Ayra menjalani pernikahan yang tidak pernah benar-benar ia inginkan. Menikah karena perjodohan, ia berusaha menjalani perannya sebagai istri dengan sebaik mungkin. Dan kehamilan yang datang kemudian, justru membuatnya berusaha lebih kuat, meski pernikahan itu perlahan menunjukkan sisi gelapnya.
Saat mengetahui Rayyan mendua, Ayra tidak mendapat pembelaan apa pun. Suaminya justru lebih memilih wanita itu dibandingkan dirinya yang sedang mengandung. Tekanan batin yang berat membuat Ayra mengalami keguguran. Kehilangan anaknya menjadi pukulan terbesar dalam hidupnya.
Dikhianati, disudutkan, dan tidak lagi dihargai, Ayra akhirnya sampai pada titik lelah. Ia menyerah, bukan karena kalah, tetapi karena tak ingin menyia-nyiakan hidupnya untuk bertahan dalam hubungan toxic.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Brilliante Brillia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Mana Ayra?
Langkah Zavian begitu tenang, namun Ayra merasa seolah-olah sedang berjalan di atas titian tali yang sangat tipis.
Di depan sana, Stella tampak menyambut tamu dengan senyum manis yang tulus, meski sesekali matanya tertuju ke arah Zavian dan Ayra dengan tatapan yang sulit diartikan.
Begitu sampai di hadapan pasangan yang bertunangan itu, Zavian menyalami Bryan terlebih dahulu.
"Selamat, Bryan. Jaga Stella baik-baik," ucap Zavian dengan nada wibawa seorang kakak.
"Terima kasih, Mas Zavian. Kehormatan besar Mas bisa datang," balas Bryan tulus. Setelah itu, Zavian beralih menyalami sang adik ipar.
"Selamat Stella, saya turut berbahagia untuk kalian berdua."
"Terima kasih, Mas," ucap Stella dengan senyum lembut yang sama seperti pada tamu lainnya. Mata wanita itu kemudian beralih pada Ayra. Senyumnya sempat menghilang, berganti dengan tatapan penuh selidik yang sarat akan rasa ingin tahu, sebelum akhirnya kembali tersenyum meski tampak sedikit kaku.
"Oh ya, kenalkan ini Ayra."
Zavian menyadari rasa keingintahuan di mata Stella, maka tanpa ragu ia memperkenalkan Ayra. Ayra mengulurkan tangan yang langsung disambut ramah oleh wanita itu.
"Selamat ya, Mbak Stella. Kamu terlihat sangat cantik," ucap Ayra, sejujurnya.
"Terima kasih... Mbak Ayra. Kamu juga terlihat luar biasa. Sudah hampir setahun lebih, baru kali ini Mas Zavian menggandeng perempuan lagi setelah kematian kakakku. You're very special to him," katanya sambil menatap Ayra dengan mimik serius. Ia meraih tangan Ayra dan menggenggamnya hangat. Ayra hanya tersipu, tak tahu harus berkata apa. Padahal menurutnya, hubungan ia dan Zavian masih
belum mengarah ke hal yang seserius itu.
"Aku selalu mendengar nama kamu disebut oleh Kenzie. Dia pasti merasa nyaman bersamamu. Aku hanya titip dia, ya..."
Stella menatap mata Ayra cukup dalam dan lama, seolah sedang menitipkan harapan besar melalui sorot matanya yang sendu. Namun, begitu sosok Marissa mendekat, ia segera menarik diri dan kembali menegakkan posisi berdirinya.
"Ayra! Ya ampun, aku hampir tidak mengenalimu," ucap Marissa dengan nada riang yang terdengar sangat tulus di telinga semua orang. Ia juga mencium pipi kanan dan kiri Ayra seolah tengah memperlihatkan keakraban mereka.
"Kamu cantik sekali, Sayang... Sekarang sudah benar-benar pintar berdandan, ya? Kamu terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Lebih berkelas."
Ayra sempat tertegun. Kalimat itu terdengar seperti pujian, namun ada sengatan halus yang tersembunyi di akhir kalimatnya.
"Terima kasih, Mbak Marissa," jawab Ayra sopan, meski ia merasa sedikit sesak berada di bawah tatapan wanita itu.
Marissa beralih menatap Zavian. Jemarinya kini mengusap lengan jas Zavian dengan gerakan yang sangat posesif namun tampak halus.
"Mas Zavian, kamu hebat ya. Berani membawa teman baru di acara pertunangan adik mendiang istrimu. Aku yakin kalau Mbak Meutia melihat dari atas sana, dia akan tersenyum melihat seleramu yang kini jauh berbeda dari dia."
Ia tertawa kecil, suara tawa yang merdu namun terasa hambat.
"Apa maksud kamu, Marissa?" Tanya Zavian dengan tatapan sedingin es.
Wanita itu mengedikkan bahu. “Just kidding, maybe.”
Lalu kembali lagi beralih pada Ayrs.
"Ayra, makanlah yang banyak ya. Jangan sungkan," ucapnya Marissa sambil merapikan sehelai rambut Ayra yang sebenarnya sudah tertata rapi.
"Aku tahu makanan hotel mewah seperti ini mungkin jarang kamu temui di tempat-tempat biasa kamu makan." Lanjutnya begitu enteng. Lalu tertawa renyah yang membuat matanya terlihat hidup dan bercahaya.
Kemudia ia beralih menyapa tamu lain yang memanggilnya. Senyumnya semakin mengembang sempurna tanpa cela, meninggalkan Ayra yang kini terpaku dengan rasa tidak nyaman yang menjalar ke sekujur tubuhnya.
""Ada apa dengan wanita itu? Sebentar dia terkesan sinis, lalu bersikap baik hati seperti seorang sahabat, dan kini berubah lagi menyerupai malaikat pencabut nyawa. Dingin dan mematikan," gumam hati Ayra. Zavian yang menyadari kegelisahan itu langsung menggenggam telapak tangan Ayra, lalu mengajak wanita itu turun untuk mencicipi aneka makanan yang sudah tersedia di stan-stan terpisah sesuai jenis hidangannya.
Tiba-tiba seseorang menyapa Zavian. Seorang pria yang ternyata adalah rekan bisnisnya. Mereka segera terlibat obrolan serius, tentu saja membicarakan urusan bisnis yang tidak dimengerti oleh Ayra. Bahkan Ayra sendiri tidak mengetahui apa sebenarnya pekerjaan Zavian. Andai saja dia tahu kalau Zavian adalah atasan Rayyan dan Liztha di kantor.
Merasa bosan, Ayra pun berpamitan untuk pergi ke toilet. Dia menolak saat Zavian menawarkan diri untuk mengantarnya. Akhirnya Ayra melenggang sendirian menuju arah toilet. Tanpa rasa sungkan, Ayra masuk ke salah satu bilik. Namun alangkah terkejutnya ia saat keluar dan melihat ada seorang laki-laki tak dikenal berdiri bersandar ke tembok dengan satu kaki ditekuk ke belakang.
"Halo cantik..." sapanya dengan berani. Ayra tidak menjawab. Ia hanya melirik sekilas lalu berjalan cepat ke arah pintu toilet. Tapi lagi-lagi ia terkejut karena ternyata pintu itu telah terkunci.
"Mau ke mana sayang? Kenapa harus buru-buru? Ayo kita bersenang-senang dulu," ucap lelaki itu yang kini sudah berdiri tepat di belakang Ayra.
"Mau apa kau? Cepat buka pintunya!" sentak Ayra yang mulai merasa sangat cemas.
"Woooow... hehehe... aku sangat suka yang galak-galak begini." Tangan lelaki itu mulai bertindak kurang ajar. Dia berusaha menjawil dagu Ayra, namun dengan gerakan cepat segera ditepis olehnya.
"CEPAT BUKA!" teriak Ayra menggelegar, sementara tangannya terus menggedor-gedor pintu. Namun dengan sigap laki-laki itu mengunci pergerakan Ayra. Ia mencekal kedua tangan wanita itu dan berusaha untuk memeluknya.
Ayra tidak tinggal diam, satu lututnya dengan cepat ia hentakkan sekuat tenaga ke arah selangkangan lelaki itu dan tepat mengenai kejantanannya. Tentu saja lelaki itu mengerang kesakitan. Tapi ia ternyata masih bisa bertahan di tengah rasa sakitnya. Ayra langsung dipepet ke dinding dan dihimpit oleh tubuh besarnya.
Sementara itu, Zavian mulai merasa gelisah karena Ayra pergi ke toilet sudah terlalu lama. Namun saat ia akan menyusul, terdengar suara Marissa memanggilnya.
"Mas Zavian, tunggu!" serunya. Langkah Zavian pun terhenti. Ia menoleh dan melihat Marissa bersama beberapa orang temannya tengah berjalan ke arahnya. Ternyata salah satu teman pria Marissa itu adalah rekan bisnisnya sendiri.
"Halo Pak Zavian, apa kabar?" sapa lelaki itu sambil tersenyum. Ia mengulurkan tangannya dengan sangat sopan.
"Baik, Pak Aldo. Bagaimana kabar Anda?" Mau tak mau Zavian pun harus terlibat obrolan dengan mereka untuk beberapa saat. Namun lama-kelamaan Zavian kembali teringat pada Ayra yang belum kembali juga. Perasaannya semakin tidak enak. Dia segera berpamitan meskipun Marissa mencoba untuk menahannya.
"Maaf, saya harus pergi sekarang," katanya dengan tegas dan bergegas meninggalkan mereka menuju ke arah toilet wanita.
Zavian berjalan cepat karena perasaannya semakin tidak tenang. Sesampainya di depan pintu toilet wanita, dia sempat ragu sejenak, namun akhirnya memutuskan untuk masuk karena firasat buruknya kian kuat.
"Ayra? Kamu di dalam?" panggil Zavian.
Suasana di dalam sangat sepi. Zavian segera memeriksa deretan bilik toilet di sana dan membukanya satu per satu. Namun, setiap pintu yang ia dorong hanya menunjukkan ruangan kosong. Ayra tidak ada di mana pun.
Zavian mengedarkan pandangan ke seluruh sudut ruangan dengan bingung. Saat ia berbalik hendak keluar, matanya yang jeli menangkap kilauan kecil di lantai, tepat di dekat ambang pintu. Ia membungkuk untuk mengambil sebuah anting permata yang teronggok di sana.
Zavian memandangi anting itu dengan saksama. Ia sangat mengenali benda tersebut karena memang dialah yang memberikannya kepada Ayra. Jantungnya berdegup kencang sambil terus bertanya-tanya mengapa anting itu bisa terjatuh di sana, padahal toilet wanita itu kini benar-benar sudah kosong dan tak ada siapa-siapa.
lanjut min ceritanya
Tak terasa buku ini sudah hampir mencapai 20 bab. Terimakasih othor haturkan untuk para readers, semoga kedepannya novel ini akan lebih seru dan lebih diterima oleh penyuka cerita drama rumah tangga. Dan juga lebih banyak komen serta like 🙏
Yuk follow akun othor untuk bisa mengikuti cerita-cerita berikutnya yang akan launching dan tentu dengan cerita yang lebih seru lagi.
Hanya karena alasan dijodohkan, Rayyan berhak berlaku semena-mena pada istrinya dan terang-terangan lebih memilih cinta lamanya?
Disakiti, diinjak-injak harga dirinya dan dibuang seolah Ayra adalah barang yang tidak berharga, membuat batin Ayra terguncang dan harus kehilangan bayinya.
Lalu apakah Ayra akan tahan dalam kubangan ketidak adilan yang dia terima?
Tentu saja tidak!
Tak akan ada yang tahan dalam satu hubungan toxic. Di balik kelembutannya, bagaimana Ayra bangkit dan melawan ketidak adilan yang ia terima?
Temukan jawabannya hanya di, "Aku Menyerah!"