"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: GERBANG YANG TERBUKA
Jakarta, 2026.
DUARRRR!!!
Suara guntur di luar Hotel Grand Atma terdengar seperti raungan naga yang sedang mengamuk. Namun, keriuhan di dalam aula megah itu jauh lebih menyakitkan bagi seorang pria bernama Arka Nirwana.
Arka tidak duduk di kursi empuk bersama para tamu elit. Ia sedang berlutut di atas marmer lantai yang sedingin es.
SREET... SREET...
Tangannya yang kasar penuh bekas luka akibat kerja keras bertahun-tahun sedang sibuk menyeka noda anggur merah di sepatu emas milik Nenek Lastri.
"Cepat sedikit, Sampah! Kau ini kerja mengusap sepatu saja lama sekali!" bentak Ratna, ibu mertua Arka.
WUSSS... WUSSS... Ia mengipasi wajahnya dengan kipas sutra seolah-olah keberadaan Arka di sana adalah polusi udara.
"Jangan sampai bau kemiskinanmu menempel di sepatu mahalku!"
Arka tidak mendongak. Ia hanya diam, fokus pada pantulan wajah kusamnya di marmer lantai.
"Maaf, Bu. Sebentar lagi selesai," ucap Arka pelan.
"Maaf, maaf! Dari tadi cuma itu yang keluar dari mulutmu!" Ratna mencibir. "Lihat jas kusammu itu, Arka. Benar-benar memalukan keluarga Adiningrat!"
Di balik diamnya, ingatan Arka terseret paksa ke masa empat tahun yang lalu. Masa di mana dunianya hancur berkeping-keping saat ia diceraikan dan kehilangan segalanya.
Ia masih ingat jeritan anak tirinya, Dafa, saat bocah itu ditarik paksa dari pelukannya. Selama empat tahun, Arka hidup seperti mayat hidup di kosan sempit. Sukmanya berkelana di padang rumput ghaib yang tak berujung.
“Arka... naiklah...”
Suara pria berpakaian putih dalam mimpinya bergema lagi, menyuruhnya menaiki tangga menuju sebuah rumah putih misterius.
PLAK!
Ujung sepatu emas Nenek Lastri menghantam bahu Arka dengan keras sampai ia terjungkal.
BRUUK!
"Heh! Malah melamun! Kau benar-benar ingin aku kirim kembali ke rumah sakit jiwa, hah?" Nenek Lastri menatapnya dengan kebencian murni.
Arka terhuyung, namun ia tetap tenang. Di batinnya, ia justru teringat mimpi terakhirnya: Seekor kuda cokelat besar yang gagah berdiri di depan jendela kosannya, seolah menyerahkan kekuasaan alam semesta ke telapak tangannya.
"Kuda itu sudah di sini..." batin Arka. Dan ia siap berlari.
"Ma, sudah. Biarkan saja dia," sahut Siska, istri kedua Arka, dengan nada dingin. Siska menikahinya hanya karena wasiat rahasia sang kakek. "Dia memang sering kumat sejak kami menikah setahun lalu. Benar-benar beban."
"Arka, berdiri!" perintah Siska angkuh. "Jangan bikin malu aku di depan tamu-tamu penting ini!"
SREEET...
Arka berdiri perlahan. Tiba-tiba, postur tubuhnya yang semula membungkuk menjadi tegak lurus. Udara di sekitar meja itu mendadak terasa sangat berat.
VREEEUMMM... (suara tekanan udara yang meningkat).
"Sepatunya sudah bersih, Nenek," suara Arka berat, bergetar dengan frekuensi yang membuat gelas kristal di meja berdenging halus. "Namun, kotoran yang ada di hati manusia tidak bisa dibersihkan hanya dengan serbet putih."
"KAU! BERANINYA KAU MENCERAMAHIKU!" Nenek Lastri berteriak murka. "SISKA! USIR PRIA INI SEKARANG JUGA!"
"Arka, cukup! Keluar dari sini!" bentak Siska dengan wajah merah padam. Arka menatap Siska.
ZINGGG!
Matanya berkilat ungu sesaat. Segel Nusantara di jiwanya telah aktif. Lewat mata batinnya, ia melihat "benang hitam" pengkhianatan melilit leher istrinya.
"Aku akan pergi," ucap Arka tenang. "Bukan karena kau mengusirku, tapi karena waktuku untuk menjadi debu di bawah kakimu sudah berakhir. Selamat tinggal, Siska. Jaga dirimu saat badai yang sebenarnya datang."
Arka berbalik, melangkah melewati kerumunan tamu elit yang menghinanya. Setiap langkahnya terasa seperti dentuman jantung bumi.
DHUM... DHUM...
Di luar, hujan badai menyambutnya, namun anehnya, tak setetes air pun menyentuh kulitnya. Sebuah pelindung energi transparan melindunginya secara mistis.
Tiba-tiba...CIITT! CIIIITTTT!
Tiga buah SUV hitam dengan plat nomor militer berhenti mendadak di depan Arka. BRAK! BRAK! BRAK***!*** Belasan pria berpakaian taktis turun dan langsung membentuk pagar betis.
Seorang pria tua dengan seragam Jenderal penuh bintang turun. Jenderal Wironegoro. Di depan mata Siska dan keluarganya yang menonton dari lobi dengan mulut ternganga, sang Jenderal besar itu langsung bersujud di atas aspal yang basah.
DEGH!
“Hamba, Wironegoro, menghadap Sang Satria Piningit!” teriak sang Jenderal dengan suara bergetar penuh hormat.
***BRUK!***Siska jatuh terduduk. Lututnya lemas melihat suaminya disembah oleh orang paling berkuasa di negeri ini.
Arka menatap sang Jenderal dengan datar. “Bangunlah, Wironegoro. Masa tirakatku sudah usai. Kuda cokelatku sudah siap untuk berperang.”
“Baik, Gusti Arka,” Wironegoro berdiri sigap. “Seluruh aset di bawah bendera Poros Dunia telah kami siapkan. Termasuk lokasi anak Anda.”
Mendengar kata "anak", mata Arka memancarkan kilatan amarah yang mengerikan.
GRRR... (geraman rendah dari energinya).
“Di mana dia?” tanya Arka rendah.
“Mantan istri Anda menyembunyikannya di luar negeri, Gusti. Namun, agen kami sudah mengamankan area tersebut,” lapor Wironegoro.
Arka mengepalkan tangannya. BOOOMMM!
Energi ungu meledak pelan dari telapak tangannya, membuat air hujan di sekitarnya menguap seketika menjadi kabut.
CSSSSSSSSS!
"Bagus. Berikan aku satu minggu untuk menyelesaikan urusan sampah di kota ini," ucap Arka dingin. "Setelah itu, aku akan menjemput anakku. Siapa pun yang menghalangi akan merasakan kemarahan Segara Getih.”
Arka masuk ke dalam SUV. Saat mobil meluncur pergi, guntur besar menyambar puncak Monas, menandakan bahwa sang Poros Dunia telah benar-benar bangkit.
***
Dukung terus perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.