NovelToon NovelToon
Sumpah Badai

Sumpah Badai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Action / Fantasi
Popularitas:257
Nilai: 5
Nama Author: andre kurnia

11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

mulut gua

Fajar belum menyingsing saat mereka bertiga melangkah keluar dari ceruk tebing. Langit di atas Lembah Hitam masih kelam, hanya sepotong garis abu-abu tipis di ufuk timur yang memberi tanda malam akan segera berakhir. Udara terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya, seolah lembah itu sendiri enggan melepaskan kegelapannya.

Mereka berjalan mendekati semak berduri tempat pria bertopeng itu diikat. Yuse berjalan paling depan, pedangnya sudah setengah terhunus sebagai langkah antisipasi. Brisa mengikuti di sampingnya, matanya menyipit tajam memindai setiap bayangan dan sudut gelap. Cindy berjalan paling belakang, memeluk buku Janma Manunggal erat-erat di dadanya seolah itu satu-satunya pelindung yang ia miliki.

Namun, begitu tiba di tempat itu, suasana mendadak menjadi sangat hening. Terlalu hening. Tidak ada suara napas, tidak ada desisan, tidak ada gerakan sekecil apa pun. Tubuh pria bertopeng itu kini diam seribu bahasa.

Yuse segera berlutut di samping jasad itu, dua jarinya menempel kuat di leher pria itu untuk meraba denyut nadi. Hening beberapa detik.

“Sudah mati,” gumamnya pelan.

Ternyata, hantaman dahsyat aura Phoenix milik Cindy semalam ternyata lebih mematikan dari yang mereka duga. Tubuh pembunuh itu sudah dingin dan kaku, kulit di sekujur dadanya menghitam seolah terbakar dari dalam. Seluruh organ dan tulang di bagian badannya hancur lebur, diremas oleh tekanan energi yang begitu masif hingga tak tersisa apa pun yang utuh.

Yuse berdiri tegak, menatap jasad itu dengan tatapan kosong dan dingin. Tidak ada rasa puas, tidak ada rasa lega. Hanya keheningan yang berat menekan dada.

“Jujur saja, melihat apa yang sudah dia lakukan pada Mila dan bagaimana dia berusaha membunuh kita… rasanya terlalu mulia jika dia dikuburkan. Lebih baik dibiarkan begitu saja jadi makanan binatang buas,” ujar Yuse datar sambil menendang pelan ujung jubah hitam itu. “Orang seperti ini sama sekali tidak layak diberi belas kasihan.”

Cindy menunduk dalam, rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya. Tangannya gemetar hebat. Ia masih bisa merasakan panasnya api yang meledak dari dalam dirinya semalam, tapi sekarang rasa hangat itu berubah menjadi rasa berdosa yang menyengat hati.

“Aku… aku sebenarnya tidak ingin membunuh siapa pun,” bisiknya hampir tak terdengar. “Tapi kalau aku tidak melakukan itu… kau yang akan mati, Yuse.”

Brisa hanya diam menyilangkan tangan di dada, menatap jasad itu tanpa ekspresi sedikit pun.

“Kematiannya ini baru sedikit balasan yang pantas baginya,” ucapnya singkat dan dingin. Baginya, pria ini adalah bagian dari orang-orang yang telah menghancurkan kampung halamannya. Satu nyawa ini bahkan belum cukup untuk membayar semua dosa yang telah mereka perbuat.

Namun, karena sebagai seorang ksatria Yuse masih memiliki rasa kemanusiaan dan kehormatan yang tinggi, ia tak tega membiarkan mayat itu tergeletak terlantar di jalanan. Membiarkan jenazah membusuk begitu saja sama saja merendahkan harga diri seorang pendekar, meskipun orang itu adalah musuh bebuyutan.

Dengan ujung pedangnya, ia mulai menggali lubang sederhana di tanah berbatu yang keras. Tangannya masih sedikit gemetar karena tenaganya belum pulih sepenuhnya, tapi ia terus bekerja sampai lubang itu cukup dalam. Tanpa banyak bicara, ia memasukkan tubuh itu ke dalam lalu menimbunnya kembali dengan tanah dan batu. Tidak ada doa, tidak ada nisan. Hanya gundukan kecil yang menutupi seluruh dosa dan kebencian yang pernah ia bawa selama hidupnya.

“Ayo lanjutkan perjalanan,” ajak Yuse setelah selesai, menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan. Wajahnya kembali tegas. “Waktu kita semakin sempit. Kalau mereka tahu utusan mereka gagal, mereka pasti akan segera memindahkan Drugsana atau menghancurkan semua bukti yang ada.”

Mereka bertiga kembali membelah kegelapan Lembah Hitam yang makin lama makin mencekam. Jalan setapak semakin menyempit, dipenuhi akar-akar pohon tua yang menjalar melintasi jalan seperti ular raksasa. Semakin dekat ke tujuan, aura kegelapan terasa semakin pekat dan menekan. Udara menjadi berat dan sesak napas, seolah setiap langkah yang mereka ambil adalah langkah menapaki tumpukan tulang belulang yang tak terlihat.

Tiba-tiba, tanah di depan mereka bergetar pelan namun jelas. Kerikil-kerikil kecil di jalanan ikut melompat berguncang.

Grrrr…

Suara geraman rendah dan panjang terdengar dari segala arah. Bunyinya berat, dalam, dan penuh rasa lapar yang tak pernah terpuaskan. Seketika, belasan makhluk kecil bermata merah menyala melompat keluar dari balik semak belukar, menghalangi seluruh jalan setapak. Tubuh mereka kurus kering hingga tulang rusuknya terlihat menonjol jelas, kulit mereka hitam legam, dan cakar-cakar panjang mereka berlumuran darah kering. Mata mereka menatap tajam penuh nafsu makan, seolah sudah lama tidak merasakan daging segar.

Tanpa aba-aba, makhluk-makhluk kelaparan itu langsung menerjang ke depan dengan gerakan yang cepat dan liar.

“Biar aku yang urus!” seru Brisa dingin. Tidak ada rasa takut di wajahnya—justru terlihat seulas kepuasan kecil. Akhirnya ada tempat untuk melampiaskan semua amarah yang selama ini ia pendam.

Ia melesat maju secepat angin, tubuhnya hanya menyisakan bayangan perak di tengah kegelapan. Sepasang belati di tangannya berkelebat begitu cepat, menciptakan lengkungan cahaya tipis setiap kali berputar. Satu tebasan saja sudah cukup memenggal leher makhluk pertama dengan bersih, kepalanya menggelinding jatuh ke semak-semak.

Di sisi lain, Yuse yang kini kekuatannya sudah pulih penuh menyelesaikan makhluk kedua dengan satu ayunan pedang yang presisi dan sempurna. Tanpa gerakan berlebihan, mata pedangnya menembus tepat di antara tulang rahang hingga ke otak, lalu ditarik kembali dengan gerakan halus. Darah hitam menyembur keluar, tapi Yuse sudah mundur dua langkah menghindari cipratannya.

Sementara itu, Cindy tak mau lagi dianggap sebagai beban. Ia tahu dirinya kini memiliki kekuatan yang sama besarnya dengan teman-temannya. Ia mengalirkan sedikit api Phoenix di ujung jari—tidak sebesar ledakan dahsyat semalam, cukup hanya seukuran anak panah kecil yang menyala terang. Api itu melesat cepat, menembus tepat ke dada makhluk terakhir yang mencoba menyergap dari belakang. Makhluk itu hanya sempat menjerit pendek sebelum berubah menjadi abu seketika dan jatuh ke tanah.

Pertarungan singkat itu selesai dalam hitungan detik. Tidak ada yang terluka parah, tidak ada yang kelelahan. Yang tersisa hanyalah bau daging hangus dan darah busuk yang menyengat hidung.

Mereka kembali melanjutkan perjalanan, mendaki sisa jalan berbatu yang semakin curam dan terjal. Napas mereka memburu, kaki mereka terasa berat, tapi tak satu pun yang mengeluh. Perlahan, pepohonan mati itu mulai menghilang. Tanah berubah menjadi bebatuan hitam yang tandus dan gersang. Udara semakin dingin menusuk tulang, dan bau amis darah semakin pekat hingga membuat tenggorokan terasa pahit.

Langkah kaki mereka terhenti serempak. Tanpa ada yang memberi aba-aba, tubuh mereka sendiri seolah berhenti bergerak karena satu peringatan naluri yang sama: Berhenti. Bahaya ada di depan.

Di hadapan mereka kini, sebuah pemandangan yang mengerikan terhampar jelas. Sebuah mulut gua raksasa menganga lebar di tengah tebing, persis seperti rahang tengkorak purba yang hendak menelan langit. Susunan bebatuan di sekitarnya secara alami membentuk pola yang sangat mirip dengan kepala tengkorak manusia—dua lubang besar yang kosong seperti mata, cekungan yang dalam seperti hidung, dan bebatuan tajam yang menjorok keluar persis seperti deretan gigi yang mengerikan.

Hawa dingin yang menusuk tulang serta bau busuk darah lama dan daging membusuk mengalir keluar dari dalam kegelapan sana. Baunya begitu menyengat hingga membuat perut terasa mual dan ingin muntah. Ada sesuatu yang tua, sesuatu yang gelap, dan sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini yang bersembunyi di balik lorong itu.

Yuse menelan ludah, tangannya mencengkeram gagang pedang makin erat.

“Goa Tengkorak…” gumamnya pelan dengan nada bergetar.

Brisa melangkah maju setengah langkah, matanya menyipit tajam menatap kegelapan yang pekat.

“Jadi di sinilah sarang mereka yang sebenarnya,” bisiknya, namun ada nada gemuruh amarah yang tertahan di balik suaranya. “Aku bisa mencium bau darah rakyat desaku… bau penderitaan mereka… masih menggantung kuat di udara ini.”

Cindy mendekap erat lengan Yuse, wajahnya masih pucat namun matanya kini tak lagi goyah sedikit pun.

“Kita sudah sampai,” ujarnya tegas. “Dan sekarang, tak ada jalan untuk mundur lagi.”

Mereka bertiga kini berdiri tepat di ambang pintu maut itu, menatap ke dalam lorong gelap yang akan membawa mereka langsung ke jantung pertahanan Padepokan Lintis Bumi. Dari kedalaman gua itu terdengar suara tetesan air yang memantul pelan, diselingi bisikan-bisikan halus yang tak bisa dimengerti—suara yang membuat bulu kuduk berdiri tegak seketika.

Angin bertiup keluar dari dalam sana, membawa suara yang terdengar seperti tawa tertahan yang panjang dan serak.

Lorong itu terbuka lebar, menunggu kedatangan mereka. Dan di ujung jalan yang gelap itu, menunggu pula semua jawaban atas pertumpahan darah, pengkhianatan, serta kematian yang telah mereka alami selama ini.

Tanpa ragu lagi, Yuse melangkah masuk lebih dulu.

“Ayo masuk,” katanya pelan namun berat. “Kita akhiri semua ini hari ini juga.”

1
broken home
semoga lebih diperbaiki kosakata dan penempatan katanya
andara
berikan saran kalian terhadap karya ini, pendapat kalian adalah kunci ku untuk terus maju agar lebih berkembang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!