NovelToon NovelToon
Perjodohan Terpaksa

Perjodohan Terpaksa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rara M.

Putra Setiawan, perwira tentara dingin yang menyimpan dendam, menerima perjodohan dengan Citra Lestari, dokter lembut putri musuhnya. Pernikahan ini hanyalah senjata untuk menghancurkan keluarga Citra dari dalam. Namun, saat ia berniat menyakiti, ketulusan wanita itu perlahan meruntuhkan tembok kebenciannya. Di antara balas dendam dan cinta yang tumbuh diam-diam, Putra harus memilih menuntaskan amarah, atau mempertahankan hati yang mulai ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara M., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan di Ujung Jurang

Suasana di ruangan luas itu mencekam, hening seolah udara pun berhenti bergerak. Wijaya berdiri tegak di tengah ruangan, senjata yang ia pegang masih menempel erat di pelipis Andi. Wajah pria tua itu memancarkan arogansi dan kemenangan, seolah ia sudah memegang kendali penuh atas nyawa semua orang yang ada di sana. Di balik tiang beton, Putra, Citra, dan Kolonel Bayu masih terpaku kaget, tak menyangka bahwa orang yang paling mereka percayai selama ini adalah akar dari segala kejahatan.

Perlahan, Putra melangkah maju keluar dari persembunyian, meninggalkan perlindungan tiang itu. Tindakannya membuat Citra menahan napas dan berusaha menahannya, namun genggaman tangan suaminya yang kuat namun lembut memberinya isyarat untuk diam dan percaya. Putra berdiri tegak, sorot matanya yang tajam dan dingin menatap lurus ke arah Wijaya, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa takut. Di dalam dadanya, rasa marah, kecewa, dan rasa sakit bercampur menjadi satu, namun sebagai seorang prajurit, ia harus tetap tenang dan berpikir jernih.

"Kau... Wijaya. Orang yang ayahku anggap saudara, orang yang aku panggil Paman dan hormati seumur hidupku," ucap Putra pelan namun tegas, suaranya bergema di ruangan kosong itu. "Semua nasihatmu, semua bantuanmu, semua perhatianmu... semuanya palsu? Semuanya hanya sandiwara agar kau bisa mencuri apa yang menjadi hak keluarga kami?"

Wijaya tertawa keras, suara tawa yang terdengar hampa dan mengerikan. Ia sedikit menarik senjatanya, namun masih tetap mengarahkannya ke arah Andi yang gemetar ketakutan di sampingnya.

"Kau masih muda, Putra. Kau belum paham bagaimana dunia ini berputar. Dua puluh tahun lalu, saat ayahmu dan Haris Lestari menemukan lokasi tambang ini... aku ada di sana. Aku yang pertama kali melihat potensi kekayaan luar biasa ini. Tapi apa yang terjadi? Mereka berdua yang mengambil semua hak dan pujian, sementara aku hanya dijadikan bayangan, sekadar rekan pendukung. Itu tidak adil! Semua ini seharusnya milikku!" Wijaya berteriak, amarah lamanya meledak tak terkendali.

"Maka dari itu kau merencanakan semuanya," potong Kolonel Bayu yang ikut melangkah maju berdiri di samping Putra, wajahnya merah padam menahan kemarahan. "Kau yang mengarang fitnah bahwa Haris adalah pengkhianat. Kau yang menyuruh Rania mendekati Putra untuk merusak masa depannya. Kau yang mendorong Jenderal Adi berbuat jahat agar kau bisa naik pangkat dan berkuasa di balik layar. Kau mengorbankan nyawa, kehormatan, dan kebahagiaan orang lain hanya demi kekayaan dan kekuasaan!"

"Benar!" seru Wijaya bangga. "Dan rencanaku berjalan sempurna sampai saat ini. Ayahmu mati dalam kecelakaan yang 'tak disengaja'. Nama baik Haris hancur. Keluarga Lestari menderita. Dan kau, Putra... kau tumbuh dengan hati penuh dendam dan kebencian, persis seperti yang aku inginkan. Aku pikir segalanya sudah selesai, sampai kau menikahi wanita ini..."

Mata Wijaya melirik tajam ke arah Citra yang berdiri di sisi lain Putra.

"Citra Lestari... kehadiranmu adalah satu-satunya kesalahanku. Aku tak menyangka kau akan cukup kuat mengubah hati Putra, menyatukan kembali dua keluarga yang seharusnya saling memusuhi, dan perlahan-lahan mengungkap kebenaran yang sudah aku kubur dalam-dalam. Kau mengacaukan segalanya, Dokter."

Citra menegakkan tubuhnya, meski hatinya berdebar kencang. Ia tidak gentar menatap mata jahat Wijaya. "Kebenaran akan selalu terungkap, seberapa pun dalamnya kau kubur, Wijaya. Kau mungkin mengambil harta, kekuasaan, dan waktu kami, tapi kau tidak akan pernah bisa mengambil kehormatan dan kasih sayang yang ada di antara kami. Dan kau tidak akan pernah menang."

Wijaya mendengus kesal, lalu kembali menatap Putra dengan tatapan licik. Ia menggeser sedikit posisinya, semakin mendekatkan diri pada Andi yang kini menatap Putra dengan pandangan aneh campuran antara rasa takut, penasaran, dan sesuatu yang lain yang belum ia mengerti.

"Cukup dengan omong kosong itu. Sekarang kita bicara nyata," ucap Wijaya dingin. Ia mengangkat senjatanya sedikit lebih tinggi, tepat di depan wajah anak kecil itu. "Kau lihat anak ini? Andi. Bukti kesempurnaan rencanaku. Rania aku perintahkan melahirkannya dari benihmu, agar dia menjadi jembatan. Aku mendidiknya untuk membencimu, agar kelak saat dia dewasa, dia akan menjadi senjata terkuatku untuk menghancurkanmu sendiri. Tapi sekarang... dia jadi alat tawaranku."

"Andi tidak ada hubungannya dengan ini! Dia anak kecil yang tidak bersalah!" bentak Putra, suaranya meninggi karena emosi yang meluap.

"Tidak bersalah? Dia darah dagingmu, Putra. Dan karena itu, nyawanya jauh lebih berharga bagimu daripada nyawa orang lain. Kau ingin dia selamat? Kau ingin dia tumbuh sehat dan bahagia? Baiklah... serahkan semua hak warisan tambang ini padaku. Tanda tangani semua dokumen pengalihan hak yang sudah aku siapkan. Tinggalkan pangkatmu, tinggalkan negaramu, dan jangan pernah menampakkan wajahmu di depanku lagi. Lalu... mungkin aku akan membiarkan anak ini hidup bersamamu."

Tawaran itu terasa seperti pukulan telak. Di satu sisi ada nyawa seorang anak, darah dagingnya, yang terancam. Di sisi lain ada amanah besar dari mendiang ayahnya, kehormatan keluarga, dan keselamatan negara yang harus ia jaga. Putra terdiam, pikirannya berputar cepat mencari jalan keluar. Ia tahu Wijaya tidak bisa dipercaya. Sekali ia menyerahkan segalanya, kemungkinan besar mereka semua akan dibungkam selamanya.

Namun, di saat yang menegangkan itu, sesuatu yang tak terduga terjadi.

Andi, yang sedari tadi diam dan ketakutan, perlahan menggerakkan tangannya kecilnya. Rasa takutnya berubah menjadi keberanian yang tiba-tiba, mungkin karena naluri seorang anak atau karena rasa benci yang sudah tertanam kuat pada orang yang selama ini mengasuhnya namun sering bersikap kasar. Saat Wijaya sedikit lengah karena fokus berdebat dengan Putra, Andi menggigit lengan pria tua itu sekuat tenaganya.

"ARGH!" Wijaya meringis kesakitan, refleks melepaskan cengkeramannya dan mundur selangkah. Senjatanya terayun ke atas.

"JANGAN SAKITI AYAHKU!" teriak Andi lantang, suara melengking namun jelas terdengar di seluruh ruangan.

Semua orang terpaku kaget. Putra dan Citra saling pandang tak percaya.

"Apa yang kau katakan, Nak?" gumam Putra hampir tak terdengar, hatinya serasa meledak penuh haru.

Andi mundur menjauh dari Wijaya, berdiri membelakangi dinding, matanya menatap tajam ke arah Wijaya sambil menangis. "Kau yang jahat! Kau yang selalu bicara buruk tentang Ayah! Tapi Ayah tidak jahat... Ayah datang menyelamatkanku. Wajahnya sama denganku... kau yang berbohong semua ini!"

Wijaya yang kesakitan dan marah luar biasa, kehilangan kendali diri. Wajahnya memerah padam, mata menyala penuh amarah. Ia mengangkat kembali senjatanya, kali ini langsung mengarahkannya ke dada kecil Andi.

"Anak kurang ajar! Kau pikir kau siapa? Aku yang membuatmu ada! Aku yang memberimu makan! Kau berani melawanku? Kau akan mati dulu sebelum mereka menyentuhmu!"

"ANDI!" teriak Putra dan Citra serentak.

Semuanya terjadi dalam sekejap mata. Putra melompat berlari secepat kilat ke arah anak itu, tak mempedulikan bahaya. Kolonel Bayu dan pasukannya juga bergerak serentak menyerbu masuk. Namun Wijaya sudah menarik pelatuknya.

DOR!

Suara ledakan keras memecah keheningan. Asap bubuk mesiu mengepul di udara.

Andi jatuh terguling ke belakang. Citra berteriak histeris dan nyaris pingsan melihat pemandangan itu. Putra tiba tepat di depan anak itu, menangkap tubuh kecil yang terkulai lemas itu ke dalam pelukannya.

"ANDI! ANDI! Buka matamu, Nak! Lihat Ayah!" seru Putra panik, air mata mulai mengalir di pipi pria gagah itu. Ia memeriksa tubuh anak itu dengan tangan gemetar, mencari sumber darah.

Namun, di saat kepanikan memuncak, Andi perlahan membuka matanya, terbatuk pelan, lalu menatap wajah Putra yang begitu dekat dengannya. Di saat yang sama, Kolonel Bayu dan pasukan sudah berhasil menjatuhkan dan mengunci pergerakan Wijaya yang masih berteriak marah, melawati para pengawalnya yang sudah dilumpuhkan lebih dulu.

"Mas... dia... dia terluka?" tanya Citra dengan napas tersengal, berlutut di samping mereka, naluri medisnya langsung bekerja memeriksa keadaan Andi.

Andi menggeleng pelan, lalu mengangkat tangan kecilnya yang menggenggam benda keras sebuah kalung logam berbentuk lambang militer yang diberikan Putra kepadanya bertahun-tahun lalu, kalung yang entah bagaimana caranya ada di tangan Andi dan tersimpan di saku bajunya. Peluru Wijaya tepat mengenai benda itu, membuatnya penyok parah namun berhasil menahan laju peluru itu hingga tidak menembus tubuh Andi.

"Aku... aku tidak apa-apa, Bu," bisik Andi pelan, matanya beralih dari Putra ke Citra, lalu kembali ke Putra dengan pandangan yang berubah total. "Ayah... Ayah tidak jahat. Ayah selamatkan aku."

Putra memeluk tubuh kecil itu sangat erat, seolah takut anak itu akan hilang lagi jika dilepaskan. Rasa bahagia, haru, dan rasa lega bercampur aduk menjadi satu. Ia mencium kening anaknya berulang kali.

"Ya, Nak. Ayah di sini. Ayah tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Ayah janji," bisik Putra dengan suara parau. Ia menatap Citra, dan di mata istrinya, ia melihat air mata bahagia dan senyum tulus yang indah.

Di sudut ruangan, Wijaya kini sudah terikat dan ditahan dengan erat, berteriak-teriak penuh sumpah serapah dan ancaman kosong, namun suaranya perlahan tenggelam dalam kehebatan momen pertemuan ayah dan anak itu. Rencana besarnya hancur lebur, kekuasaannya berakhir, dan kebenaran akhirnya terungkap di tempat ini.

Namun, di tengah kemenangan dan kebahagiaan itu, Citra menyadari sesuatu yang aneh. Saat ia memeriksa kalung yang menyelamatkan nyawa Andi, ia melihat ada tulisan ukiran kecil di bagian belakangnya yang sebelumnya tak terlihat. Tulisan itu bukan nama Putra, melainkan pesan singkat yang membuat darah Citra serasa berhenti mengalir sejenak.

"Untuk Andi, dari Ibumu yang sesungguhnya."

Citra mengangkat wajahnya, menatap Putra yang masih sibuk memeluk anak itu. Di dalam benaknya, ribuan pertanyaan baru bermunculan.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!