NovelToon NovelToon
ALEA STORY

ALEA STORY

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dokter
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Alea Winslow (22th), melanjutkan pendidikan S2-nya di salah satu kampus ternama di Belanda.

Hidupnya yang awalnya dia pikir akan bebas, malah hancur lebur karena harus berhadapan dengan Damon Alvaro. Dokter tampan 39 tahun, kadang hangat kadang dingin, yang tiba-tiba mulai terlibat dalam hidupnya.

Damon selalu menjadi saksi Alea melakukan hal-hal konyol. Bahkan mencuri di salah satu pertokoan di Belanda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darah

Alea mencium Damon dengan gegabah, penuh nekat, dan sangat ... liar. Ia menekan bibir mungilnya itu dengan paksa, meniru gaya Damon yang ia rasakan pagi tadi, meski caranya masih kaku dan penuh ketidaksabaran. Lidahnya memberanikan diri menyapu bibir pria itu, mencoba menuntut apa yang menurutnya pantas sebagai tebusan.

Matanya terpejam erat, jantungnya berdegup kencang bukan main, campuran antara rasa takut, malu, dan juga rasa pemberani yang tiba-tiba muncul. Ia berharap si om serigala ini luluh, luluh karena ciumannya, dan membatalkan niatnya untuk menelepon ayahnya.

Namun...

Hanya beberapa detik, Alea justru yang mulai kehabisan napas. Gerakannya melambat, bingung karena Damon sama sekali tidak membalas, hanya diam menerima serangannya dengan tubuh yang kaku.

Gue salah?

batin Alea panik.

Apa caranya salah? Atau dia gak suka?

Perlahan, dengan rasa malu yang mulai menjalar hingga ke ujung kaki, Alea mencoba melepaskan ciumannya. Ia mau mundur, mau berkata sesuatu, mau berpura-pura biasa saja, tapi terlambat.

Saat bibir mereka baru saja terpisah sekian milimeter, dan sebelum Alea sempat membuka mata atau menarik napas panjang ...

Damon bergerak.

Dengan kecepatan kilat, tangan yang semula menahan pinggang Alea bergerak naik dengan kuat, mencengkeram tengkuk leher gadis itu dan belakang kepalanya, menekannya kembali tanpa ampun. Tidak ada waktu untuk berpikir, tidak ada waktu untuk bersiap.

Ghuk!

Damon membalas ciuman itu.

Bukan lembut, bukan manis. Tapi dengan penuh dominasi, ganas, dan brutal. Seolah semua emosi, amarah, kekhawatiran, dan rasa ingin tahu yang tertahan selama ini meledak sekaligus dalam satu serangan yang mematikan.

Alea ternganga kaget saat bibir pria itu menyergapnya kembali dengan jauh lebih haus dan jauh lebih menuntut. Damon tidak memberinya kesempatan untuk bernapas atau bergerak. Ia menguasai seluruh gerakan, menuntut, menyedot, dan mengeksplorasi setiap sudut mulut gadis itu dengan posesif yang luar biasa.

"Hmmnnn...!!"

Ronta kecil keluar dari tenggorokan Alea. Matanya terbuka lebar, membelalak syok di hadapan wajah Damon yang kini tertutup rapat. Ia bisa merasakan betapa paksa dan intensnya ciuman itu. Damon menekannya semakin kuat ke dinding, membuat tubuh mungilnya terasa kecil dan tak berdaya di bawah dekapan pria itu.

Lidah Damon masuk dengan paksa, bertarung, menaklukkan, dan mengajari gadis itu arti sebuah ciuman yang sesungguhnya. Lebih brutal dari tadi pagi. Alea kehilangan kendali sepenuhnya. Kakinya yang melilit pinggang Damon otomatis mengerat, tangannya yang semula mencengkeram kerah baju kini berubah menjadi memegang bahu pria itu dengan erat, seolah mencari pegangan agar tidak jatuh atau hanyut terbawa arus perasaan yang begitu dahsyat.

Dunia di luar sana seolah lenyap. Yang ada hanya suara desah napas mereka yang memburu, dan sensasi panas yang menjalar dari bibir hingga ke seluruh pori-pori tubuh Alea.

Damon menciumnya lama, sangat lama. Ia menciumnya seolah ingin menghukum bibir nakal itu karena berani menggodanya, tapi sekaligus menciumnya seolah ia sangat kelaparan akan rasa ini. Setiap tekanan, setiap gerakan, penuh dengan pesan yang tak terucapkan, Kau milikku. Jangan main-main denganku.

Alea merasa kepalanya pening, kakinya lemas, dan seluruh tubuhnya terasa panas membara. Ia tidak bisa berpikir jernih. Ancaman soal ayahnya? Lupakan. Sekarang yang ia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar dia tidak jatuh ke pelukan pria itu karena lemas luar biasa.

Hingga akhirnya, ketika Alea sudah benar-benar kehabisan napas dan hampir pingsan dalam pelukan itu, Damon perlahan melonggarkan ciumannya. Ia tidak langsung menjauh, hanya menarik wajahnya sedikit, membiarkan dahi mereka bersandar, sementara bibir mereka masih saling menyentuh, saling berbagi hembusan napas yang panas dan tak beraturan.

"Hah... hah..."

Keduanya terengah-engah.

Alea memejamkan matanya, dadanya naik turun kencang, bibirnya terasa panas, perih, dan ngilu sekaligus terasa begitu nikmat. Wajahnya memerah padam, basah oleh keringat tipis.

Damon membuka matanya, menatap wajah gadis di depannya yang kini tampak begitu lembek dan tak berdaya. Tatapan matanya gelap, penuh hasrat yang belum padam, dan juga rasa puas yang luar biasa.

Ia mengusap bibir Alea yang kini tampak bengkak dan merah merona dengan ibu jarinya yang kasar, menelusuri garis bibir itu dengan perlahan.

"Berani sekali kau..." gumam Damon parau, suaranya terdengar serak berat dan sangat seksi, bergetar di udara.

"Menggunakan cara ini untuk membungkamku, bocah kecil."

Alea hanya bisa menggigit bibir bawahnya sendiri, tidak berani menjawab, tidak berani menatap. Jantungnya berdetak begitu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.

"Kau pikir satu ciuman bisa menebus semua kesalahanmu?" bisik Damon lagi, mendekatkan bibirnya ke telinga Alea, menggigit peluh cuping telinga gadis itu pelan.

"Hhhu..." Alea mendengus halus, tubuhnya gemetar hebat.

"Salah..." Damon menarik kepala Alea kembali, menatap manik mata yang kini tampak malu-malu.

"Karena sekarang, kau telah membangkitkan sisi lain dari serigala buas ini. Dan kau harus tahu..."

Damon tersenyum miring, senyum yang sangat tampan namun juga sangat berbahaya.

"Serigala tidak pernah melepaskan mangsanya hanya setelah satu gigitan."

Tanpa memberi waktu Alea untuk memproses kata-katanya, Damon kembali menunduk, dan kali ini, ciumannya kembali menyambar. Lebih lembut sedikit, tapi jauh lebih dalam, jauh lebih mencengkeram jiwa, seolah ingin menandai gadis itu sebagai miliknya selamanya. Berbeda dengan Alea yang berpikir kalau Damon melakukan itu karena laki-laki tersebut memang doyan wanita. Bukan atas dasar suka.

Damon menciumnya lama dan dalam, seolah ingin menghisap seluruh napas gadis itu. Perlahan, bibirnya bergerak turun melewati rahang halus, hingga berhenti di leher putih jenjang yang terpampang di hadapannya. Tanpa ampun, ia menghisap kulit mulus itu dengan kuat, meninggalkan jejak merah yang jelas terlihat, tanda kepemilikan yang tak terbantahkan.

"Hhmm..." Alea mendengus halus, kepalanya mendongak ke belakang, memberikan akses penuh tanpa sadar. Matanya terpejam, pikirannya kacau.

Ah, memang begini kelakuan laki-laki... cuma nafsu semata. Dia cuma butuh pelampiasan, bukan karena sayang atau suka,

batinnya mencoba meyakinkan diri sendiri, meski jantungnya berteriak lain.

Bugh!

Suara benturan keras dan benda jatuh memecah keheningan yang panas itu secara mendadak.

Keduanya tersentak kaget. Ciuman terhenti. Napas mereka tertahan di tenggorokan. Perlahan, Damon dan Alea menoleh serentak ke arah sumber suara di ujung lorong yang agak gelap.

Dan apa yang mereka lihat ... membuat darah Alea seketika berhenti mengalir. Seorang pria tergeletak tak bergerak di lantai semen yang dingin. Namun yang membuat bulu kuduk Alea meremang ketakutan adalah ... seluruh tubuh orang itu basah kuyup oleh warna merah gelap. Bahkan wajahnya.

Darah. Darah segar mengalir deras dari tubuhnya, membanjiri lantai, menodai dinding, dan menetes perlahan membentuk genangan yang mengerikan.

Wajah orang itu tak jelas, tertutup oleh bayangan dan darah, tapi tubuhnya masih bergerak, menandakan bahwa dia masih hidup.

"Aaaa!!"

Jeritan ketakutan meledak dari mulut Alea. Gadis itu langsung memeluk leher Damon sekuat tenaga, membenamkan wajahnya ke dada bidang pria itu, gemetar hebat hingga giginya bergemeletuk. Kehangatan dan hasrat seketika lenyap, digantikan oleh rasa ngeri dan dingin yang menusuk tulang.

Damon langsung berubah. Tatapan matanya yang tadi penuh hasrat kini berubah tajam dan waspada dalam sekejap. Ia segera menutupi pandangan Alea dengan tangannya agar gadis itu tidak melihat pemandangan mengerikan itu lebih lama, sambil tubuhnya melindungi tubuh mungil itu di belakangnya, siap menghadapi segala kemungkinan bahaya yang mengintai di lorong sunyi itu.

1
Alby Raziq
seru banget 🥰🤣
habisi bgmn tu Anthony
daging tu sedap yg x pernah habis 🤭😄🤣🤣
Ita rahmawati
lebay sambutannya kyk nyambut artis 🤣🤣
pake papan nama kyk GK saling tau aja 🤦🤣🤣
vj'z tri
ehm ingat Dady Damian gak mom🤧🤧🤧🎉🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
suprise 🎉🎉🎉🎉🎉
Ilfa Yarni
Damian oh Damian dr semua laki2 di cerita othor ini aku cintanya sama om damian
Lilik Juhariah
seneng banget liat mereka kumpul lagi , seruuuuu
Lilik Juhariah
belum tau kl the gang emak emak kluar apa gak stroke tuh mas Anthony 🤣🤣
Lilik Juhariah
nebeng jet pribadi 🤣🤣🤣 Ale Ale, Daddy Damini, Ter Dami Dami
🎀 ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘNurrul P.❀∂я
keluarga yang heboh 😂😂😂
vj'z tri
emak woi emak nya nurun emak nya dia 🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
terpesona kan 🤣🤣🤣🤣🤣 secara gitu loh Dady Damian limited edition
vj'z tri
nama genk nya damon di sebut 🤣🤣🤣🤣
ardiana dili
lanjut
Mundri Astuti
si alea bener" sue kata anthony...😂😂😂, nebeng dia katah
yumna
momynya kalian nanti akan tau apa tantenya thalia lebh gila 🤣🤣🤣🤣
Tuti Tyastuti
𝘨𝘶𝘴𝘵𝘪𝘪𝘪🤣🤣🤣🤣
Tuti Tyastuti
𝘵𝘢𝘳 𝘬𝘢𝘭𝘰 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘴𝘮 𝘮𝘰𝘮 𝘵𝘢𝘭𝘪𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘢𝘯𝘵𝘩𝘰𝘯𝘺 𝘥𝘢𝘯 𝘦𝘭𝘪𝘳𝘢 𝘵𝘢𝘮𝘣𝘢𝘩 𝘴𝘺𝘰𝘬 𝘭𝘨🤣🤣🤣🤣
Tuti Tyastuti
𝘦𝘭 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘵𝘢𝘱 𝘱𝘪𝘭𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴 𝘮𝘶🤭😂
Tuti Tyastuti
𝘭𝘢𝘯𝘫𝘶𝘵💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!