NovelToon NovelToon
Dewa Pedang Malas

Dewa Pedang Malas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Danzo28

.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sangkar Emas Kekaisaran dan Tiket Malas Jalur Khusus

​Asap dupa penenang mengalir tipis dari sudut Aula Inti Kediaman Tetua Agung. Di atas meja jati, bertumpuk gulungan laporan dari jaringan mata-mata rahasia yang mengawasi Paviliun Awan Tenang selama empat puluh delapan jam terakhir. Tetua Agung membaca setiap baris laporan tersebut dengan pelipis yang berdenyut tegang.

​Hari pertama: Tahanan makan tiga porsi bebek panggang, menggoda pelayan wanita tentang efisiensi energi saat menyapu, lalu tidur selama empat belas jam.

Hari kedua: Tahanan memindahkan kursi malas ke halaman bawah pohon bambu, berjemur hingga sore, dan mengeluhkan tekstur saus camilan yang kurang kental.

​"Tidak ada aktivitas kultivasi rahasia? Tidak ada kontak dengan faksi luar?" suara Tetua Agung bergetar menahan frustrasi.

​"Tidak ada, Tetua Agung," jawab kepala telik sandi yang berlutut di bawah bayangan. "Bocah itu benar-benar hanya bertingkah seperti babi malas yang menikmati fasilitas gratis klan."

​Paranoia Tetua Agung justru semakin memuncak. Di dalam dunia kultivasi, ketenangan absolut seperti ini hanya berarti satu hal: Ji Huang memiliki kepercayaan diri yang begitu masif hingga menganggap seluruh pengawasan klan utama sebagai lelucon yang tidak berarti. Paviliun Awan Tenang kini justru berubah menjadi benteng pertahanan tak tersentuh bagi Ji Huang. Selama bocah itu berada di dalam kompleks klan, hukum leluhur dan status "Murid Inti Kehormatan" melindunginya dari tindakan fisik langsung.

​"Kita tidak bisa membiarkan harimau tak tertebak ini tidur di halaman belakang kita," desis Tetua Agung, matanya berkilat licik. "Jika kita tidak bisa menyentuhnya di sini, kita harus memaksanya keluar dari wilayah klan secara legal. Gunakan strategi 'melempar harimau ke luar gunung'."

​Mata tua itu melirik ke sebuah gulungan maklumat berlambang kekaisaran yang terletak di sudut meja. "Kebetulan sekali, kuota tahunan klan untuk mengirim perwakilan ke Akademi Kekaisaran harus diserahkan lusa. Kita kirim Ji Huang ke sana."

​Strategi ini sangat kejam. Akademi Kekaisaran adalah tempat berkumpulnya satu persen monster jenius terbaik dari berbagai klan raksasa, sekte kuno, dan keluarga kerajaan. Di tempat yang dipenuhi persaingan berdarah panas seperti itu, status Murid Kehormatan klan Huang tidak akan ada harganya. Tetua Agung sangat berharap keangkuhan atau kemalasan Ji Huang akan memicu kemarahan para jenius luar yang jauh lebih kejam, membiarkan tangan orang lain melenyapkan ancaman ini tanpa menodai reputasi Keluarga Huang.

​Sementara itu, di Paviliun Awan Tenang, ketenangan malam mendadak pecah ketika Ji Lan menerobos masuk ke kamar tidur utama. Tangannya menggenggam salinan gulungan maklumat klan dengan cengkeraman yang begitu erat hingga kertas perkamen itu berderit.

​"Ji Huang! Bangun!" seru Ji Lan, suaranya mengandung kombinasi kepanikan dan urgensi yang tinggi.

​Ji Huang perlahan membuka satu matanya dari atas ranjang Giok Es. Dia menatap sepupu cantiknya itu dengan pandangan lempeng yang luar biasa tenang. "Sepupu jutek, ini sudah larut malam. Datang ke kamar seorang pria sambil berteriak seperti itu bisa merusak reputasimu sebagai gadis baik-baik."

​"Persetan dengan reputasi! Nyawamu sedang dipertaruhkan!" Ji Lan melemparkan gulungan itu ke atas kasur. "Tetua Agung baru saja mengeluarkan keputusan resmi. Kamu ditunjuk sebagai perwakilan utama klan untuk masuk ke Akademi Kekaisaran lusa pagi!"

​Ji Huang menguap lebar, mengabaikan gulungan tersebut. "Akademi? Tempat macam apa itu?"

​Ji Lan menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan kepanikannya untuk memberikan penjelasan sepadat mungkin. "Itu adalah pusat otoritas kultivasi tertinggi di seluruh negeri. Tempat berkumpulnya para monster berdarah murni dari klan-klan raksasa. Kompetisi di sana sangat brutal dan menerapkan hukum seleksi alam secara absolut. Murid yang kuat mendapatkan hak istimewa setingkat raja muda, sementara murid yang lemah atau malas akan ditindas, dijadikan pelayan, bahkan bisa tewas dalam duel resmi tanpa ada hukum yang membela!"

​Mendengar kata 'kompetisi brutal' dan 'berdarah panas', Ji Huang langsung membalikkan tubuhnya membelakangi Ji Lan, menarik selimut sutra esnya hingga menutupi kepala.

​"Sampaikan pada orang tua itu, aku menolak," suara Ji Huang terdengar meredam dari balik selimut. "Pergi ke tempat yang isinya orang-orang ambisius yang suka bertarung sepagi hari terdengar seperti mimpi buruk bagi kaum pemalas sepertiku. Lebih baik aku membusuk di atas kasur giok ini."

​Tepat pada saat itu, suara ketukan pintu yang sopan terdengar dari luar. Seorang utusan paruh baya dari kediaman Tetua Agung melangkah masuk sembari membawa sebuah kotak beludru hitam berukir naga.

​"Tuan Muda Ji Huang," ucap utusan itu dengan sikap hormat yang formal. "Tetua Agung telah memperkirakan keengganan Anda. Oleh karena itu, sebagai Murid Inti Kehormatan dengan bakat yang melampaui batas, Anda diberikan 'Jalur Khusus Tanpa Tes Nyata' untuk masuk ke akademi. Anda tidak perlu mengikuti ujian seleksi fisik atau bertarung memperebutkan peringkat di gerbang masuk. Terlebih lagi, klan telah memesankan fasilitas Kamar VIP Individu di asrama sayap barat akademi yang terisolasi dari murid biasa."

​Mendengar kata "VIP" dan "Tanpa Tes", gerakan Ji Huang mendadak terhenti. Dia menurunkan selimutnya, lalu duduk tegak dengan sepasang mata sayu yang kini menatap lurus ke arah utusan tersebut.

​Otak mantan Dewa Pedangnya langsung menghitung keuntungan taktis dari situasi ini. Berada di klan utama Keluarga Huang membuatnya terus-menerus diintip oleh mata-mata Tetua Agung yang paranoid. Namun, jika dia pindah ke Akademi Kekaisaran yang luas dengan status jalur khusus dan kamar VIP individu, dia bisa membolos dari semua urusan klan, mengunci diri di kamar asrama yang jauh, dan tidur siang tanpa ada satu pun orang tua klan yang berani mengganggunya. Ini adalah tiket emas untuk memperluas zona malasnya secara radikal.

​"Jalur khusus tanpa tes dan kamar VIP, kan?" Ji Huang memastikan dengan wajah lempeng.

​"Benar, Tuan Muda. Hak istimewa penuh," jawab utusan itu meyakinkan.

​"Baiklah. Katakan pada si tua itu, aku menerima undangannya," ucap Ji Huang polos sembari kembali bersandar. "Aku akan pergi ke akademi tersebut."

​Setelah utusan itu undur diri dengan puas, Ji Lan menatap Ji Huang dengan pandangan yang mendadak berubah menjadi sangat kompleks. Kemarahan dan kecemasan yang tadinya meluap-luap di dada gadis itu perlahan surut, digantikan oleh sebuah kesadaran baru yang terasa pahit namun nyata.

​Ji Lan menatap wajah sepupunya yang begitu tenang tanpa beban. Dia mengingat kembali bagaimana Ji Huang memojokkan para Hakim Agung dengan hukum leluhur, bagaimana dia melumpuhkan jenius Lapis ke-6 hanya dengan sebuah bantal, dan bagaimana dia menghancurkan Batu Altar yang sakral tanpa mengedipkan mata.

​Gadis cerdas itu akhirnya menyadari satu hal: Ji Huang yang ada di depannya saat ini bukan lagi sepupu bodoh yang harus dia lindungi di bawah ketiaknya. Pemuda ini telah bertransformasi menjadi sosok misterius yang berada di tingkat ekosistem yang jauh melampaui jangkauan logikanya. Ji Lan menyadari bahwa mengkhawatirkan atau mencoba mengekang langkah Ji Huang dengan standar ketakutan manusia fana adalah sebuah tindakan yang sia-sia.

​"Kamu... benar-benar telah berbeda, Ji Huang," ucap Ji Lan dengan suara yang melunak, ada nada keikhlasan yang dalam di balik ketus alaminya. "Aku sadar aku tidak mungkin bisa terus mengekang atau menahan langkahmu di tempat ini. Dunia luar mungkin berbahaya bagi orang lain, tetapi bagimu... tempat itu mungkin hanya akan menjadi tempat tidur barumu."

​Ji Lan membalikkan tubuhnya, melangkah menuju pintu. Dia memilih untuk kembali ke Kota Amerta esok hari, kembali ke klan cabang untuk fokus pada kultivasinya sendiri, melepaskan tanggung jawab protektif yang selama ini dia pikul sendiri.

​Tepat di ambang pintu, Ji Lan berhenti tanpa menoleh. "Jangan mati di sana, si bodoh malas. Setidaknya, bertahanlah hidup sampai kamu benar-benar bisa melunasi hutang sup ayamku."

​Ji Huang menatap punggung Ji Lan yang perlahan menghilang di balik pintu dengan seulas senyum tipis yang jarang terlihat di wajah lempengnya. Dia menghargai kepedulian tulus dari sepupunya itu, meski cara penyampaiannya selalu jutek.

​Ji Huang kemudian menoleh ke arah Xiao Mei yang setia berdiri di sudut kamar. "Xiao Mei, persiapkan barang-barang kita untuk lusa pagi. Pastikan seluruh persediaan saus madu diangkut, dan yang paling penting..."

​Ji Huang menepuk ranjang Giok Es di bawahnya. "Gunakan kereta kuda terbaik klan untuk mengangkut ranjang giok ini ke asrama akademi. Aku tidak sudi tidur di atas kasur standar asrama yang keras dan tidak ramah bagi punggung faku."

​"Baik, Tuan Muda Ji Huang. Semuanya akan saya atur dengan sempurna," jawab Xiao Mei dengan senyuman manis porselennya yang memikat.

​Ji Huang kembali merebahkan kepalanya, menatap langit-langit kamar dengan pandangan polos. Akademi Kekaisaran yang ditakuti oleh seluruh jenius di negeri itu, di mata Ji Huang, kini hanyalah sebuah destinasi liburan mewah berikutnya untuk memindahkan tempat tidur siangnya.

1
Shen shandian luo
semua di labeli fana..tusuk gigi fana segala
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!