NovelToon NovelToon
Realita Menikah

Realita Menikah

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Cattygril

Menikah muda terdengar indah di mata banyak orang—tentang cinta, perhatian, dan hidup bahagia bersama pasangan. Namun, bagi Elvara Naomi Wijaya, kenyataannya jauh berbeda. Setelah resmi menjadi istri Arsen Rafael Mahardika, pria dingin dan ambisius yang sangat ia cintai, Elvara mulai menyadari bahwa pernikahan bukan hanya soal rasa cinta.

Di balik rumah mewah dan status sebagai pasangan sempurna, mereka perlahan terjebak dalam kesalahpahaman, ego, luka batin, dan rahasia yang tidak pernah terungkap sebelumnya. Arsen yang sulit mengekspresikan perasaan membuat Elvara merasa sendirian di dalam hubungan mereka sendiri.

Saat masalah demi masalah datang menghancurkan ketenangan rumah tangga mereka, Elvara harus memilih—bertahan demi cinta yang masih ia perjuangkan, atau melepaskan semuanya sebelum dirinya hancur lebih dalam.

Karena terkadang, realita menikah tidak seindah janji di hari akad.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cattygril, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 (Menenggelamkan Luka)

...HAPPY READING...

...🧸💕...

Pintu kamar hotel mewah itu tertutup dengan bunyi klik yang pelan, seketika mengunci seluruh kebisingan dunia di luar sana. Julian menurunkan tubuh Elvara dari gendongannya, namun tidak sedikit pun membiarkan jarak mengikis di antara mereka. Punggung Elvara langsung merapat pada daun pintu, terkunci oleh kungkungan kedua lengan Julian.

Atmosfer di dalam kamar seketika berubah menjadi begitu pekat dan sarat akan ketegangan yang intim. Di bawah temaram lampu kamar yang minim, sepasang mata hazel milik Julian menatap Elvara dengan intensitas yang mampu melelehkan sisa-sisa keraguan di hati wanita itu.

"Are you sure about this, El?" bisik Julian, memberi satu kesempatan terakhir sebelum mereka melangkah terlalu jauh.

Elvara tidak menjawab dengan kata-kata. Rasa sakit hati pada Arsen yang membakar dadanya justru menuntut pelampiasan. Sebagai jawaban, Elvara menarik kerah kemeja Julian, mengeliminasi jarak yang tersisa dan menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang jauh lebih menuntut dari sebelumnya.

Julian mengerang rendah, menyambut balasan Elvara dengan gairah yang meledak. Tangannya bergerak mengunci pinggang Elvara, membimbing langkah mereka yang terhuyung ke arah ranjang besar di tengah ruangan tanpa memutuskan tautan bibir mereka.

Malam itu, di atas ranjang yang asing, kedua insan itu larut dalam badai emosi yang bergejolak. Sentuhan Julian yang intens namun penuh penghargaan terasa seperti obat penawar sementara bagi hati Elvara yang hancur berkeping-keping. Setiap kecupan dan pelukan yang mereka bagi bukan lagi sekadar pelarian fisik, melainkan cara Elvara untuk meneriakkan kemarahannya pada takdir.

Gairah yang membakar malam itu membawa mereka tenggelam jauh ke dalam keintiman yang liar. Di bawah remang cahaya kamar dan kehangatan selimut yang melingkupi, Elvara membiarkan dirinya sepenuhnya hanyut dalam pesona Julian, melupakan statusnya, melupakan rasa sakitnya, dan menyerahkan sisa malamnya pada dunia baru yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden yang terbuka sedikit, menerangi kamar hotel yang berantakan. Elvara perlahan membuka matanya, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya yang menyengat. Saat ia mencoba menggerakkan tubuhnya di balik selimut tebal, ia tersadar bahwa dirinya sama sekali tidak mengenakan sehelai benang pun.

Elvara menoleh ke samping. Di sana, Julian masih tertidur pulas dengan posisi telungkup, menampilkan punggung tegapnya yang terekspos. Menatap wajah damai Julian dari dekat, Elvara tidak bisa menampik bahwa pria asing itu memang sangat tampan. 

Namun, sedetik kemudian Elvara menggelengkan kepalanya pelan, mengusir pikiran yang mulai melantur.

Tepat saat Elvara bergerak, Julian tampak terusik. Kelopak matanya terbuka perlahan, menampakkan manik hazel yang masih mengantuk. Begitu melihat Elvara, seulas senyum hangat langsung terbit di bibirnya.

"Morning, sweetie," serak Julian, suara khas orang baru bangun tidur.

"Yeah, morning," jawab Elvara agak canggung, reflek menarik selimut untuk menutupi dadanya.

Julian terkekeh pelan melihat tingkah imut Elvara. Ia mengubah posisinya menjadi duduk bersandar pada kepala ranjang. "Are you hungry?"

"A little bit," aku Elvara pelan. Perutnya memang terasa kosong setelah semua aktivitas intens mereka semalam.

"Hold on, let me order some room service for us," ucap Julian sembari meraih telepon di atas nakas.

Namun sebelum Julian sempat menekan tombol, Elvara menyela, "Julian, wait... I want to take a shower first. But... my body hurts." Elvara meringis kecil, merasakan seluruh persendiannya mendadak kaku dan pegal yang luar biasa.

Julian meletakkan kembali gagang telepon, lalu menatap Elvara dengan tatapan penuh sesal sekaligus menggoda. "Ah, I'm so sorry about that. Let me help you to the bathroom."

Tanpa menunggu persetujuan, Julian menyingkap selimut dan langsung mengangkat tubuh Elvara kembali dalam gendongan *bridal style*. Elvara sempat memekik kaget, namun akhirnya hanya bisa pasrah bersandar pada dada bidang Julian saat pria itu membawanya masuk ke dalam kamar mandi mewah bernuansa marmer tersebut.

Julian menurunkan Elvara dengan hati-hati untuk duduk di tepi bathtub yang besar. Pria itu kemudian berlutut di sampingnya, memutar keran untuk mengisi bathtub dengan air hangat, lalu menambahkan beberapa tetes minyak esensial beraroma lavendel yang menenangkan.

"Soak here for a while. It'll help soothe your muscles," ucap Julian lembut, mengusap puncak kepala Elvara sebelum bangkit berdiri untuk memesan makanan, meninggalkan Elvara yang mulai menenggelamkan tubuhnya ke dalam air hangat yang nyaman.

​Setelah berendam cukup lama di dalam air hangat untuk meredakan pegal-pegal di tubuhnya, Elvara akhirnya keluar dari kamar mandi. Karena seluruh pakaian ganti dan kopernya masih tertinggal di dalam bagasi mobil, ia terpaksa meminjam salah satu kemeja putih milik Julian yang tampak kebesaran di tubuh rampingnya, menjuntai hingga sebatas paha.

​Di ruang tengah kamar, menu sarapan room service yang mewah sudah tertata rapi di atas meja. Julian pun sudah selesai membersihkan diri di kamar mandi luar. Pria itu tampak santai hanya dengan mengenakan jubah mandi handuk yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka di bagian dada.

​Saat Elvara mengambil tempat duduk di seberang Julian, netranya tidak sengaja menangkap beberapa bercak kemerahan yang kontras di sekitar leher dan dada bidang Julian—tanda kissmark serta bekas gigitan kecil yang samar.

​Wajah Elvara seketika merona merah. Ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah piring, merasa sangat malu. Ia ingat betul bagaimana tanda-tanda itu bisa tercetak di sana. Semalam, karena rasa sakit yang teramat sangat saat proses penyatuan mereka, Elvara reflek mencengkeram dan menggigit bahu Julian untuk menyalurkan rasa sakitnya.

​Namun, rasa sakit semalam justru menyadarkan Elvara pada satu kenyataan pahit yang begitu ironis.

​Malam panas bersama Julian itu benar-benar menjadi malam pertama bagi Elvara sebagai seorang wanita seutuhnya. Selama mengarungi bahtera rumah tangga bersama Arsen, Arsen sama sekali belum pernah menyentuhnya. Pria itu selalu mencari alasan untuk tidur terpisah, karena di dalam hatinya, Arsen memang belum bisa melupakan Vivian. Siapa sangka, kesucian yang selama ini ia jaga rapat-rapat untuk suaminya, justru ia serahkan pada seorang pria asing yang baru ia temui di tepi pantai.

​"Hey, what's wrong? Is the food not to your liking?" tanya Julian lembut, memecah lamunan Elvara. Julian memperhatikan wanita di depannya yang hanya mengaduk-aduk makanan dengan pandangan kosong.

​Elvara tersentak kecil, lalu buru-buru memaksakan sebuah senyuman tipis. "Oh, no. It's really good. I'm just a bit tired."

​Julian tersenyum maklum, mengira Elvara hanya kelelahan karena aktivitas mereka. Pria itu mengulurkan tangannya di atas meja, menggenggam lembut jemari Elvara. "Eat up, El. You need to regain your strength."

​Elvara mengangguk patuh dan mulai menyuap sarapannya. Di tengah keheningan pagi itu, Elvara tahu bahwa setelah malam ini, jalannya untuk kembali menjadi istri Arsen telah benar-benar tertutup. Ia telah memilih jalannya sendiri untuk membalas rasa sakit itu, walau kini hatinya terasa campur aduk antara rasa puas dan kehampaan yang baru.

Setelah menyelesaikan sarapan, keduanya memutuskan untuk tidak pergi ke mana-mana. Mereka memilih untuk tetap tinggal di dalam kamar, mengisolasi diri dari dunia luar yang melelahkan.

Julian duduk bersandar pada kepala ranjang yang masih berantakan. Di atas kasur itu, seprai putih yang kusut menampilkan sebuah bercak merah yang telah mengering—bukti bisu dari pergolakan gairah semalam, sekaligus penanda bahwa Elvara telah menyerahkan seluruh dirinya yang berharga kepada Julian.

Elvara sendiri duduk menyamping di dekat kaki Julian, menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada tepian ranjang. Di pangkuannya, terdapat sebuah buku sketsa kosong bersampul kulit milik Julian yang ia pinjam, lengkap dengan sebuah pensil grafik. Jemari lentik Elvara bergerak dengan tekun, menggoreskan garis demi garis, membentuk sebuah sketsa detail dari bongkahan batu karang yang kemarin sore ia lihat di pantai. Menggambar selalu menjadi cara terbaik bagi Elvara untuk menenangkan isi kepalanya yang penuh.

Sementara Elvara fokus pada kertasnya, Julian memperhatikan wanita itu dari atas dengan tatapan penuh minat. Tangan kekar Julian perlahan terulur, dengan lembut memainkan helai demi helai rambut panjang Elvara yang halus, menggulungnya di jemari lalu melepaskannya kembali.

"You're really talented, El," puji Julian dengan suara rendah, matanya bergantian menatap sketsa yang mulai terbentuk indah dan wajah serius Elvara yang tampak begitu menawan saat sedang fokus.

Elvara tersenyum tipis tanpa menghentikan sapuan pensilnya. "It's just a hobby. It helps me focus on something else when my mind gets too loud."

Julian tidak langsung menyahut. Ia hanya terus mengusap lembut rambut Elvara, memberikan kenyamanan yang tenang tanpa tuntutan apa pun. Di dalam kamar yang hening itu, hanya terdengar suara gesekan pensil di atas kertas, menciptakan melodi damai yang perlahan-lahan mulai membalut luka di hati Elvara dengan cara yang berbeda.

​Elvara memberikan goresan terakhir pada bayangan sketsanya, lalu mengembuskan napas puas. Ia menutup buku sketsa itu perlahan dan meletakkannya di atas nakas di samping ranjang. Namun, baru saja ia hendak meregangkan tubuhnya yang kaku, sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang.

​Tanpa aba-aba, Julian menarik tubuh Elvara ke atas kasur, membawanya masuk ke dalam pelukannya. Elvara terkesiap kecil saat tubuhnya kini bersandar sepenuhnya pada dada bidang Julian. Pria bule itu memeluknya dengan sangat erat, seolah-olah Elvara adalah sesuatu yang berharga yang tidak ingin ia biarkan pergi.

​Julian menenggelamkan wajahnya di antara ceruk leher dan bahu Elvara, menghirup aroma harum dari sisa sabun mandi yang melekat di kulit wanita itu. Pelukan itu begitu hangat dan posesif, namun anehnya sama sekali tidak membuat Elvara merasa tertekan.

​"Just stay like this for a while, El," bisik Julian, suaranya bergetar rendah tepat di samping telinga Elvara.

​Elvara terdiam, membiarkan dirinya tenggelam dalam kehangatan dekapan Julian. Kedua tangannya perlahan naik, menyentuh lengan Julian yang mendekapnya erat. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama terjebak dalam dinginnya pernikahan dengan Arsen, Elvara akhirnya bisa merasakan bagaimana rasanya dipeluk dengan penuh kepedulian dan kehangatan yang nyata. Di dalam pelukan erat Julian, ia membiarkan sisa-sisa kegelisahan di hatinya perlahan menguap, menikmati kenyamanan singkat yang ditawarkan oleh takdir.

Kehangatan dekapan Julian dan usapan lembut jemarinya di lengan Elvara perlahan-lahan bekerja layaknya obat tidur. Beban emosional yang terkuras habis sejak kemarin membuat kelopak mata Elvara kian memberat. Tak butuh waktu lama, napas wanita itu mulai teratur, menandakan ia telah terlelap dengan nyenyak di dalam pelukan Julian.

​Mendengar dengus napas halus Elvara, Julian menghentikan gerakan tangannya. Ia menunduk, memastikan bahwa wanita di pelukannya itu benar-benar sudah tertidur pulas.

​Begitu yakin Elvara tidak akan terbangun, kehangatan yang tadi memancar dari wajah tampan Julian mendadak sirna. Ekspresinya berubah menjadi dingin dan penuh perhitungan. Perlahan dan dengan sangat hati-hati, Julian melonggarkan pelukannya, menggeser tubuh Elvara ke atas bantal agar tidak terusik.

​Julian turun dari ranjang tanpa suara. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja, lalu melangkah lebar menuju balkon kamar hotel. Setelah menutup pintu kaca balkon rapat-rapat agar suaranya tidak terdengar ke dalam, Julian langsung mendial sebuah nomor internasional.

​Panggilan itu hanya tersambung dalam dua kali nada dering sebelum suara seorang pria di seberang sana menyahut dengan formal.

​"Yes, Sir?"

​Julian menumpu kedua tangannya pada pagar pembatas balkon, menatap lurus ke arah hamparan laut lepas di depannya dengan tatapan tajam. "I found her," ucap Julian langsung pada intinya, menggunakan bahasa Inggris dengan nada suara yang rendah dan mutlak.

​"Targetnya ada bersamaku sekarang. Aku ingin kamu bergerak cepat," perintah Julian dingin. "Cari tahu segala hal tentang Elvara. Aku mau data lengkapnya—masa lalunya, keluarganya, dan yang paling penting, cari tahu apa hubungan wanita ini dengan Arsen."

​"Baik, Sir. Segera saya proses," jawab suara di seberang sana dengan patuh.

​Julian memutus sambungan telepon sepihak, lalu memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celananya. Ia menoleh sedikit melalui kaca balkon, menatap siluet Elvara yang masih tertidur di atas ranjang. Senyum tipis yang penuh teka-teki terukir di bibirnya. Pertemuan mereka di pantai kemarin sore ternyata bukanlah sekadar kebetulan belaka.

Julian memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu mengembuskan napas panjang ke arah hamparan laut yang berkilau indah diterpa cahaya matahari pagi yang kian meninggi. Sebuah senyum sinis—kali ini ditujukan untuk dirinya sendiri—terukir di bibir tampannya.

​Ada satu rahasia besar yang tidak Elvara ketahui. Julian sebenarnya sangat fasih berbahasa Indonesia karena sudah cukup lama tinggal dan berbisnis di negara ini. Alasan mengapa ia berpura-pura hanya bisa berbahasa Inggris sejak kemarin sore adalah trik sengaja; ia hanya ingin menjaga jarak dan menguji wanita-wanita lokal yang ia temui di pantai.

​Sialnya, rencana santai yang ada di kepalanya mendadak berantakan oleh satu hal yang tak pernah ia duga: hatinya sendiri.

​Niat awal Julian mendekati Elvara murni hanya untuk bermain-main. Ia mengira Elvara sama seperti wanita kebanyakan yang bisa diajak menghabiskan satu malam panas tanpa ikatan (one-night stand), lalu berpisah begitu saja saat pagi tiba. Namun, semua perkiraannya meleset total. Karakter Elvara yang rapuh namun menyimpan luka dalam, tawanya yang lepas, hingga keputusasaan yang wanita itu tunjukkan semalam, justru meruntuhkan dinding pertahanan Julian. Ia malah benar-benar jatuh hati.

​Terlebih lagi saat mengingat bercak merah di atas seprai putih di dalam kamar tadi. Kenyataan bahwa malam panas itu adalah malam pertama bagi Elvara benar-benar menampar akal sehat Julian.

​Siapa yang menyangka wanita seindah dan secantik Elvara belum pernah disentuh oleh siapa pun? Kesucian yang begitu berharga justru diserahkan kepadanya, seorang pria asing yang awalnya hanya berniat main-main. Kenyataan itu menghantam dada Julian dengan rasa bersalah yang teramat besar, sekaligus memicu letupan posesif yang liar di dalam dirinya. Panggilan telepon yang ia lakukan tadi kepada orang kepercayaannya bukan untuk menyelidiki musuh, melainkan karena ia ingin tahu lebih banyak tentang latar belakang wanita yang kini telah mencuri hatinya itu.

​Julian berbalik, membuka pintu kaca balkon dengan sangat pelan lalu melangkah kembali ke dalam kamar yang sejuk. Ia berjalan mendekati ranjang, menatap wajah polos Elvara yang masih terlelap nyaman di bawah gulungan selimut.

​Julian berlutut di sisi ranjang, mengulurkan tangan untuk menyingkirkan anak rambut yang menutupi dahi Elvara dengan gerakan yang teramat lembut, seolah takut akan membangunkan wanita itu.

​"Maafkan aku, El..." bisik Julian lirih dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar, suaranya sarat akan ketulusan yang baru ia rasakan. "Aku awalnya cuma mau main-main. Tapi setelah tahu aku adalah yang pertama buat kamu... aku nggak akan pernah bisa lepasin kamu."

Bersambung….. 

1
Aquarius1276 Nonamolek
tidak bertele²...bahasa yg mudah dimengerti
Aquarius1276 Nonamolek
kapan thor season 2 nya ...plus judul nya donk😍
Cattygril
okee
mba mawar34
oh noo gw pikir bakalan sama kael
Cattygril: haha, tidak kk
total 1 replies
mba mawar34
Next💪😍
mba mawar34
ceritanya bgus, dan oke di baca
Cattygril: terimakasih☺
total 1 replies
mba mawar34
semangat thir💪😍
Cattygril: iya dongg👌☺
total 1 replies
cynth
Everyone biggest nightmare.
Cattygril: heee☺
total 1 replies
Amelia
Next😍
Amelia
iya Thor gak papa, semangat trus update ya💪😍
Cattygril: terimakasih yaa😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!