NovelToon NovelToon
Takhta Di Balik Seragam

Takhta Di Balik Seragam

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Action / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:658
Nilai: 5
Nama Author: Hailwise

SMA Merdeka bukan sekadar tempat belajar. Di balik pagar tinggi dan seragam rapi, ada hierarki tak tertulis yang mengatur segalanya. Di puncak kekuasaan terdapat "Lima Raja" — pemimpin dari lima kelompok besar yang menguasai setiap sudut sekolah, dari kantin, lapangan olahraga, hingga koridor kelas. Peraturan mereka lebih ditakuti daripada peraturan sekolah, dan ketertiban di sekolah itu dijamin lewat kekuatan fisik dan kesetiaan.

Rio Adhitama, siswa pindahan dari kota lain, datang dengan niat sederhana: ingin bersekolah dengan tenang dan lulus dengan nilai bagus. Ia berjanji pada ibunya yang sedang sakit untuk tidak mencari masalah. Namun, nasib berkata lain. Penampilan Rio yang dingin, tatapan tajamnya, dan naluri bertarung yang ia sembunyikan sejak lama membuatnya menjadi pusat perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hailwise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dibalik Kaca Hitam

Matahari siang itu bersinar terlalu terang, menyilaukan, tapi bagi Arga, cahaya itu terasa palsu. Ia duduk di atas motor besar berwarna hitam pekat yang terparkir di pinggir jalan raya, tepat di seberang gerbang SMA Merdeka. Kaca helmnya diturunkan, menutupi separuh wajahnya, menyisakan hanya garis rahang yang keras dan bibir yang selalu menyeringai tipis—senyum yang tidak pernah sampai ke matanya.

Arga Pradana. Nama yang sudah cukup membuat orang bergidik ngeri di tiga sekolah berbeda, bahkan sebelum ia pindah ke sini. Usianya tujuh belas tahun, tapi matanya menatap dunia dengan pandangan seseorang yang sudah terlalu lama hidup di pinggiran hukum, seseorang yang percaya bahwa satu-satunya aturan yang berlaku adalah: siapa yang kuat, dia yang berkuasa.

Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaket kulitnya, menatap foto yang dikirimkan seseorang pagi tadi. Foto itu menampakkan sosok Raka Aditya—sahabat terdekatnya, saudaranya sejak SMP—berjalan menunduk, pakaian kusut, wajah pucat, berjalan keluar dari gerbang sekolah ini seolah-olah ia baru saja diusir dari surga yang dulu ia bangun sendiri.

Jempol Arga mengusap layar ponsel itu perlahan, gerakannya lambat tapi penuh tekanan. Di sudut bibirnya, senyum miring itu perlahan berubah menjadi garis lurus yang dingin dan berbahaya.

"Raka... lo yang paling pinter, yang paling jago ngomong, yang punya segalanya... dan lo dijatuhin sama anak baru? Sama anak yang katanya pendiam, sopan, gak cari masalah?"

Arga tertawa pelan, suara rendah yang bergema di tenggorokannya, tidak ada nada lucu di dalamnya. Ia ingat betul masa-masa SMP dulu. Raka dan dia adalah dua sisi mata uang yang sama persis, sama-sama berkuasa, sama-sama ditakuti. Bedanya: Raka suka memakai nama baik, uang, dan kata-kata manis untuk menguasai orang. Kalau Arga... ia lebih suka jalan pintas. Pukul, tekan, hancurkan sampai mereka mengerti siapa pemilik wilayah ini.

Raka selalu bilang, "Arg, jangan terlalu kasar. Kita mau ditaati, bukan cuma ditakuti."

Dan Arga selalu menjawab, "Takut itu dasar segala ketaatan, Ka. Kalau mereka gak takut, mereka bakal berani nyerang lo pas lo lengah."

Ternyata... Arga yang benar. Raka terlalu percaya diri, terlalu nyaman di atas kekuasaannya sendiri, sampai lupa bahwa di dunia ini selalu ada yang lebih tajam, lebih tenang, dan lebih berbahaya. Dan orang itu bernama Rio Adhitama.

Arga meletakkan ponselnya kembali ke saku, lalu menatap lurus ke arah gerbang SMA Merdeka. Ia melihat siswa-siswa keluar masuk dengan santai, tertawa, berjalan tegak, tidak ada yang menunduk, tidak ada yang terlihat takut.

Pemandangan itu membuat perutnya terasa panas, seperti ada api kecil yang menyala di dada.

Dulu, sekolah ini wilayah Raka. Dulu, nama Raka adalah hukum di sini. Dulu, siapa saja yang melanggar akan dihancurkan masa depannya, dihancurkan harga dirinya, dihancurkan sampai ia tidak berani mengangkat wajah lagi. Tapi sekarang? Sekolah ini berubah jadi tempat main-main. Damai? Adil? Saling menjaga?

Omong kosong.

Bagi Arga, damai itu hanya kata buat orang-orang lemah yang takut berjuang, takut sakit, takut kalah. Keadilan itu cuma alasan orang yang kalah buat menenangkan diri. Dunia itu keras, dunia itu kejam. Kalau lo gak mau diinjak, lo harus jadi yang paling atas, harus jadi yang paling ditakuti, harus punya kekuasaan mutlak. Dan siapa pun yang berani merusak aturan itu... harus dibayar mahal.

Rio Adhitama.

Nama itu berputar terus di kepalanya. Anak itu bukan pahlawan. Anak itu penjahat paling licik. Dia tidak pakai tangan kotor, dia pakai akal, dia pakai orang lain, dia pakai aturan sekolah, dia pakai rasa takut orang tua... Dia melakukan hal yang sama persis seperti yang mereka lakukan, tapi dia menyebutnya "kebenaran".

"Lo cuma sama kayak kita, Rio. Cuma lo lebih pinter nyamar. Lo hancurin Raka, lo ambil alih kekuasaannya, lo bikin semua orang puji lo... tapi dasar lo sama aja: lo pengen kuasa. Bedanya, lo malu ngakuinya."

Arga menyalakan mesin motornya, suara deru keras memecah keheningan siang itu. Ia memacu kendaraannya perlahan, menyusuri jalanan di sekitar sekolah, matanya mengamati setiap sudut, setiap wajah, setiap celah yang bisa ia masuki.

Ia sudah tahu segalanya tentang Rio. Rio yang anak penjual sayur, Rio yang hidup sederhana, Rio yang sangat menyayangi ibunya, Rio yang punya teman-teman setia, Rio yang dihormati semua orang.

Dan Arga tahu persis di mana letak kelemahan terbesar Rio.

Kelebihan Rio adalah ia punya banyak yang harus dijaga. Keluarganya, teman-temannya, nama baiknya, kedamaian yang ia bangun.

Dan kelemahan terbesar Rio? Dia percaya bahwa kebaikan akan menang.

Arga tersenyum lebar kali ini, senyum yang penuh rencana gelap.

"Lo pikir perang udah selesai, Rio? Lo pikir abis Raka jatuh, lo bakal hidup tenang selamanya?" gumamnya sendiri, suaranya berat dan dingin. "Raka itu cuma pemula. Dia masih punya hati, masih punya aturan, masih ada yang dia takutin. Gue? Gue gak punya apa-apa lagi yang bisa diambil. Gue udah dikeluarin dari tiga sekolah, nama gue udah rusak, orang tua udah nyerah sama gue, hukum pun gak gue peduliin. Lo mau lawan gue? Lo bakal nyesel banget pernah lahir ke dunia ini."

Raka cuma mau merusak nama baik Rio. Arga mau lebih dari itu.

Arga mau merusak segala sesuatu yang berharga buat Rio. Mau lihat Rio kehilangan kepercayaan teman-temannya. Mau lihat Rio ketakutan demi ibunya. Mau lihat kedamaian yang Rio bangun dengan susah payah runtuh berantakan, hancur lebur, sampai SMA Merdeka kembali jadi tempat yang penuh rasa takut... tapi kali ini, bukan lagi milik Raka.

Milik Arga.

Ia melihat dari kejauhan sosok Rio berjalan keluar gerbang, berjalan bersama Dinda dan Bara, tertawa santai, wajahnya tenang dan damai. Arga mempercepat sedikit motornya, melintas dekat sekali sampai angin hembusan kendaraannya menerpa wajah mereka.

Sekilas, mata mereka bertemu. Di balik kaca hitam itu, Arga melihat Rio menatapnya—sedikit curiga, sedikit waspada, tapi belum tahu siapa dia.

Arga memberi isyarat tangan singkat, senyumnya makin melebar.

"Simpan tatapan itu, Rio. Nanti bakal ada saatnya lo natap gue dengan mata yang penuh keputusasaan. Dan saat itu datang... gue bakal ada di sana, berdiri tegak, dan nikmatin setiap detik kejatuhan lo."

Motor hitam itu melaju menjauh, menghilang di tikungan jalan, meninggalkan debu dan hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti suasana. Di balik kaca helmnya, Arga sudah menyusun langkah pertama.

Raka jatuh karena dia terlalu terbuka. Arga tidak akan begitu.

Dia akan masuk diam-diam. Menyusup. Menanam benih keraguan di antara teman-teman Rio. Menciptakan masalah baru yang tidak bisa diselesaikan dengan aturan sekolah. Menjadi bayangan yang selalu ada, tapi tak pernah terlihat.

Karena baginya... menghancurkan musuh secara perlahan, melihat mereka hancur dari dalam, jauh lebih memuaskan daripada sekadar memukul mereka sampai pingsan.

Dan petualangan Rio Adhitama yang ia kira sudah berakhir dengan kemenangan baru saja berubah jadi mimpi buruk yang sesungguhnya.

Karena kali ini, lawannya bukan lagi raja yang sombong. Tapi serigala yang kelaparan, yang tidak punya apa-apa lagi untuk hilang, dan hanya hidup untuk satu tujuan: membalas, menghancurkan, dan berkuasa.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!