Dika Pratama ialah seseorang yang secara tak terduga kembali ke masa SMA ya ditahun 2010. dikarenakan ia mendapatkan sebuah kesempatan untuk menebus penyesalan terbesar nya yaitu ia tidak memanfaatkan bakatnya yaitu bermain sepakbola, lantas di kehidupan ini ia akan bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan bakatnya untuk membawa Indonesia menjadi juara piala dunia.
yuk ikuti terus bagaimana perjuangan Dika untuk menjadi seorang pesepakbola terbaik di dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naga Ruwet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part II
Suara sorakan meledak-ledak, bahkan lebih keras dari sebelumnya. Penonton berteriak histeris, teman-teman sekelas melompat kegirangan. Doni langsung berlari dan melompat ke punggung Dika, memeluk leher sahabatnya itu dengan erat meski sama-sama basah kuyup dan becek. Rio berlari paling kencang, sampai-sampai dia terpeleset lagi tapi kali ini dia langsung bangkit dan memeluk keduanya sambil tertawa bahagia.
"GILA! GILA! LUAR BIASA!" teriak Rio di tengah hujan, air mata bahagia hampir bercampur dengan air hujan di pipinya. "Kamu beneran penyihir ya Dik?! Gerakan apa tadi itu? Operan, lari, sama tendangannya... mulus banget! Kayak pemain di TV-TV itu lho!"
Dika tertawa lepas, merasakan tubuhnya dingin kedinginan tapi hatinya luar biasa hangat. Dia menepuk punggung Doni dan Rio bergantian. "Kamu juga hebat, Doni. Pemilihan waktumu pas banget. Dan kamu Rio... kelakuanmu tadi beneran penyelamat, tahu nggak? Kalau kamu nggak bikin Raka emosi dan capek, belum tentu kita bisa dapat celah sebesar ini."
Dika menoleh ke arah lawan. Raka berdiri diam di tengah lapangan, napasnya memburu, wajahnya penuh keringat dan air hujan, tatapannya penuh kekalahan. Dia sadar sekarang. Dia sadar bahwa sepak bola bukan cuma soal siapa yang paling kuat atau paling cepat. Ada hal lain yang jauh lebih penting, dan hal itu ada pada diri Dika.
Pak Budi bertepuk tangan pelan di pinggir lapangan, wajahnya tersenyum lebar sampai matanya menyipit. Dia melihat Dika dengan pandangan bangga yang luar biasa. Anak itu... anak yang biasanya santai dan malas, hari ini berubah menjadi sosok pemimpin sejati di lapangan.
Sisa waktu pertandingan berjalan sangat menegangkan. Kelas 2-B berusaha mati-matian menyamakan kedudukan lagi. Raka mengerahkan sisa tenaganya, berjuang sekuat tenaga, tapi pertahanan yang terorganisir rapi oleh instruksi Dika dan ketangguhan Rio, membuat gawang mereka aman sentosa.
Hingga akhirnya...
PRIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTTTTTTT!
Peluit panjang dan nyaring dari wasit menandakan pertandingan telah usai.
Kemenangan ada di tangan Kelas 2-A! 2-1 adalah skor akhir yang manis di tengah guyuran hujan yang baru saja mulai mereda.
Seluruh anggota tim 2-A langsung berlarian berkumpul, berpelukan, melompat, dan berteriak bahagia. Ada yang sampai berpegangan tangan berputar-putar kegirangan. Bagi mereka, ini bukan sekadar menang antar kelas. Ini kemenangan karena kerja sama, karena semangat, dan karena adanya pemimpin yang hebat di tengah mereka hari ini.
Dika berdiri di tengah kerumunan itu, tersenyum puas menatap langit yang mulai cerah kembali, awan kelabu perlahan menyingkir membiarkan sinar matahari sore menerobos masuk. Dia menunduk melihat kakinya yang penuh lumpur, melihat sepatu bolanya yang sudah kotor habis, dan merasa sangat bahagia. Langkah pertamanya telah berhasil. Dia sudah membuktikan sedikit saja dari apa yang dia mampu lakukan.
Rio merangkul bahu Dika dengan berat, bahunya basah dan bau tanah.
"Kamu hebat banget, Dik. Serius. Aku bangga banget jadi temanmu," kata Rio dengan suara serak karena teriak-teriak tadi, matanya berbinar tulus.
Dika menatap sahabatnya itu, lalu membalas rangkulan itu. "Terima kasih, Rio. Tanpa kamu, tanpa kalian semua, aku cuma satu orang biasa saja. Ingat ya, ini baru awal. Kita bakal lewati banyak pertandingan lebih berat dari ini. Dan aku mau kamu janji satu hal sama aku."
"Apa itu?" tanya Rio penasaran.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Ke mana pun aku pergi, ke mana pun aku melangkah, kamu harus tetap ada di sebelahku. Kita capai mimpi itu bareng-bareng. Sampai ke Piala Dunia, ingat?"
Rio terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar sambil menyodorkan kepalan tangannya. "Janji. Sampai kapan pun. Kita teman sejati, kan?"
Dika menyodorkan kepalan tangannya juga, menempelkan ke kepalan tangan Rio. "Teman sejati."
Saat mereka berjalan keluar lapangan menuju tempat Pak Budi berdiri, Raka dan teman-temannya berjalan mendekat. Suasana menjadi hening sejenak. Raka berhenti tepat di depan Dika. Dia lebih tinggi beberapa sentimeter, tapi kali ini pandangannya tidak lagi menantang atau sombong. Dia menunduk sedikit, lalu mengulurkan tangannya.
"Kamu... mainnya hebat banget," kata Raka pelan, jujur dan rendah hati. "Aku kira aku paling jago di sini, ternyata aku masih banyak kurangnya. Cara kamu main... beda. Pintar. Aku harus banyak belajar dari kamu."
Dika menjabat tangan Raka dengan erat dan hangat.
"Terima kasih, Raka. Kamu juga hebat sekali. Kalau kamu latihan lebih rajin, belajar taktik, dan mengerti cara kerja sama, kamu bakal jadi pemain yang luar biasa. Aku tunggu kamu di tim sekolah nanti. Kita bisa jadi rekan satu tim yang hebat, bukan musuh lagi. Bagaimana?"
Mata Raka berbinar. Dia tidak menyangka Dika akan mengajaknya bergabung dan berbicara sebaik ini padahal baru saja mengalahkannya. Raka mengangguk mantap. "Siap! Aku mau ikut latihan lebih giat mulai besok. Makasih ya, Dika."
Pak Budi yang melihat adegan itu dari dekat tersenyum puas. Dia berjalan mendekati semua siswa sambil membawa handuk kecil di lehernya.
"Bagus! Bagus sekali semuanya!" seru Pak Budi. Suaranya tidak lagi keras seperti biasanya, tapi lembut dan bangga. "Pertandingan hari ini sangat indah. Bukan cuma karena ada gol-gol indah atau permainan seru, tapi karena saya melihat jiwa olahraga yang sesungguhnya. Kalian saling menghargai, berjuang sampai akhir, dan tidak menyerah meski keadaan sulit karena hujan."
Pak Budi menatap Dika lebih lama dari yang lain.
"Khusus buat kamu, Dika Pratama. Hari ini kamu memberikan kejutan besar bagi saya. Bakatmu memang sudah saya ketahui, tapi kedewasaan, kepemimpinan, dan kecerdasan bermain yang kamu tunjukkan hari ini... itu luar biasa. Ingat pesan saya kemarin? Bakat tanpa kerja keras itu sampah. Tapi hari ini saya lihat, kamu punya bakat, dan kamu mulai menunjukkan kerja keras. Teruskan ini. Jangan berhenti."
Dika menundukkan kepala dengan hormat. "Terima kasih, Pak. Saya akan ingat terus pesan Bapak. Dan saya janji, saya akan latihan lebih keras lagi."
"Bagus. Sekarang, semuanya segera mandi dan ganti baju. Jangan sampai masuk angin. Besok pagi latihan seperti biasa. Dan..." Pak Budi tersenyum lebar, "Untuk tim pemenang, saya izinkan pulang lebih awal hari ini. Silakan."
Tepuk tangan dan sorak-sorai kembali terdengar. Anak-anak kelas 2-A berteriak gembira karena boleh pulang duluan.
Saat berjalan pulang meninggalkan gerbang sekolah bersama Rio, matahari sore mulai terbenam, menyisakan langit berwarna jingga keemasan yang indah. Badan Dika terasa pegal, lelah, dan sangat kotor, tapi hatinya penuh kebahagiaan yang meluap-luap. Di tangannya, dia membawa tas olahraga, dan di langkah kakinya, ada rasa percaya diri yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Eh, Dik," panggil Rio sambil berjalan beriringan melewati trotoar jalan. "Nanti sore ke rumahku ya? Ibu masak ayam goreng, kita makan bareng sekalian cerita-cerita soal tadi. Tapi... sebelum ke situ, kamu mau ke mana dulu?"
Dika tersenyum menatap jalanan yang mulai sepi, teringat wajah ibunya, ayahnya, dan adiknya Rina yang pasti sedang menunggu di rumah. Dia ingin sekali bercerita pada mereka. Dia ingin melihat wajah bangga ibunya, mendengar komentar ayahnya, dan melihat Rina melompat gembira mendengar kabar kemenangannya.
"Aku mau pulang dulu, Rio. Mau ganti baju bersih, terus lapor sama Ayah sama Ibu. Mereka pasti penasaran banget gimana hasil pertandingannya. Nanti kalau sudah selesai, aku nyusul ke rumahmu ya," jawab Dika.
"Oke, deh! Hati-hati di jalan, jangan lari-lari nanti jatuh lagi kayak tadi di lapangan," canda Rio sambil melambaikan tangan lalu berbelok ke arah rumahnya.
Dika melanjutkan perjalanan sendirian menuju rumahnya. Di sepanjang jalan, bayang-bayang pertandingan tadi terputar lagi di kepalanya: sorakan teman-teman, tatapan kagum Pak Budi, tekad Raka, dan kebahagiaan Rio. Semuanya terasa begitu nyata dan indah.
Sesampainya di depan pagar rumahnya yang berwarna hijau catnya sudah mulai pudar, Dika menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tenaganya, lalu membuka pagar pelan-pelan. Bau masakan lezat langsung menyapa hidungnya dari arah dapur.
"Ibu? Ayah? Rina? Aku pulang!" teriak Dika sambil menutup pagar kembali.
Dari dalam rumah, terdengar langkah kaki kecil berlari cepat. Pintu depan terbuka, dan muncullah wajah Rina dengan pipi yang merona ceria. Di belakangnya ada Ibu yang sedang mengelap tangannya di celemek, dan Ayah yang baru saja pulang kerja, sedang meletakkan tas kerjanya di kursi teras.
Rina langsung berlari ke arah kakaknya, tapi saat melihat penampilan Dika dari ujung kepala sampai kaki yang penuh lumpur dan bau keringat bercampur air hujan, dia langsung berhenti mendadak sambil menutup hidung dan tertawa cekikikan.
"Kakak! Ih kotor banget sih! Kayak kerbau habis mandi lumpur!" seru Rina sambil tertawa.
Ibu mendekat sambil menggeleng-gelengkan kepala tapi tersenyum lebar. "Ya ampun, Nak. Habis kamu ke mana saja? Hujan-hujanan ya? Badan sampai becek begini. Tapi... kok wajahmu berseri-seri sekali? Ada kabar gembira ya?"
Ayah yang berdiri di ambang pintu juga tersenyum, melipat kedua tangannya di dada menatap putranya dengan pandangan menyelidik namun penuh kasih sayang.
Dika menatap keluarganya, orang-orang terpenting dalam hidupnya, orang-orang yang dulu sering dia kecewakan, dan sekarang dia bertekad akan membuat mereka paling bahagia di dunia. Dia tersenyum lebar, menatap mereka dengan mata berbinar bangga.
"Kabar gembira banget, Bu, Yah," jawab Dika dengan suara lantang dan bahagia. "Kita menang. Aku cetak dua gol. Dan... Pak Budi bilang, hari ini aku mainnya paling hebat seumur hidup aku."
Mendengar itu, wajah Ibu langsung berubah cerah, matanya berbinar bangga. Ia langsung mendekat meski bajunya Dika kotor, lalu mengusap rambut anak sulungnya itu dengan lembut.
"Benarkah, Le? Wah, hebat sekali anak Ibu! Ibu dengar dari tetangga ada yang lihat tadi hujan-hujanan, ternyata kamu yang jadi bintangnya ya? Bagus... bagus sekali. Ibu bangga banget dengarnya."
Ayah mengangguk pelan, lalu melangkah maju mendekati Dika. Beliau menepuk bahu Dika dua kali dengan keras dan mantap.
"Bagus. Ayah senang sekali dengarnya. Ayah lihat dari jauh tadi sebentar, pas pulang kantor desa lewat sekolah. Kamu tidak cuma lari-lari atau nendang bola sembarangan. Kamu mengatur permainan. Kamu memimpin teman-temanmu. Itu yang paling Ayah suka," kata Ayah dengan nada rendah namun tegas, lalu tersenyum tipis. "Tapi ingat, Dika. Sekali kemenangan itu mudah. Menjaga kemenangan dan terus menjadi yang terbaik... itu yang sulit. Jangan sampai kemenangan hari ini bikin kamu besar kepala dan lupa diri. Tetap rendah hati, tetap rajin."
Dika mengangguk tulus. "Aku tahu, Yah. Aku janji. Hari ini baru langkah kecil. Masih banyak hal besar yang mau aku buktikan sama Ayah sama Ibu. Aku mau bikin kalian bangga, sampai nama kita dikenal banyak orang nanti."
Rina yang dari tadi menutup hidung, sekarang membuka tangannya dan melompat-lompat sambil berteriak, "HORE! KAKAK HEBAT! KAKAK PEMENANG! Ingat ya Kak, janji tadi pagi! Kalau menang beliin aku es krim sama rumah boneka besar!"
Semua orang tertawa mendengar ucapan polos Rina. Suasana sore itu di halaman rumah sederhana itu terasa begitu hangat, begitu damai, dan begitu penuh cinta. Bagi Dika, momen ini jauh lebih berharga daripada piala apa pun di dunia. Mendengar pujian tulus dari orang tua dan kegembiraan adiknya adalah hadiah terindah yang dia dapat hari ini.
"Mandi dulu sana, Nak. Nanti masuk angin. Ibu sudah siapkan air hangat. Nanti kalau sudah bersih, kita makan malam bareng. Ibu masak makanan kesukaanmu hari ini, sebagai hadiah kemenangan," kata Ibu sambil mendorong Dika masuk ke dalam rumah.
Dika berjalan masuk sambil tersenyum bahagia. Di dalam hatinya, dia bersyukur takdir memberinya kesempatan kedua ini. Dia tahu perjalanan masih sangat panjang, jalan di depan masih penuh duri, rintangan, dan tantangan berat. Tapi dengan dukungan keluarga, persahabatan Rio, dan tekad baja yang ada di dadanya, Dika yakin tidak ada yang mustahil.
Perjalanan menuju menjadi pemain terbaik dunia baru saja dimulai dengan langkah yang kokoh dan kemenangan yang manis. Dan cerita panjang ini akan terus berlanjut, bab demi bab, halaman demi halaman, menuliskan sejarah baru yang penuh perjuangan, cinta, dan mimpi besar.