NovelToon NovelToon
Queen Of Bataviarch

Queen Of Bataviarch

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:510
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”

“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.

“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.

“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”


Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.

Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kenapa Farchy Harus Mati?

Keesokan harinya ....

Ponsel Rosella berdering. Ia langsung tahu bahwa itu pesan dari Dio. Nada khusus berupa suara mesin kasir memang hanya dipasangnya untuk pria itu.

Begitu membuka berkas yang dikirimkan, seluruh tubuh Rosella terasa dingin. Isinya adalah foto tanaman di tempat ia membuang sisa racun yang digunakan untuk melenyapkan Farchy. Di bawah foto itu hanya tertulis dua kata, "Aku tahu."

Ia langsung menekan nomor Dio dan menelepon. Panggilan itu baru diangkat setelah berdering delapan kali.

“Halo, manisku.”

“Kita harus bicara sekarang.”

“Aku juga mau begitu, tapi nggak lewat telepon.”

“Aku nggak sebodoh itu sampai mau ngomong rahasia lewat sini,” jawab Rosella dengan nada tajam.

“Datang ke hotelku. Aku kirim nama dan nomor kamarnya sekarang.”

Dio memutus sambungan sepihak sebelum Rosella sempat menyahut.

Rosella mengumpat pelan, "Dasar orang bodoh!"

Sejak pulang dari pesta kemarin, ia memang sudah curiga kepada Dio. Awalnya ia mengira masalah itu berkaitan dengan Gumm, namun kini segalanya sudah menjadi jelas. Ia merasa kesal sekaligus bingung. Instingnya memang benar menangkap adanya kejanggalan.

Rosella memutuskan untuk tidak memberi tahu saudara-saudaranya mengenai hal ini. Masalah ini harus diselesaikannya sendiri. Ia tidak ingin melibatkan siapa pun atau menyeret nama keluarganya ke dalam persoalan tersebut.

Rosella mengambil gaun berwarna merah muda berhias renda hitam, lalu memakainya. Rambutnya dibiarkan terurai jatuh menutupi sebagian belahan dada pada potongan gaun bermodel leher V. Setelah itu, ia mengoleskan lipstik berwarna merah muda kusam.

Ia menyemprotkan sedikit parfum ke leher dan pergelangan tangan. Kini ia sudah siap menghadapi calon suaminya. Orang lain mungkin mengira ia berdandan demikian hanya untuk memikat laki-laki. Padahal kenyataannya sama sekali bukan begitu. Pakaian ini memberinya rasa aman. Baginya, hal ini sama saja dengan mengenakan rompi antipeluru.

Rosella naik taksi menuju lokasi hotel. Saat turun dari kendaraan, sebuah sepeda motor berhenti tepat di sampingnya. Suara motor itu sudah didengarnya dari jauh, mengikuti perjalanannya sejak awal tadi.

Ia membuka payung kecil yang dibawanya. Di balik kaca pelindung helm motor itu, ia melihat wajah Hans.

“Verlis nggak ikut sama kamu hari ini?” tanyanya dengan nada penasaran.

“Kamu ngikutin aku dari tadi ya?”

“Nggak kok. Aku cuma mau pastiin calon istri sepupuku aman aja,” jawab Hans santai sambil mengangkat bahu.

“Aku bisa jaga diri sendiri. Dan Verlis juga bisa, dia nggak butuh kamu awasin. Lagian Kami semua tahu kamu pernah deket sama Tiffany, ya kan?”

“Aku suka banget sifat kamu yang berani ini. Bakal seru kalau satu keluarga sama kamu,” ucap Hans. Dia langsung menurunkan pelindung helm dan melaju pergi.

Rosella menghela napas panjang. Ia harus segera memberi tahu Verlis mengenai kelakuan Hans itu. Padahal rasanya hal itu percuma saja. Verlis pasti tidak akan peduli atau merespons Hans sama sekali.

Lagi pula, Verlis sudah memiliki pilihannya sendiri. Ia sudah menemukan laki-laki yang memang diinginkannya sebagai suami.

Rosella masuk ke gedung hotel termewah di kota Jakarta. Ia berjalan lurus menuju meja resepsionis. Ia tidak perlu mengantre sama sekali. Begitu melihat wajahnya, seorang pegawai wanita langsung menyapanya dan memintanya untuk mengikuti.

Ternyata ia memang sudah ditunggu sejak tadi. Pegawai itu langsung memberikan kartu akses khusus untuk naik ke lantai tempat kamar Dio berada.

Rosella menyimpan kartu itu di saku gaunnya. Calon suaminya ini memang orang yang menyiapkan segala sesuatu jauh-jauh hari. Dan anehnya, Rosella justru menyukai sifat tersebut.

Saat pintu lift terbuka, ia melihat Dio berdiri membelakangi ruangan, menghadap jendela besar. Di luar sana, pemandangan Laut terlihat dengan sangat jelas.

“Pemandangannya indah banget,” ucap Rosella sebagai sapaan.

Dio langsung menoleh dan tersenyum ke arahnya. “Jadi tato kamu itu beneran ya,” kata Dio sambil menatap lengan Rosella lekat-lekat.

“Iya, emangnya kenapa?”

“Pas di pesta kemarin aku kira itu cuma gambar tempel doang. Baru kali ini aku lihat perempuan yang punya banyak tato dan semuanya kelihatan jelas gini.”

“Kami emang punya tato semua. Cuma kadang kami tutup, buat menghormati Papa. Mungkin aku emang bukan anak yang baik-baik amat sih.”

“Aku harap emang gitu,” gumam Dio pelan.

Rosella tidak mengerti maksud ucapan itu. Ia langsung berbicara pada intinya saja dan tidak ingin membuang waktu.

“Aku ke sini mau bahas soal foto yang kamu kirim kemarin.”

Mereka masih berdiri terpisah sejauh beberapa meter. Rosella bahkan belum sempat meletakkan tas yang dibawanya.

“Bagus deh. Aku suka gaya kamu yang nggak bertele-tele. Denger ya, aku tahu banget kalau kamu sama saudara perempuanmu udah meracuni Farchy.”

Rosella berjalan mendekat sambil berpura-pura menjadi wanita yang lemah dan tak berdaya. Ia membiarkan matanya berair, karena baginya menangis sesuka hati adalah hal yang sangat mudah dilakukan.

“Udah, simpan akting itu buat orang lain aja,” potong Dio sebelum ia sempat sampai di dekatnya. “Aku mulai ngerti sifat kamu. Kalau matamu udah bersinar gitu, tandanya kamu lagi rencanain sesuatu.”

Rosella langsung diam di tempat. Ia sadar bahwa pria ini mengamati dirinya jauh lebih teliti daripada yang diduganya.

“Informasi yang kamu punya itu gak sepenuhnya benar.”

“Oh ya? Terus yang benar apa?” tanya Dio penasaran.

“Saudariku nggak ada hubungannya sama kejadian ini sama sekali. Dia bersih.”

“Bisa jadi sih,” jawabnya ragu-ragu.

Itu persis apa yang ingin didengar Rosella. Tujuannya hanya satu, memastikan Verlis tidak ikut terseret ke dalam masalah ini.

“Oke, kita luruskan aja. Apa yang kamu mau biar informasi itu nggak kamu sebarkan atau jual ke orang lain?”

Saat ini, kematian Farchy dicatat sebagai akibat penyakit alami yang sedang di deritanya. Namun jika Dio berbicara dan memberi tahu semua orang, apa yang akan terjadi?

“Jawab dulu pertanyaan aku.”

“Apa pertanyaannya?”

“Kenapa Farchy harus mati?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!