"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Ruang aula Fakultas Bisnis perlahan-lahan mulai kosong setelah Profesor Robert menutup kelas dengan ketukan podiumnya yang khas.
Namun, bagi Vexana, waktu seolah berhenti bergerak sejak jemarinya menggenggam kartu marmer hitam itu. Dia masih duduk terpaku di barisan paling belakang, menatap kosong ke arah deretan angka yang begitu familier di atas permukaan kartu.
Nomor telepon Landon Desmon. Nomor yang menjadi jangkar ingatan masa lalunya yang kini terasa seperti fiksi.
Vexana mengembuskan napas perlahan, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Dia merapikan tas selempang kulitnya dan bersiap untuk berdiri, berniat segera pulang ke mansion untuk mengurung diri. Namun, sebelum kakinya sempat melangkah ke arah pintu keluar, dua orang mahasiswi dari barisan tengah menghadang langkahnya.
Mereka adalah Aurelie dan Katia. Keduanya adalah teman satu angkatan Vexana di Fakultas Bisnis, tipe mahasiswi populer yang selalu tahu segala gosip terbaru di lingkungan kampus.
Aurelie berjalan dengan senyuman lebar yang mencurigakan, sementara Katia berjalan di belakangnya sembari sibuk menatap layar ponsel pintarnya dengan kening berkerut.
"Vexa! Tunggu sebentar!" seru Aurelie, melambaikan tangan kanannya yang memegang selembar kartu marmer hitam yang sama persis dengan milik Vexana.
Vexana menghentikan langkahnya, memasang wajah datar yang anggun—topeng pertahanan terbaiknya. "Ada apa, Aurelie? Katia?"
"Ternyata sore nanti kita tidak perlu bingung mencari tahu siapa saja yang mendapatkan objek penelitian yang sama," ucap Aurelie penuh senyuman, matanya berbinar antusias.
"Profesor Robert bilang, satu dosen muda bisa diteliti oleh maksimal tiga mahasiswa karena keterbatasan kuota dosen muda di kampus ini. Dan tebak apa? Untuk kuota dosen Landon Desmon dari Teknik Elektro, ternyata hanya ada tiga orang di kelas ini yang mendapatkannya. Aku, Katia, dan... kau, Vexa!"
Deg.
Vexana merasakan dadanya kembali berdenyut nyeri. Dia mengepalkan tangannya di balik saku celana kainnya.
Jadi, dia tidak akan menghadapi Landon sendirian? Di satu sisi, ada rasa lega karena dia tidak harus berada dalam satu ruangan berdua saja dengan pria itu. Namun di sisi lain, kehadiran Aurelie dan Katia berarti setiap interaksinya dengan Landon akan berada di bawah mikroskop penilaian orang lain.
"Kami baru saja memasukkanmu ke dalam grup pesan yang sama, Vexa," lanjut Aurelie sembari menunjukkan layar ponselnya yang menampilkan sebuah grup aplikasi pesan singkat yang baru saja dibuat.
"Kuharap kau juga bisa aktif dalam percakapan untuk meminta waktu kapan kita bisa mewawancarai Dosen Landon. Kau tahu sendiri kan, reputasi Dosen Desmon di Fakultas Teknik? Dia terkenal sangat dingin, disiplin, dan super sibuk dengan proyek robotikanya. Jika kita tidak kompak mendekatinya, bisa-bisa proposal proyek kita dilempar ke tempat sampah sebelum dibaca."
Vexana memaksakan sebuah senyuman tipis, mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Benar saja, sebuah notifikasi grup baru telah muncul di layarnya dengan nama grup: Project Strategis - Dosen Landon Desmon.
Di dalam grup tersebut, sudah tertera empat anggota: Aurelie, Katia, Vexana, dan satu nomor admin resmi yang tidak lain adalah nomor kontak pribadi milik Landon Desmon.
"Iya, aku sudah masuk ke dalam grup. Aku akan mengikuti jadwal kalian saja," jawab Vexana dengan suara sewajar mungkin, menyembunyikan getaran ketakutan yang merayap di dadanya.
Sementara Vexana dan Aurelie sedang berbicara, Katia yang sejak tadi terkenal memiliki kemampuan berpikir sedikit lambat atau loading-nya lama, tiba-tiba memekik pelan.
Matanya membelalak menatap layar ponselnya, lalu menyodorkannya ke depan wajah Aurelie dan Vexana.
"Wah... lihat profil Dosen Desmon! Bukankah itu gambar kartun Scooby-Doo?" tanya Katia dengan nada suara polos dan penuh keheranan.
"Seorang dosen muda bergelar Ph.D. dari keluarga konglomerat Desmon Group, tapi foto profil pesan pribadinya malah gambar kartun anjing penakut? Ini... ini aneh sekali, bukan?"
Deg.
Vexana terdiam seribu bahasa. Seluruh pasokan udara di sekitarnya seolah tersedot habis.
Pikirannya laksana dihantam oleh ombak kenangan yang luar biasa besar, menyeret jiwanya kembali pada masa-masa indah delapan tahun yang lalu—masa di mana dunia mereka belum dikoyak oleh tragedi dan kebohongan.
Kartun Scooby-Doo.
Itu adalah kartun kesukaan Vexana sejak dulu. Di masa high school dulu, setiap kali mereka memiliki waktu luang di akhir pekan, Vexana akan memaksa Landon untuk menemaninya menonton maraton kartun tersebut di apartemen Landon.
Vexana selalu mengidentifikasi dirinya sebagai Daphne Blake—gadis modis berambut merah yang menyukai keindahan, sementara Landon selalu diejeknya sebagai Fred atau si pemecah misteri karena otaknya yang selalu berpikir logis dan analitis.
Landon sebenarnya membenci kartun itu karena menurutnya alur ceritanya terlalu mudah ditebak untuk ukuran otak geniusnya.
Namun, demi melihat senyuman Vexana, Landon rela membelikan boneka Scooby-Doo besar dan menggunakan gambar ikonik Mystery Machine sebagai latar belakang komputer laboratoriumnya.
Vexana perlahan membuka profil nomor Landon di ponselnya sendiri.
Jantungnya berdegup kencang saat melihat gambar sekumpulan karakter kartun Scooby-Doo yang sedang tersenyum di dalam mobil hijau mereka. Gambar itu adalah gambar yang sama yang mereka unduh bersama dari internet delapan tahun yang lalu.
Kenapa dia belum mengganti profil itu? Batin Vexana merintih, setetes air mata kebingungan tertahan di pelupuk matanya.
Enam tahun telah berlalu sejak malam itu. Dia membenciku... tapi kenapa dia masih mempertahankan potongan kecil dari diriku di dalam ruang pribadinya?
Apakah itu sebuah kelalaian karena Landon terlalu sibuk dengan urusannya... ataukah itu sebuah monumen duka tersembunyi yang sengaja dipertahankan pria itu untuk meratapi cinta mereka yang telah mati?
Sebelum Vexana sempat larut lebih dalam ke dalam labirin kenangannya, suara Aurelie kembali memecah keheningan.
Aurelie tiba-tiba menatap Vexana dengan pandangan mata yang menyipit penuh selidik, lalu beralih menatap layar ponselnya bergantian.
"Tunggu dulu..." Aurelie mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, senyumannya berubah menjadi seringai penuh arti.
"Profil kau... bukankah profilmu juga menggunakan siluet karakter Daphne dari Scooby-Doo, Vexa? Profil kalian berdua tampak... berjodoh, Vexana."
Vexana tersentak, dengan cepat menyembunyikan layar ponselnya ke belakang tubuhnya. Namun, ekspresi terkejut yang sempat melintas di wajah pucatnya tidak luput dari pandangan tajam Aurelie.
Aurelie melangkah satu tapak lebih dekat, menurunkan nada suaranya menjadi bisikan beraroma gosip yang tajam.
"Apa rumor yang beredar tentang kalian berdua itu benar? Apa rumor kalian pernah berpacaran dulu itu fakta?"
Pertanyaan Aurelie bertindak laksana percikan api yang siap membakar seluruh tumpukan jerami kebohongan yang membungkus realitas Vexana.
Vexana Valerio yang asli, si gadis bar-bar, langsung menegakkan punggungnya. Dia menarik napas dalam, memasang kembali topeng keangkuhan tertingginya untuk menutupi kehancuran yang sedang terjadi di dalam dadanya.
"Rumor tetaplah rumor, Aurelie," jawab Vexana dengan suara yang sengaja dibuat sedatar dan sedingin es, menatap lurus ke dalam sepasang mata temannya itu.
"Aku ke kampus ini untuk menyelesaikan gelar bisnisku, bukan untuk membahas sejarah fiksi masa remaja. Jika kau ingin proyek kita dengan Dosen Desmon berjalan lancar, saranku... fokuslah pada proposal, bukan pada foto profilnya."
Aurelie tampak sedikit terkejut dengan respons dingin dan mengintimidasi dari Vexana, namun dia hanya mengangkat bahunya pasrah.
"Baiklah, baiklah... maaf jika aku lancang. Aku hanya penasaran karena profil itu terlalu kebetulan untuk ukuran dua orang yang saling asing."
"Aku harus pulang sekarang. Kabari saja di grup jika kalian sudah menentukan jam berapa kita akan mengirim pesan pada Dosen Desmon," ucap Vexana final, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan cepat meninggalkan aula Fakultas Bisnis.
Langkah kaki Vexana bergetar di atas lantai koridor. Di dalam tasnya, ponselnya kembali bergetar pelan, menampilkan gelembung obrolan pertama di dalam grup proyek gila tersebut.
Sebuah perjalanan kembali menuju masa lalu telah resmi dibuka, dan kali ini, Vexana tahu dia tidak akan bisa lari lagi dari kenyataan, dari sisa-sisa cinta Landon Desmon yang ternyata masih membakarnya dari dalam kegelapan.