Saskia Mahendra adalah dokter hewan brilian yang mati kelelahan di laboratorium. Kini ia terbangun sebagai Saskia Utami, 20 tahun, terlilit utang koperasi, dikepung Bibi dan Paman serakah yang siap merampas tanahnya.
Namun, ia membawa sesuatu dari alam kematian: Air Suci. Warisan jiwa yang bisa menyembuhkan ternak dan memicu pertumbuhan ajaib. Setiap tetes bisa mengubah sapi kurus jadi Wagyu bernilai fantastis, tapi setiap tetesnya juga menguras nyawanya sendiri. Harga yang harus ia bayar diam-diam.
Ketika hasil peternakannya menembus standar daging termahal Indonesia, CEO agribisnis raksasa datang membawa kontrak, dan bahaya. Daniel Hardjono. Jenius, arogan, dan terlalu berbahaya untuk dipercaya. Di antara klausul kontrak berdarah dan ciuman yang tak direncanakan, Saskia harus menghadapi ancaman yang lebih ganas dari preman desa, mata-mata korporat internasional yang tahu ada rahasia di kandangnya, dan akan membunuh untuk mendapatkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Hampir Kehilangan
Saskia mengerjapkan kelopak matanya. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Bulu matanya terasa lengket. Ada sesuatu yang kering di sudut matanya. Darah. Darah kering yang belum dibersihkan sepenuhnya.
Langit-langit putih. Dinding putih. Tirai putih. Selang infus di tangan kirinya. Kabel-kabel monitor menempel di dadanya. Bunyi bip-bip-bip yang stabil. Bukan bunyi monitor kandang. Bunyi monitor rumah sakit.
Aku masih hidup.
Ia mencoba menggerakkan tangannya. Berat. Sangat berat. Seperti ada karung beras diikat di pergelangan tangannya. Jemarinya bergerak sedikit, meraba seprai yang dingin. Lalu kepalanya menoleh ke samping. Gerakan kecil yang menghabiskan seluruh tenaganya.
Daniel.
Laki-laki itu duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Tidur. Bukan tidur seperti biasanya, dengan posisi sempurna dan ekspresi tenang. Kepalanya terkulai ke samping, mulutnya sedikit terbuka, rambutnya kusut tidak rapi. Kemeja putihnya kusut di bagian dada. Jasnya tergeletak di lantai. Sepatu pantofelnya terlepas sebelah.
Daniel Hardjono. CEO Hardjono Agribisnis. Lulusan Cornell. Laki-laki yang mengukur segalanya dengan angka. Tidur dengan mulut terbuka di kursi rumah sakit.
Saskia menatapnya lama. Lalu, dengan sisa tenaga yang ia punya, ia mengangkat tangannya yang berat, meraih pipi Daniel, dan mencubitnya.
"Aduh!"
Daniel tersentak bangun. Matanya langsung terbuka lebar. Kepalanya menoleh ke kiri dan kanan, bingung, sebelum akhirnya fokus ke wajah Saskia.
"Kau..." Suaranya serak. "Kau bangun."
"Aku lapar."
Daniel menatapnya. Tidak bicara. Matanya merah. Lingkaran hitam di bawahnya tebal. Janggutnya mulai tumbuh, bayangan hitam di sekitar rahangnya.
"Kau dengar? Aku bilang aku lapar."
Air mata menggenang di mata Daniel. Tidak jatuh. Hanya menggenang. Lalu ia berdiri, mendekat, dan memeluk Saskia.
Bukan pelukan lembut. Bukan pelukan sopan. Pelukan erat, seperti seseorang yang hampir kehilangan sesuatu dan baru menemukannya kembali. Tangannya mencengkeram bahu Saskia. Wajahnya ditanam di rambut Saskia. Bahunya bergetar. Seluruh tubuhnya bergetar.
"Kau gila," bisiknya. "Kau benar-benar gila."
"Aku tahu."
"Kau hampir mati. Henti jantung dua menit. Gagal ginjal akut. Kehilangan darah empat puluh persen. Dokter bilang kau mungkin tidak akan bangun."
"Aku bangun."
Daniel melepaskan pelukannya. Tangannya masih memegang bahu Saskia. Matanya menatap tajam. "Jangan lakukan itu lagi. Jangan pernah lakukan itu lagi. Apapun yang kau lakukan di kandang itu, apapun yang menyelamatkan sapi-sapi itu, jangan lakukan lagi tanpa memberikan infus darah siap pakai di sebelahmu. Kau dengar?!"
"Sapinya..." Suara Saskia lemah. "Berapa yang selamat?"
Daniel diam. Wajahnya berubah. Dari marah menjadi... sesuatu yang lain.
"Delapan. Kau selamatkan delapan."
"Dan yang mati?"
"Satu. Yang terbesar."
Saskia menutup matanya. Satu mati lagi. Sapi nomor tag 03. Yang paling besar. Yang paling mahal. Yang paling dekat dengan grade A5. Air Sucinya habis sebelum sempat menyelamatkan yang terakhir. Napasnya tercekat di dada. Bukan karena sedih. Bukan karena menyesal. Karena ia tahu itu harga yang harus dibayar, dan ia sudah membayarnya semampunya.
Delapan selamat dari sembilan. Itu bukan kegagalan total. Tapi tetap ada satu yang tidak tertolong.
Lima menit. Kalau saja ia punya lima menit lagi. Kalau saja tubuhnya bisa menahan sedikit lebih lama.
"PERSETAN SAPI ITU!" Tiba-tiba Daniel membentak, memecah lamunannya. Suaranya keras, mengisi seluruh ruangan. "Persetan sama semuanya! Yang penting kau hidup! Kau dengar?!"
Saskia membuka matanya. Menatap Daniel. Laki-laki itu gemetar. Marah. Tapi bukan marah seperti biasanya. Marah yang berbeda. Marah yang lahir dari ketakutan.
"Aku dengar."
Daniel menghembuskan nafas panjang. Jemarinya mengusap wajahnya. "Aku tidak tidur dua hari. Dua hari duduk di kursi itu. Menunggu kau bangun atau mati. Jangan lakukan itu lagi padaku."
"Kau tidur tadi. Aku lihat."
"Itu bukan tidur. Itu pingsan."
"Mulutnya terbuka. Ada air liur sedikit."
Daniel menatapnya dengan ekspresi antara ingin marah dan ingin tertawa. "Kau baru saja bangun dari koma dan kau sudah mengomentari cara tidurku?"
"Habisnya lucu."
Keheningan. Lalu Daniel tertawa. Bukan tawa sinis seperti biasanya. Bukan tawa dingin. Tawa yang tulus, pendek, seperti orang yang baru saja melepaskan beban puluhan kilogram dari pundaknya.
"Kau tidak berubah sama sekali."
"Kenapa harus berubah?"
Daniel duduk kembali di kursinya. Tangannya meraih tangan Saskia, menggenggamnya. Jemarinya masih sedikit gemetar.
"Reza," katanya. "Kita perlu bicara soal Reza."
Saskia menoleh. "Apa tentang dia?"
"Dia bukan staf biasa. Dia karyawan yang direkrut dengan rekomendasi dari dalam perusahaan."
"Maksudmu dari dalam Hardjono Group sendiri?"
Daniel mengangguk. Rahangnya mengatup. "Seseorang di internal perusahaanku yang membantu Reza masuk. Seseorang yang membersihkan jejaknya. Seseorang yang mengedit CV-nya supaya riwayat kerjanya di Agro Nusantara tidak ketahuan."
"Siapa?"
"Budi masih menggali. Tapi yang jelas, ini bukan lagi soal Paman Harto atau Bibi Laras. Mereka cuma alat. Yang mengatur semuanya..." Daniel berhenti, matanya menatap lurus ke dinding. "...adalah seseorang di divisi internal Hardjono Group sendiri."
Saskia diam. Otaknya yang masih lemah mulai memproses informasi. Reza, mata-mata Agro Nusantara, disusupkan ke Hardjono dengan bantuan orang dalam. Orang dalam itu yang mengatur semuanya. Yang memberi akses ke jadwal kandang, ke password CCTV, ke titik butuh keamanan. Yang membocorkan informasi ke Agro Nusantara.
"Ada mata-mata di perusahaanku," kata Daniel, suaranya rendah. "Dan aku tidak tahu siapa."
"Tapi Reza tahu."
"Reza pasti tahu."
Mereka saling menatap. Tanpa bicara, mereka sudah saling mengerti. Reza adalah kuncinya. Kalau mereka bisa membuat Reza bicara, mereka bisa tahu siapa dalang di balik semua ini.
"Jangan sentuh dia dulu," kata Saskia.
"Itu yang sudah aku lakukan. Aku suruh Budi biarkan dia tetap di posisinya. Untuk sekarang."
"Bagus." Saskia menutup matanya. "Aku butuh istirahat. Nanti kita bicara lagi."
"Tidurlah."
"Aku belum selesai makan."
"Kau bilang kau lapar tadi. Tapi belum ada makanan yang datang."
"Itu karena kau belum pesan."
Daniel menatapnya. Lalu berdiri. "Aku pesan sekarang. Bubur. Kau hanya boleh makan bubur."
"Aku mau nasi padang."
"BUBUR."
"Aku mau rendang. Dagingnya yang banyak."
Daniel menghela nafas panjang. "Nasi tim saja. Dengan ayam. Itu kompromi."
"Nasi tim dengan rendang."
"ITU BUKAN KOM—" Daniel berhenti. Menatap Saskia yang tersenyum tipis di atas ranjang. "Kau sengaja."
"Lumayan buat hiburan. Dua hari tidak sadar, acaranya cuma monitor jantung."
Daniel menggeleng. Tapi sudut bibirnya terangkat sedikit. Hanya sedikit. "Aku pesan nasi tim. Kau makan. Jangan membantah."
Ia berjalan keluar ruangan, mengeluarkan ponselnya. Sebelum pintu tertutup, Saskia mendengarnya berkata pada perawat: "Pasiennya sudah sadar. Tolong siapkan nasi tim. Dengan rendang."