NovelToon NovelToon
Dibeli Seharga 1 Miliar

Dibeli Seharga 1 Miliar

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana L.

Aulia dipaksa ayah & ibu tirinya dijual ke Alexandra, mafia kejam seharga 1 miliar. Terperangkap di dunia gelap sang penguasa, bisakah cinta tumbuh di tengah rantai, bahaya, dan obsesi gila itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duri

Pesawat jet pribadi milik Surya Corp meluncur mulus menuruni landasan Bandar Udara Internasional Los Angeles. Di balik jendela kokpit, hamparan kota yang dikenal sebagai Kota Malaikat terbentang luas lautan cahaya emas yang berkilau di bawah sinar matahari sore, dihiasi garis pantai yang memanjang tak berujung. Tapi bagi Alex, kilauan itu tidak berbeda dengan jubah indah yang dipakai oleh seekor ular berbisa: memikat, tapi menyimpan bahaya mematikan.

Begitu roda pesawat menyentuh tanah, rombongan telah siap menunggu. Bukan hanya mobil mewah hitam yang berjajar rapi, tapi juga pasukan pengawal tambahan yang telah dikirim Alex seminggu sebelumnya untuk mengamankan wilayah. Di antara mereka berdiri seorang pria paruh baya berperawakan besar dengan tatapan tajam Javier, orang kepercayaan Alex yang bertugas mengawasi jaringan bisnis Surya Corp di pantai Barat.

“Selamat datang di Los Angeles, Tuan Alex, Nona Aulia,” sapa Javier dengan nada hormat namun tegas begitu pintu pesawat terbuka. “Semuanya sudah disiapkan. Vila di Beverly Hills telah dibersihkan dan dijaga ketat, dan perwakilan dari studio film sudah menunggu di tempat jika Anda ingin segera bertemu.”

Alex melangkah turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Aulia. Wanita itu tampak anggun dalam gaun berwarna krem yang ia desain sendiri, namun caranya melangkah dan menatap sekeliling kini jauh lebih percaya diri bukan lagi gadis yang selalu bersembunyi di balik bahu kekasihnya.

“Kita akan istirahat malam ini,” jawab Alex singkat, matanya mengamati setiap sudut bandara dengan kewaspadaan naluriah. “Besok kita mulai urusan bisnis. Dan ingat: di sini, tidak ada yang boleh dianggap kawan sampai terbukti sebaliknya.”

Perjalanan menuju Beverly Hills memakan waktu hampir satu jam. Sepanjang jalan, Aulia tak bisa menahan rasa kagum melihat pemandangan: gedung-gedung megah, pohon palem yang berbaris rapi, dan papan reklame raksasa yang menampilkan wajah-wajah bintang film terkenal. Namun di balik kekaguman itu, ia juga merasakan ketegangan yang tergantung di udara sesuatu yang telah ia pelajari untuk dirasakan selama latihan bersama Alex.

Vila tempat mereka menginap adalah istana mini yang berdiri di atas bukit, menghadap langsung ke cakrawala kota. Taman yang luas, kolam renang tak bertepi, dan sistem keamanan canggih membuat tempat itu terasa seperti benteng pribadi. Namun, di malam pertama mereka, ketenangan itu segera terganggu.

Malam itu, saat mereka sedang duduk di ruang tamu sambil membaca dokumen perjanjian kerja sama studio, Rio masuk dengan wajah serius.

“Ada laporan, Bos,” ucapnya pelan. “Beberapa orang yang tidak dikenal terlihat berkeliling di gerbang utama. Mereka mengaku wartawan, tapi cara mereka bergerak dan berkomunikasi mencurigakan. Selain itu, informasi dari jaringan kita menyebutkan bahwa kehadiran kita sudah menarik perhatian dua pihak utama: kartel narkoba yang menguasai jalur perdagangan di selatan, dan Victor Hale pemilik studio film terbesar di sini, yang dikenal sangat tidak suka berbagi kekuasaan.”

Alex tersenyum tipis, senyum dingin yang hanya muncul ketika ia berhadapan dengan tantangan. Ia menatap Aulia, yang sedang mendengarkan dengan tenang sambil memegang pena di tangannya.

“Sudah diduga,” gumam Alex. “Victor Hale ingin uang kita, tapi ia takut kita mengambil kendali. Dan kartel di sini tidak suka ada kekuatan baru yang bisa mengganggu arus mereka. Mereka ingin menguji seberapa tajam taring kita.”

Aulia menutup dokumennya, lalu menatap Alex dengan sorot mata yang mantap. “Kalau begitu, besok kita tunjukkan bahwa kita bukan mitra yang bisa dipermainkan, maupun ancaman yang bisa diabaikan. Aku akan hadir dalam pertemuan itu bukan hanya sebagai desainer, tapi sebagai wakil resmi Surya Corp.”

Keesokan harinya, di ruang pertemuan megah milik studio terkemuka, suasana terasa tegang sejak awal. Victor Hale pria berusia pertengahan lima puluhan dengan penampilan rapi namun tatapan meremehkan duduk di ujung meja panjang, dikelilingi oleh pengacara dan asistennya.

“Senang akhirnya bertemu,” ucap Victor dengan nada ramah yang palsu. “Kami sangat menghargai minat Anda untuk berinvestasi. Tapi tentu saja, di sini kami sudah memiliki sistem yang berjalan dengan baik. Kontrak desain untuk Nona Aulia bisa disepakati, tapi untuk urusan strategi bisnis… sebaiknya diserahkan kepada kami yang sudah paham seluk-beluk industri ini.”

Alex bersandar di kursinya, tidak menunjukkan emosi apapun. Namun sebelum ia sempat menjawab, Aulia yang duduk di sampingnya berbicara dengan suara tenang namun berwibawa, cukup keras untuk didengar seluruh ruangan.

“Kami paham industri ini, Tuan Hale. Tapi kami juga membawa sesuatu yang tidak dimiliki siapa pun di sini: akses ke pasar global, modal yang tidak terbatas, dan visi yang berbeda. Saya menerima tawaran menjadi kepala desainer, tapi saya juga memastikan bahwa setiap keputusan kreatif akan disesuaikan dengan standar kualitas yang kami pegang. Jika Anda merasa kami hanya sekadar penyumbang uang, maka Anda salah besar.”

Victor tertegun sejenak, tidak menyangka wanita muda itu akan berbicara setegas itu. Namun sebelum ia sempat membalas, suara teriakan dan bunyi kaca pecah terdengar dari luar ruangan. Beberapa detik kemudian, dua orang pria bertopeng menerobos masuk sambil memegang senjata api tampaknya bukan upaya pembunuhan sungguhan, melainkan sekadar peringatan atau uji nyali.

Namun, sebelum mereka sempat mengarahkan senjata ke siapa pun, reaksi terjadi dengan cepat. Alex langsung melindungi Aulia dengan tubuhnya, sementara Aulia sendiri berkat latihan yang telah ia jalani selama berbulan-bulan mengambil vas bunga berat di dekatnya dan melemparkannya tepat mengenai tangan salah satu penyerang, membuat senjatanya terlempar. Dalam hitungan detik, pasukan pengawal Alex telah masuk dan menaklukkan kedua pria itu.

Suasana hening seketika. Victor Hale menatap dengan mata terbelalak, kini menyadari bahwa tamunya bukan sekadar orang kaya biasa.

“Seperti yang saya katakan tadi,” ucap Alex pelan namun mengancam, sambil memegang tangan Aulia erat. “Kami datang untuk membangun, bukan untuk menghancurkan. Tapi jika ada yang berani mengganggu kami… baik itu pesaing bisnis maupun penjahat jalanan, mereka akan menyesal telah dilahirkan. Apakah kita sudah jelas, Tuan Hale?”

Victor mengangguk perlahan, wajahnya kini pucat. “Jelas… sangat jelas.”

Malam itu, saat mereka kembali ke vila, Alex memeluk pinggang Aulia erat-erat di balkon sambil menatap cahaya kota yang berkilau.

“Kau hebat hari ini,” bisiknya, mencium puncak kepala wanita itu. “Tidak gemetar sedikit pun.”

Aulia tersenyum, menyandarkan kepalanya di dada Alex. “Kita hadapi ini bersama, kan? Aku tidak mau hanya menjadi penonton.”

“Selalu bersama,” jawab Alex tegas. “Ingat, di sini banyak yang iri dan berbahaya. Tapi selama kita berdiri berdampingan, tidak ada yang bisa menjatuhkan kita. Petualangan kita baru saja dimulai di sini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!