NovelToon NovelToon
Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Sketsa Rasa Yang Belum Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:736
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Hubungan yang berawal dari reuni kecil itu tumbuh begitu cepat, seolah waktu ingin mengejar ketertinggalan mereka selama di SMA. Arman adalah sosok kekasih yang penuh perhatian. Dia tahu kapan Kanaya sedang lelah hanya dari nada suaranya, dan dia selalu punya cara untuk membuat Kanaya merasa dihargai.

​Bagi Kanaya, Arman adalah pelabuhan yang aman. Begitu pula bagi Arman, ketulusan dan kemandirian Kanaya adalah hal yang tidak bisa ia temukan pada perempuan lain."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Enam bulan yang mengubah segalanya

Sore itu, suasana koridor kos memang terasa sangat sepi. Sebagian besar penghuni kamar lain sepertinya belum pulang dari kampus atau tempat kerja, menyisakan kesunyian yang hanya diisi oleh suara rintik hujan yang kian menderu di luar jendela.

​Arman berdiri di dekat pintu, sedikit menggigil. Kemeja birunya yang tadi siang tampak rapi, kini menempel basah di tubuhnya akibat guyuran hujan di perjalanan menuju kos Kanaya. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini lepek, meneteskan sisa-sisa air ke lantai.

​"Kamu basah kuyup begini, Man," ujar Kanaya, merasa tidak tega melihat kondisi kekasihnya. Ia segera melangkah menuju lemari pakaian kecilnya di sudut kamar.

​"Nay, boleh aku pinjam handuk? Buat ngeringin badan sama rambut sebentar. Dingin banget," kata Arman dengan suara yang agak bergetar karena menahan hawa dingin yang menusuk.

​Kanaya mengangguk pelan. Ia mengambil sebuah handuk bersih berwarna putih yang terlipat rapi di lemarinya, lalu menyerahkannya kepada Arman. "Ini, Man. Pakai saja."

​"Terima kasih, Nay," ucap Arman lirih.

​Saat jemari mereka tidak sengaja bersentuhan ketika serah terima handuk itu, ada sengatan hangat yang tiba-tiba menjalar. Kulit Arman terasa begitu dingin, kontras dengan kehangatan kamar kos Kanaya.

​Arman mulai mengusap rambutnya yang basah dengan handuk tersebut, sementara Kanaya membalikkan badan, berpura-pura sibuk merapikan meja belajarnya untuk mengurangi rasa canggung yang mendadak kembali merayap di antara mereka. Di dalam ruang yang sempit dan sepi itu, aroma parfum Arman yang bercampur dengan aroma hujan dan wangi handuk bersih mendominasi udara, menciptakan atmosfer yang terasa semakin intim.

Suasana kamar kos yang sepi dan dinginnya udara sore itu seolah mengaburkan sisa-sisa logika yang mereka miliki. Kehadiran satu sama lain di ruang yang sempit itu menciptakan ketegangan yang tak lagi bisa dibendung oleh kata-kata.

​Arman menurunkan handuk dari kepalanya, lalu perlahan melangkah mendekati Kanaya. Detak jantung Kanaya kian berpacu cepat saat menyadari jarak di antara mereka mengikis habis. Tanpa suara, Arman mengulurkan tangannya, menyentuh lembut bahu Kanaya dan memutar tubuh perempuan itu agar berbalik menghadapnya.

​Mata mereka bertemu. Di dalam tatapan Arman, tidak ada lagi ruang untuk keraguan—hanya ada keinginan mendalam untuk memiliki dan melindungi,

Arman menangkup wajah Kanaya dengan kedua tangannya yang kini mulai menghangat. Perlahan namun pasti, ia menundukkan kepala dan mendaratkan sebuah ciuman di bibir Kanaya.

​Sentuhan itu awalnya terasa ragu, namun segera berubah menjadi sebuah luapan emosi yang tertahan. Di bawah rintik hujan yang terus membasahi jendela kamar kos, mereka berdua akhirnya larut dalam momentum yang membawa hubungan mereka melangkah jauh lebih dalam dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Sentuhan Arman terasa begitu menuntut sekaligus rapuh, membuat seluruh persendian Kanaya mendadak lemas. Di dalam benaknya, sempat terlintas bayangan wajah ketus Pak Baskoro dan segala aturan norma yang selama ini ia patuhi dengan saksama. Ada bagian kecil dari logikanya yang berteriak untuk mendorong dada Arman dan menghentikan semua ini sebelum terlambat.

​Namun, pelukan Arman yang begitu erat seolah mengunci seluruh kekuatan Kanaya. Rasa takut akan kehilangan laki-laki yang sangat dicintainya ini, ditambah dengan atmosfer kamar yang sepi dan dingin, membuat Kanaya benar-benar tidak bisa menolak.

​Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam dekap hangat Arman. Alih-alih menjauh, jemari tangan Kanaya perlahan justru meremas ujung kemeja basah Arman, menyerahkan sisa pertahanannya sore itu pada perasaan yang telanjur mendominasi mereka berdua. Logikanya benar-benar telah padam, digantikan oleh kepasrahan penuh di dalam kamar kos yang kian sunyi.

1
Himna Mohamad
lanjut kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!