King Stone (27 tahun) bisa dengan mudah melupakan ratusan wanita yang pernah singgah di hidupnya selama menjadi playboy.
Namun, gadis di hadapannya ini adalah pengecualian mutlak.
Olivier Martinez merupakan cinta pertama sekaligus mantan kekasih King selama tiga tahun di masa high school—gadis yang dulu ia tinggalkan begitu saja demi ego remaja agar tidak terikat oleh seorang wanita di masa depan.
Kini, roda kehidupan berputar. Di dalam rumah sakit mewah miliknya sendiri, King sama sekali tidak memiliki kuasa atas Olivier.
Di hadapan sang mantan kekasih yang menatapnya penuh kebencian dan kini bersenjatakan sumpah medis sebagai dokter residen, King harus menghadapi kenyataan pahit. Ia sadar bahwa luka penyesalan di hatinya jauh lebih sulit disembuhkan daripada luka sayatan parah di perutnya.
Pertemuan tak terduga ini menjadi awal dari karma masa lalu yang siap menghancurkan keangkuhannya.
~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Mata elang Kingstone menatap lurus ke arah langit-langit yang remang. Ingatan itu melompat ke momen yang paling menghancurkan dalam hidupnya—hari pengumuman kelulusan high school.
Flashback
Hari itu, koridor sekolah dipenuhi oleh tawa, tangis haru, dan selebrasi para siswa. Namun bagi King Stone, hari itu adalah awal dari nerakanya.
Segera setelah upacara kelulusan selesai, sebuah limosin hitam panjang milik keluarganya sudah menunggu di depan gerbang.
Bukan untuk membawanya merayakan kelulusan bersama Olivier, melainkan untuk membawanya langsung menghadap sang otoritas tertinggi di klan Stone: Grandmaman, nenek kandungnya.
Grandmaman adalah sosok matriark sejati yang memegang kendali atas garis keturunan murni dan keputusan-keputusan strategis keluarga, bahkan melebihi kekuasaan ayahnya, Kyle Stone.
Di dalam ruang kerja kastel keluarga yang beraroma kayu ek tua dan cerutu mahal, wanita tua dengan tatapan sedingin es itu menjatuhkan vonisnya tanpa bantahan.
"Kau telah lulus, King. Langkahmu berikutnya sudah diatur," ucap Grandmaman sembari mengetukkan tongkat berhulu peraknya ke lantai marmer.
"Kau akan masuk ke Universitas Chicago untuk mengambil hukum dan bisnis internasional. Dan dengar ini baik-baik; segera setelah usiamu menginjak dua puluh lima tahun nanti, kau akan dijodohkan dengan salah satu putri dari klan Eropa yang setara dengan kalangan kita. Pernikahanmu adalah transaksi kekuasaan, bukan taman bermain untuk perasaan remajamu."
King remaja mengepalkan tangannya di balik saku setelan jas kelulusannya, namun ia tidak bisa bersuara. Di klan Stone, menentang Grandmaman sama saja dengan mengundang kehancuran mutlak bagi siapa pun yang berada di sekitarnya.
Pukulan kedua datang dari ibunya sendiri, Mommy Emmeline, yang sore itu menemuinya di lorong kastel sebelum ia bersiap untuk ke Universitas Chicago.
Dengan keanggunan seorang ibu negara klan, Emmeline menatap putra sulungnya dengan pandangan memperingatkan. Ada ketegasan yang tidak biasa di balik suara lembutnya.
"King, Mommy tahu kau memiliki apartemen pribadi di pusat kota. Dan Mommy tahu kau sering menghabiskan waktu di sana," ujar Emmeline, menatap King lurus-lurus.
"Mommy hanya ingin mengingatkanmu satu hal sebelum kau memulai kehidupan kampusmu, jangan pernah membawa wanita ke ranjang pribadimu di apartemen itu. Tempat itu adalah milikmu, tapi kehormatan ranjang mu hanya milik istri mu Dimasa depan. Berjanjilah pada Mommy."
Mendengar tuntutan ibunya, King Stone remaja hanya bisa terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu, dan jantungnya berdegup dengan ritme yang menyakitkan.
Sebab, semuanya sudah terlambat.
Dua tahun penuh sebelum hari kelulusan itu, King sudah melangkah teramat jauh bersama Olivier Martinez.
Di apartemen pribadi lantai enam belas miliknya—tempat yang ia klaim sebagai zona bebas dari pengaruh klan Stone—King dan Olivier telah memadu kasih dengan begitu intens.
Mereka telah menghabiskan begitu banyak alat pengaman di atas ranjang king-size tersebut. Di sana, Olivier telah menyerahkan seluruh dunianya, dan King telah meniduri gadis itu berulang kali dengan gairah muda yang meledak-ledak, mengira bahwa apartemen itu akan selamanya menjadi tempat persembunyian rahasia mereka.
Kata-kata ibunya malam itu menjelma menjadi kutukan. King yang sangat menghormati sang Mommy, merasa didera rasa bersalah yang teramat besar karena telah melanggar batasan tak tertulis keluarganya jauh sebelum perintah itu diucapkan.
Sumpah atas nama ibunya akhirnya terucap di dalam hati: Sejak detik ini, aku tidak akan pernah lagi meniduri Olivier Martinez.
King tidak ingin mengotori gadis yang dicintainya lebih dalam lagi dengan dosa-dosa kebohongan, terutama setelah ia tahu bahwa masa depannya sudah digadaikan oleh Grandmaman untuk perjodohan bisnis dengan klan Eropa saat ia berusia 25 tahun nanti.
King sadar, dia tidak akan bisa memberikan pernikahan yang sah pada Olivier. Jika dia terus meniduri Olivier di bawah bayang-bayang kekangan keluarga, dia hanya akan menjadikan Olivier sebagai wanita simpanan yang rendahan—dan King terlalu mencintai Olivier untuk menghancurkan harga diri gadis itu dengan cara seperti itu.
Namun, gejolak jiwa remaja yang tertekan melahirkan keputusan yang berputar arah secara ekstrem.
Dikekang oleh aturan ketat tentang masa depan, dikunci oleh perintah Grandmaman tentang perjodohan, dan dilarang menyentuh wanita yang paling dicintainya, King Stone remaja memilih jalan pemberontakan yang gila.
"Jika hidupku harus berakhir dalam pernikahan paksa di usia dua puluh lima, maka aku akan menghabiskan masa mudaku di universitas untuk menjadi pria paling berengsek di Chicago," bisik King pada dirinya sendiri kala itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Begitu menginjakkan kaki di Universitas Chicago, King sengaja mengubah citra dirinya secara drastis.
Dia memanfaatkan ketampanan, kekayaan, dan nama besarnya untuk memacari banyak gadis secara bergantian.
Setiap minggu, wajahnya menghiasi rumor kampus bersama wanita yang berbeda-beda.
Dia sengaja menenggelamkan diri dalam pesta-pesta malam, alkohol, dan dunia gemerlap, membangun dinding pembatas yang tebal antara dirinya yang baru dengan masa lalunya yang suci bersama Olivier.
Hingga akhirnya, hari eksekusi itu tiba. King memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Olivier dengan cara yang paling kejam agar gadis itu membencinya dan pergi menjauh dari lingkaran bahaya klan Stone.
Di bawah rintik hujan malam Chicago, King menatap Olivier dengan pandangan mata yang sengaja dibuat dingin dan meremehkan.
"Kita selesai, Olivier," ucap King dengan nada suara yang teramat santai, memutar-mutar kunci mobil sport barunya di jari telunjuk.
"Aku sudah bosan denganmu. Kau terlalu monoton. Kehidupan di universitas jauh lebih menarik, dan ada begitu banyak gadis yang mengantre untuk tidur di ranjangku sekarang. Aku adalah seorang Stone, Olivier. Hubungan manis kita di high school hanyalah cinta monyet yang tidak ada artinya bagiku sekarang."
Olivier malam itu menampar wajahnya dengan keras, menyisakan rasa panas yang membekas selama bertahun-tahun di pipi King, sebelum gadis itu berbalik pergi dengan air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Sejak hari itu, gelar sebagai playboy internasional disematkan di balik nama King Stone di sepanjang koridor Universitas Chicago.
Semua orang tahu bahwa sang pangeran Stone adalah penakluk wanita yang tidak pernah membiarkan satu gadis pun menetap di hatinya lebih dari satu bulan.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa itu semua adalah topeng pelindung.
Rasa frustrasi dan kehancuran batin karena harus melepaskan Olivier serta menghadapi takdir perjodohan dari Grandmaman membuat King melampiaskan emosinya pada jarum tinta.
Selama Tahun pertama kuliahnya, ia mulai merajah tubuhnya. King menato habis seluruh badannya, mulai dari dada, punggung, kedua lengan, hingga naik ke pangkal lehernya dengan guratan-guratan tinta hitam yang pekat.
Bagi mata awam dan anggota keluarganya, tato-tato itu tampak seperti corak noda hitam abstrak yang acak dan liar—lambang dari pemberontakan seorang pemuda kaya yang kehilangan arah.
Daddy nya, Kyle Stone, sempat murka melihat tubuh putra sulungnya dipenuhi tinta, namun King hanya menanggapinya dengan senyuman sinis yang menantang.
Mereka semua tidak pernah tahu rahasia terdalam di balik rajahan tersebut.
Tepat di lengan kanan bagian dalam, di bawah lapisan tinta hitam tebal yang menyerupai sapuan kuas abstrak yang pekat, sesungguhnya tertulis sebuah nama dengan font tulisan tangan yang sangat rapi: Olivier.
Itu adalah tato pertama yang King buat dengan rasa sakit yang luar biasa di sebuah studio di pinggiran kota.
Namun segera setelah nama itu terukir di kulitnya, King menyuruh sang seniman tato untuk menutupinya kembali dengan noda tinta hitam padat yang sangat tebal.
King sengaja mengubur nama itu di dalam kegelapan tekstur tato abstraknya agar seluruh keluarganya—terutama Grandmaman—tidak pernah mengira atau mengendus bahwa sang pangeran pertama klan Stone pernah menjadi budak cinta dari seorang gadis biasa bernama Olivier Martinez.
Nama itu terkubur di bawah kulitnya, berdenyut bersama aliran darahnya, menjadi rahasia paling sunyi yang ia bawa ke mana pun ia pergi.
Setiap kali King menatap lengan kanannya, dia tahu bahwa di balik noda hitam yang menakutkan itu, nama Olivier tetap hidup, tidak pernah terhapus oleh waktu ataupun oleh puluhan wanita yang sengaja ia kencani demi menjaga sandiwaranya sebagai playboy internasional kampus.
...****************...
King menarik napas panjang, menghentikan kepungan memori sepuluh tahun lalu yang terasa begitu menyesakkan dada. Ia menurunkan tangannya dari wajah, menatap lengan kanannya yang kini tergeletak di atas selimut rumah sakit. Tato hitam pekat yang menutup hingga ke pergelangan tangannya itu tampak berkilau di bawah temaram lampu kamar rawat VIP.
"Sepuluh tahun..." bisik King dengan suara yang serak, nyaris tak terdengar oleh angin malam yang mengetuk kaca jendela. "Sepuluh tahun aku hidup di balik topeng berengsek ini hanya agar kau tetap aman di luar sana."
Kini, takdir telah membawanya kembali ke titik awal. Usianya telah menginjak 27 tahun.
Batas waktu usia 25 tahun yang ditetapkan Grandmaman untuk perjodohan itu telah lewat dua tahun lalu, dan King berhasil menunda serta menggagalkan setiap rencana perjodohan dengan klan Eropa tersebut menggunakan taktiknya yang kejam dan manipulatif di dalam internal keluarga.
Dia telah memegang sebagian besar kendali bisnis klan Stone di Chicago sekarang, menjadikannya pria yang jauh lebih kuat dan tidak bisa lagi ditekan dengan mudah oleh Grandmaman.
Namun, pertemuan kembali dengan Olivier di IGD semalam, disusul dengan dinginnya tatapan mata wanita itu saat mencacinya beberapa jam yang lalu, menyadarkan King akan satu hal: dinding es yang ia paksa bangun di antara mereka kini telah menjelma menjadi benteng raksasa yang tampaknya mustahil untuk diruntuhkan. Olivier benar-benar percaya bahwa King adalah playboy berengsek yang mencampakkannya demi kesenangan.
King memejamkan matanya kembali, membiarkan rasa sakit di hatinya berbaur dengan rasa perih di perutnya.
Dia belum tahu apa yang akan terjadi esok hari ketika fajar menyingsing dan Dokter Olivier Martinez kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya untuk memeriksa jahitannya sebagai dokter penanggung jawab pribadi.
Namun satu hal yang pasti di dalam benak King Stone: topeng playboy internasional itu harus tetap ia kenakan dengan rapat di depan keluarganya, sementara di bawah lapisan tinta hitam di lengan kanannya, nama Olivier akan tetap menjadi satu-satunya nama yang mengendalikan seluruh sisa hidup sang pangeran Stone.
🌷🌷
Mohon dukungannya untuk meninggalkan komentar ya kak 🙏🏻🫶🏻
mudah2an si Nora tiap malem minta tidur sm emak bapaknya 🤣🤣🤣