Kisah ini mengikuti perjalanan Raka Pratama, seorang mantan prajurit pasukan khusus Indonesia yang harus meninggalkan dinas militer karena kejadian berbahaya yang disembunyikan pemerintah. Tanpa tujuan dan terjebak dalam hutang, ia akhirnya bergabung dengan salah satu Perusahaan Militer Swasta (PMS) terbesar dan paling rahasia di dunia: "Garuda Security International".
Apa yang dimulai sebagai pekerjaan untuk bertahan hidup, perlahan mengungkap jaringan rahasia yang mengendalikan perang, politik, dan ekonomi dunia. Raka dan rekan-rekannya akan berhadapan dengan musuh dari negara saingan, organisasi bayangan, hingga pemimpin dunia sendiri. Dari misi penyelamatan sederhana hingga menjadi kunci penyelamatan kemanusiaan dari kehancuran total.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena gusdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Perjalanan Menuju Sarang Musuh
Matahari baru saja terbit, menyinari sisa-sisa kehancuran di Pos Pengamanan Utara. Asap tipis masih mengepul dari puing-puing bangunan dan kendaraan yang terbakar, namun udara pagi ini terasa berbeda. Tidak lagi tegang, tidak lagi penuh ancaman kematian. Hari ini, udara terasa penuh tekad dan tujuan.
Di halaman utama benteng, seluruh pasukan Garuda Security sedang bersiap berangkat. Ribuan prajurit berbaris rapi, wajah mereka lelah namun penuh semangat. Kendaraan-kendaraan lapis baja yang masih layak pakai sudah berbaris rapi di gerbang utama, mesinnya menderu pelan, siap melaju. Di antaranya ada kendaraan-kendaraan rampasan dari Kelompok Mata Hitam yang berhasil diperbaiki dan diambil alih oleh tim teknis Bara semalaman.
Di atas kendaraan pengangkut utama, peti besi berisi Sumber Unggul sudah terikat aman, dijaga ketat oleh pasukan pengawal elit. Di sebelahnya, Raka berdiri tegak, mengenakan seragam tempur baru yang disematkan lambang Garuda Perak yang besar dan bersinar. Di sampingnya, Jenderal Agus—yang kini memilih bertugas sebagai penasihat dan penasihat strategis—berdiri dengan wajah tenang, meski matanya menyiratkan beban berat dari kenangan masa lalu yang akan segera ia hadapi lagi.
Bara, yang kini memimpin divisi logistik dan teknologi, berjalan mendekat dengan peta besar di tangannya. Wajahnya sedikit cemas namun tetap fokus.
"Raka, semua siap. Kita punya total sekitar tiga ribu lima ratus pasukan yang sehat dan siap tempur. Kita bawa seluruh persediaan amunisi, makanan, dan peralatan yang tersisa. Tapi harus kau tahu... perjalanan ke pusat kekuasaan mereka, yang dikenal sebagai Kota Kegelapan, itu sangat jauh. Kita harus menembus kawasan hutan belantara yang lebat, melewati pegunungan berbahaya, dan melintasi wilayah-wilayah yang sepenuhnya dikuasai oleh anak buah Kelompok Mata Hitam. Perkiraan waktu perjalanan... setidaknya dua minggu, kalau tidak ada halangan."
Bara menunjuk ke peta, menelusuri garis jalur yang berliku-liku dan berbahaya.
"Dan satu hal lagi... Rio baru saja dapat laporan dari mata-mata yang kita tinggalkan. Musuh yang lari kemarin tidak mundur sampai ke markas utama. Mereka berhenti di kota-kota perbatasan, memperkuat pertahanan, dan mengerahkan pasukan cadangan. Mereka tahu kita akan datang. Jadi bisa dipastikan, setiap langkah kita ke depan akan dipenuhi jebakan, penyergapan, dan perlawanan keras."
Raka mengangguk pelan, matanya menatap lurus ke arah jalan raya panjang yang terbentang di depan gerbang benteng.
"Aku sudah menduganya, Bara. Mereka tidak akan membiarkan kita berjalan santai sampai ke depan pintu rumah mereka. Tapi tidak ada jalan lain. Kalau kita diam di sini, lama-kelamaan kita akan kehabisan logistik dan dikepung habis-habisan. Kita harus maju. Kita harus membawa perang ini ke halaman mereka sendiri."
Raka menoleh ke belakang, menatap benteng yang sudah menjadi rumah dan benteng pertahanan mereka selama ini. Ia menatap makam sementara tempat Mayor Seno dan para prajurit yang gugur dimakamkan dengan hormat.
"Kami berjanji, Pak Seno... kami akan menyelesaikan ini. Dan setelah semuanya selesai... kami akan kembali kemari, membawa kemenangan, dan membangun tempat ini menjadi tempat damai yang kau impikan," bisik Raka pelan dalam hati.
Lalu ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi aba-aba keberangkatan.
"BERANGKAT! SEMANGAT GARUDA!"
Konvoi panjang kendaraan Garuda Security pun mulai bergerak, meninggalkan Pos Pengamanan Utara, melaju masuk ke dalam wilayah yang asing, berbahaya, dan penuh ketidakpastian.
Hari-hari pertama perjalanan berjalan berat namun terkendali. Mereka melintasi jalan-jalan pegunungan yang sempit dan berkelok, di mana satu kendaraan saja terbalik bisa memutus seluruh jalur. Mereka melewati desa-desa yang kosong melompong, penduduknya sudah lari atau dibawa paksa oleh Kelompok Mata Hitam. Di mana pun mereka lewat, terlihat jejak kehancuran: rumah-rumah terbakar, jalanan rusak, tanda-tanda penindasan yang kejam.
Melihat semua itu, hati Raka makin panas. Ia melihat langsung akibat dari kejahatan yang dilakukan organisasi jahat itu. Ia melihat betapa banyak orang yang menderita karena keserakahan segelintir orang.
"Lihatlah semua ini..." ucap Raka pada Jenderal Agus yang duduk di sebelahnya di kendaraan komando. "Apakah dulu dunia sudah seperti ini? Atau mereka makin menjadi-jadi sejak Bapak dan Ayah... terpecah belah?"
Jenderal Agus menghela napas panjang, menatap pemandangan suram di luar jendela.
"Dulu tidak seburuk ini, Raka. Dua puluh tahun lalu, kami mendirikan Garuda untuk melindungi orang-orang ini. Tapi saat perpecahan terjadi, saat aku terjebak dalam ambisi dan ketakutan... aku membiarkan kekuatan gelap itu masuk dan menguasai wilayah-wilayah ini. Aku terlalu sibuk menjaga diriku sendiri dan menyembunyikan rahasia, sampai aku lupa tugas utamaku. Semua kehancuran ini... sebagian besar adalah kesalahanku."
Agus menundukkan kepalanya penuh penyesalan.
"Aku pikir aku sedang melindungi dunia. Tapi ternyata aku justru membiarkannya hancur perlahan. Kau benar, Raka... hanya dengan menghancurkan mereka sampai ke akarnya, baru damai bisa kembali. Dan hanya kau... yang bisa membersihkan dosa masa lalu ini."
Pada hari kelima, saat mereka memasuki kawasan hutan lebat yang dikenal sebagai Hutan Kabus Abadi, tempat di mana kabut tebal selalu menyelimuti siang dan malam, intelijen Rio mendeteksi sesuatu yang aneh.
"Raka... ada yang tidak beres," kata Rio lewat komunikasi radio, suaranya waspada. "Sejak dua jam lalu, aku tidak bisa menangkap sinyal apa pun. Tidak ada tanda-tanda musuh, tidak ada suara kendaraan, tidak ada jejak manusia. Semuanya sunyi senyap. Terlalu sunyi. Dan kau tahu kan... dalam dunia militer, keheningan total itu adalah tanda bahaya terbesar."
Raka menegakkan tubuhnya, memerintahkan seluruh konvoi untuk memperlambat laju dan meningkatkan kewaspadaan.
"Siap-siap. Jangan ada yang lengah. Rio, kirim tim pengintai berjalan kaki di sisi kiri dan kanan jalan. Bara, nyalakan semua alat pemindai dan sensor gerak. Reza, Dedi... bawa pasukan kalian ke posisi paling depan dan paling belakang. Kita bergerak dalam formasi pertahanan ketat."
Mereka baru saja melaju satu kilometer lagi, saat tiba-tiba kabut tebal di sekeliling mereka berubah warna menjadi kelabu kotor. Dan dari balik pepohonan raksasa yang lebat itu, terdengar suara deru mesin yang pelan namun mengerikan, berdatangan dari segala arah.
Tiba-tiba, puluhan kendaraan tempur berwarna hijau buram melesat keluar dari balik semak-semak dan pohon-pohon besar, mengepung konvoi Garuda dari kiri, kanan, depan, dan belakang. Senjata mereka sudah terarah, mengunci sasaran.
"TERSERANG! KITA DIKURUNG!" teriak Bara kaget. "Tapi... ini bukan kendaraan Kelompok Mata Hitam! Bentuknya beda, lambangnya beda!"
Benar. Kendaraan-kendaraan itu tidak memiliki lambang mata merah. Di sisi kendaraan mereka terlukis lambang Elang Putih Terbang.
Dari sebuah kendaraan komando yang lebih besar di tengah pasukan penyerang itu, sebuah pengeras suara berbunyi keras, suaranya tegas dan berwibawa.
"BERHENTI DI TEMPAT! JANGAN BERGERAK! SERAHKAN SENJATA DAN BERIKAN PENJELASAN! KALIAN MENGINJAK WILAYAH KENDALI PASUKAN ELANG BEBAS!"
Reza dan Dedi sudah siap menyerang balik, senjata mereka terarah ke musuh baru itu.
"Siapa lagi ini? Musuh baru? Kita dikepung dari segala sisi! Apa kita serang balik, Komandan?" teriak Reza bersiap menembak.
"TUNGGU!" perintah Raka tegas. "Jangan menembak dulu! Mereka tidak langsung menembak kita. Mereka ingin bicara. Ada sesuatu yang aneh di sini."
Raka memberi isyarat agar pasukannya menurunkan sedikit senjata, lalu ia melangkah keluar dari kendaraannya, berdiri di jalan raya terbuka, sendirian, tanpa senjata di tangan. Ia mengangkat kedua tangannya tanda damai.
"KAMI DATANG DENGAN NIAT BAIK! KAMI ADALAH PASUKAN GARUDA SECURITY! KAMI SEDANG BERGERAK MENUJU KOTA KEGELAPAN UNTUK MENGHANCURKAN KELOMPOK MATA HITAM! KAMI BUKAN MUSUH KALIAN!"
Keheningan sejenak terjadi. Lalu, pintu kendaraan komando pasukan Elang Putih itu terbuka. Seorang wanita berjalan keluar, diikuti oleh dua pengawal bersenjata lengkap. Wanita itu masih muda, berwajah tegas dan cantik namun dingin, mengenakan seragam militer sederhana tapi rapi, dan di bahunya terpasang tanda pangkat Komandan. Ia berjalan mendekati Raka dengan langkah tegap dan tidak takut sedikit pun.
Ia berhenti tepat di hadapan Raka, menatap pemuda itu dari atas ke bawah dengan pandangan menyelidik dan tajam.
"Garuda Security?" ulang wanita itu, suaranya jernih dan keras. "Garuda yang dulu terkenal mulia, tapi belakangan ini cuma jadi antek dan penjahat yang bekerja sama dengan Mata Hitam? Jangan bohong! Kami sudah bertempur melawan sisa-sisa pasukan kalian selama bertahun-tahun! Kalian semua sama saja! Penindas dan pembunuh!"
Raka tidak mundur. Ia menatap mata wanita itu dengan tenang dan jujur.
"Dulu kau benar, Nona Komandan. Dulu kami terpecah. Dulu ada sebagian dari kami yang menjadi pengkhianat dan bekerja sama dengan kejahatan. Tapi itu sudah berakhir. Kami sudah membersihkan barisan kami. Kami sudah bersatu kembali. Dan kami juga sudah menjadi korban kejahatan Kelompok Mata Hitam. Mereka menghancurkan benteng kami, membunuh kawan-kawan kami, dan ingin merebut apa yang kami lindungi."
Raka menunjuk ke arah Jenderal Agus yang turun mendekat.
"Dan Bapak ini... adalah Jenderal Agus, salah satu pendiri Garuda. Dia yang dulu membuat kesalahan besar, tapi sekarang dia menebusnya. Dan aku... aku Raka Pratama. Anak dari Dirgantara Pratama."
Mendengar nama itu, wajah wanita itu berubah drastis. Pandangan dinginnya seketika hilang, digantikan oleh keterkejutan luar biasa. Mulutnya sedikit terbuka, matanya membelalak menatap Raka lekat-lekat, seolah sedang melihat hantu atau mimpi.
"Dirgantara... Pratama..." bisiknya gemetar. "Kau... kau anak Pak Dirga?"
Wanita itu tiba-tiba berlutut di hadapan Raka, gerakan yang begitu mengejutkan bagi semua orang yang melihatnya—baik pasukan Garuda maupun pasukan Elang Putih.
"Maafkan aku, Tuan Muda! Maafkan ketidaktahuan kami! Kami tidak tahu! Kami pikir kalian masih sama seperti dulu!" serunya penuh rasa hormat dan penyesalan.
Raka bingung, ia segera berlutut memegang bahu wanita itu, menyuruhnya berdiri kembali.
"Bangunlah, Nona. Siapa kau sebenarnya? Dan kenapa nama Ayahku membuatmu bereaksi seperti ini?"
Wanita itu berdiri kembali, mengusap air mata yang tiba-tiba menetes di pipinya. Ia menatap Raka dengan pandangan yang penuh rasa hormat dan rindu mendalam.
"Nama saya Karin, Komandan Pasukan Elang Bebas. Dan ayahku... adalah Letnan Bima. Dia adalah ajudan setia dan sahabat dekat Ayahmu, Pak Dirgantara. Dia gugur bersama Ayahmu lima belas tahun yang lalu, di lembah itu. Aku masih kecil waktu itu, tapi aku ingat betul... aku ingat wajah Ayahmu, aku ingat kebaikan beliau, dan aku ingat pesan terakhir Ayahku sebelum dia pergi: 'Kalau aku tidak kembali, kau harus berjanji... kau harus tetap berjuang seperti Pak Dirga. Kau harus melindungi orang lemah. Dan suatu hari nanti, kalau anak Pak Dirga muncul... kau harus berjanji setia padanya, karena dia adalah pemimpin sejati yang akan datang membawa keadilan'."
Karin menatap Raka dengan mata berbinar-binar.
"Pasukan Elang Bebas ini... kami bentuk dari sisa-sisa prajurit yang setia pada prinsip asli Garuda, yang menolak bekerja sama dengan Mata Hitam, yang lari dan bersembunyi di hutan dan pegunungan ini selama lima belas tahun ini, terus berjuang melawan penindasan. Kami menunggu... kami menunggu kedatanganmu. Dan hari ini... akhirnya kau ada di depan mata kami."
Berita ini seperti petir di siang bolong. Raka, Jenderal Agus, dan seluruh pasukan Garuda terpaku tak percaya. Ternyata, mereka tidak sendirian selama ini. Ternyata ada kekuatan lain, saudara seperjuangan yang selama ini bertahan hidup dan berjuang dalam diam, menunggu momen ini.
Jenderal Agus maju selangkah, menatap Karin lekat-lekat, mengenali wajah wanita itu.
"Karin... anak Bima... ya ampun... kau tumbuh menjadi prajurit yang hebat. Maafkan aku, Nak... maafkan aku karena membuat kalian bertahan hidup dalam persembunyian dan kesusahan selama ini karena kesalahanku."
Karin mengangguk pelan, lalu tersenyum—senyum pertama yang hangat dan tulus.
"Sudah berlalu, Jenderal. Sekarang kau ada di sini. Sekarang anak Pak Dirga ada di sini. Dan sekarang... kekuatan yang selama ini terpisah, akhirnya bersatu kembali."
Karin berbalik memberi isyarat pada pasukannya.
"PASUKAN ELANG BEBAS! DENGARKAN PERINTAHKU! MULAI DETIK INI, KAMI TIDAK LAGI BERJUANG SENDIRI! KAMI BERSATU KEMBALI DENGAN IBU KAMI, GARUDA SECURITY! DAN KAMI BERJUANG DI BAWAH PIMPINAN ANAK PAHLAWAN KITA, RAKA PRATAMA!"
Suara sorak sorai meledak dari kedua pasukan. Pasukan Garuda dan Pasukan Elang Bebas, yang tadinya saling curiga dan hampir saling bunuh, kini bersorak bersama, bersalaman, dan berpelukan. Kekuatan mereka bertambah besar drastis. Sekarang, Raka tidak hanya memimpin tiga ribu pasukan, tapi ditambah hampir dua ribu pasukan elit yang sudah bertempur melawan musuh selama bertahun-tahun, hafal setiap jalan, setiap jebakan, dan setiap kelemahan wilayah musuh.
Malam itu, mereka berkemah bersama di tengah hutan. Di bawah cahaya api unggun besar, Raka, Karin, Jenderal Agus, Bara, Rio, Reza, Dedi, dan para komandan lainnya berkumpul merencanakan langkah selanjutnya.
Karin membentangkan peta wilayah musuh yang jauh lebih lengkap dan rinci daripada yang mereka miliki.
"Raka, Jenderal... ada hal penting yang harus kalian tahu," kata Karin serius, suaranya merendah. "Kota Kegelapan, pusat kekuasaan Kelompok Mata Hitam, itu bukan sekadar benteng biasa. Itu adalah kota besar yang dibangun di dalam kawah gunung berapi yang sudah mati, dikelilingi tebing-tebing curam yang mustahil didaki. Di sana lah letak markas besar mereka, pabrik senjata mereka, dan di sana pula tinggal pemimpin tertinggi mereka, orang yang bahkan Jenderal Kegelapan pun tunduk padanya... orang yang disebut Sang Penguasa Dunia."
Raka menegakkan punggungnya.
"Siapa dia? Apa tujuan sebenarnya dia?"
Karin menatap Jenderal Agus, lalu kembali ke Raka.
"Kami mendengar bisikan-bisikan dari tahanan yang berhasil kami bebaskan. Sang Penguasa itu bukan orang sembarangan. Dia yang pertama kali menemukan lokasi Sumber Unggul bertahun-tahun lalu. Dia yang mendorong terjadinya perpecahan di Garuda. Dia yang mengatur segalanya. Dan tujuannya... bukan hanya menguasai dunia. Dia ingin menggunakan energi Sumber Unggul untuk mengubah dirinya menjadi makhluk abadi, makhluk yang setara dewa, yang tidak bisa mati dan tidak bisa dilawan siapa pun."
Jenderal Agus tersentak kaget, wajahnya pucat pasi.
"Tidak mungkin... itu mustahil... hanya ada satu orang yang aku tahu punya ambisi gila seperti itu... satu orang yang dulu pernah bersama kami, tapi kami kira dia sudah mati..."
"Siapa, Pak?" tanya Raka cepat. "Siapa orangnya?"
Jenderal Agus menatap Raka dengan pandangan ketakutan dan sedih bercampur menjadi satu.
"Namanya... Kolonel Aditya. Dia adalah pendiri ketiga Garuda Security. Dia adalah sahabat kami berdua, aku dan ayahmu. Dia yang pertama kali mengajarkan kami tentang energi dan kekuatan. Tapi dia terobsesi dengan kekuasaan. Lima belas tahun lalu, saat pertempuran di lembah itu... kami pikir dia tewas terbakar saat truk amunisi meledak. Ternyata dia selamat. Ternyata dia yang menjadi dalang di balik semua ini. Dia yang menjadi Sang Penguasa."
Dunia Raka seolah berputar. Musuh terbesar, akar segala kejahatan, orang yang membunuh ayahnya, orang yang membuat hidupnya dan ibunya menderita... ternyata adalah orang yang paling dekat dengan ayahnya dulu. Orang yang dianggap saudara sendiri.
"Dia..." gumam Raka dingin, amarahnya perlahan naik kembali. "Jadi dia orang yang bertanggung jawab atas segalanya. Baiklah... kalau begitu, urusan kita bukan hanya menghancurkan organisasi. Urusan kita adalah menghadapi pengkhianat sejati. Dan aku akan menghadapinya sendiri."
Raka berdiri tegak, menatap api unggun yang menyala terang. Di dalam hatinya, rasa dendam bercampur dengan rasa tanggung jawab yang makin besar.
"Besok pagi, kita berangkat lebih awal. Dengan bantuan Elang Bebas, kita punya jalan rahasia untuk memotong perjalanan dan menghindari penyergapan. Kita akan sampai di gerbang Kota Kegelapan dalam waktu tiga hari lagi. Dan saat kita sampai di sana... perang terakhir akan dimulai."
Ia menatap semua sahabat dan sekutunya yang ada di sana.
"Aditya pikir dia sudah menang. Dia pikir dia sudah menjadi penguasa dunia. Dia pikir tidak ada yang berani melawannya. Tapi dia lupa... dia lupa bahwa dia mengkhianati darah yang paling kuat. Dia lupa bahwa dia meninggalkan saksi yang paling berhak menuntut balas. Dan dia lupa... bahwa Garuda dan Elang, kalau bersatu... tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa menghentikannya."
Malam itu, bintang-bintang bersinar terang di atas hutan lebat itu. Perjalanan yang tadinya tampak mustahil dan penuh keputusasaan, kini berubah menjadi perjalanan penuh harapan dan kekuatan baru. Sekutu sudah ditemukan. Rahasia mulai terungkap. Dan tujuan akhir makin dekat.
Esok hari, mereka akan melaju lagi, menembus bahaya, menembus kegelapan, menuju pertemuan terakhir antara anak pahlawan dan pengkhianat terbesar sepanjang sejarah.