Selama 10 tahun, Inspektur REYHAN tidak pernah bisa melupakan kasus pembunuhan berantai yang membuat rekannya mati mengenaskan. Ciri khas pembunuhnya: selalu meninggalkan genangan darah segar, tapi TIDAK ADA JENAZAH, TIDAK ADA JEJAK, DAN TIDAK ADA MAYAT — seolah darah itu mengalir dan lenyap begitu saja ke dalam udara. Kasus itu ditutup sebagai misteri tak terpecahkan, sampai Reyhan menemukan petunjuk yang mengarah ke desa terpencil bernama DESA KELAM — tempat di mana rahasia paling mengerikan disembunyikan selama ratusan tahun. Di sana ia sadar: ini bukan sekadar pembunuhan biasa, tapi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caesarius A Enda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1: DARAH TANPA MAYAT
Kisah: Jejak Darah yang Menghilang
Malam itu, langit di atas Kota Serabaya benar-benar gelap, tertutup awan hitam tebal yang seolah menelan seluruh cahaya bulan dan bintang. Hujan deras turun tanpa henti, memukul atap-atap bangunan, membasahi jalanan aspal yang sudah lama retak, dan membawa bau khas tanah basi bercampur dengan aroma minyak kendaraan yang menguap. Suara guntur bergema jauh, disusul kilat yang sesekali menyambar, menerangi sejenak wajah kota yang tampak pucat dan suram. Di antara hiruk-pikuk hujan dan suara kendaraan yang melintas, ada satu tempat yang sunyi senyap, terisolasi dari dunia luar, seolah menjadi titik paling gelap di tengah keramaian.
Di sebuah gang sempit di belakang gedung perkantoran tua yang sudah jarang digunakan, deru mesin mobil polisi terdengar memecah keheningan. Lampu sorot berwarna biru dan merah berputar terus-menerus, memantul di dinding-dinding tembok yang penuh lumut dan grafiti pudar, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang bergoyang-goyang seperti makhluk hidup. Beberapa petugas berdiri berjaga di ujung gang, menghalangi warga yang penasaran agar tidak mendekat, sementara di bagian paling dalam, Inspektur Reyhan berdiri diam, matanya tajam menatap pemandangan di hadapannya—pemandangan yang sama persis seperti mimpi buruk yang selama sepuluh tahun ini tidak pernah mau lepas dari ingatannya.
Reyhan berdiri tegak meski air hujan membasahi seluruh tubuhnya, meresap ke dalam seragam, membuatnya terasa berat dan dingin. Ia adalah pria berusia tiga puluh delapan tahun, dengan rahang tegas, tatapan mata yang tajam namun lelah, dan garis-garis halus di dahi yang menjadi saksi bisu dari segala beratnya beban yang ia pikul selama bertahun-tahun. Sepuluh tahun lalu, ia masih seorang polisi muda yang penuh semangat, percaya bahwa setiap kejahatan pasti ada jejaknya, setiap pelaku pasti bisa ditemukan, dan setiap misteri pasti ada jawabannya. Namun semua keyakinan itu hancur berkeping-keping pada malam di mana rekannya—Inspektur Damar—menghilang begitu saja, hanya menyisakan genangan darah segar yang luas di tengah jalan raya, tanpa satu tetes pun yang tercecer keluar, tanpa satu helai rambut atau potongan kain pun yang tertinggal, dan tanpa ada jenazah yang pernah ditemukan hingga hari ini.
Dan malam ini, pemandangan itu kembali hadir persis sama.
Di depannya, di atas lantai beton yang keras dan kotor, terhampar genangan darah merah tua yang luas, berbentuk lingkaran sempurna dengan diameter sekitar dua meter. Darahnya sangat banyak, begitu banyak seolah seluruh isi tubuh manusia dewasa habis dituangkan di sana. Warnanya pekat, berkilau terkena cahaya lampu sorot, dan meskipun hujan turun deras memukul permukaannya, air hujan tidak bisa masuk atau mencampurnya sedikit pun. Setiap tetes air yang jatuh ke atas lingkaran itu seolah menabrak dinding tak terlihat, meluncur keluar ke sisi luar tanpa menyentuh darah itu sama sekali. Genangan itu tetap utuh, tetap diam, tetap terlihat hidup dan berdenyut pelan mengikuti irama yang tidak diketahui.
“Sudah yang keempat kalinya dalam dua bulan ini, Pak,” suara Bara—anak buahnya yang masih muda—terdengar gemetar dari samping. Pemuda itu berdiri sedikit di belakang, wajahnya pucat, matanya tidak berani menatap terlalu lama ke arah genangan darah itu. “Sama persis dengan laporan kasus yang Bapak tangani sepuluh tahun lalu. Sama bentuknya, sama ukurannya, bahkan bau yang keluar dari sana pun… sama persis. Kami sudah cek rekaman CCTV di sekitar, tapi anehnya, semua kamera yang menghadap ke arah gang ini mati total tepat pada jam kejadian. Tidak ada satu detik pun rekaman yang terekam. Seolah-olah ada sesuatu yang memotong semua arus listrik hanya di area ini saja.”
Reyhan tidak menjawab segera. Ia melangkah perlahan mendekat, sampai ujung sepatu kulitnya hampir menyentuh batas lingkaran darah itu. Dari jarak dekat, bau yang keluar dari sana semakin menyengat—bau besi yang tajam, bau darah segar yang masih hangat, namun terselip di dalamnya ada aroma lain yang samar, aneh, dan sangat tidak wajar. Aroma itu seperti campuran antara kayu yang terbakar separuh, bunga-bunga liar yang sudah layu kering, dan sesuatu yang manis namun memualkan, seperti daging yang mulai membusuk tapi belum sepenuhnya mati. Bau yang sama persis dengan apa yang ia cium sepuluh tahun lalu, saat ia menemukan genangan darah milik rekannya Damar. Bau yang sejak saat itu selalu menghantui hidung dan ingatannya, muncul tiba-tiba di mimpi atau saat ia sedang sendirian dalam keheningan malam.
Ia berjongkok perlahan, kancing saku celananya menyentuh lantai basah. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan sarung tangan karet dari saku jasnya, memakainya perlahan, lalu mengulurkan tangan kanannya mendekati permukaan darah itu. Jarak antara jari telunjuknya dan permukaan cairan merah itu hanya beberapa sentimeter, dan ia bisa merasakan hawa hangat yang naik ke atas, hawa yang seharusnya tidak mungkin ada karena darah itu sudah tertinggal di sana lebih dari satu jam. Saat ujung jarinya akhirnya menyentuh permukaan itu, ia merasakan tekstur yang aneh—tidak encer seperti darah biasa, melainkan sedikit kental, licin, dan… hidup. Permukaan itu sedikit bergetar saat tersentuhnya, seolah ada jantung kecil yang berdetak di dalam sana.
“Masih hangat,” bisik Reyhan pelan, matanya menyipit tajam. “Padahal saksi mata melihat kejadiannya lebih dari satu jam yang lalu. Darah manusia biasa seharusnya sudah mulai dingin dan membeku sekarang. Tapi ini… ini terasa seperti baru saja keluar dari tubuh makhluk hidup.”
Ia mengangkat jarinya sedikit, melihat tetesan merah yang menempel di ujung sarung tangannya. Tetesan itu tidak jatuh, tidak menetes ke bawah, melainkan tetap menempel erat, bergerak pelan melingkar di ujung jarinya seolah mencari jalan untuk kembali ke genangan utama. Reyhan memperhatikannya dengan saksama, perasaannya semakin tidak enak. Sepuluh tahun yang lalu, Damar juga meninggalkan darah yang memiliki sifat sama—tidak mau menetes, tidak mau menyebar, tetap utuh dalam batas yang tidak terlihat. Saat itu semua orang menyebutnya kebetulan, menyebutnya karena jenis darah korban yang berbeda, atau karena kondisi suhu udara yang khusus. Tapi sekarang, setelah kejadian yang sama terulang empat kali dalam dua bulan terakhir, Reyhan tahu pasti bahwa ini bukan kebetulan, dan ini sama sekali bukan kasus pembunuhan biasa.
“Cek semua data identitas orang hilang dalam tiga hari terakhir,” perintah Reyhan, suaranya tegas namun ada getaran halus yang tidak bisa ia sembunyikan. “Cocokkan golongan darah, jenis kelamin, usia, dan ciri-ciri fisik. Cek juga semua rumah sakit, kantor polisi, tempat kerja, dan keluarga korban. Cari tahu siapa yang hilang tanpa jejak, siapa yang terakhir kali terlihat berada di sekitar sini. Dan yang paling penting… cari tahu apakah ada hubungan antara keempat korban ini, baik dari sisi keluarga, pekerjaan, masa lalu, atau tempat asal mereka.”
“Baik, Pak,” jawab Bara sambil mencatat dengan tangan yang masih sedikit gemetar. “Tapi Pak… satu hal lagi yang aneh. Setiap kali kami mengambil sampel darah ini untuk dibawa ke laboratorium, sampel itu selalu rusak atau hilang di tengah jalan. Kali pertama, tabung sampelnya pecah sendiri di dalam tas meskipun tidak ada benturan. Kali kedua, darahnya menguap habis dalam waktu sepuluh menit meskipun sudah disimpan di kotak pendingin. Kali ketiga dan keempat… sampelnya lenyap begitu saja, tidak ada jejak sama sekali, seolah tidak pernah ada di dalam tabung itu. Laboratorium bilang mereka tidak pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Mereka bilang darah ini… seolah tidak mau diperiksa, tidak mau diketahui rahasianya.”
Reyhan mengangguk pelan. Ia sudah mendengar hal yang sama sepuluh tahun lalu. Sampel darah Damar juga lenyap tanpa jejak sebelum sempat diperiksa secara menyeluruh, sehingga kasus itu akhirnya ditutup sebagai “hilang tanpa keterangan” dan tidak pernah dibuka kembali. Selama bertahun-tahun ia mencari jawaban sendiri, membaca catatan lama milik ayahnya yang juga seorang polisi sebelum pensiun, menggali cerita rakyat dan legenda kuno yang sering diceritakan orang tua di kampung halamannya, dan mencoba mencari pola di antara kejadian-kejadian aneh yang selalu dianggap sebagai kebetulan atau kesalahan manusia.
Malam itu, setelah semua petugas sudah pulang, setelah garis polisi sudah dipasang rapat di sekeliling lokasi, dan setelah kendaraan lain sudah pergi meninggalkan tempat itu, Reyhan masih berdiri sendirian di sana. Hujan sudah mulai reda, hanya menyisakan gerimis halus yang dingin. Lampu sorot sudah dimatikan, hanya tersisa cahaya samar dari lampu jalan di ujung gang yang menerangi sepotong kecil tempat kejadian. Reyhan tidak mau pulang. Ada sesuatu yang memanggilnya, sesuatu yang menarik hatinya untuk tetap tinggal, seolah genangan darah itu sendiri sedang menunggu ia melihat sesuatu yang tersembunyi.
Ia berjongkok kembali di tempat yang sama, matanya tidak lepas dari permukaan merah yang diam itu. Waktu berlalu perlahan, menit demi menit berganti, dan keheningan di sekitar sana terasa semakin tebal, semakin menekan dada. Sampai akhirnya, tepat pukul dua belas lewat lima belas menit malam—waktu yang sama persis dengan waktu hilangnya Damar sepuluh tahun lalu—hal yang tidak terbayangkan mulai terjadi.
Genangan darah yang tadinya diam membeku, tiba-tiba mulai BERGERAK SENDIRI.
Gerakannya sangat pelan, sangat halus, sehingga orang yang tidak memperhatikan dengan saksama pasti akan mengira itu hanya bayangan atau pantulan cahaya. Tapi Reyhan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Tetesan demi tetesan mulai bergeser perlahan, meninggalkan posisi semula, menyusuri batas lingkaran itu membentuk garis-garis halus. Perlahan tapi pasti, pola mulai terbentuk di permukaan itu—garis lurus panjang yang membelah tengah, garis melengkung di sisi kanan, titik-titik kecil yang tersusun rapi, dan bentuk-bentuk khas yang Reyhan sangat kenal. Itu adalah bentuk peta. Peta sebuah tempat yang namanya tidak pernah ada di peta resmi mana pun, tapi sering tertulis di catatan kuno milik ayahnya—tempat yang bernama DESA KELAM.
Jantung Reyhan berdegup kencang seolah mau meledak di dalam dadanya. Tangannya mencengkeram lututnya erat-erat, kuku menancap ke dalam kain celana, matanya tidak berkedip sedikit pun saat melihat pola itu semakin jelas terbentuk. Peta itu menunjukkan jalan raya yang membelah hutan lebat, sungai kecil yang berkelok, dan lokasi desa yang terletak di dasar lembah yang dalam, tersembunyi di antara bukit-bukit tinggi yang tertutup kabut sepanjang tahun. Di bagian tengah peta itu, ada tanda silang berwarna merah gelap yang sangat mencolok—tempat yang ditandai sebagai “Sumber” di dalam catatan ayahnya.
Setelah pola peta itu terbentuk sempurna, darah itu mulai bergerak lagi, kali ini semakin cepat. Ia berkumpul menjadi satu titik di tengah, lalu perlahan menyusut ke bawah, meresap masuk ke dalam celah-celah kecil di lantai beton yang keras. Dalam waktu kurang dari satu menit, seluruh genangan darah seluas dua meter itu lenyap total, tidak ada satu tetes pun yang tersisa di permukaan. Lantai beton yang tadinya merah pekat sekarang kembali bersih kering, seolah tidak pernah ada apa-apa di sana sejak awal. Tidak ada noda, tidak ada bau, tidak ada jejak sedikit pun yang bisa membuktikan bahwa baru saja ada ratusan liter darah manusia yang terhampar di tempat itu.
Reyhan masih terpaku di tempatnya, napasnya berat dan tidak teratur. Kepalanya terasa pening, dan di antara debu yang tersisa di lantai tempat darah itu lenyap, ia melihat satu benda kecil yang tertinggal. Benda itu berwarna hitam kusam, panjang sekitar sepuluh sentimeter, tebal sebesar benang biasa, dan terlihat sangat tua. Ia mengambilnya perlahan dengan ujung jarinya, memegangnya di bawah cahaya lampu jalan yang samar. Itu adalah sepotong benang kain yang kasar, kering, dan masih menyisakan sedikit aroma samar yang ia kenal baik—bau kayu terbakar dan bunga layu.
Benang ini sama persis dengan benang yang ia temukan di saku jaket Damar sepuluh tahun lalu, saat jaket itu ditemukan tergeletak di pinggir jalan raya, bersih tanpa noda darah sama sekali meskipun pemiliknya menghilang hanya menyisakan genangan darah yang luas.
Reyhan menggenggam benang kecil itu erat di dalam telapak tangannya, merasakan teksturnya yang kasar dan kering. Sepuluh tahun lamanya ia mencari jawaban, sepuluh tahun lamanya ia menahan rasa bersalah dan rasa penasaran yang tidak pernah habis, sepuluh tahun lamanya ia berpikir bahwa ia tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rekannya malam itu. Tapi sekarang, jawaban itu akhirnya datang menghampirinya. Darah yang menghilang itu bukan sekadar tanda pembunuhan—itu adalah undangan. Undangan untuk datang ke tempat yang selama ini disembunyikan dari mata dunia. Undangan untuk menemukan kebenaran yang selama ini dikubur dalam kegelapan.
Ia berdiri perlahan, memasukkan benang itu ke dalam saku paling dalam di bajunya, memastikan tidak akan hilang. Matanya menatap ke arah tempat di mana darah itu lenyap, dan untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun ini, ia merasa takut—bukan takut akan bahaya yang menunggu, tapi takut akan kebenaran yang mungkin jauh lebih mengerikan daripada apa yang selama ini ia bayangkan. Ia tahu, mulai malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia tidak hanya mengejar kasus pembunuhan berantai atau mencari orang yang hilang. Ia sedang mengejar sesuatu yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, dan jauh lebih mengerikan dari apa pun yang pernah ada dalam buku hukum atau catatan kepolisian.
“Desa Kelam…” bisiknya pelan ke dalam keheningan malam, suaranya berat dan penuh tekad. “Aku akan datang. Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya, dan apa yang kamu lakukan dengan semua darah ini. Kali ini aku tidak akan membiarkan kamu menghilang begitu saja.”
Hujan mulai turun lagi, lebih deras dari sebelumnya, membasahi seluruh tubuhnya dan menghapus jejak-jejak kecil yang tersisa di lantai. Tapi Reyhan tidak bergerak. Ia berdiri diam di sana, di tengah gang yang sepi dan gelap, membiarkan air hujan membasahinya sepenuhnya, sementara di dalam saku bajunya, benang kain hitam itu terasa semakin hangat, seolah memiliki nyawa sendiri yang sedang berdenyut pelan, memanggilnya terus maju—masuk ke dalam kegelapan yang semakin dalam, menuju tempat di mana jejak darah yang menghilang itu akhirnya akan ditemukan.