sampai puas.
Sebelum pagi, Poppy balik ke kamarnya pelan-pelan. Ulva tetap tidur di pelukan gue, badannya hangat.
Pagi harinya Pipit masuk kamar, matanya bulat liat Ulva di sebelah gue. “Om… Tante Ulva kenapa tidur di sini?”
Gue bangun pelan, senyum. “Tadi malam Tante Ulva pulang malam banget, Pit. Pintu rumah induk udah dikunci. Jadi Tante tidur di sini aja.”
Pipit ngangguk polos, “Oh… Om jangan pergi lagi ya.”
Gue mandi cepat, sarapan bareng mereka. Poppy dan Ulva keliatan fresh, sesekali saling lirik dengan senyum rahasia. Setelah itu gue berangkat ke kantor.
Di kantor Yogya, suasananya mulai hidup lagi. Gue ketemu tiga karyawan baru yang akan bantu bangun cabang ini. Mereka antusias, punya ide-ide segar. Gue briefing panjang soal target dua minggu ke depan, distribusi tugas, dan rencana ekspansi.
“Kita bangun dari nol lagi, tapi kali ini lebih kuat,” kata gue.
Gue senyum dalam hati. Yogya kali ini bakal lebih ramai. Poppy, Ulva, Pipit, dan kerjaan. Semuanya nunggu gue atur.
Malam harinya di rumah, suasana lagi hangat. Pipit main bareng gue, Poppy dan Ulva masak bareng di dapur. Mereka keliatan akrab, sesekali bisik-bisik sambil ketawa. Gue tahu malam nanti mungkin bakal ada kelanjutan yang menyenangkan.
Tapi untuk sekarang, gue nikmatin momen ini. Perjalanan ke Yogya bareng Ulva bikin semuanya lebih seru. Rinda di Jakarta nunggu, Laras udah move on, dan gue? Gue lagi menikmati setiap detik kekacauan yang indah ini.
btw, sy juga baru mula menulis novel. kalau ada masa terluang bole lah singgah profile saya. terima kasih 😄😍