NovelToon NovelToon
Kontrak 90 Hari Sang CEO

Kontrak 90 Hari Sang CEO

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Mafia / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Febriana Hanifah

*Sinopsis*

Evelyn Mahesa bukan orang yang percaya cinta instan.
Ia hanya percaya pada satu hal: ibunya harus sembuh.

Saat tagihan rumah sakit 200 juta menumpuk dan semua jalan buntu, muncul Matthias Virel—CEO dingin, kaya, dan paling ditakuti di dunia bisnis.
Ia menawarkan jalan keluar yang mustahil ditolak:
*4,5 miliar rupiah. Syaratnya, Evelyn harus jadi istri kontraknya selama 90 hari.*

Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Hanya peran di depan publik demi menenangkan nenek Matthias yang sekarat.

Awalnya, Evelyn pikir ini cuma transaksi.
Tapi tinggal serumah dengan pria yang jago bikin jengkel sekaligus bikin jantung berdebar itu… ternyata lebih sulit dari yang ia kira.

90 hari.
Cukup untuk jatuh cinta?
Atau cukup untuk saling membenci sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febriana Hanifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam Pertama Bertiga

Hari ke-281.

Relia udah 3 hari di RS.

Evelyn boleh pulang hari ini.

Dokter bilang semua stabil. Luka jahitan aman, ASI keluar lancar, Relia sehat.

Mereka pulang jam 10 pagi.

Nggak ada konvoi. Nggak ada wartawan.

Cuma mobil hitam, supir, dan satu car seat kecil warna krem di belakang.

Evelyn duduk di kursi belakang, peluk Relia pelan.

Matthias duduk di sampingnya.

Nggak nyetir. Kali ini supir yang bawa.

Katanya, “Gue mau fokus jagain kalian.”

Perjalanan 25 menit itu sepi.

Tapi nggak canggung.

Setiap 2 menit Matthias ngeliat ke car seat.

Pastiin Relia napas.

Pastiin selimutnya nggak nutup hidung.

Evelyn ketawa kecil.

“Mat, dia nggak akan hilang. Tenang.”

Matthias cuma senyum.

“Gue nggak tenang kalau nggak liat dia.”

---

Sampai rumah, mansion itu berubah.

Nggak ada bunga besar. Nggak ada banner.

Tapi ada baby box di ruang tamu, penghangat ruangan di kamar, dan suara pelan _white noise_ dari kamar bayi.

Nyonya Alina udah nunggu di depan pintu.

Dia nggak peluk Evelyn dulu.

Langsung lihat Relia.

“Hai, cucu Nenek.”

Suara dia gemetar.

Om Dimas di belakangnya cuma bisa senyum.

“Akhirnya... ada yang lebih kecil dari gue di rumah ini.”

Mereka masuk pelan-pelan.

Relia tidur pulas sepanjang jalan.

Nggak bangun pas dipindah ke box di kamar utama.

Evelyn rebahan di kasur.

Capek.

Tapi lega.

Matthias duduk di pinggir ranjang, pegang tangannya.

“Gimana? Sakit nggak?”

Evelyn geleng.

“Sakitnya udah kalah sama liat dia.”

Matthias ngangguk.

Dia cium kening Evelyn pelan.

“Lo hebat.”

---

Malam pertama di rumah bertiga itu... berantakan.

Relia bangun tiap 2 jam buat nyusu.

Evelyn nyusuin, ganti popok, tidurin lagi.

Matthias nggak tidur sama sekali.

Dia duduk di kursi goyang di kamar bayi, jagain Evelyn.

Bikin susu kalau Evelyn capek.

Ganti popok kalau Evelyn nggak kuat bangun.

Sekali Relia nangis, dia langsung bangun duluan.

Jam 3 pagi, Evelyn liat Matthias ngantuk banget.

Mata merah, kepala manggut-manggut.

“Lo tidur dong. Gue bisa sendiri.”

Matthias geleng.

“Nggak. Gue mau nemenin.”

Evelyn senyum.

“Lo gila ya.”

Matthias senyum balik.

“Gila yang lo pilih.”

---

Jam 4 pagi, Relia akhirnya tidur pulas.

Evelyn rebahan, capek tapi tenang.

Matthias duduk di pinggir ranjang, pegang tangannya.

“Gimana rasanya?” tanya Evelyn pelan.

Matthias mikir.

“Rasanya... gue baru ngerti kenapa orang tua rela nggak tidur.

Karena tiap kali dia diem, gue takut dia nggak napas.

Tapi tiap kali dia nangis, gue lega.”

Evelyn ketawa kecil.

“Selamat datang di dunia orang tua, Pak CEO.”

Matthias senyum.

“CEO nggak tidur aja masih bisa meeting.

Tapi jadi bapak nggak tidur, gue cuma bisa ngeliatin anak gue.”

Mereka ketawa pelan.

Takut bangunin Relia.

---

Pagi harinya, Nyonya Alina masuk bawa bubur ayam dan teh jahe.

Dia liat Matthias yang masih di kursi, langsung geleng.

“Kamu tidur dong, Mat. Nanti sakit.”

Matthias geleng.

“Nanti kalau Relia tidur lama.”

Nyonya Alina ngerti.

Dia cuma usap kepala Matthias pelan.

“Bagus. Jadi bapak itu emang gitu.”

Evelyn bangun jam 9.

Relia masih tidur.

Dia mandi cepat, ganti baju.

Pas keluar, Matthias udah nyiapin sarapan di meja kecil samping ranjang.

“Gue nggak jago masak. Tapi gue bisa angetin bubur.”

Evelyn ketawa.

“Udah cukup. Lo udah jagain gue semalaman.”

Mereka sarapan bareng.

Pelan.

Nggak ada ponsel. Nggak ada kerjaan.

Cuma ada suara Relia napas pelan di box.

---

Siangnya, foto pertama keluarga bertiga di-upload.

Cuma foto tangan: tangan Evelyn, tangan Matthias, dan tangan kecil Relia di tengah.

Caption:

_Rumah kami sekarang punya 3 orang.

Selamat datang di rumah, Relia._

Komentar lagi-lagi banjir.

Tapi yang paling bikin Evelyn diam lama:

Komentar dari akun @clarissaa.lane.

_“Selamat. Jaga dia baik-baik.”_

Evelyn tunjukin ke Matthias.

Matthias diem.

Terus dia bisik:

“Mungkin dia udah selesai.”

Evelyn ngangguk.

“Gue harap gitu.”

---

Sore harinya, Relia rewel.

Nangis nggak berhenti 30 menit.

Evelyn panik.

Matthias langsung nelpon dr. Laras.

“Perutnya kembung, Pak. Coba sendawain dulu. Gendong miring.”

Matthias gendong Relia, tepuk punggungnya pelan.

5 menit kemudian, Relia sendawa panjang.

Langsung diem.

Evelyn ketawa sambil nangis.

“Gue kira dia kenapa-kenapa.”

Matthias usap punggung Evelyn.

“Gue juga. Tapi kita bisa. Bareng.”

Malam itu, mereka tidur jam 12 malam.

Relia di box, di antara mereka.

Nggak ada yang tidur nyenyak.

Tapi nggak ada yang merasa sendiri.

---

Hari ke-285.

Kontrol pertama Relia.

Berat naik 200 gram.

Denyut jantung bagus.

Dokter bilang, “Ibu dan bayi sehat. Lanjut ASI ya.”

Di mobil pulang, Evelyn ngeliat Matthias.

“Lo capek nggak?”

Matthias senyum.

“Capek. Tapi nggak mau ganti sama apa pun.”

Evelyn pegang tangannya.

“Gue juga.”

Mereka pulang.

Makan siang.

Ngobrolin jadwal tidur Relia.

Hal-hal kecil yang dulu nggak pernah mereka pikirin.

---

Malam itu, sebelum tidur, Evelyn nulis di diarynya:

_“Hari ini gue ngerti,

rumah itu bukan tempat.

Rumah itu orang.

Dan rumah gue sekarang...

ada di antara lo dan dia.”_

Dia tutup buku.

Matiin lampu.

Tidur di samping Matthias dan Relia.

Di luar, dunia masih ribut.

Tapi di dalam kamar itu, semuanya cukup.

---

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!