Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Orang Tua Berkhayal & Rencana Jahat
Melihat tingkah Pak Tua Wu, sudut bibir Lin Qian berkedut pelan. Dia sama sekali tidak tertarik dengan hal-hal aneh yang selalu dipikirkan lelaki tua ini.
Sebenarnya, di awal perkenalan dulu, Lin Qian pernah sempat salah sangka. Mungkinkah orang tua ini seorang Ahli Besar yang menyembunyikan diri? Seorang kultivator tingkat tinggi yang memilih berkelana di dunia biasa? Namun setelah bergaul cukup lama, dugaan itu sudah lama dibuangnya jauh-jauh. Ahli pertapa macam apa yang kelakuannya seperti ini? Bukankah seharusnya mereka melayang anggun di atas awan, berwibawa, dan penuh keagungan?
Lin Qian akhirnya menarik kesimpulan sendiri: Pak Tua Wu ini pastilah orang yang semasa mudanya memiliki ambisi besar dan mimpi indah untuk menjadi orang hebat, tapi sayang tak pernah terwujud. Seiring bertambahnya usia, kenyataan pahit ternyata tak mampu menghapus khayalan masa remajanya yang masih tersisa hingga kini.
Ya, hanya sekadar khayalan belaka.
Lin Qian sangat paham perasaan itu. Siapa yang tidak pernah punya khayalan masa muda? Di kehidupan sebelumnya pun, dia dulu terlalu sering menonton film silat. Sampai-sampai dia sempat mengukir bambu menjadi pedang panjang untuk dibawa ke mana-mana, dan setiap kali berlagak menghunus senjata, dia akan menebas rumput liar di halaman rumah neneknya sampai hancur berantakan sambil membuat suara efek wushhh dengan mulutnya sendiri. Memalukan memang, tapi itulah masa muda.
Memang jarang ada orang yang sudah setua ini masih terjebak dalam khayalan remaja. Tapi ya begitulah Pak Tua Wu. Mau diapakan lagi?
Tak mau berlama-lama membahas hal tak penting itu, Lin Qian masuk ke dalam rumah lalu membawa keluar sebuah meja kecil rendah. Di tangannya tergenggam satu set papan catur beserta bidak-bidak buatan tangannya sendiri. Sebagai keturunan bangsa Yanhuang, bagaimana mungkin dia tidak membawa serta kebudayaan leluhur ini ke dunia lain? Di samping itu, bermain catur juga menjadi cara utamanya mengisi waktu luang yang panjang dan membosankan.
Memang begitulah awal mula perkenalan mereka. Saat itu Lin Qian sedang mengajari seorang kakek tetangga cara bermain catur, dan Pak Tua Wu kebetulan lewat. Lelaki tua itu langsung tertarik. Sejak hari itu, setiap kali datang berkunjung, Pak Tua Wu tidak punya urusan lain selain duduk dan menantang Lin Qian bertanding.
Angin musim gugur bertiup makin dingin dan suram. Gerimis halus mulai turun, membasahi atap dan menetes perlahan ke tanah. Di bawah atap, di samping meja kecil itu, dua sosok duduk berhadapan—satu mengenakan jubah putih bersih, satu lagi berbalut jas hujan dari jerami. Biarpun angin dan dingin menusuk, keduanya tetap diam tegak bagai gunung, pandangan mata mereka lekat pada papan catur di tengah.
"Jujur saja, di awal pertemuan dulu, aku merasa kita berdua berada di level yang sama persis," kata Pak Tua Wu sambil menjatuhkan bidak kuda ke papan, lalu melirik tajam ke arah lawannya.
"Hahaha..." Lin Qian hanya tersenyum tipis tanpa banyak bicara.
"Namun setelah diamati lama-lama... aku sadar aku sama sekali tidak bisa menembus kedalamanmu," tambah Pak Tua Wu, nada bicaranya penuh selidik.
"Tentu saja kau takkan bisa melihat celah dalam strategi ku," jawab Lin Qian santai namun penuh percaya diri, sambil menjatuhkan bidak meriam dengan gerakan halus dan tak bersuara.
Di dalam hatinya ia merasa puas sekali. Mana mungkin orang tua ini melihat rencanaku? Beberapa langkah lagi dan dia pasti mati langkah.
Namun bagi Pak Tua Wu, jawaban itu justru mengguncang hatinya. Terutama senyum tenang dan wajah percaya diri Lin Qian—itu bukanlah kepura-puraan. Itu adalah ketenangan mutlak orang yang memegang kendali penuh atas segalanya.
Mungkinkah... dia benar-benar jauh lebih kuat dariku?
Hati Pak Tua Wu mulai tak nyaman. Naluri kompetitifnya muncul begitu saja. Tidak mungkin, pikirnya keras. Dunia ini sangat luas. Bisa jadi dia mempraktikkan teknik khusus yang membuat orang lain tak bisa membaca tingkat kekuatannya. Hanya karena aku tak bisa menembus rahasianya, bukan berarti aku lebih lemah.
"Saudara Lin, kau terlalu percaya diri," kata Pak Tua Wu sambil tersenyum penuh makna, bidaknya bergerak memakan salah satu kuda milik Lin Qian. "Meski aku tak bisa melihat isi hatimu, posisi kita tetap sama seimbang."
"Belum tentu begitu," jawab Lin Qian santai.
Dia cuma makan kuda yang sengaja kuserahkan sebagai umpan. Satu langkah lagi.
Lin Qian menjatuhkan bidak terakhirnya, lalu meregangkan badan sambil tersenyum puas. Baru setelah pikirannya lepas dari permainan, dia menyadari udara di sekitar makin dingin menusuk tulang. Dia pun bangkit masuk ke dalam rumah, lalu kembali membawa keluar ciptaannya—si Matahari Kecil. Dengan santai, dia meletakkan benda itu tepat di bawah meja catur sebagai penghangat kaki.
Mata Pak Tua Wu membelalak seketika.
Tubuhnya menegang kaku, tak sanggup menahan getaran hebat yang menjalar dari kaki hingga ubun-ubun.
Itu... itu adalah Mutiara Api.
"Wah..." Bahkan Pak Tua Wu yang sudah bertahun-tahun berkelana dan melihat dunia pun tak bisa berkata-kata. Dia mengangkat kepala, menatap Lin Qian dengan pandangan yang berubah seratus delapan puluh derajat.
Mutiara Api adalah salah satu dari lima permata roh alam—Mutiara Api, Mutiara Roh Air, Mutiara Domain Bumi, Mutiara Berlian, dan Mutiara Napas Kayu. Konon jika kelima benda ini disatukan, akan terbentuklah Mutiara Tak Terukur Agung, sebuah benda ajaib yang mampu mengubah manusia biasa langsung menjadi seorang Santo setara dewa.
Dan kini... benda yang dicari-cari seorang Ahli Besar di Laut Utara selama puluhan tahun itu ternyata ada di sini. Digunakan sekadar sebagai penghangat kaki saat bermain catur.
Saat itu Lin Qian menangkap pandangan terkejut itu. Dia hanya tersenyum ramah dan mengangguk pelan, memasang wajah rendah hati. Baginya, dia baru saja menang catur lagi dengan mudah.
Namun bagi Pak Tua Wu—senyum dan anggukan itu adalah tamparan diam-diam yang penuh wibawa.
Orang ini... tingkat kultivasinya tak terukur dalamnya.
Kilatan tajam setajam elang melintas di mata tua Pak Tua Wu. Sudut bibirnya perlahan terangkat.
Kau pikir hanya kau yang punya harta karun hebat? Sayang sekali... kau juga meremehkanku
"Saudara Lin, coba tolong lihat benda ini sebentar," ucapnya pelan namun penuh wibawa. Sambil berbicara, dia mengibaskan lengan jubahnya—dan seketika, sebuah garpu besar bergigi tujuh muncul di tangannya.
Lin Qian menatap benda itu sejenak. Garpu pertanian? Mungkin sudah tumpul atau rusak. Dia tahu aku pernah kerja sambilan jadi pandai besi, jadi minta diperiksa. Dia pun mengambilnya dan mulai membolak-balik sambil mengamati.
Hati Pak Tua Wu berdebar penuh kemenangan. Garpu di tangan Lin Qian itu bernama Garpu Suci Tujuh Gigi. Wujudnya kusam, berkarat, dan sama sekali tak berkilau—seolah sampah tua tak berharga. Tapi ini adalah benda pusaka peringkat Tingkat Suci, warisan zaman purba. Meski kondisinya sedikit rusak, asalkan dialiri Qi Asal yang tepat, benda ini masih bisa mengeluarkan sepersepuluh kekuatan aslinya. Nilainya jauh di atas Mutiara Api mana pun.
Untuk mendapatkannya, Pak Tua Wu harus menghabiskan seluruh harta seumur hidup dan hampir kehilangan nyawa berkali-kali.
Kini dia tinggal menunggu—menunggu momen Lin Qian menyadari benda apa yang sedang ada di tangannya.