NovelToon NovelToon
A

A

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Perperangan / Thriller / Tamat
Popularitas:174.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Danu Banu

"Aku ingin bertanya kepada kalian yang menyebutkan tidak waras. 'Apa yang kalian berikan untuk orang yang kalian cintai?' Aku memberikan segalanya."

Gilang akhirnya menemukan kode terakhir dari Lutfi yang mengarah ke Jepang. Namun kode selanjutnya tersembunyi di antara perseteruan polisi dan mafia. Akankah Gilang berhasil menemukan Lutfi di tengah waktu yang terbatas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danu Banu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Hadiah dari Fans

i

Hari Selasa, sebelum pelajaran biologi dimulai. Aku duduk di sisi Gilang yang sudah aktif dalam kegiatan rutinnya, tidur.

Ketika kulirik ke arahnya, rasanya ada sesak yang menggangguku. Ini pasal aku diam-diam membuka catatannya, lalu pesan-pesan darinya yang ternyata membantuku, sifat jutekku kemarin, atau dari dulu, dan soal aku menolak ajakannya mentah-mentah padahal dia mau merayakan ulang tahunnya.

Terlebih, tadi malam, dia nelpon, dan datang cuma-cuma ke depan kost-ku, buat ngungkapin perasaannya.

Aduh! Begitu banyak beban yang kudapat karena mengacuhkannya. Apakah begini sudah bisa dibilang baper? Aku yakin tidak!

Dan ketika mengingat tulisan di bukunya waktu itu, membuatku makin merasa tidak enak. Sudah pasti dia sakit hati. Orang yang diidolakannya diam-diam, menolak ajakannya untuk merayakan ulang tahunnya. Sungguh, membayangkannya saja aku ikut sedih.

Menit terus berlalu tanpa memberi jeda untukku berpikir lebih. Akhirnya aku berbisik memanggilnya.

“Ssttt.... hei.”

Dia menggumam dan sedikit mengangkat kepala. “Apa?”

“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu.”

Gilang mengucek mata beberapa kali lalu membasuh muka dengan kedua tangannya. Kemudian menatapku. “Ngomong aja.”

Mendadak jantungku berdebar entah mengapa. Rasanya ada sesuatu darinya yang membuatku hampir salah tingkah. Apakah gara-gara kejadian semalam? Aku ga tahu. Pokoknya, waktu itu, pandanganku pada Gilang kembali berubah.

Dan tanpa sadar aku menjawabnya dengan terbata-bata. “Eh, yah.... anu, itu.... aku, mau... aku mau ngomong, iya. Aku mau ngomong sama kamu.”

Dia mengangguk dan memberikan tatapan tajam, membuatku terpesona entah kenapa. Hingga aku harus memaksa diri untuk membuang muka supaya menutupi wajahku yang mungkin memerah karena malu.

“Ga jadi?”

“Ga sekarang. Ga tau nanti apa besok.”

Kudengar dia tertawa sedikit. Karena penasaran aku kembali memandangnya.

“Kenapa kamu ketawa?”

“Ngapain kamu ikut-ikutan aku?”

Ikut-ikutan? Hatiku bertanya. Selang beberapa detik aku berusaha mengingat. Dan benar, dia memang berkata begitu kemarin.

Aduh! Padahal aku tidak berniat menirunya.

Kembali aku membuang muka, tapi ujung mataku tetap memerhatikannya. Barang kali aku penasaran apa yang bakal dia omongin.

Lama kutunggu, dan Gilang tetap diam.

Ih! Ngeselin.

Kupikir setelah ngungkapin rasanya, Gilang bakal lebih aktif buat ngedeketin aku. Ternyata, tidak! Dia masih jadi Gilang yang sama.

Tapi aku tidak gentar. Pokoknya, aku ga mau lagi salah ngomong sama dia.

Dan sekitar lima menit kemudian akhirnya aku menyerah dan kembali menatapnya. Kulihat Gilang senyum entah kenapa.

“Kamu mau kado?”

“Hah?” Aku kebingungan. Berpikir sejenak. Mungkin dia minta hadiah dari aku. Benar juga, kemarin kan Gilang ulang tahun. Tapi aku ga bakalan kasih. Buat apa coba? Nanti dikira aku ngasih kode ke dia, kalau aku suka. Enggalah, ya! Pokoknya, aku mau, dia lebih usaha lagi buat ngedapetin aku. Harus! Titik.

“Iya, kamu mau kado?”

“Engga, makasih.”

“Tapi aku bakal tetap kasih. Abis pulang, ya?”

“Loh kenapa?”

“Kenapa?” Dia nanya balik.

“Iya, kenapa?”

“Kenapa abis pulang?”

“Ya itu juga, tapi kenapa tetap ngasih kado?” tanyaku jadi geget sendiri.

“Hmmm.... kenapa ya?” Gilang nanya sendiri sambil melengos. Terus kembali menatapku. “Oh itu, perayaan hari lahirmu.”

“Maksudnya?”

“Iya, perayaan hari lahirmu.”

Aku masih bingung, tapi tetap kutanya apa maksudnya. “Maksudnya, kayak ulang tahun, gitu?”

Dia mengangguk.

Benar juga. Gilang kemarin juga bilang gitu ke satpam. Aneh juga ketika mendengarnya langsung, maksudku, bukan dari menguping.

“Hari ini?” tanyaku.

“Iya. Benar, kan?”

“Engga.”

“Aduh, salah.” katanya dengan sedikit menggeleng.

Jelas salahlah. Makanya jadi orang jangan sotoy!

“Tapi kamu lahir hari Selasa, kan?”

Aku kaget. Dari mana dia tahu? Aku bertanya sendiri, lalu mengangguk untuk menjawab tanyanya.

“Dulu, kamu lahir hari ini?”

“Iya.” Ngapain juga ditanya lagi. Udah deh, kasih tahu aja, mau ngomong apa sebenarnya.

“Jadi ini perayaan hari lahirmu!” katanya sedikit berseru.

“Kok gitu?”

Tak ada jawaban. Gilang hanya senyum, membuatku makin kebingungan.

Kembali aku larut dalam pikiranku. Mungkin, pas sama satpam, maksudnya Gilang ya ini, perayaan hari kelahirannya. Hari Senin. Tapi maksudku itu perayaannya kemarin, kalau sekarang, ya Selasa.

Aku menatap bola mata hitam kecokelatan miliknya. “Jadi, setiap hari kelahiran harus dirayain?”

“Iya.”

“Kalau gitu, umurmu banyak dong?”

Gilang melengos, tampak berpikir. “Ya.... kalau tiap bulan dirayain empat kali. Dan tiap tahun ada dua belas bulan, jadi sampai tahun ini....” Menatapku dan berbisik. “Tujuh ratus dua puluh.”

“Umur panjang dong?” tanyaku dengan tersenyum tanpa sadar.

Dia ketawa, lalu kembali berkata: “Jadi, aku harus kasih kamu kado.”

“Ga usah.”

“Ga papa. Tapi nanti, abis pulang, ya?”

“Dibilang ga usah juga.”

Gilang mengalihkan wajah dan kembali tidur, membuatku kesal. Ketika kupandang ke depan ternyata sudah ada guru masuk.

Aku sadar, dia harus melakukan rutinitasnya setiap pelajaran. Tidur.

Sungguh aku tidak mengerti, kenapa Gilang terus tidur sewaktu pelajaran. Dan harusnya aku ga perlu mau tahu. Tapi, sebenarnya, selain itu, kayaknya aku beneran ngarepin hadiah perayaan hari kelahiranku darinya.

Aduh!

* * *

ii

Hari itu, tiap detik rasanya berubah menjadi begitu lama. Setiap pelajaran, aku tidak bisa konsentrasi. Mataku berulang kali terus menatap jam dinding. Berharap pelajaran segera berakhir.

Aku benar-benar bingung. Tidak biasanya aku begini. Maksudku, buat apa coba aku nunggu-nunggu dia ngasih kado? Terlebih kenapa ga dikasih sekarang sih? Aduh, kacau! Aku benar-benar tidak bisa mengalihkan pikiranku saat itu.

Ketika kulirik ke arahnya. Dia, masih tidak ada bedanya. Tidur, seperti biasa.

Ah! Aku benar-benar tidak sabar.

* * *

iii

Bel pulang sekolah berbunyi. Guru bahasa Inggris menyudahi pelajaran di jam terakhir.

Aku menghembuskan napas lega. Akhirnya, berakhir sudah detik-detik yang berjalan lebih lama dari biasanya, itu sangat menyiksaku.

Satu per satu, siswa bubar. Gyan juga sempat mengajakku pulang bareng, tapi aku jawab: “Aku pulang nanti.”

Begitu pula dengan Kelvin. Aku menjawab dengan kalimat yang sama.

Ketika akhirnya di kelas tinggal kami berdua, lagi, jantungku berdebar hebat, tidak sabar dengan kado yang bakal Gilang kasih. Kutunggu, lima menit, sepuluh menit, dan hampir setengah jam! Dia tidak juga bangun.

Ih gimana sih?!

Dengan kesal, aku membangunkannya. “Bangun, kelas udah bubar dari tadi.”

Gilang menggumam. Bangkit perlahan lalu menguap. Mengucek mata dan membasuh wajah dengan kedua tangannya. Menatapku.

Akhirnya dia bangun juga, kata hatiku. Biarlah, dianggap ngarep juga ga apa-apa. Memang aku ga bisa nahan rasa penasaranku kalau soal dapat hadiah.

“Makasih udah bangunin aku.”

Aku menjawabnya dengan anggukan kepala.

“Kamu belum pulang?”

Mendengar tanyannya itu, sungguh aku ingin berteriak sekencang mungkin. “Ya jelas beluuuuum! Aku nunggu kadomu ituuuuu! Udah deh, cepat kasih biar aku ga penasaran terus kayak gini. Ngarep-ngarep kelamaan bikin nyesek tahu!”

Namun yang keluar hanya: “Belum,”

“Oh, ada urusan, apa?”

Mengangguk.

Mendadak dia membereskan perlengkapan sekolahnya.

Eh? Kenapa? Apa kadonya ngajak makan di luar lagi? Hmmm.... boleh deh. Mungkin dia bakal ngajakin ke tempat yang aku suka. Pas banget, aku juga lumayan laper.

Tapi ternyata, dugaanku sangat keliru.

“Kalau gitu, aku pulang dulu, ya?” katanya sembari beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja.

Aku kaget, bercampur marah. Dia benar-benar nyebelin! Udah buat aku ngarep-ngarep dikasih kado, bikin aku ga konsen belajar, terus dia lupa sama omongannya tadi pagi.

Ah! Aku benar-benar marah padanya. Lain kali, kalau dia ngajak ngomong, bakal aku tinggal pergi. Tapi kalau pas pelajaran, aku ga bakal berani pergi sih. Paling diem.

* * *

iv

Sampai kost, aku bergegas mengunci pintu dan merubuhkan diri di atas kasur. Kemudian memukul-mukul bantal beberapa kali sambil bilang: “Sebel, sebel, sebel, sebeeeeel!” Ngeselin banget sih itu anak!”

Mulai saat itu, aku berikrar, bahwa aku tidak akan lagi terperangkap oleh tipudaya yang sama: obral janji. Terlebih jika itu dari Gilang. Pokoknya, aku memantapkan diri untuk menjauh dari segala hal yang berhubungan dengannya. Dan besok, aku bakal pindah tempat duduk! Titik.

Aku terus mengumpat hingga ketiduran karena lelah menahan kekesalanku.

* * *

v

Masih hari yang sama, sekitar jam lima sore, waktu aku sedang menyuci baju, aku mendengar bel berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Sedetik kemudian aku bisa pastikan ibu kost membuka pintu. Memang setiap tamu begitu. Kalau anak kost sini, pasti langsung masuk karena pegang kunci sendiri-sendiri.

Tak lama kemudian ibu kost menghampiriku.

“Ada tamu,” katanya. “Mau ketemu Lutfi Nurtika. Itu kamu, kan?”

“Iya bu. Siapa ya?”

“Ga tau, cowo. Pacarmu, ya?”

“Ih! Apaan, sih? Engga, ih! Aku ga pacaran.”

“Pasti yang semalam telpon, deh.” kata ibu kost meledek.

“Masa?” Aku kaget.

“Ditemuin dulu.”

“Tapi aku lagi nyuci.”

“Udah temuin dulu, suruh cepat pulang, soalnya mau Maghrib.”

Aku mengangguk. Membersihkan tanganku dari busa dan langsung menuju pintu depan, menemui tamu itu.

Ya Tuhan, aku kaget, ternyata tamunya Raja Tidur, pria paling ngeselin yang pernah kukenal di dunia ini, bahkan sampai sekarang, sepuluh tahun ke depan.

Aku senyum kepadanya yang senyum kepadaku, tapi aku sinis, masih jengkel dengan janji palsunya.

“Hai,” sapanya.

Aku mengangguk.

“Pasti malas?” tanyanya.

“Maksudnya?”

“Iya, malas menunggu.”

Malas menunggu? Oh, aku tahu! Iya, memang aku sangat malas menunggu janji palsumu itu!

Aku mengangguk untuk menjawabnya.

“Aku juga.”

“Juga apa?”

“Malas menunggu.”

“Terus?”

“Ini kadonya.” Dia langsung bilang gitu seraya menyodorkan sebuah kotak kecil berwarna pink sambil masih berdiri di depan situ, di depan pintu.

Jadi dia beneran ngasih? Ah! Udah basi. Bosan aku nunggu kelamaan.

“Pasti mau bilang: ‘Udah basi. Bosan nunggu kelamaan.’, iya, kan?”

Eh? Kok tahu?

Tapi aku tidak berkata-kata.

“Maaf, soalnya tadi aku bilang: ‘Habis pulang.’. Jadi harus nunggu.”

Hah? Jadi karena itu toh? Maksudnya habis pulang, ya emang setelah pulang dari sekolah? Aduh! Aku jadi malu sendiri karena ga sabaran.

Aku ketawa lirih sambil garuk-garuk kepala. Aku sangat yakin kalau wajahku saat itu pasti kelihatan sangat memalukan.

“Dibuka, ya?” katanya. “Tapi nanti.”

“Oke.”

Aku senyum sedikit menanggapi senyumnya. Tak kusangka, Gilang melalukan persis, sesuai apa yang sudah dia bilang kepadaku. Dan tentunya, dia tidak cuma umbar janji. Itulah yang membuatku kagum sekaligus bingung.

“Aku langsung, ya?”

Dia permisi untuk pergi.

“Eh, semalem aku juga lupa nanya.”

“Apa?”

“Kok tahu aku ngekost di sini?”

“Siapa, yang ngasih tahu ada kost di sini?”

Aku jadi keinget surat yang dia kasih pertama kali, yang dititipin ke Ateg. “He he he.”

“Aku juga bakal tahu di mana rumahmu.”

“Jangan sampai!”

“He.” Dia ketawa sekali, aku juga tapi berkali-kali.

“Aku juga tahu siapa ayahmu.”

“Siapa?”

“Laki-laki.”

“Itu sih jelas!”

“Iya, kan?”

“He he he.”

“Aku pergi dulu, ya?”

“Iya,” jawabku.

“Assalamu’alaikum.”

“Alaikumussalam.”

Kulihat dia menaiki sepeda nenek berwarna pink pudar sembari melambaikan tangan. Aku menyautinya dengan gembira lalu masuk dan menuju ke kamar.

* * *

vi

Di kamar. Aku senyum-senyum sendiri terutama karena memikirkan omongannya yang bukan cuma di mulut saja. Dan ketika kuingat soal pesan-pesannya, itu juga tidak sekadar iseng. Dia benar-benar lakuin semuanya.

Aku senang, bukan hanya mendapat kado darinya, tapi juga karena aku salah sangka kepadanya. Iya, aku gembira dia bukan cowo yang nyebelin seperti dalam pikiranku.

Kubuka kotaknya, tampak sebuah gantungan kubus berwarna merah. Di dua sisi yang saling membelakangi bertulis lafadz Allah SWT. dan Muhammad Saw., sedang di sisi lainnya diukir hiasan yang juga berwarna silver. Simpel, tapi mewah aku suka.

Ketika kulihat lagi wadahnya, ada sebuah kertas yang dilipat kecil. Aku langsung mengambinya.

Ini surat! Aku dapat surat lagi darinya. Aduh, entah kenapa aku begitu senang.

Kubuka dan kubaca pesan darinya sambil tiduran di atas kasur.

Itu adalah surat yang ditulis dengan pena merah di atas kertas HVS. Di tiap sisinya, ada gambar hiasan warna-warni, dibikin pake spidol warna. Gambarnya bagus. Entah buatan siapa. Tapi aku suka, paling suka mawar di bagian bawah tengah.

“Hadiah: Ditujukan untuk Lutfi, sebagai kado di hari kelahirannya. Tolong dterima dan digunakan sebagaimana fungsinya. Dari penggemar terberatmu, Gilang.”

Setelah kubaca, aku tidak mengerti kenapa aku merasa tak ingin segera beranjak dari ranjangku. Benar-benar seperti seorang yang sedang dijerat oleh rasa penasaran akan dirinya.

Sambil tiduran, aku kembali menampilkan wajah dan suaranya dalam khayalanku. Segera aku memejam untuk mengusirnya, namun yang ada justru makin jelas. Dan aku tersenyum bahagia.

* * *

vii

Ah, sial!

Hal itu membuatku kelupaan soal cucianku, untung saja ibu kost mengetuk pintu dan mengingatkanku. Segera aku meletakan surat itu di atas meja bersama surat lainnya, sambil senyum-senyum sendirian dan pergi ke tempat menyuci, menemui cucianku.

Kucuci baju-bajuku dengan pikiran yang penuh akan dirinya. Aku berusaha melupakannya sembari menyanyi, meski hanya keluar gumaman dari mulutku. Tapi susah, tanpa sadar mulutku justru menyebut namanya. Gilang. Begitu.

Aduh, aku kenapa sih?

* * *

viii

Esoknya aku masuk kelas dengan gembira. Teman-teman menyadari ada sesuatu yang berbeda dari aku.

Seketika mereka menggerombol di sekitar tempat dudukku, lalu bergiliran bertanya. Mulai dari: beli di mana, beli kapan, harganya berapaan, sampai: siapa yang ngasih.

Tapi aku hanya menjawab dengan senyuman. Aku yakin, mereka pasti mengira, aku mendapatkan ini dari cowo yang suka sama aku atau aku suka sama dia.

Kulihat wajah Kelvin cemberut. Aku juga mendengar dia bilang: “Bagus, tapi kalau aku yang ngasih bakal kukasih yang lebih bagus.”

Sontak siswa yang lain berseru meledeknya. Sedang aku terkekeh, agak jijih sih. Dia cuma omdo soalnya. Kemudian mereka bergegas duduk di kursi masing-masing karena guru sudah masuk ke kelas.

“Kelihatannya kamu lagi senang banget hari ini?”

Aku sedikit kaget mendengar suara Gilang. Kutatap wajahnya dan memberikan jawaban anggukan kepala sama senyuman.

“Gara-gara ada yang baru?”

Kembali aku mengangguk. Ini untuk pertama kalinya aku setuju dengannya.

Dia menggumam dan kembali berkata yang membuatku syok.

“Selain gantungan itu, gaya rambutmu yang baru, emang bikin kamu kelihatan lebih imut dari biasanya.”

Aku tersentak kaget. Memang saat itu aku sedang mencoba model baru. Rambut sempong ke kanan, namun di bagian kiri tersisa beberapa helai yang lurus berada di depan. Sedangkan di bagian belakang sedikit rambut kuikat di bagian paling atas, sehingga rambut bawahnya dibiarkan terurai.

Dan, aku sangat-sangat tidak menyangka, Gilang menyadari itu. Bisa dibilang, dia yang pertama kali menyadarinya, dan hanya dia yang sadar.

Aku bingung harus memberikan respons apa. Selain gantungan dan surat yang dia kasih kemarin, komentarnya tentang penampilanku juga menjadi kado tersendiri yang bernilai sangat besar bagiku.

Apa Gilang selama ini memerhatikan aku?

Aku diam, hanya tersipu malu.

Jam berapa sekarang? Oh hampir subuh. Aku mau istrahat dulu. Nanti, kulanjut lagi ceritanya.

1
Yanih Wahyuni
aku suka ceritanya😊
siska
kak author terakhir updet tanggal 08-06-2020 dah lama banget apa author hiatus atau pindah platfrom jika iya bisa saya tau kalo hiatus kapan akan kembali lagi membawa cerita novel ini jika pindah platfrom pindah kmana saya sangat penasaran dengan kelanjutan novel ini bukankah belum tamat masih ada 2 bagian lagi dan bagian 3 blum selesai
saya berharap author membalas nya
Penulis Noname: halo kak siska, untuk novel Lutfi Gilang sudah kembali lanjut dengan judul yang sama. Namun menggunakan akun yang berbeda.

bisa langsung dicek ya kak.
total 2 replies
siska
kak author lanjuuttt ceritanya
aku tunggu sampai tamatt
sampai gilang ketemu lagi sama lutfi
sampai mereka nikah dan punya anak


aku tunggu dan bakal menanti sampai author lanjut lagi cerita nyaaa
Dan Banu: Sudah ada ya, bisa dibeli karena hanya ada di buku cetak saja
total 1 replies
v,v
aku mampir dan membawa like ya kak.

buat kaka kaka jika berkenan, mampir yuk ke lapaknya #AING MACAN🐯
Gribelion
bisa luang kan waktu anda untuk membaca novel ku Hidden Feeling 😁✌️
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Khusnul Maratus Soliah
menganti oowh menganti....
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Muhammad Ari
keren thor, ijin promo ya, jgn lupa mampir di novel dg judul "sudden kiss" 😇😇😇
Aku
💕👍
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
😊
so sweat
😊: Pasti,,, semangat thor
total 2 replies
😊
bikin baper nihhhhh
😊: Ok Kaka
total 2 replies
Bu$u®🌼
novel yg indah, ga bikin halu
Dan Banu: terima kasih atas pujiannya.
Semoga selalu menikmati novel Lutfi Gilang
total 1 replies
Epron Putra
jngn lpa main ke crita aq ya kak ni udah aq tinggalin like dan komen jga smngt kak
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Aku
👍👍💕💕
Dan Banu
uhuy, siap
Tika
muncul lagi kata-kata baru. ga ngulang kata-kata yg sama jadi ga bikin bosen.

lanjuuuut!
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Lutfi
gilang kan jago silat! hihihi
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Dinda
serem
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Nurrizky
bingung jomen apa. udah bagus
🆙🆙🆙🆙
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Mr. R
wohohooo menang!!!!
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
Black Sword
mantap berantemnya

up terus
Neng Yuni (Ig @nona_ale04): Haii kakak, mampir yu kenovel aku yang judulnya May I Love For Twice. Aku harap kedatangannya ya kakak 🙏😊😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!