NovelToon NovelToon
After Love

After Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Ketos
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

"Ini rumah, bukan sekolah. Tugas lo sekarang sebagai istri, bukan sekretaris lagi." Galvin menyudutkan Khaira di balik pintu kamar mereka.

"Aku juga udah ngelakuin tugas aku sebagai istri, kan? Kecuali—"

"Kecuali apa, hm?"

Khaira langsung menunduk, menggigit bibir bawahnya di balik cadar. Dia juga meremas sebuah proposal yang sejak tadi dia pegang. Jantungnya berdebar, saat Galvin semakin mendekat dan mengikis jarak di antara mereka.

✧✧✧

Khaira Mafaza Lavsha—Sekretaris Glory High School, tiba-tiba dijodohkan dengan Galvin Shaka Athariz—Ketua Osis yang terkenal tampan, dingin dan penuh kharisma.

Perjodohan itu membuat mereka harus menjalani pernikahan rahasia di masa SMA.

Bagaimanakah kehidupan mereka yang semula hanya sebatas Sekretaris dan Ketua Osis, kini berubah menjadi sepasang suami istri? Mampukah mereka menjalaniinya?

*** WARNING ! STOP PLAGIAT !!! ***

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB I

♦♦

"Saya terima nikah dan kawinnya Khaira Mafaza Lavsha binti Rafiq dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi?"

"SAH!"

"Alhamdulillah."

——

Bayangan itu kembali muncul di benak Khaira. Acara yang terjadi beberapa jam yang lalu bagaikan mimpi baginya.

Takdir hidupnya berjalan seolah begitu cepat, sehingga dia belum percaya bahwa saat ini dirinya sudah menjadi seorang istri.

'Semoga ini yang terbaik untukku dan untuk keluarganya, yang kini juga menjadi keluargaku,' batinnya.

Suara ketukan pintu tiba-tiba terdengar di telinga, membuatnya langsung menoleh ke arah pintu.

"Ini Bunda."

Mendengar suara itu, membuat Khaira langsung beranjak dari kursi meja rias yang ada di kamar hotelnya.

"Bunda boleh masuk?" tanya Diana, saat pintu kamar sudah dibuka oleh Khaira.

"Tentu saja. Silahkan masuk, Bu."

Khaira menuntun ibu mertuanya untuk duduk di sofa panjang yang ada di kamar hotelnya.

"Masih panggil Ibu?" tegur Diana dengan halus.

Khaira langsung menunduk malu. "M-maaf, B-bunda."

Diana tersenyum tipis, dia tentu saja paham bagaimana perasaan Khaira yang berada di posisi saat ini. "Tidak masalah. Kamu hanya belum terbiasa."

Dia dan Khaira duduk bersampingan di tepi tempat tidur.

"Bunda tidak mengganggu istirahat kamu, kan?"

Khaira langsung menggeleng pelan, sambil tersenyum di balik cadarnya. "Tentu tidak, Bunda."

"Bunda mau bilang makasih, karena kamu sudah mau menikah dengan anak bunda."

Diana tidak berhenti bersyukur memiliki sosok menantu seperti Khaira.

"Khaira yang seharusnya berterimakasih. Khaira bukan siapa-siapa, tapi Bunda selalu menjaga Khaira layaknya keluarga."

Diana langsung menggelengkan kepala. Dia tidak setuju dengan kalimat yang baru saja Khaira katakan.

"Siapa bilang kamu bukan siapa-siapa? Kamu anak Bunda." Dia memeluk Khaira dengan penuh kasih sayang.

Khaira menerima pelukan itu, walaupun dengan perasaan yang masih canggung.

"Sekarang, kamu tidak boleh merasa sendirian lagi. Walaupun ibu kandung kamu sudah tidak ada, tapi sekarang ada kami sebagai keluarga kamu."

Ceklek!

Pintu kamar hotel itu tiba-tiba terbuka dari arah luar.

Khaira dan Diana langsung melihat ke sumber suara.

"Bunda dicari ayah," ucap Galvin, begitu muncul dari balik pintu.

Diana langsung mengangguk paham.

Dia kembali menatap Khaira yang masih duduk tepat di sampingnya.

"Kalau gitu, Bunda pergi. Kalian istirahat dan persiapkan diri untuk resepsi nanti malam," ucapnya, sambil menatap Khaira dan Galvin secara bergantian.

Khaira dan Galvin mengangguk secara bersamaan.

Setelah itu, Diana berlalu meninggal anak dan menantunya di kamar itu.

Kecanggungan mulai Khaira rasakan, saat pintu kamar mereka tertutup dan menyisakan Galvin di dalam kamar itu, berdua bersamanya.

"Mau langsung istirahat?" tanya Galvin, yang masih berdiri di dekat pintu.

Khaira melirik sekilas ke arah Galvin, kemudian membuang kembali pandangannya dengan cepat. "Kalau kamu mau istirahat, tidur aja di sini. Aku mau—" ucap Khaira, tanpa menjawab pertanyaan Galvin.

"Mau apa?" tanya Galvin, dengan cepat.

Khaira langsung menghentikan langkahnya, di sana hanya ada mereka, sudah pasti Galvin berbicara kepadanya.

"Mau ke luar. Biar kamu bisa istirahat," jawab Khaira.

"Gue mau bicara sama lo. Bisa?" tanya Galvin, tanpa ekspresi.

"Bisa." Khaira langsung menjawab.

Galvin berjalan ke arah sofa panjang yang ada di sana.

"Duduk sini," ucapnya, sambil menunjuk ke arah sofa yang masih kosong, menggunakan sorot matanya.

"Aku di sini aja." Tanpa disadari, Khaira sudah menolak perintah suaminya.

Namun, tidak lama setelah itu, Khaira langsung teringat bahwa saat ini Galvin adalah suaminya, orang yang harus dia patuhi selama itu baik.

Secara perlahan, dia mulai melangkah dan duduk di sofa itu bersama Galvin.

Untungnya, ukuran sofa cukup panjang, sehingga dia dan Galvin masih memiliki jarak.

"Bunda maksa lo buat nikah sama gue?" tanya Galvin, sambil menatap Khaira yang sejak awal menundukkan kepala.

"Bunda maksa kamu buat nikah sama aku?" Khaira balik bertanya, tanpa memandang Galvin di sampingnya.

"Gue mau lo jawab, bukan balik nanya," timpal Galvin.

Khaira langsung mengangkat pandangannya. "Bukan maksa, tapi membujuk," ucapnya, membenarkan apa yang menurutnya kurang benar.

"Kenapa lo mau?" Galvin kembali bertanya.

"Kenapa kamu juga mau?" Lagi-lagi Khaira menanyakan hal yang sama.

"Khaira!" tegur Galvin dengan pelan tapi penuh penekanan.

Jujur, dia gemas dengan sikap Khaira yang selalu sulit memberikan jawaban kepada lawan bicara.

"Maaf," lirih Khaira dengan pelan.

"Apa yang udah lo lakuin, sampai bunda sayang banget sama lo?"

Khaira langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.

"Aku sayang bunda. Aku nyaman saat di samping bunda. Pelukan bunda sama seperti pelukan ibu yang sudah tidak bisa aku rasakan lagi."

Setelah mengatakan itu, tiba-tiba saja ekspresi Khaira berubah menjadi sendu. Dia teringat kembali kepada almarhumah ibunya yang telah meninggalkannya tiga bulan yang lalu.

"Ibu udah tenang di sana. Jangan buat dia sedih dengan liat lo nangis."

"Aku gak nangis," elak Khaira, sambil membuang pandangannya ke sembarang arah.

Galvin yang melihat sikap Khaira seperti itu, hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sudah jelas dia melihat, tetapi Khaira masih mengelak.

Air mata yang bergenang di pelupuk mata indah itu menjadi bukti. Khaira yang mengenakan cadar, membuat kedua bola mata indahnya menjadi pusat utama saat Galvin memandangnya.

Baru kali ini Galvin berani melihat Khaira dalam waktu yang cukup lama, yaitu setelah Khaira menjadi istrinya. Biasanya dia tidak melakukan itu walaupun sedang berdiskusi dengan Khaira, karena dia menghargainya.

"Lo gak nangis, tapi mau nangis."

"Nggak, Galvin." Khaira tetap membantah.

Galvin memutuskan untuk tidak memperdebatkan hal itu. Dia beranjak dari sofa, meninggalkan Khaira yang masih duduk di sana.

"Kamu mau ke mana? Bukannya kamu mau tidur? Biar aku aja yang keluar," tanya Khaira.

Dia ikut bangkit dari duduknya, menyusul Galvin yang sudah berdiri lebih dulu.

"Kapan gue bilang mau tidur?" tanya Galvin, sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

Hal itu membuat Khaira terdiam. Dia juga membenarkan bahwa Galvin tidak pernah mengatakan ingin tidur. Itu hanya kesimpulannya saja.

 

"Masya Allah, mantu bunda cantik banget."

Diana yang baru saja memasuki kamar anak dan menantunya itu, kembali dikejutkan oleh penampilan Khaira yang begitu indah.

Kecantikan Khaira di balik cadar itu, terpancar menembus cadar.

"Makasih, Bunda." Khaira tersenyum malu.

Diana membalas dengan senyuman dan anggukkan pelan.

Kemudian dia melihat ke arah beberapa staff yang membantu mempersiapkan penampilan Khaira.

"Anak saya di mana?" tanya Diana kepada salah satu staf yang bertugas mengurus acara pernikahan mereka.

"Sedang bersiap, sebentar lagi selesai," jawab staff itu, kemudian izin ke luar kamar, setelah memastikan jika penampilan Khaira sudah terlihat sempurna di tangannya.

"Bunda ke bawah duluan. Kasian ayah udah nunggu. Kamu tunggu suami kamu, nanti dia yang bakal jemput kamu."

"I-iya, Bunda."

Galvin berada di tempat yang berbeda dengan Khaira. Dia melakukan itu supaya Khaira nyaman saat bersiap diri.

Jantung Khaira berdetak tidak karuan, saat tiba waktunya Galvin menjemputnya.

Dia merasakan hal aneh dan rasa takut yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.

"Udah siap?" tanya Galvin.

Khaira mengangguk pelan. "Insya Allah, sudah."

"Gal?" desis Khaira, saat pintu lift-nya terbuka setelah mereka tiba di ruang resepsi acara.

"Hm?" tanya Galvin, sekilas melirik Khaira.

Khaira tidak menjawab. Dia hanya melihat ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi para tamu undangan.

Sikap Khaira yang seperti itu membuat Galvin paham, tentang apa yang Khaira pikirkan.

Galvin menggenggam tangan Khaira dan tentunya hal itu membuat Khaira terkejut.

"Orang lain gak perlu tau kalau kita nikah karena keinginan bunda," terang Galvin.

Dia menjelaskan, sebelum Khaira protes karena dia tiba-tiba menggenggam tangan mungil itu untuk yang kedua kali. Sedangkan yang pertama terjadi saat mereka selesai akad.

"Galvin," desis Khaira pelan.

Galvin kembali melirik Khaira. Dia merasakan genggaman tangan Khaira yang semakin erat saat mereka semakin dekat dengan tempat acara. Dia yakin, Khaira tidak sadar menggenggam sekuat itu.

"Kenapa tamunya banyak banget? Bukannya yang diundang cuma keluarga dekat kamu aja?"

"Kolegan ayah juga diundang."

 

"Mau tidur di mana?" tanya Galvin, saat Khaira hendak pergi meninggalkan kamar mereka.

Mereka sudah melewati resepsi malam. Sehingga saat ini waktunya mereka untuk istirahat.

"Jumlah kamar udah pas. Lo gak bisa tidur di kamar lain," sambung Galvin kembali.

"Aku bukan mau tidur. Aku mau ke taman," ucap Khaira, dengan sebuah buku di tangannya.

Dia diberitahu sebelumnya, bahwa di hotel itu terdapat taman yang berada di rooftop. Dia ingin menenangkan diri di sana.

"Bukannya tadi lo bilang cape?" tanya Galvin.

"Ini mau ngilangin rasa cape sambil baca buku," jawab Khaira.

Tanpa mengatakan apa pun lagi, Galvin langsung berjalan ke arah pintu, di mana di sana terdapat Khaira yang hendak ke luar dari kamar mereka.

Dalam satu kali gerakan,Galvin berhasil mengunci pintu.

Khaira langsung memencingkan matanya saat melihat hal yang baru saja Galvin lakukan.

"Tidur sekarang," ucap Galvin, tanpa ekspresi.

Dia kembali berjalan ke arah tempat tidur, kemudian mengambil sebuah bantal.

"Lo tidur di sini, biar gue tidur di sofa."

"Tapi—" ucap Khaira, terpotong.

"Jangan debat, gue ngantuk."

Dia meletakkan bantal yang baru saja dia bawa di atas sofa. Kemudian merebahkan dirinya di sana.

Sementara Khaira, dia masih setia berdiri di tempatnya, sambil mengamati apa yang Galvin lakukan.

"Jangan lupa baca doa." Khaira mengingatkan.

"Hm." Galvin menjawab dengan sebuah gumaman.

Khaira mulai melangkah ke tempat tidur dan mengambil selimut tebal yang tidak Galvin bawa.

"Pakai selimutnya," ucapnya, sambil menyelimuti Galvin menggunakan selimut tebal itu.

"Masih ada satu selimut lagi di lemari," ucapnya kembali, saat Galvin hendak berbicara.

"Hm." Galvin bergumam pelan. Ternyata Khaira tahu apa yang hendak dia katakan.

"Selamat malam, Galvin!"

"Malam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!